SAVANA

SAVANA
BAB 8


__ADS_3

Cit! Cit! Cit!


Suara burung gereja di pagi hari membuatku terbangun. Ku usap kedua mata dengan tangan dan berusaha menyesuaikan penglihatan ku dengan cahaya yang mulai memenuhi ruangan ini.


Terdengar suara ketukan pintu kamar yang sontak membuatku langsung berdiri dan membukakan pintu untuk sang tamu yang ternyata adalah dokter yang akan memeriksa kondisi ibu.


"Ah! Selamat pagi dok". Sapa ku dengan wajah yang berantakan dan mempersilahkan beliau untuk masuk.


Aku berjalan menuju toilet untuk memperbaiki penampilanku dan membersihkan wajahku yang dipenuhi dengan tai mata dan bekas liur yang terbentuk samar di sudut bibirku.


Setelah selesai, aku menghampiri ibu dan sang dokter yang sedang mengobrol dengan akrabnya. Mereka terlihat seperti teman lama yang baru bertemu.


"Bagaimana kondisi ibu saya dok?". Tanyaku menyela percakapan mereka.


"Ah! Kondisinya makin membaik, lusa ibu anda sudah bisa kembali ke rumah". Jawab dokter yang sama dengan ramahnya.


"Baiklah. Terimakasih sudah memeriksa ibu saya dok". Balas ku.


Dokter Harry yang tertulis pada pin nama baju dinas berwarna putih ini pun ijin pamit pada ibu dan aku, dan beliau pun berlalu.


Aku mengangkat alisku dan melemparkan tatapan penuh curiga pada ibu. Kapan ibu bisa sangat akrab dengan dokter Harry itu.


"Dia teman lama ibu". Tanggap ibu yang langsung mengartikan tatapan ku.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Ibu malah balas menatapku dengan alis yang terangkat. Aku menanggapinya dengan gelengan dan kami berdua tertawa.


"Makanlah, tadi pegawai rumah sakit mengantarkan sarapan saat kamu masih tidur. Ibu sudah sarapan, kamu makanlah". Ucap ibu kini sambil menunjuk meja yang diatasnya terdapat beberapa jenis sarapan.

__ADS_1


"Sebentar lagi bu, ibu sudah minum obatnya?". Tanya ku yang menyomot apel hijau di atas meja makan.


"Sudah". Jawab ibu singkat.


Aku berjalan kearahnya dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang ibu.


"Hari ini vana izin ke wali kelas, jadi ibu tidak usah menyuruh vana ke sekolah". Kataku.


"Ya sudahlah jika memang begitu". Balas ibu dan meminta aku mengupas kan apel juga untuknya.


"Bu, ceritakan tentang dokter Harry ini dong". Kata ku kini sambil memegang apel dan pisau di tangan ku.


"Memangnya apa yang ingin kamu tahu? Dasar anak kecil ini". Kata ibu berusaha mengalihkan percakapan kami.


"Vana ingin tahu banyak bu, tentang surat itu, bapak-bapak misterius dan dokter Harry. Ibu tidak tahu kan, kalau bapak-bapak misterius itu yang membayarkan rumah sakit buat ibu". Ucapku tanpa rem, dan membuatku langsung menutup mulut.


Ibu terdiam mendengar ocehan ku. Ia memalingkan wajah dan menatap kearah jendela yang telah terbuka. Di luar terlihat beberapa pegawai rumah sakit yang sedang melakukan aktivas nya.


Aku menunduk dan menyesali perkataan ku barusan.


Benar-benar bodoh!.


Aku kembali fokus mengupas apel di tangan ku secara perlahan agar tidak salah tingkah dengan keheningan yang tiba-tiba ini.


...


"30 tahun yang lalu, saat itu ibu berusia 11 tahun". Kata ibu yang mulai bercerita di tengah-tengah keheningan kami.

__ADS_1


Aku tidak berani lagi untuk bersuara dan terus melanjutkan kegiatanku yang mengupas apel sambil menyimak ucapan ibu, tanpa berani menatapnya.


"Dari kecil ibu sudah tinggal di panti asuhan. Saat itu, ibu panti menyuruh ibu dan beberapa kawan ibu untuk membantunya membereskan ruangan perpustakaan yang ada, karena akan ada orang yang datang membawakan sumbangan berbagai jenis buku dalam jumlah yang banyak". Lanjut ibu mengisahkan.


Aku masih setia mendengarkannya.


"Keesokan harinya seorang pria dengan stelan jas datang diikuti dengan truk yang berisikan buku-buku tersebut. Seisi panti merasa senang dengan kehadiran merek, anak-anak pun berhamburan keluar halaman menyambut mereka dan membantu sang supir untuk menurunkan buku-buku yang ia bawa. Saat yang lain menikmati beberapa buku yang mereka temukan, ibu hanya berdiri di atas balkon lantai 2 dan memperhatikan sosok pria yang perawakannya seperti orang yang berasal dari luar negeri. Ia sedang berbincang-bincang dengan ibu panti. Sampai mereka duduk dan mengobrol di ruang tamu, ibu terus mengikutinya. Saat itu ibu mengintip di balik celah lemari yang menjadi sekat antara ruang tamu dan ruang tengah panti asuhan kami".


Ibu menghentikan sejenak ceritanya dan mengambil potongan apel yang sudah ku selesaikan. Suasana hening nan tegang tadi mulai mencair. Aku pun menatapnya penuh perhatian dan ibu membalasnya dengan senyuman sambil mengunyah apel.


Ibu pun kembali melanjutkan cerita masa kecilnya yang selama hidup baru aku dengar.


"Singkat cerita, pria itu bernama William Armount. Di hari yang sama, ibu panti memanggil ibu saat pria itu akan pulang. Dan pada saat itu, takdir pun berkata lain pada ibu. Pria yang bernama William itu ingin mengadopsi ibu, dan meminta persetujuan langsung dari ibu. Saat itu ibu benar-benar tidak mengerti dan hanya mengiyakan. Akhirnya ibu punya sosok ayah angkat. Ibu memanggilnya Daddy, yang ternyata di dunia ini beliau merupakan salah satu pengusaha yang sangat berpengaruh di dalam negeri. Saat beliau mengadopsi ibu, ia belum menikah. Namun ia merawat ibu tanpa kekurangan, beliau berperan sebagai ayah tunggal yang sangat tulus membimbing ibu. Hingga pada tahun berikutnya, ibu ikut beliau kembali ke asal negaranya yaitu Prancis. Di sana ia menikahi gadis lokal yang cantik dan cerdas. Mereka menikah pada bulan Juli dan pada tahun berikutnya mereka pun dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan, dan pada saat yang bersamaan akhirnya ibu menjadi seorang kakak. Seisi rumah senang dengan kehadiran anak laki-laki itu termasuk ibu. Anak itu diberi nama Jacob Armount. Kami menetap di Perancis selama 7 tahun hingga akhirnya Daddy memilih kembali ke negeri ini untuk fokus dengan perusahaan dan mengembangkan investasinya. Mereka semua pindah, kecuali ibu yang tetap melanjutkan kuliah di Prancis pada saat itu".


Ibu menghentikan lagi ceritanya dan mulai mengambil napas dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan. Ia menatapku yang masih setia mendengarkan ceritanya. Setelah beberapa saat terdiam ibu kembali melanjutkan ceritanya.


"Selama tinggal sendirian di Prancis, ibu berkenalan dengan seorang mahasiswa kedokteran. Dialah dokter Harry". Ucap ibu kembali menatapku sambil tersenyum.


Aku balas menatap nya sambil tersenyum geli. Ternyata ada kisah manis ini yang tak pernah aku ketahui dari ibu.


"Kami berteman selama 3 tahun dan pada masa itu, dokter Harry pernah menyatakan perasaannya pada ibu, namun ibu lebih memilih untuk tetap bersahabat dengannya. Dia menghargai keputusan ibu hingga akhirnya ibu kembali ke negara ini, kami masih tetap bersahabat. Dokter Harry melanjutkan sekolahnya di Prancis, sedangkan ibu kembali dan membantu ayah di perusahaan. Adik angkat ibu, Jacob, sudah berusia 10 tahun pada saat itu, ia sudah pandai dengan hal-hal dasar tentang bisnis. Entah sejak kapan ia mempelajarinya".


Lagi-lagi ibu berhenti dan mengambil napas dalam lalu menghembuskan nya.


"Sejak ibu kembali, sudah banyak hal yang berubah. Daddy lebih sibuk di perusahaan, Mommy sibuk dengan bisnisnya sendiri. Ibu juga sibuk membantu ayah di perusahaan. Jacob kecil kala itu hanya ditemani dengan beberapa pelayan, kadang ibu meluangkan waktu seharian untuk menemaninya bermain. Pada masa-masa itu entah mungkin karena jarang bertemu, sering terjadi konflik antara Daddy dan Mommy. Kadang Mommy menyeret nama Ibu kedalam pertengkaran mereka, dan itu benar-benar membuat ibu merasa dikucilkan. Hingga akhirnya ibu memilih untuk menikah dengan ayahmu. Daddy sangat tidak menyukai ayahmu, namun karena ibu sudah tidak betah tinggal serumah dengan mereka, ibu tetap menikahinya. Daddy sangat kecewa dengan ibu pada saat itu, dan setelahnya kami pun putus kontak. Ibu memilih untuk tinggal di wilayah kecil ini bersama ayahmu, dan pada tahun berikutnya kamu pun lahir. Daddy sudah tidak menghubungi ibu lagi, dan ibu memutuskan untuk fokus dengan keluarga kecil ibu, walupun pada akhirnya ayahmu memilih untuk pergi juga".


Ibu tersenyum kecut di penghujung ceritanya. Spontan aku langsung memeluknya dan kami lagi-lagi saling menguatkan.

__ADS_1


-Awne Cn


__ADS_2