SAVANA

SAVANA
BAB 24


__ADS_3

"Sangat di sayang kan yah, jika wanita cantik seperti ini benar-benar gila".


Suara yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan rintik hujan yang berhenti menerpa wajahku membuat ku tersadar. Sontak aku membuka mata dan mendapati wajah Luke tepat di depan ku.


"L-luke?" Tegur ku, sambil menatapnya kaget kemudian membenarkan posisi duduk ku.


"Oh! Syukurlah. Dia tidak benar-benar gila". Ucap luke yang sudah berdiri tegak dibawah payung hitam yang ia pegang.


"Hey!". Protes ku pada ucapannya itu.


"Apa kau akan tetap duduk seperti itu?". Tanya nya kemudian sembari memandang ku dengan wajah prihatin.


Aku mengusap wajah yang penuh dengan butiran air lalu kemudian tertawa renyah menyadari tindakan konyol yang sudah kulakukan. Rasanya, sudah cukup aku berlarut-larut dalam masalah dan kesedihan ku sendiri. Aku hanya perlu bergerak untuk merelakan semuanya.


Aku terdiam sejenak dan kembali menatap Luke yang masih setia dengan ekspresi prihatin nya.


Hah...


"Yeah!. Ku rasa aku akan menerima bantuan seseorang kali ini". Jawab ku sambil tersenyum kearahnya.


Mendengar tanggapan ku Luke langsung menarik ku untuk masuk kedalam payungnya. Aku tidak menolak, aku bahkan tertawa lepas dengan perlakuannya. Beberapa orang yang berteduh di emperan toko, memandang kami dengan senyuman yang terhias di wajah mereka. Situasinya jadi terasa lucu dan aneh bagiku. Karena orang yang tak terduga dan tak pernah terpikirkan malah muncul untuk menolong.


Entahlah... Rasanya aku hanya ingin menikmati hidup ini dengan lebih baik.


Di tengah perjalanan kami, Luke menawarkan aku untuk mengunjungi rumahnya yang tidak berada jauh dari tempat pertokoan ini. Aku mengiyakan tawarannya. Kami kembali berjalan beriringan, aku yakin jaket yang ia kenakan saat ini pasti ikut basah karena menempel pada baju ku yang basah kuyup ini.


****


Well, dan disini lah kami. Tepat di depan teras rumah Luke. Ia mempersilahkan aku masuk, namun aku menolaknya. Hingga terjadilah perdebatan antara Luke yang memaksaku untuk masuk, dan aku yang merasa tidak enak karena akan mengotori rumahnya dengan tubuh dan sepatu yang basah semua.


"Vana, jangan menolak bantuan ku lagi, kau akan sakit jika menggunakan pakaian basah seperti itu". Seru Luke setengah berteriak karena suara hujan yang lebih keras.


"Aku baik-baik saja, tidak masalah Luke!". Balas ku yang juga setengah berteriak kearahnya.


Tanpa aba-aba ia langsung menyeret ku kedalam rumahnya. Aku yang terkejut mau tak mau ikut masuk kedalam rumahnya yang gelap.


"Tunggulah disini, aku akan menyalakan lampu". Ucap Luke yang menutup kembali pintu utamanya karena angin yang semakin kencang.


"Baiklah". Pasrah ku akhirnya.


Klik.


Suara itu terdengar, dan sedetik kemudian lampu di rumah ini pun menyala. Cahaya nya menampilkan kesan yang hangat dengan desain rumah yang sangat family. Aku terkesan saat pertama kali melihat rumah Luke. Desain ala rumah USA dengan bahan murni dari kayu, namun didalam nya tertata dengan sangat menarik. Saat kita memasuki rumah ini, satu set sofa empuk langsung menyambut. Disebelah kanannya terdapat meja makan dan juga dapur lengkap dengan peralatan kitchen set nya tanpa ada perantara ataupun sekat yang membatasi. Di sebelah kiri, terdapat sebuah perapian dilengkapi dengan sebuah sofa berwarna merah dan arm chair yang berwarna hijau tua. Di atas perapian tersebut terdapat foto keluarga Luke yang berukuran cukup besar.


Jika kita berjalan lurus melalui sofa ini, maka terdapat dua buah pintu ruangan yang ku tebak adalah kamar tidur. Diantara ruangan tersebut terdapat sebuah tangga menuju lantai atas yang juga berbahan dasar kayu.


Aku yang kini masih berdiri di depan pintu utamanya, serasa memasuki rumah orang-orang USA dengan nuansa klasik. Wajar lah, memang Luke asli orang sana.


"Kemari lah, pakailah baju ku. Kau bisa mengganti pakaian mu di kamar tamu". Pinta Luke yang kini menghampiriku dengan sebuah sweater rajutan berwarna putih dan kaos kaki sambil menunjuk salah satu ruangan disebelah kiri tangga.


"Terimakasih Luke". Ucapku tulus dan menerima pakaian yang ia berikan.


****


Kini aku berada di dalam kamar tamu yang Luke maksud. Aku langsung masuk kedalam kamar mandinya dan menanggalkan semua pakaian ku. Rasa dingin pun menghampiri kulitku. Pori-pori ku jadi terbuka karenanya. Segera ku nyalakan kran air hangat dan membiarkan kehangatan itu membasuh tubuhku.


Setelah kurasa cukup, aku pun mengeringkan badan dengan handuk yang tersedia kemudian menarik pakaian yang tadi diberikan Luke padaku.


Sebuah baju sweater rajutan dan celana bokser berwarna hitam yang melorot di pinggang ku. Sial.


Untungnya sweater ini cukup panjang, menjuntai hingga ke paha ku. Aku meninggal bokser nya dan hanya mengenakan baju dan kaos kaki berwarna merah muda yang juga diberikan Luke.


Aku pun keluar dari kamar dengan pakaian basah di tanganku. Luke menyambut ku di dapur dengan dua gelas minuman hangat di tangannya.


"Kemari lah". Ajak Luke yang fokus dengan gelas ditangannya dan sambil berjalan melalui ku.


"Mm... Luke, boleh aku menggunakan mesin cuci untuk mengeringkan pakaian ku?". Tanyaku yang mengikutinya dari belakang.


Mendengar permintaan ku, Luke pun meletakkan gelasnya di atas meja kaca depan perapian kemudian berbalik kearah ku.

__ADS_1


"Tentu sa... Wow".


Luke menghentikan kalimatnya dan terdiam saat menatap ku. Ia kini terlihat sedang meneliti penampilan ku, aku jadi malu karena tingkahnya itu.


"Kau terlihat cantik". Ucap Luke yang masih menatap ku.


"Hey! Berhenti omong kosong, pinjam kan aku mesin cuci mu". Balas ku menyadarkan nya.


Ia pun terlihat salah tingkah dan kemudian menuntun ku kesebuah ruangan kecil dimana tempat laundry nya berada.


"Kemari kan pakaian mu". Ucap Luke saat kami sudah tiba di sebuah ruangan.


"Biar aku saja, aku bisa menggunakan nya kok". Balas ku langsung.


Tidak mungkin aku membiarkan nya melihat pakaian dalam ku!.


"Well, baiklah". Ucapnya kemudian membiarkan aku mengerjakan nya.


"Datanglah ke perapian jika sudah selesai". Sambungnya lagi dan ia pun berlalu


Setelah Luke pergi, aku menyalakan mesin cuci ini dan mengaturnya untuk pengeringan. Mesin ini pun melakukan tugasnya.


Aku memandang kearah luar jendela kaca yang terdapat di dalam ruang laundry ini. Hujan diluar sana masih terlihat deras membasahi rumput hijau yang ada dihalaman belakang Luke. Dengan lampu taman yang berdiri di sana membuat ku sedikit bisa melihat apa saja yang ada di halaman itu. Walaupun tidak sebesar halaman rumah kakek, tapi tetap saja Luke memiliki halaman belakang yang cukup luas.


Nit! Nit!.


Suara mesin cuci menghentikan lamunan ku. Aku segera mengeluarkan pakaian yang sudah setengah kering dan menggantung nya di sebuah jemuran kecil yang berada di ruang laundry ini.


Setelah selesai mengurus pakaian ku, aku berjalan menghampiri Luke yang sedang menyusun beberapa kayu ke dalam perapian. Aku berdiri di sisi armchair sambil menyilangkan tangan di dada dan menatap Luke yang sangat serius dengan kayu-kayu tersebut.


"Butuh bantuan?". Tawar ku padanya.


"Tak perlu, duduk manis lah. Nikmati kopi mu". Jawab Luke sambil melemparkan senyum nya.


Aku pun mengikuti sarannya dan duduk di atas sofa sambil menarik kopi yang dibuat oleh Luke.


"Kopi buatan mu enak". Puji ku setelah menyesap kopi hitam buatan Luke.


"Keluarga ku pecinta kopi, jadi itu bukan hal yang mustahil jika rasanya enak". Ucap Luke sambil tertawa renyah.


Perapian nya kini sudah menyala, Luke pun ikut duduk di samping ku.


Kami terdiam sejenak sambil menyaksikan api yang mulai membakar kayu-kayu yang tadi disusun Luke.


"Hm..." De sah ku menikmati aroma kopi dari cangkir yang ada di genggaman ku.


"Aku suka aromanya". Sambung ku lagi membuka obrolan kami.


"Apa aku perlu membuatkan mu secangkir lagi?". Tanya Luke meledek ku.


"Boleh ku bawa pulang saja?". Balas ku meladeni nya.


Luke pun menanggapi perkataan ku dengan tawa yang lantang. Aku jadi ikut tertawa karenanya. Setelah itu kami kembali terdiam satu sama lain.


"Em... Apa kau butuh selimut?". Tanya Luke kini sambil melirik paha ku yang setengah terbungkus oleh baju rajutan yang tadi ia berikan.


"Tak masalah, perapian mu cukup hangat". Balasku sambil tersenyum padanya.


Luke pun mengalihkan pandangannya kearah lain. Apa dia malu?. Lucu juga dia.


"Oh iya, dimana keluarga mu?". Tanyaku yang sedari tadi penasaran sambil menatap foto keluarga mereka.


"Weekend ini ayah dan ibu berkunjung ke rumah nenek di LA". Jawab Luke yang kini meneguk kopi nya.


"Oh! Kenapa kau tidak ikut?". Tanyaku lagi.


"Well, aku melakukan kerja paruh waktu di sebuah toko buku". Jawabnya santai.


"Hm... Jadi tadi itu, kau baru pulang kerja?". Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Ya!. Dan seorang wanita cantik menarik perhatian ku, karena tingkahnya yang seperti orang gila". Jawab Luke yang kembali meledek ku.


"Hey! Aku tidak gila. Aku hanya... sedang menikmati alam". Balas ku asal dan malah ditanggapi dengan alis Luke yang terangkat.


Ia kini menatap ku seolah-olah aku memang gila.


"Hentikan! Aku ini normal!". Belaku sambil melempar nya dengan bantal bulat yang ku tempati bersandar.


Bantal itu mendarat telak di wajahnya, membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Ya! Ya! Aku tau, tapi kau tak perlu melempari ku!". Gerutunya sambil mengembalikan bantal itu pada ku.


Setelah cukup puas tertawa, kami pun kembali larut kedalam pikiran masing-masing. Sesekali aku melirik Luke yang memandang lurus kedalam perapian. Apa dia sedang memikirkan sesuatu?.


"Apa yang membuatmu, berpikir untuk melakukan hal semacam itu?". Tanya Luke kemudian dengan nada yang serius.


Aku kembali meliriknya dengan perasaan yang bimbang. Apa dia menyadari sesuatu?.


"Entahlah. Aku hanya ingin melakukannya". Jawab ku.


Kalimat yang ku lontarkan itu kembali membawa ingatan ku pada om Jacob. Apakah saat ia mengatakan hal yang sama, dia juga merasa seperti ini?. Aku masih ingat betul tatapan mata dan jawabannya tadi siang.


.


.


.


.


.


"Vana?!". Sahut Luke yang kini menggoyangkan tubuh ku.


"A-ah! Ya! Ada apa?!". Balas ku spontan sekaligus kaget dengan perlakuannya.


"Kau menghayal ya?". Tanya Luke kemudian.


"Sedikit". Jawab ku sambil cengengesan.


Luke terlihat menghela nafas berat sambil membenarkan duduknya.


"Aku tanya, apakah kau dan James baik-baik saja?". Tanya Luke yang seketika membuat ku terdiam.


Walaupun hatiku masih sakit ketika mendengar namanya, namun aku bisa mengerti. Inilah siklus hidup. Aku bisa menerima dan menjalaninya.


"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya". Jawab ku dengan nada yang berat. Ya, memang tak semudah itu untuk mengakuinya ke orang lain.


Mendengar jawaban ku, Luke hanya diam. Rasanya waktu kini bergerak dengan lambat dalam keheningan kami berdua.


"Maaf". Ucap Luke setelah beberapa menit terdiam.


"Tak apa. Manusia bisa berubah kapan pun, Luke". Balas ku sambil tersenyum hampa kearah nya.


Ia membalasnya dengan senyum kecut kemudian bangkit dari duduknya.


"Well, kau benar. Apa kau lapar?". Tanya nya yang kini terlihat bersemangat.


Aku tau Luke berusaha merubah topik pembicaraan kami. Aku yang memang merasa cukup lapar kemudian menanggapi pertanyaan nya dengan anggukan sambil tersenyum malu.


Yah, jujur saja, aku merasa sedikit lega akhirnya bisa mengungkapkan luka itu pada orang lain.


Hm...


Sepertinya aku salah. Luke bukan orang lain. Dia teman ku. Waktu itu juga ia menawarkan ku tumpangan, hanya saja mataku yang terlalu tertutup oleh James, sampai tak melihat kebaikan Luke. Sungguh disayangkan, aku baru menyadarinya sekarang. Ternyata masih ada teman di sekeliling ku yang peduli.


Lagi-lagi tanpa sadar, senyuman terukir di wajah ku. Entah Luke melihatnya atau tidak, tapi ia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata yang lain.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2