
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu itu memaksa ku untuk menghentikan tangisan ini. Aku segera berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajah ku untuk menghapus air mata yang membekas.
Setelah ku rasa cukup, aku mengatur suaraku yang sedikit serak kemudian kembali dan membuka pintu kamar.
"Kenapa lama sekali?!". Ucap seorang wanita yang tengah berdiri di balik pintu kamar ini.
Ia mengenakan pakaian glamor dengan make up yang cukup mencolok. Dia adalah nyonya besar rumah ini, lebih tepatnya nenek angkat ku.
"S-silakan masuk nek". Ucapku sedikit kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Dia pun masuk dengan langkah yang angkuh dan langsung menduduki kursi putih samping lemari.
"Ada yang bisa vana bantu nek?". Tanya ku kemudian.
Dia hanya memperhatikan ku dengan tatapan sinis lalu membuka tas nya.
"Ambillah ini". Ucapnya yang kini memberiku sebuah amplop berwarna coklat.
Dengan sedikit ragu, aku menerima amplop tersebut dan langsung menarik isinya keluar.
Sebuah kertas berwarna putih dengan tulisan serta nominal uang sebesar 5 juta US dollar tertulis di lembaran kertas tersebut. Mataku langsung terbelalak kaget menyadari bahwa kertas ini adalah selembar cek pribadi.
"Ambillah uang itu, lalu bawa pergi ibumu sejauh mungkin, dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi ke rumah ini!". Ucap nenek lagi dengan nada yang merendahkan.
"M-maksudnya nek?". Tanya ku yang benar-benar tidak mengerti.
"Panggil aku NYONYA Terisa. Aku bukan nenek mu!, ibumu itu cuman anak pungut, begitu juga dengan kau!. Jadi jangan pernah berpikir kalau kalian adalah bagian dari keluarga Armount!". Jelasnya dengan penuh penekanan.
Aku yang paham dengan maksud ucapannya itu hanya bisa terdiam dan menatapnya tak percaya. Untuk kedua kalinya aku jadi paham kenapa ibu memilih pergi dari keluarga ini. Ternyata benar, senyum ramah yang ia tunjukkan ke ibu kemarin malam, itu semua hanya kamuflase. Palsu.
"PAHAM?!". Ucap nyonya Terisa ini dengan nada yang mulai ia tinggikan.
Aku yang sudah merasa jijik dengan sikap wanita tua ini, akhirnya mengiyakan apa yang ia inginkan. Toh, aku juga lebih bahagia tinggal bersama ibu di bandingkan dengan wanita tua munafik seperti dirinya.
"Bagus. Satu hal lagi, jangan sampai anggota keluarga yang lain mengetahui ini, terutama Daddy dan Jake!". Tegasnya sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari kamar ini.
Aku langsung menutup pintu kamar dan bersandar dibalik nya.
Gila!. Hari ini benar-benar gila!.
Belum selesai masalah ku dengan James, datang lagi masalah yang lebih besar. Aku ingin menghubungi Ibu tapi tetap saja, handphone ku sudah tidak berfungsi lagi.
__ADS_1
Sial! Dimana juga ibu menemukan keluarga gila ini!. Batinku.
Pikiran ku jadi terbagi, respon tubuh ku pun bingung antara harus bersedih atau marah.
Satu hal yang baru ku sadari, ternyata baju mandi ini masih melekat di badan ku, pantas saja nenek sihir itu menatapku sinis!.
Aku bergegas meraih baju yang terlipat rapih di atas tempat tidur dan mengenakannya. Celana kain pendek dengan motif kotak-kotak berwarna coklat muda dan baju kaos hitam polos.
Hm... Gumam ku dalam hati.
Apa pakaian ini tidak terlalu kebesaran ya?.
Aku melihat pantulan ku di cermin dengan hidung dan mata yang sedikit memerah, dibalut dalam pakaian yang agak kebesaran membuat badan ku jadi terlihat mungil.
Tak apa. Dari pada harus menggunakan baju mandi. Pikirku.
Aku pun berjalan keluar menuju balkon dan bersandar pada pagar penghalang yang mengelilingi balkon tersebut. Sembari merenung dan berpikir, bagaimana aku harus memberitahukan pada ibu dan juga bagaimana aku akan mengakhiri hubungan ku dengan James.
Tidak. Tidak.
Sejak memutuskan untuk memercayai ucapan Ashela, hubungan kami sudah berakhir. Kalaupun nanti kami bertemu di sekolah...
Apa yang harus ku lakukan?. Aku bingung.
Kami sudah menjalin hubungan yang terlampau jauh sebelum nya. Sampai-sampai rasanya ingin mati saja mengetahui orang yang sangat kita percaya malah berkhianat.
Oh! God... Bagaimana ini... Batin ku.
Di lain sisi, aku juga memikirkan ancaman nenek sihir itu. Bagaimana caranya aku memberitahukan hal ini pada ibu. Belum lama ia merasa senang karena akhirnya bisa akur dengan keluarganya, tapi nenek sihir itu malah membuat semuanya jadi rumit.
Lagi pula... Jika aku memilih untuk melompat dari atas balkon ini malah menambah besar masalah yang sudah ada. Hah... Pikiran ku kacau!.
Saking kacaunya, aku jadi tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan air mataku pun enggan untuk menetes kembali. Yang kulakukan hanya bisa berdiam diri di atas sini.
Oh. Aku ingat!.
Ada satu hal yang bisa ku lakukan. Aku bisa meminta tolong pada om Jacob untuk menghubungi Ibu. Aku bisa beralasan untuk itu. Ya benar, aku harus menemui beliau walaupun aku sedikit segan dengannya, karena bukan itu masalah terpenting saat ini.
Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi mencari om Jacob. Aku menengok kiri kanan namun tak ada satupun manusia yang bisa ku temukan. Aku akhirnya turun ke lantai dasar.
Dimana ya dia?. Batin ku.
Cukup lama aku berkeliling dilantai dasar namun, bukan om Jacob yang kutemui malah beberapa pelayan yang menyapaku dengan ramah. Aku membalas sapaan mereka dengan canggung lalu menanyakan apakah om Jacob sudah berangkat kerja, akan tetapi dijawab tidak tahu oleh mereka.
__ADS_1
Kalau benar dia sudah ke kantor, maka tak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku hanya perlu menunggu Ibu, dan aku tidak tahu pasti kapan mereka kembali.
Aku yang mulai lelah berkeliling pada lantai dasar ini akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar ku.
Saat menaiki tangga, langkah ku terhenti sejenak ketika pikiran ku kembali pada om Jacob yang sedang berolahraga di lantai atas. Benar!. Masih ada satu lantai lagi yang belum ku cek.
Aku segera mencari tangga yang mengantarku ke lantai tiga. Aku pun mengingat-ingat arah yang dituju oleh Gabriel dan om Jacob tadi malam. Ya, pasti itu jalannya. Pikir ku.
Setelah melewati beberapa ruangan, aku pun menemukan sebuah tangga yang terletak di antara dua ruangan yang disepanjang dinding tangga tersebut dihiasi dengan berbagai lukisan tahun 80an berwarna hitam putih.
Dengan perasaan deg-degan aku pun menaiki tangga tersebut sambil memandang lukisan-lukisan yang ada. Ada beberapa lukisan yang membuatku tertarik salah satunya ialah lukisan tangan seorang wanita yang dibelenggu oleh lilitan bunga aster yang sedang mekar berwarna putih. Itu satu-satunya lukisan yang memiliki warna di sepanjang dinding ini, walaupun warnanya didominasi dengan warna hitam.
Setelah sampai di lantai tiga, aku menyebar pandangan ku yang kaget melihat desain interior ruangan ini sangatlah berbeda dengan apa yang ada di lantai satu dan dua.
Di lantai ini, semua di hiasi dengan warna hitam dan grey. Bahkan lantai nya terbuat dari marmer yang berwarna grey dengan corak hitam sebagai hiasannya. Hampir seluruh furniture yang ku lihat di ruangan ini dibalut dengan warna yang senada. Aku jadi makin deg-degan dengan situasi ini. Seolah-olah aku merasa terintimidasi dengan desain yang ada, apalagi jika om Jacob muncul tiba-tiba di ruangan ini, bisa-bisa aku jadi kencing dalam celana karena ketakutan!.
Dengan niat dan keberanian yang ku kumpulkan, akhirnya aku melangkah menyusuri ruangan ini. Aku menemukan tempat gym yang sama persis saat aku melihat om Jacob tadi.
Benar! Ini tempatnya. Batin ku.
Aku pun melangkah ke ruangan selanjutnya yang hanya dibatasi oleh rak kayu berukuran sangat besar dan berisikan berbagai macam benda-benda unik dan hiasan langka yang ku nilai pasti harganya sangat mahal.
Tidak ada siapapun disini. Pikir ku setelah memasuki ruangan tersebut.
Ruangan yang ini juga kosong. Batinku lagi setelah memasuki ruangan yang lainnya. Hanya ada sofa dan meja kaca dengan gelas yang berisikan minuman... Alkohol mungkin? Aku tidak tahun pasti. Juga terdapat buku yang sangat tebal di samping gelas itu, aku tidak begitu tertarik melihatnya.
Aku pun meneruskan langkahku melewati sebuah piano. Dengan spontan aku memainkan piano tersebut. Belum sampai satu lagu, pandanganku langsung menangkap sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka. Mungkin om Jacob ada didalam. Pikir ku yang kemudian meninggalkan piano ini dan berjalan memasuki ruangan tersebut.
Wow!.
Tidak ada siapa-siapa juga disini.
Tapi ruangan yang ini cukup besar dari yang sebelumnya. Ruangan ini juga dipenuhi dengan rak buku yang berjejer dan tentu saja semua rak itu terisi oleh berbagai jenis buku. Ditengah-tengahnya terdapat meja besar berbentuk persegi panjang lengkap dengan kursi-kursinya. Di atas meja itu berisi setumpuk kertas dan sebuah globe yang sangat besar.
Apakah ini semacam perpustakaan?. Tanyaku dalam hati.
Aku yang takjub melihat rungan ini tak bisa mengendalikan langkah ku untuk menghampiri salah satu rak buku terdekat dan menarik sebuah novel yang berjudul "Don Quixote" Karya Miguel de Cervantes. Aku mencoba untuk membaca lembaran buku ini yang di tulis menggunakan bahasa asing. Sial. Ini sama sekali membuatku tak mengerti.
Aku kembali mengalihkan perhatian ku pada buku yang lain. Tiba-tiba mata ku jatuh pada sebuah novel yang berjudul "The Tales of Beedle the Bard" Karya J.K Rowling, buku itu membuat ku tercengang. Biasanya, Aku hanya bisa melihat karya ini terpajang pada pameran buku dengan harganya yang sangat fantastis. Aku merasa terharu sekaligus bangga pada diriku sendiri, karena akhirnya bisa menyentuh mahakarya yang sangat mahal ini.
Tanpa pikir panjang aku langsung berjinjit untuk mencapai buku tersebut.
Set.
__ADS_1
-Awne Cn