SAVANA

SAVANA
BAB 17


__ADS_3

Setelah menghabiskan sarapan, satu persatu orang yang berada di meja ini pergi begitu saja. Aku yang telah terbiasa jika habis makan langsung mencuci piring itu merasa jadi sedikit aneh dengan situasinya.


Mungkin mereka berpikir, ada pelayan yang sudah ditugaskan untuk membereskan sisa makanan mereka. Aku saja yang terlalu katro!.


"Saphira, setelah ini ikut daddy ke luar ya". Ucap kakek pada ibu yang telah menyelesaikan makanannya.


"Kemana dad?". Tanya ibu sambil meraih tisu untuk membersihkan remahan roti yang sedikit menempel di bibirnya.


"Kamu ikut daddy aja, nanti tahu kok". Jawab kakek dengan tawa khasnya diakhir kalimat.


"Baiklah, aku siap-siap dulu dad". Ucap Ibu kemudian.


"Vana bisa ibu tinggal sebentar kan nak? Kamu tidak masalah menunggu ibu disini?". Tanya ibu yang akhirnya berbicara kepada ku.


Aku pun memandang kakek yang menatap ku sambil tersenyum hangat. Walaupun aku kurang nyaman berada sendirian tanpa ibu, namun sepertinya ini adalah urusan antara ayah dan anak. Jika aku memilih ikut, mungkin hanya akan menyusahkan mereka saja.


"Baiklah bu, vana tidak masalah". Ucapku mengiyakan.


Ibu membelai lembut kepalaku sambil tersenyum lalu ia pun pamit kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Benar-benar aneh. Ibu bertindak tidak seperti dirinya sendiri.


"Cucuku yang cantik ini sudah mau tamat sekolah ya?". Tanya kakek tiba-tiba dengan piringnya yang sudah kosong.


"Iya kek. Akhir bulan depan, vana sudah mulai ujian". Jawabku ramah sambil mengunyah sarapan yang masih ada di piring ku.


"Setelah itu, kakak mau buat apa?". Tanya Eiden dengan mulut penuhnya.


Lucunya anak ini.


"Eiden. Dimana tata krama mu?" Tegur om Jacob di sebelahnya.


Eiden langsung terdiam dan meminta maaf pada aku dan kakek.


"Bukan masalah besar, Eiden kan masih kecil". Ucapku berusaha membuat Eiden merasa nyaman.


Jujur saja, anak kecil yang langsung ditegur di depan umum seperti itu pasti merasa cepat tersinggung dan akhirnya mereka akan sakit hati. Apalagi yang menegurnya itu adalah ayahnya sendiri.


"Sudahlah, Eiden lanjut makan. Hari ini Eiden les musik kan?". Sela kakek dengan senyum ramahnya dan dibalas anggukan oleh Eiden.


Mendengar ucapan kakek barusan, Eiden jadi terlihat ceria kembali. Kami pun kembali menyantap sisa sarapan yang ada di piring, kecuali kakek.


Orang tua ini sangat mudah membuat situasi yang tegang berubah jadi nyaman. Aku melirik Om Jacob yang telah menyelesaikan sarapan nya, begitu juga Eiden. Kalau diperhatikan, ayah dan anak ini benar-benar tidak ada bedanya.


"Kakak mau lihat Eiden main piano?". Ucapnya kini setelah membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya dengan selembar serbet yang tergantung di kerah bajunya.


"Wah! Eiden bisa main piano? Keren deh!". Balas ku antusias.


Anak kecil itu pun langsung melemparkan senyum bangga kearah kami. Om Jacob yang sedari tadi bermuka datar itu juga ikut tersenyum walaupun singkat ketika melihat tingkah anaknya.

__ADS_1


Oh my God!. Tampannya!.


Aku mengedipkan mata beberapa kali agar kembali ke kenyataan. Dengan cepat ku habiskan sisa sepotong roti yang masih terletak di atas piring ku lalu kemudian meneguk segelas air bening yang sudah tersedia di atas meja ini.


"Ehem! Savana tak perlu buru-buru". Ucap kakek yang akhirnya membuatku jadi canggung.


Semoga dia tidak melihat aku yang menatap anaknya dengan mata berbinar.


"Maafkan vana kek". Balas ku sungkan.


"Oh ya, pertanyaan Eiden tadi belum dijawab loh". Sambung kakek.


Aku melirik ketiga orang yang kompak menatapku secara bersamaan seolah sudah menunggu jawaban dari ku. Aku pun terkekeh dengan sikap mereka yang sangat mirip jika penasaran.


"Ehem!. Jadi setelah lulus nanti, vana berencana magang di sebuah perusahaan yang ada di daerah vana kek. Kata ibu, mereka akan memberikan beasiswa buat anak magang yang berkompeten. Jadi vana akan berusaha untuk itu". Jelas ku optimis.


Ketiga makhluk didepan ku ini pun mengangguk secara bersamaan. Lucunya!.


"Vana, mau kakek daftarin di kampus internasional yang ada di kota ini tidak?". Tanya kakek yang membuatku spontan langsung menolak niat baiknya itu.


"Tidak perlu kek! Sungguh!. Vana bisa melewati ini dengan usaha vana kok". Ucapku berusaha menolak tawaran beliau secara halus.


"Kampusnya dekat dari rumah ini, kamu bisa tinggal disini kalau mau". Ucap om Jacob kini.


"Tak perlu om! Sungguh. Terimakasih kakek dan om sudah perhatian dengan vana". Ucapku meyakinkan mereka.


"Sepertinya anak kakek ini terlihat sangat tua ya, sampai gadis seperti vana memanggilnya 'om'". Ucap kakek lagi masih dengan tawanya.


"Begitulah kek". Balas ku canggung sambil mengikuti tawanya.


Aku yang berbicara asal itu pun mendapati tatapan dingin dari om Jacob. Seketika suasana yang kurasakan berubah mencekam. Dengan kikuk, ku tuang segelas lagi air bening lalu kemudian meneguknya sekaligus karena ingin mengalihkan tatapan dinginnya.


"Tapi, kakak akan tetap berkunjung dan menemui Eiden kan?". Sela anak kecil itu menyelamatkan nyawaku yang nyaris membeku karena tatapan ayahnya.


"Ah! Kalau ada kesempatan, vana pasti datang mengunjungi kakek dan Eiden". Jawabku ramah dan di sambut dengan senyum ceria dari kakek dan Eiden.


Aku tidak berani melirik om Jacob.


"Jake, kamu tidak mengantar Eiden hari ini?". Tanya kakek kemudian.


"Ah! Gabriel sudah menunggu di depan dad. Hari ini Eiden sama om Gabriel ya". Jawab om Jacob.


"Em... Kalau begitu, vana permisi dulu kek, om, dan Eiden". Sela ku sambil berdiri dan membawa piring kotor ku dan ibu.


Kebiasaan sehabis makan lalu cuci piring itu pun spontan ku terapkan dalam rumah yang punya pelayan lebih dari 10 ini.


"Loh! Savana tak perlu melakukan pekerjaan itu". Ucap kakek menghentikan langkah ku.


"Tidak apa-apa kek! Vana sudah terbiasa kok, lagi pula ini bukan hal yang sulit". Balas ku dengan ramah.

__ADS_1


Kakek pun terdiam. Aku yang tak tahu harus berkata apa lagi, langsung melangkah kearah dapur yang berada dibalik ruangan ini.


Aku yang baru menginjak kan kaki kedalam dapur pun langsung dibuat terkesima dengan pemandangan yang luas dan serba mewah.


Luas ruangan ini tidak kalah dari luas ruang makan disebelahnya. Ruangan yang didominasi dengan warna putih dan silver ini menyilaukan mataku. Perabotan dan peralatan masak yang lengkap dan canggih didalam dapur ini membuatku lupa pada tujuan awal aku ke ruangan ini. Sungguh sesuatu yang benar-benar mewah!.


"Ehem!".


Seseorang yang ter batuk dari belakang ku membuatku seketika menoleh.


Aku mendapati om Jacob dengan piring yang juga menumpuk di kedua tangannya spontan membuat ku jadi melongo.


"Aku akan membantu mu". Ucapnya membuatku kembali tersadar.


"Ah tak perlu om, vana bisa sendiri kok!". Balas ku sungkan.


"Jangan menolak". Ucapnya dipenuhi dengan ketegasan.


Aku langsung terdiam mendengar perkataannya itu dan hanya membiarkan dia melakukan apa yang ingin ia lakukan.


****


Kami pun mencuci piring dalam keadaan diam dan canggung.


"Ngomong-ngomong, aku minta maaf karena semalam sudah menyusahkan mu". Ucap om Jacob kini membuka topik pembicaraan kami.


"Bukan hal besar om. Om sudah merasa lebih baik sekarang?". Tanyaku sambil sibuk menggosok piring.


"Sedikit lebih baik. Semalam daddy membuatku mabuk berat, jadi hari ini aku tidak ke kantor karena masih merasa sedikit pusing". Terangnya lagi.


"Oh! Kalau begitu om istirahat saja, biar vana yang mengerjakan sisanya". Balas ku.


"Tidak masalah, aku bisa mengatasinya". Ucap om Jacob.


Kami pun kembali terdiam. Rasanya waktu di pagi ini bergerak sangat lambat. Lagi pula, kenapa tidak ada satupun pelayan yang datang ke dapur ini?!.


Yang ada malah situasi nya jadi makin canggung kalau cuman berdua seperti ini!.


Duh!.


-Awne Cn


#NOTE:


*Mulai besok, update karya ini akan sesuai jadwal di deskripsi ya!.


Nantikan Episode selanjutnya Guys!


ciaoo*~

__ADS_1


__ADS_2