
Jake POV
Hari ini tepat 5 tahun kehadiran Eiden di hidupku. Setelah Alice memutuskan hubungan kami dan memilih untuk pergi, tinggal lah aku dan Eiden yang saling melengkapi. Karena posisiku yang penting di perusahaan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah utama setelah aku dan Alice berpisah. Di rumah utama ada Daddy dan Mommy yang bisa menjaga Eiden selagi aku bekerja.
Beberapa hari yang lalu, aku akhirnya mendapat kabar dari kakak angkat ku yang sudah lama memilih untuk meninggalkan rumah bersama suaminya, yang kabarnya sekarang Daddy sedang memerintahkan firma hukum keluarga untuk mengurus surat perceraian mereka. Malang sekali dia.
Aku bingung antara harus sedih atau senang, namun karena kabar itu kakak mau kembali menginjakkan kakinya di rumah utama. Kupikir itu sesuatu yang harus ku syukuri. Sudah hampir 20 tahun kami tidak bertemu. Walaupun kami tak ada hubungan darah, namun ia sudah meninggalkan jejak kakak yang baik dalam hidup ku. Dialah orang yang mengisi masa kecilku dengan hari-hari yang menyenangkan di kala aku sedang kesepian dan butuh teman bermain.
.
.
.
.
.
Tadi pagi, karena sudah sangat merindukan kakak, aku berinisiatif untuk langsung menemui dirinya setelah menerima alamat yang diberikan Daddy tempo hari lalu. Sekalian, aku ingin mengajaknya membantu ku membeli cake untuk Eiden.
Tak disangka ternyata kakak sudah memiliki seorang anak gadis yang cantik dan sedikit 'aneh' menurutku. Tapi bukan itu yang terpenting, di hari yang sama ini mereka akhirnya bergabung kembali dengan keluarga besar. Walaupun sebenarnya aku belum tahu pasti, apa yang akan kakak rencanakan kedepannya.
****
Setelah mengantar kakak kembali ke rumah nya, aku terus melanjutkan perjalanan kekantor. Tiba-tiba saja ada pertemuan mendadak yang diadakan oleh kepala pelaksana yang sedang menangani proyek konstruksi gedung pemerintah. Hal ini tentu merupakan perkara serius. Aku terpaksa harus datang terlambat di acara pesta ulang tahun anak ku sendiri.
Namun semua itu bukan jadi masalah, daddy menelpon ku bahwa Eiden baik-baik saja dengan keterlambatan ku. Anak itu sangat mengerti kondisi ayahnya sekarang, aku jadi sangat khawatir karena dirinya yang terlihat lebih dewasa diusianya yang belia itu. Aku tidak ingin anakku jadi seperti aku sewaktu kecil.
Mungkin inilah takdir kelurga kami. Batin ku.
Setelah menyelesaikan rapat mendadak dengan instansi pemerintah dan pelaksana lapangan, aku langsung buru-buru turun dari lantai 30 dan segera menuju lobi dimana mobil bermerek Bugatti La Voiture Noire sudah terparkir di depan pintu keluar. Aku langsung menarik kunci yang diberikan oleh vale dan menancap gas menuju rumah utama.
Aku melirik Jam rolex keluaran tahun 1942 yang menunjukkan pukul 20.15.
Huh! Bahkan aku sangat terlambat dari perkiraan.
Jalanan yang cukup padat membuatku beberapa kali mengomel dan mengutuk para pemerintah yang tidak memerhatikan hal seperti ini.
__ADS_1
Mereka terus saja sibuk dengan gedung-gedung yang selalu ditinggikan!.
****
Akhirnya aku tiba pukul 21.00 di halaman rumah utama. Seorang sopir keluarga menghampiri dan ku berikan kunci mobil untuk ia teruskan ke dalam garasi. Para pelayan yang menunggu di depan pintu pun langsung membungkuk hormat menyambut kedatangan ku. Aku tidak begitu peduli hal ini. Sekarang yang terpenting aku harus segera menemui Eiden, aku tidak ingin di cap sebagai ayah yang lebih cinta pada pekerjaan dibandingkan anaknya sendiri.
"Ehem! Maaf semua, saya terlambat". Ucapku kini setelah memasuki pintu ruang keluarga.
Di sana sudah ada Mom and Dad dan anggota keluarga yang lainnya. Mereka sedang terlihat asik berbincang-bincang namun seketika semua orang itu menatap kehadiran ku.
Mata ku mencari Eiden, namun fokus ku malah ke sosok gadis yang sedang bermain di sampingnya. Eiden bahkan tidak menoleh ketika aku mengucapkan kalimat ku tadi.
Bukan, bukan itu. Siapa gadis ini?. Tanyaku dalam hati.
Dia pun mengangkat kepalanya dan pandangan kami saling bertemu.
Sial!.
She's so Beautifull.
Pandangan ku terus turun meneliti gadis yang bagaikan malaikat penyembuh itu. Tubuhnya yang tergolong mungil dan kaki yang terlihat jenjang membangkitkan gairah didalam diriku. Entah sudah berapa lama perasaan ini tidak pernah lagi muncul hanya dengan melihat seorang wanita. Namun, gadis ini membuat jantung ku jadi terus berdebar.
"Ehem!".
Suara itu membawa kembali kesadaran ku. Ku lirik asal sumber suara yang ternyata berasal dari Daddy. Dunia pun kembali bergerak setelah cukup lama ter jeda.
Aku melangkah kan kaki menghampiri mereka dan duduk di samping daddy. Belum sempat duduk, sosok yang sudah lama ku rindukan langsung memeluk ku.
"Ah! Kakak!". Sapa ku dan membalas pelukannya.
"Kau sudah menjadi ayah yang hebat ya sekarang". Ucap kakak kemudian.
Aku tertawa ringan dengan perkataan nya itu, ia pun melepas pelukannya dan kembali duduk di sofa.
"Daddy! Eiden dapat kado seorang princess". Ucap suara anak kecil yang tidak lain adalah anakku sendiri.
Ia menarik lengan ku dan menuntun ku menuju ke seseorang.
__ADS_1
"Lihatlah dad, Kakak ini seperti princess yang ada di dalam buku dongeng Eiden!". Ucap Eiden sangat bersemangat.
Ternyata ia menuntun ku pada gadis yang bak malaikat ini. Dilihat dari dekat pun, wajahnya makin terlihat cantik dengan pipi yang memerah secara alami. Oh cantiknya.
Apa dia sedang tersipu?. Lucunya!.
Aku pun berjongkok di depan gadis ini dan memperhatikan dirinya yang sedang tersenyum sambil menundukkan kepala. Betapa lucu dirinya ini!.
Sepertinya dia terlihat familiar.
"Kak, ini daddy Eiden. Dia sibuk di perusahaan jadinya terlambat datang". Ucap Eiden kemudian duduk di samping gadis ini.
"Halo om!. Saya Ruby Savana, anak dari Ibu Saphira". Ucapnya kini dengan sedikit segan sambil mengulurkan tangannya kearah ku.
Aku yang terpana dengan suara lembut yang keluar dari bibir menggoda nya itu membuat dunia ini kembali berhenti berputar. Pantas saja terasa familiar, ternyata dia gadis yang tadi pagi ku temui dirumah kakak ya. Tapi penampilan nya sekarang benar-benar menarik perhatian ku.
...
"Daddy!" Sahut anak kecil yang kembali membuat ku tersadar.
Aku pun menoleh kearah kanan kiri ku dimana semua orang memperhatikan tingkah ku yang sangat aneh semenjak memasuki ruangan ini.
"A-ah! Maaf, aku sedikit melamun". Ucapku asal lalu menyambut tangan gadis ini.
"Jacob Armount, Ayahnya Eiden". sambung ku lagi, lalu kami pun melepas tangan masing-masing.
Aku yang seperti orang linglung kembali berjalan menuju kursi yang sudah tersedia di samping Daddy.
"Ah! Karena hari ini kita kedatangan anggota keluarga yang sangat spesial yaitu anakku-Saphira dan cucuku-Savana, maka saya akan memberikan beberapa ucapan syukur kepada para tamu yang menyempatkan diri untuk hadir di malam yang bahagia ini. Walaupun tidak seberapa, saya harap kalian semua menyukai nya". Ucap Daddy disertai dengan tepuk tangan yang meriah.
Para pelayan pun sibuk dengan hadiah yang mereka bawah dan diberikan kepada masing-masing tamu undangan. Suasana kembali ramai seperti sebelumnya. Daddy dan anggota keluarga yang lain pun kembali berbincang-bincang. Entah topik apa yang mereka bicarakan, namun semua terlihat mengajak kakak untuk berbicara. Kecuali mommy. Aku tahu hubungan mereka tidak begitu dekat sejak dulu, namun itu bukan hal yang perlu ku urus.
Beberapa anggota keluarga yang lain juga mengajak ku untuk berbicara, namun ku tanggapi seadanya, mungkin mereka bosan dan bingung dengan sikap ku yang dingin akhirnya mereka pun mencari tempat lain untuk bertukar cerita. Kini tak ada lagi yang mengusik ku, aku pun memusatkan sepenuhnya perhatian ku pada gadis yang bernama Ruby Savana itu. Nama yang indah.
Dia sedang bermain dengan Eiden, sesekali ia terlihat menatap ku namun sepersekian detik kemudian ia membuang wajahnya. Sungguh sangat menggemaskan. Aku jadi ingin menahannya di rumah ini agar ia tidak bisa kemana-mana.
-Awne Cn
__ADS_1