SAVANA

SAVANA
BAB 6


__ADS_3

Dengan perasaan yang gundah aku melangkah masuk ke dalam rumah mungil ku ini. Berharap, ayah dan ibu telah menyelesaikan masalahnya walaupun jauh di lubuk hatiku sudah memastikan bahwa perang dingin itu takkan berakhir.


Saat kaki ku melangkah masuk, suasana hening yang akrab malah menyambut ku. Pintu kamar ibu yang berhadapan dengan meja makan masih tertutup rapat. Aku menghampiri dan mencoba mengetuk pintunya namun tak ada jawaban.


Ceklek.


Pintunya terkunci.


Tok! Tok! Tok!


Kesekian kalinya aku mengetuk namun belum ada jawaban sama sekali.


"Ibu?". Panggil ku setengah berteriak.


...


"Ibu ada di dalam?". Teriakku kini.


Aku mulai panik ketika belum menerima jawaban apapun dari ibu. Bagaimana jika terjadi sesuatu saat aku berangkat ke sekolah tadi?. Harusnya aku tidak usah pergi ke sekolah!. Ini semua salahku.


Tanpa sadar, air mataku kembali menetes. Terus aku memanggil ibu namun tidak ada jawaban.


Kring! Kring! Kring!.


Di sela-sela isak tangis ku, telepon rumah berdering. Aku bergegas menghampiri benda yang berada di ruang tamu tersebut.


"Halo?". Sapa ku.


"Halo.selamat siang. Apakah ini dengan kediaman Nyonya Saphira?". Tanya suara asing dari balik telepon genggam ku.


"Iya benar. Saya anaknya, ada yang bisa saya bantu?". Tanyaku lagi sambil menyeka air mata yang membasahi pipi ku.

__ADS_1


"Ah! Kami dari pihak Rumah Sakit Care Center ingin menyampaikan kepada Anda, bahwa tadi pagi ibu anda pingsan, lalu seorang pria paruh baya menolong beliau dengan membawanya masuk UGD dan sekarang sudah berada di salah satu ruangan rawat inap setelah ditangani oleh dokter umum, beliau mengalami gangguan tekanan darah tinggi. Saat ini ada beberapa administrasi yang perlu pihak keluarga tandatangani, kami harap anda bisa datang secepatnya". Jelas suara wanita yang tidak lain adalah seorang suster dari Rumah Sakit Care Center tersebut.


"Baiklah, terimakasih atas infonya, saya segera menuju ke sana". Ucapku tanpa basa-basi dan langsung menutup telpon nya.


Aku berlari menuju kamar dan mengganti pakaian sekolah ku dengan kaos polos berwarna putih dan celana jeans model cutbray berwarna biru langit, lalu menarik hoodie coklat yang tergantung di samping lemari baju.


Aku memesan taksi online dan melirik jam yang tertera di layar handphone ku. Pukul 14.50. Aku bahkan belum makan siang sejak tadi. Namun saat ini, bukan hal itu yang mengganggu pikiran ku. Sepanjang perjalanan hati ku bertanya-tanya, ada apa dan kenapa. Aku merasa akhir-akhir ini, setiap detik napas yang ku hembuskan dalam hidupku tak ada gunanya. Seolah-olah semua hal-hal penting menyembunyikan diri dari ku. Sekarang Ibu dirawat dengan penyakit tekanan darah tinggi. 19 tahun lebih aku hidup bersama ibu, namun beliau tidak pernah mengatakan apapun tentang penyakitnya itu.


Hiks..


Pikiran ku benar-benar kacau hari ini.


Setibanya di lobi Rumah sakit, aku segera ke bagian resepsionis untuk menanyakan ruangan ibu, dan menyelesaikan beberapa administrasi yang dimaksud.


"Silahkan tanda tangan disini, setelah 3 hari rawat inap anda bisa membawa kembali surat ini agar kami mengatur kepulangan beliau". Jelas perawat yang berada di balik meja resepsionis ini.


"Ah, untuk biayanya bagaimana, sus?". Tanyaku dengan polos.


"Maaf, boleh saya tahu siapa bapak ini?". Tanyaku penasaran dan sedikit terkejut mendengar penjelasan suster tersebut.


Jika itu ayah, tidak mungkin aku yang mengurus administrasi rawat inap ibu, bahkan jika benar ayah, dia pasti langsung menghubungi ku saat ibu baru saja di larikan ke rumah sakit. Lagi pula...


Mustahil ayah peduli dengan ibu.


"Maafkan kami, karena beliau tidak ingin identitas nya diketahui oleh siapapun". Jelas sang suster lagi.


"Beliau hanya menitipkan secarik kertas ini, untuk diberikan ke ibu anda jika sudah tersadar". Sambungnya dengan memberiku potongan kertas berukuran 5×3cm yang terlipat rapih.


"Baiklah, saya minta tolong pada suster untuk menyampaikan rasa terimakasih kami, jika saja bapak-bapak itu datang lagi". Ucapku tulus sambil menerima surat rawat inap ibu, dan secarik kertas kecil itu.


"Baiklah, semoga ibu anda lekas sembuh". Ucap sang suster sambil memberikan salam hormat, lalu ku balas dengan senyuman dan aku pun berlalu.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Aku berhenti di depan pintu ruangan yang bertuliskan kamar VIP 309. Ku tengok kembali nomor kamar yang tertera dalam surat yang suster tadi berikan. Nomor kamarnya sama, namun aku tidak berpikir bahwa ibu sampai menginap di ruangan VIP. Bahkan untuk melunasi biaya rumah sakit ini, belum tentu kami dapat memenuhi nya secara langsung.


Aku mengintip dari balik jendela, namun jendela nya tertutup tirai. Apa mungkin suster itu salah menghubungi keluarga pasien ya?. Tapi nama yang tertera dalam surat ini sama persis dengan nama ibu.


Setelah berpikir sejenak, aku memberanikan diri membuka pintu kamar ini. Sebelum masuk, aku mengintip di balik celah pintu untuk memastikan nya lagi.


Saat mataku menangkap sosok ibu yang terbaring pucat di atas tempat tidur pasien dengan kabel infus yang ada di tangannya, kecemasan ku kembali. Segera ku tutup pintu dengan pelan agar tidak menimbulkan kebisingan.


Aku menghampiri ibu, dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Ibu yang tertidur pulas terlihat sangat pucat dan lelah. Penampilan nya lagi-lagi membuat air mata ku menetes. Ku genggam tangan ibu yang terasa dingin dan mengungkapkan semua kegundahan yang sejak lama ku pendam.


"Maafkan vana, bu. Seharusnya vana lebih bisa menjaga ibu. Bahkan dalam kondisi tersulit pun vana tidak ada di samping ibu...". Aku menghentikan sejenak ucapan ku dan mulai menimbang kata-kata yang akan ku lontarkan.


Ku tarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan. Ku tumpukan kepala ku di samping lengan ibu dan memeluk tubuhnya yang mulai kurus.


"... Mungkin lebih baik kita melepaskan ayah, bu. Untuk apa terus-terusan menahan seseorang yang ingin pergi. Dia sudah menemukan rumah tempat ia pulang. Sangat sedih rasanya, namun vana dan ibu harus menerima kenyataan, kalau ayah hanya menjadikan kita tempat persinggahan nya. Walaupun sulit, vana janji akan tetap berada di samping ibu, dan melindungi ibu". Ucapku kini dengan air mata yang menetes makin deras.


Kalimat yang sudah ku tahan sejak awal mula pertengkaran mereka akhirnya terucap di bibir ku.


Perlahan rasa sembab yang timbul akibat menangis membuat kedua mataku rasanya ingin tertutup. Rasa kantuk pun mulai menghampiri. Ku pejamkan mata sambil bersenandung pelan dan kesadaran ku akhirnya perlahan menghilang.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2