
Aku terbangun ketika merasakan ada belaian tangan di atas kepala ku. Rasanya sangat nyaman sehingga aku jadi ingin melanjutkan tidurku kembali. Tiba-tiba kesadaran itu membuat nyawaku terkumpul seketika. Ku angkat kepalaku yang terasa kram di leher dan melihat ibu yang sudah sadarkan diri.
"Bagaimana perasaan ibu sekarang?". Tanyaku seketika dengan suara serak.
"Minumlah dulu, lalu cuci muka". Balas ibu dengan suara parau.
Ku perhatikan lekukan bibirnya yang mengukir senyum simpul, beliau benar-benar terlihat sangat lelah. Aku menganggukkan kepala mengikuti perintahnya, tak ingin membuat situasi perdebatan walaupun dengan hal-hal kecil. Aku bergegas menuju kamar mandi yang berada di ujung ruangan berukuran 5×4 ini. Hal mengganjal yang sempat terlupakan itu pun kembali melintas di benakku saat membasuh wajah di dalam toilet yang penuh dengan nuansa mewah. Ada wastafel dilengkapi dengan cermin dinding yang cukup lebar, kemudian ruangannya di pisah dengan tempat mandi dan tempat buang air. Jadi kesimpulannya dalam satu toilet ini terdapat tiga ruangan yang di sekat-sekat dengan dinding kaca yang memberikan efek buram.
Wow!
Siapa ya bapak-bapak misterius itu?
Aku melangkah keluar menuju tempat dimana ibu sedang terbaring lemah. Dua orang petugas medis, yang ku tebak salah satunya adalah dokter tengah berdiri sambil memeriksa beberapa bagian tubuh ibu. Aku pun berjalan menghampiri.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?". Tanyaku pada sosok pria paruh baya dengan alat pendeteksi denyut nadi dan jantung yang bergantungan di pundaknya.
"Syukurlah kondisinya makin baik, ibu anda perlu mengikuti anjuran untuk istirahat selama 3-4 hari di ruangan ini hingga kondisinya benar-benar pulih dan normal kembali". Terang sang dokter dengan ramah.
Aku mengangguk mendengar penjelasannya dan dia pun memberikan beberapa obat yang harus dikonsumsi ibu tiga kali dalam sehari.
"Tolong untuk diperhatikan obatnya dihabiskan ya". Ucap sang dokter lagi sambil memberiku sebuah kertas yang berisikan resep obat.
"Besok saya akan datang memeriksa ibu anda lagi". Sambung dokter tersebut dengan ramah dan dia pun keluar dari ruangan ini diikuti dengan sang suster yang membawa serangkaian kertas dan alat tulis.
"Ibu merasa baikan? Mau vana ambilkan minum?". Tanyaku kini duduk di tempat yang sebelumnya.
__ADS_1
"Tolong ya, tenggorokan ibu terasa kering". Ucap ibu masih dengan suaranya yang parau.
"Ini, ibu habiskan yah". Aku menyodorkan secangkir air bening yang ku ambil dari dispenser samping lemari pendingin yang terdapat di dalam ruangan ini.
"Bu, kenapa tidak bilang ke vana kalau ibu sakit?". Tanyaku kini setelah menyimpan gelas yang tadi ku sodorkan padanya.
"Bukan penyakit serius nak, lagi pula ini hanya karena ibu kurang istirahat". Jawab ibu sambil meraih tangan ku.
"Kamu gak usah khawatir, ibu baik kok". Lanjutnya lagi.
Aku menghela napas gusar karena merasa frustasi dengan jawaban yang ibu lontarkan. Aku tahu persis apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Ku tatap ibu dengan senyum tulus dan beliau mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan aku untuk memeluknya. Dan aku pun terhanyut dalam kehangatan pelukan beliau.
"Bu, suster rumah sakit mengatakan kalau ibu diantar oleh bapak-bapak paruh baya dan dia menitipkan sebuah kertas untuk ibu". Terang ku kini sambil merogoh kantong celana jeans ku.
Aku memberikan kertas itu pada ibu, dan beliau langsung membukanya.
Seketika mata ibu terlihat berkaca-kaca setelah membaca tulisan tangan yang singkat itu. Aku mengkerut kan kening dan bertanya mengapa ibu terlihat sedih dan hanya dijawab dengan gelengan kepalanya.
Suasana pun kembali hening. Ibu terlihat memikirkan sesuatu, dan aku tidak berani mengusiknya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu diiringi dengan seorang pegawai yang muncul dari balik pintu masuk dengan nampan berisikan makanan di atas kedua tangannya.
"Selamat malam, mohon maaf menggangu. Saya mengantarkan beberapa makanan untuk kalian nikmati". Ucap pegawai itu sambil meletakkan nampannya di atas meja yang berada di samping pintu.
__ADS_1
"Ah! Terimakasih, maaf sudah merepotkan". Sambut ku dan berjalan kearahnya sambil membantunya memindahkan makanan yang ia bawa di atas meja.
Setelah pegawai tersebut berlalu, aku pun membawa makanan ini pada ibu dan menyuapi nya. Kami pun makan malam bersama dalam keheningan. Sesekali ibu menanyakan tentang hari-hari ku di sekolah dan kemudian kami kembali terdiam.
Aku ingin membahas tentang bapak-bapak misterius itu, dan mengapa ia menuliskan hal seperti itu pada ibu. Namun hati kecil ku seolah menahan untuk tidak mengucapkan pertanyaan itu lagi.
Selepas makan malam, aku memberikan ibu beberapa jenis obat yang telah diresepkan oleh sang dokter. Ibu pun langsung meminumnya dan setelah itu ia kembali bersandar di atas tempat tidur lalu aku sibuk membersihkan bekas piring makan kami di kitchen sink yang sudah tersedia.
Setelah beres-beres aku kembali duduk di kursi samping tempat tidur ibu sambil mengupas jeruk yang dibawakan bersamaan dengan makanan tadi.
"Vana, ayah ada hubungin kamu?". Tanya ibu kini membuka obrolan kami.
Aku menggeleng kan kepala menanggapi pertanyaan ibu dengan jari-jari yang masih sibuk mengupas jeruk segar ini.
"Hahh...".
Hembusan napas berat itu terdengar sangat menyakitkan dari suara ibu.
"Bu, vana akan tetap mendampingi ibu". Ucapku kini menatap mata ibu dalam.
Setitik air mata yang sempat tertahan di pelupuk mata beliau akhirnya menetes juga. Aku segera menyeka air mata itu dan langsung memeluk tubuhnya yang terasa makin kurus.
"Dalam keadaan sulit vana tau, kadang ibu menyembunyikannya semuanya agar terlihat kuat, namun mulai sekarang ibu harus membagi kesulitan itu juga dengan vana. Apapun itu, karena kita berdua adalah wanita yang kuat. Dan mulai sekarang vana akan jadi anak yang berbakti buat ibu". Jelas ku diselingi isak tangis yang akhirnya pecah melihat tetesan air mata ibu.
Kami pun saling memeluk dan meluapkan segala keluh kesah yang terpendam selama ini. Ibu bahkan mengatakan kalau ia dan ayah akan bercerai dalam waktu dekat ini. Di samping semua itu, kami juga saling menguatkan satu sama lain, menghapus ke piluan yang menetes dari mata masing-masing.
__ADS_1
Hingga akhirnya ibu pun terlelap, dan tinggal lah aku dengan hati yang kosong namun otak dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung memiliki jawaban.
-Awne Cn