
Luke membawakan ku sepiring hot dog yang telah ia panaskan di oven. Ia menyodorkan nya padaku sambil tersenyum full dengan giginya yang tersusun rapih. Aku yang melihatnya mau tak mau ikut tersenyum karenanya.
"Terimakasih". Ucap ku tulus sambil menerima piring yang ia sodorkan.
"Kau tidak makan?". Sambung ku sambil menggigit hot dog hangat yang Luke berikan.
"Well, aku sedang diet". Balasnya yang terlihat malu.
"Kenapa? Badan mu bagus kok". Ucapku jujur.
Memang badan Luke bagus. Dia tinggi, dan cukup berotot. Aku bisa melihat lengannya yang terbentuk sempurna dengan ototnya. Dia tidak gemuk, juga tidak sekurus itu. Ku rasa badannya cukup atletis, dan itu wajar. Karena ia adalah kapten basket sekolah kami.
"Tidak, aku masih memiliki beberapa lemak di paha. Pekan depan kami ada pertandingan di GOR, jadi aku diet untuk itu". Jelasnya masih terlihat malu dan kini ikut duduk di samping ku.
"Oh ya?! Guru olahraga masih membiarkan siswa yang sebentar lagi ujian untuk ikut pertandingan??". Tanyaku yang tidak percaya dan tertarik dengan penjelasannya sambil mengunyah hot dog yang sangat enak ini.
"Aku sudah berbicara dengan wali kelas dan guru olahraga, awalnya mereka tak mengizinkan, namun aku terus mendesaknya, dan akhirnya dengan pasrah mereka memberikan ku kesempatan sekali ini saja". Jelas Luke dengan sangat antusias di selingi dengan cengiran khas miliknya.
Aku tercengang mendengar apa yang ia katakan. Sebegitu cinta nya kah dia dengan olahraga basket?. Aku juga jadi ingin memiliki hobi yang seperti itu, namun kepribadian ku yang tak mudah nyaman dengan sesuatu itu membuatku sulit untuk menemukan hobi ku sendiri. Entahlah.
****
Kami pun saling bercerita satu sama lain. Mulai dari hobi, makanan kesukaan, minuman favorit, sampai hal yang paling kami benci. Luke juga menceritakan kenakalan nya saat masih kecil dulu, dan bagaimana orang tuanya beberapa kali dipanggil oleh guru di sekolah akibat perbuatannya sendiri. Ku pikir dia anak yang super aktif!.
Saat kami bertukar cerita, aku jadi menyadari satu hal. Ternyata ada manusia seperti Luke di kelas kami. Aku tidak pernah tahu, kalau dia lebih tua setahun dari kami semua yang ada di kelas. Ia memilih untuk mengulang semua pelajarannya di semester baru, hanya demi ikut kompetisi nasional olahraga basket. Lucu sekali.
Makin kesini, aku juga menyadari ternyata selain enak diajak ngobrol, Luke, ternyata dia juga orang yang senekat itu. Aku tidak habis pikir tentang dirinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Oh iya, yang di sebelah itu kakak mu?". Tanyaku kini sambil menunjuk foto keluarganya.
"Ya! Sekarang dia sedang mengikuti pendidikan militer di pangkalan udara USA". Jawab Luke yang terlihat bangga.
Mereka terlihat mirip, hanya saja kakaknya terlihat lebih tinggi dari dirinya. Begitu juga dengan ayah dan ibu nya, mereka memiliki gen dengan postur tubuh tinggi dan ramping. Aku jadi membayangkan bagaimana jika aku berdiri di tengah-tengah keluarga mereka dengan tinggi ku yang hanya 167 cm. Mungkin akan terlihat seperti kurcaci di tengah-tengah raksasa yang lebih sempurna.
Aku kembali fokus dengan penjelasan Luke sambil mengangguk paham dengan perkataannya.
"Begitu ya. Aku juga jadi ingin punya seorang kakak". Balasku sambil meletakkan piring yang sudah kosong.
"Begitulah, terkadang kami bertengkar untuk hal-hal kecil, lalu kemudian kami akur lagi diwaktu yang tak terduga". Kenang Luke sambil tertawa pelan.
"Sepertinya keluarga kalian sangat hangat ya". Balas ku lagi.
Mendengar sebagian cerita Luke tentang keluarga mereka, terbesit rasa iri di hati ku. Aku juga ingin merasakan kehangatan itu sampai detik ini, tapi mungkin memang takdir setiap orang-orang berbeda.
"Begitulah. Bagaimana dengan keluarga mu?". Tanya Luke balik pada ku.
Aku yang sudah menduga dia akan melontarkan pertanyaan itu hanya bisa menanggapinya dengan senyum pahit.
Walaupun begitu, kembali lagi, aku harus menerimanya bukan?.
"Oh... Maafkan aku". Ucap Luke sambil menggenggam tangan ku. Dia terlihat menatap ku dengan mata yang terlihat bersalah, aku yang melihatnya seperti itu malah jadi tidak enak karena sudah membagikan kisah sedih ku padanya. Harusnya kami menikmati cerita yang menyenangkan, kenapa jadi sedih begini!.
"Tak apa, aku sudah menerimanya". Ucapku setengah bohong.
Aku hanya ingin menyingkirkan kekhawatiran Luke.
"Kau wanita yang cantik dan kuat". Ucap Luke tulus.
Aku pun mengangguk sambil tersenyum kearahnya. Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apalagi.
Luke menggenggam tangan ku dengan kedua tangannya kemudian mengecup punggung tanganku.
"Sungguh, kau wanita terkuat yang pernah aku kenal". Lanjutnya lagi sambil mengelus punggung tangan ku.
Entah sejak kapan kami jadi dekat begini, padahal baru berapa jam yang lalu aku akhirnya memutuskan untuk menerima bantuannya. Tapi lihatlah, bagaimana hubungan emosional kami terjalin begitu cepat.
__ADS_1
Kehangatan yang diberikan tangannya itu membuatku sedikit nyaman. Dia sungguh pria yang baik dan perhatian.
Aku pun menatap nya dengan tulus karena sudah menghiburku seperti ini. Luke membalas tatapan ku, dan kami pun saling memandang dengan penuh makna.
Tatapan yang tak kunjung putus ini membawa Luke lebih dekat dengan ku. Aku bisa merasakan kehangatan badannya yang mulai rapat dengan tubuh ku.
Apakah ini benar?. Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin kehilangan kehangatan ini.
Seiring bertambahnya waktu, Perlahan Luke pun mendaratkan bibirnya tepat dibibir ku. Aku menyambutnya dengan melingkar kan tangan ku ke lehernya.
Kami pun berciuman. Saling menukar kehangatan dalam setiap sentuhan.
Tubuh ku yang memang hanya terbalut oleh baju rajutan ini, memudahkan Luke mengakses area sensitif ku. Tangannya menyentuh setiap kulit ku yang menimbulkan sensasi aneh.
Aku menikmati nya. Jujur saja.
Hujan tak lagi menimbulkan suara di atas atap atau di jendela kaca rumah Luke. Suara itu digantikan dengan letusan kecil dari kayu yang terbakar di perapian dan desa han kami yang berhubungan makin intim di depan perapian itu sendiri.
"Ahh..." Erangku ketika Luke mulai memainkan area sensitif ku.
Permainan nya cukup berbeda dengan apa yang dilakukan James, tapi aku menikmati nya. Aku bahkan tidak menolaknya. Luke juga terlihat seperti itu. Matanya yang menatapku dengan tatapan membara, membuat ku memberikan perlakuan yang sama untuk nya. Kami pun diselimuti dengan gairah yang menggebu-gebu. Dan kami pun melakukannya tanpa dasar cinta. Setidaknya seperti itulah yang ada dipikiran ku.
Apakah aku egois?.
Katakan lah begitu.
Jujur saja, aku butuh sedikit kesenangan ini, dan Luke sedang melakukannya.
Tapi...
Kenapa bayangan om Jake terus saja menghantui pikiran ku?.
Saat ku coba memejamkan mata untuk menikmati gerakan Luke, yang ku lihat malah om Jake. Apakah ini masih efek dari perkataan dan tindakannya tadi siang?. Walaupun aku berhubungan dengan Luke seperti ini, tetap saja bayangan itu tak kunjung pergi.
Aneh.
-Awne Cn
__ADS_1