SAVANA

SAVANA
BAB 11


__ADS_3

Setibanya di sekolah aku langsung bergegas ke kelas. Ku dapati James yang sedang berbincang-bincang dengan Ashela. Mereka terlihat sangat akrab.


Wajarlah, mereka sudah mengenal dari kecil. bisikan itu muncul di benakku walaupun rasa cemburu menyelimuti hatiku.


Tanpa basa-basi ku tarik tangan James yang tengah menyapa kehadiranku.


"Ada apa babe?". Tanya James yang kebingungan namun tetap mengikuti langkahku.


"Hey! Kalian mau kemana?!". Teriak Ashela kemudian dengan wajah yang menatap ku sinis.


"Please deh! James ini pacar ku, bukan urusan anda kami mau kemana!". Balas ku sewot.


Seisi kelas menatap kami bertiga, namun aku hiraukan. James juga sama sekali tak mengelak dengan perlakuan ku. Aku pun berjalan dengan James yang berada di gandengan ku menuju ruang perpustakaan, dimana kami biasa menghabiskan waktu berdua.


"Ada masalah apa babe?". Tanya James ketika kami sudah berada di tempat biasa dengan posisi yang sama.


"James, i love you okay?". Ucapku kemudian sembari menangkap wajah tampannya.


"I know babe, but kenapa tiba-tiba seperti ini?". Tanya James kebingungan.


"I don't know. Aku cuman takut kamu pergi, atau bisa saja aku jatuh hati dengan orang lain". Ucapku dengan nada melow yang ku buat-buat.


"Maksudnya? Ada pria lain selain aku?". Tanya James dengan wajah yang mengerut.


"BIG NO!. Ini hanya ketakutan yang muncul tiba-tiba babe". Ucapku yang kini memelas manja di pangkuannya.


"It's okay babe, jika itu terjadi aku akan memenangkan hatimu dari pria lain siapapun itu, karena aku tau akulah satu-satunya pria yang sempurna untukmu". Ucap James dengan arogan nya.


"Kamu yakin?". Tanyaku ragu-ragu.


"Yakin. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu". Balas James, diakhiri dengan ciuman yang mendarat lembut di bibirku.


.


.


.


.


.


Lagi-lagi kami melewatkan pelajaran jam pertama dengan menghabiskan waktu di ruangan perpustakaan yang penuh dengan cerita kami ini.


Di sela-sela kegiatan mesra kami, aku menceritakan tentang kakek angkat dan sepupu yang tiba-tiba muncul di dalam kehidupan ku. Tak lupa aku juga menceritakan tentang ayah dan ibu ku yang akan berpisah dalam waktu dekat.


James pandai menghibur dengan kata-kata manis serta sentuhan lembutnya. Benar kata dia, tidak mungkin aku bisa berpaling ke lelaki yang lain dengan dirinya yang memang sempurna ini.


Setelah jam istirahat pertama selesai, aku dan James memutuskan agar kembali ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran berikutnya. Di kelas sudah terdapat Ashela dengan raut wajah yang murung. Menyaksikan itu, aku jadi merasa kegirangan dalam hati.

__ADS_1


"Ehem, bibirku jadi bengkak gara-gara kamu babe". Ucapku dengan nada yang sengaja ku tinggikan untuk membuat hati Ashela makin panas.


"Huuu~ kasmaran terus nih!". Ucap anak-anak sekelas yang mendengar ucapan ku.


"Biasa aja deh! Lagian James emang agak agresif sih". Balasku pada mereka sambil tersenyum malu.


"Babe.. Udah dong". Ucap James kemudian.


Gelak tawa pun memenuhi ruangan kelas kami. Tentu semua orang di ruangan ini wajahnya dipenuhi dengan senyuman, kecuali si pengganggu Ashela ini. Mampus kau!.


"James, sepulang sekolah mama minta kamu untuk mampir ke rumah". Ucap Ashela di tengah-tengah keramaian kelas yang sedang menggoda aku dan James.


"Oh ya? Kenapa tidak bilang dari tadi kalau mama kamu suruh mampir?". Tanya James kemudian dengan wajah yang berubah jadi panik.


Aku, bukan, seisi kelas tiba-tiba jadi terdiam. Perubahan ekspresi James itu mengundang tatapan curiga dari setiap pasang mata yang ada, tak terkecuali aku yang mengernyit kan dahi melihat dirinya.


"Sudahlah. Aku ke toilet dulu". Ucap Ashela kemudian di tengah keheningan dan kecurigaan kami semua.


"Babe?". Aku memberanikan diri memanggil James.


"Aku... Aku akan bicara dengan Ashela". Tutur James kemudian sambil bergerak meninggalkan kelas.


Seperti luka yang dilelehkan dengan jeruk, begitulah perasaan yang tiba-tiba muncul di hati ku. Rasa gembira dan tatapan menggoda dari teman sekelas juga seketika berubah jadi tatapan penuh tanda tanya, ada juga yang saling berbisik sambil menatap ku aneh. Perubahan yang tiba-tiba ini membuatku kaget dan berusaha untuk meyakinkan diri agar tidak menangis. Aku belum terbiasa dengan situasi seperti ini.


Aku yang memutuskan untuk keluar dari kelas menyusul James tiba-tiba dihadang dengan guru yang berdiri di depan pintu masuk.


Dia guru matematika kami.


Aku yang tak bisa bersuara pun akhirnya mengalah dan kembali ke tempat duduk ku.


Kelas akhirnya di mulai, tanpa adanya tanda-tanda James dan Ashela muncul.


Berbagai pertanyaan muncul satu-satu di dalam benakku. Baru sejam yang lalu kami mengucapkan sumpah setia, namun di waktu berikutnya James sudah membuatku gelisah dan bertanya-tanya.


Apa mungkin...?


Tidak. Tidak.


Aku berusaha menyingkirkan pemikiran buruk tentang mereka dengan fokus terhadap mata pelajaran yang sedang berlangsung. Namun tetap saja, ini bukan hal yang mudah untuk ku lakukan.


.


.


.


Bel pulang sekolah akhirnya berdering. James dan Ashela masuk di jam mata pelajaran terakhir. Sepanjang itu James hanya terdiam. Aku ingin menanyakan banyak hal namun hatiku memilih ikut diam. Sesekali aku melirik James yang duduk di samping ku, dia terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal.


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan tadi?

__ADS_1


Setelah guru mempersilahkan kami pulang, satu persatu murid di kelas ini pun meninggalkan ruangan, di susul dengan Ashela, James dan aku. Hingga detik ini keduanya masih terdiam.


"James, bisa tinggal sebentar?". Tanyaku akhirnya membuka percakapan.


"Vana, lain kali saja ya. Aku ada urusan hari ini". Balas James yang melepas tangannya dari genggaman ku.


"Babe, kamu kenapa sih. Tiba-tiba seperti ini?". Ucapku sambil menyusul langkah James yang berada di belakang Ashela.


"Kalian sebenarnya ada hubungan apa?". Lanjut ku kemudian yang membuat langkah James dan Ashela terhenti.


James berbalik dan menatap ku yang berdiri di belakang nya. Pertanyaan yang sejak awal mengenal Ashela akhirnya terucap di bibirku. Rasa panas mulai timbul di wajah dan pelupuk mata ku.


"Babe...".


"Ehem!". Ashela yang tiba-tiba batuk itu menghentikan ucapan James.


Aku menatap dirinya bergantian dengan Ashela. Kecurigaan ku makin menjadi-jadi. Aku berusaha melawannya, namun sikap James yang hanya terdiam seolah-olah membenarkan semua prasangka di hatiku.


Cukup lama aku menunggu James yang memberikan penjelasan namun nihil. Aku akhirnya berlari meninggalkan mereka berdua, karena tak ingin air mata ini akhirnya tumpah dihadapan wanita sialan itu.


Sesampainya di parkiran, aku menengok ke belakang dengan mata sembab, namun tak ada tanda-tanda James menyusul ku. Suasana sekolah sudah mulai sepi. Hanya beberapa siswa yang ikut ekstrakurikuler yang terlihat.


Sial!.


Selang beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam melintas di samping ku, aku tercengang melihat plat mobil yang ku kenali.


Kenapa James melewati ku?. Apa dia sengaja?.


Batinku yang tak henti-hentinya bertanya akhirnya tersadar ketika bola basket nyaris menimpa wajahku. Luke, kapten basket, yang juga merupakan ketua kelas kami terlihat berlari menghampiri ku.


"Kau tidak apa-apa?". Tanya luke kemudian yang kini berdiri di depanku.


Tubuhnya yang cukup tinggi membuat kepala ku sedikit terangkat untuk bisa melihat wajahnya.


"Hey?". Tegur nya lagi.


"Aa-Ya!, aku tidak apa". Ucapku dengan suara yang serak.


"Kenapa kau berdiri di sini? Bukannya James tadi barusan lewat?". Tanya nya kemudian yang membuatku langsung menggeleng kan kepala.


"A-aku naik taksi online, James ada urusan mendadak". Ucapku mengarang bebas.


"Ooh! Ku pikir ada apa, mau ku antar pulang?". Tanya Luke kemudian yang membuatku kembali menggeleng kan kepala.


"Ah! Tak perlu repot-repot. Aku sudah memesan taksi nya kok". Tolak ku sambil tersenyum tidak enak padanya.


"Ooh, yasudah. Hati-hati pulangnya". Ucap Luke kemudian berbalik meninggalkan ku sambil menggiring bola basket yang ada ditangannya.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2