
Malam makin larut. Selepas makan malam ibu mengajakku menonton sebuah drama. Aku kini bersandar di samping ibu sambil menonton drama yang sedang ditayangkan TV swasta dan ditemani dengan kripik kentang buatan ibu, sambil mendengarkan cerita dramatis dari ibu yang bertemakan antara ayah dan anak yang ribut lalu berpisah dan akhirnya akur kembali.
Aku jadi bingung mana yang lebih seru, antara cerita ibu atau film yang sedang tayang!.
"Jadi, tadi sore Daddy-kakek kamu datang ke rumah. Makanya hari ini ibu pulang lebih awal. Kakek ingin ketemu dan mengajak ibu untuk tinggal bersama. Ibu juga sudah menceritakan semuanya soal ayah kamu. Jadi kakek yang akan mengurus persidangan perceraian ibu dan ayah".
Aku mengangguk di atas bahu ibu.
"Kamu mau ayah baru?". Tanya ibu.
Sontak aku terkaget dan memelototi ibu.
"Bu! Kenapa siih? Ibu kok gampang banget bilang kayak gitu?". Ucapku kesal.
"Ibu cuman bercanda hey. Gak usah sampai segitunya ngomong ke ibu". Balas ibu sambil tertawa renyah.
"Yah abis ibu kesannya seperti cewek gampangan". Ketus ku.
"Hey! Anak ini!". Seketika ibu menaikan nada bicaranya dengan tangan yang ikut menjewer kupingku.
"Aw! Aw! Aw! Iya! Iya! Ampun bu, maafin vana". Ucapku sambil meringis.
Kami berdua pun tertawa. Aku langsung memeluknya dan ibu membalas pelukan ku. Kehangatan yang sempat hilang itu perlahan kembali, walaupun ayah sudah tak bersama kami lagi. Aku yakin, aku dan ibu mampu melewati masa-masa sulit ini.
"Aku sayang ibu". Ucapku tulus di dalam pelukannya.
"Ibu juga sayang kamu nak". Balas ibu sambil mencium puncak kepalaku.
Aku memejamkan mata menikmati kehangatan yang sudah lama tidak ku rasakan, sepertinya ibu juga merasakan hal yang sama. Hingga saat ini senyum simpulnya tak pernah padam. Aku sangat bersyukur dengan semua ini.
"Jadi, siapa sepupu vana ini bu?". Tanyaku kini melepas pelukan kami dan mengambil keripik yang sisa setengah.
"Namanya Eiden Matthew, anaknya om Jacob. Saat kakek berkunjung, ia menitipkan undangan ini". Jelas ibu sambil menarik sebuah undangan berwarna hitam dari bawah rak meja tv.
Dari sampulnya terlihat sangat mewah, aku jadi benar-benar percaya kalau ibu telah diadopsi oleh seorang konglomerat. Dari desain undangan nya saja orang bisa melihat kalau selera mereka sangatlah 'highclass'.
Aku membaca undangan itu dalam hati lalu bergantian menatap ibu.
"Kakek juga ingin bertemu dengan mu, jadi besok berpakaian lah dengan baik". Lanjut ibu.
Aku menyimpan kembali undangan itu. Sempat terbesit di kepala ku, apakah tulisan yang bertinta emas ini bisa di jual. Jiwa miskin ku benar meronta-ronta hanya dengan membaca undangan ulang tahun ini.
__ADS_1
Malam terasa makin dingin. Kami pun mengobrol banyak hal hingga kantuk menghampiri. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur bersama ibu malam ini.
.
.
.
.
.
Aku terbangun ketika merasakan sinar mentari yang mulai menerpa wajah ku. Posisi tempat tidur ibu berhadapan langsung dengan jendela, dimana ketika pagi menyambut, matahari langsung masuk kedalam celah-celah jendela, apalagi jika jendela nya sudah terbuka, maka ruangan ini akan full dengan matahari pagi. Dan begitulah keadaannya, aku jadi susah untuk tidur kembali.
Ku tengok samping kananku, ibu sudah tidak ada. Sepertinya dia sengaja membuka jendela kamarnya lebar begini. Huh!
Aku berjalan keluar dari kamar dan mendengar ibu yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang di ruang tamu.
"Siapa bu?". Tanyaku sambil menguap tanpa adab.
Sosok yang sedari tadi mengobrol dengan ibu pun berbalik menatapku, diikuti dengan tatapan ibu yang memelototi ku.
"Ooh anakku sayang, ini adik ibu, om Jacob" Ucap ibu memperkenalkan namun masih tetap memelototi ku.
....
Wow.
Dia dewa ya?.
Aku yang menatapnya tanpa berkedip langsung tersadar ketika ibu sengaja ter batuk.
Aku kembali melihat ibu yang masih melotot kearah ku, seolah menunjuk sesuatu. Ku perhatikan arah yang dilihat ibu dan...
"AARRRGGGHH! Maaf om!". Teriakku panik sambil menutup dadaku dengan kedua tangan.
Aku langsung berlari menuju kamarku dan mengunci pintu.
Sial! Sial! Siaaal!!!.
Kenapa aku seperti orang gila yang bodoh. Bisa-bisanya aku berdiri dihadapan seorang pria tanpa menggunakan bra!.
__ADS_1
Benar-benar memalukan!.
Aku menjerit sambil menutup wajahku dengan bantal. Namun rasa malu itu tak kunjung hilang.
Otakku terus mereka ulang adegan memalukan yang ku alami barusan. Lagi pula kenapa aku sampai tak mengenakan bra?!. Ini semua karena kebiasaan ku yang melepasnya sebelum tidur.
Apa dia memperhatikannya?. Tidak. Tidak.
Aku menyingkirkan bantal di wajahku dan bangkit berdiri dihadapan cermin. Ku perhatikan tampilan tubuhku yang mengenakan celana pendek bercorak bungan dengan baju serat berwarna putih, jika diperhatikan secara detail, bajunya terlihat tembus pandang. Ditambah lagi dengan bagian dadaku yang kedua ujungnya menonjol...
AAAARGGGHHHHHH!
Bagaimana aku bisa menatap wajahnya. Ini sangat kentara!.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Terus ku ulangi hingga perasaan malu dan cemas itu mulai reda. Namun tetap saja, menit berikutnya reka ulang kejadian memalukan itu kembali terputar di otakku. Membuat ku tak henti-hentinya meredakan emosiku dengan mengatur napas.
Aku kembali menatap cermin dan melihat wajahku yang memerah karena malu.
Setelah cukup lama untuk berkompromi dengan diriku sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus segera menemui James. James adalah dewa ku satu-satunya.
.
.
.
.
.
Setelah bersiap-siap aku pun memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Aku melihat sekeliling namun tidak ada siapa-siapa. Ibu juga tidak terlihat di ruang tamu maupun di dapur.
Aku melangkah menuju dapur dan mendapati sarapan yang sudah tersedia di atas meja.
Kemana ya, mereka berdua?.
Perhatianku tertuju pada note berwarna putih yang tertempel di lemari pendingin. Aku pun menghampiri lalu membaca nya.
Ibu sama Om Jacob lagi keluar. Kamu sarapan lah sebelum berangkat ke sekolah. Cepat pulang, sebentar sore kita ke rumah kakek.
Aku pun mulai paham situasi nya. Segera ku habiskan sarapanku lalu memesan taksi online untuk mengantarku ke sekolah, karena hari ini James lagi-lagi tak ada kabarnya.
__ADS_1
-Awne Cn