SAVANA

SAVANA
BAB 4


__ADS_3

Aku membuka mata ketika cahaya yang membuat silau mengintip dari balik tirai jendela kamar ku. Suara berisik Ibu tidak terdengar pagi ini. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi.


Semalam aku tertidur lebih awal. James pulang ketika Ibu memberi pesan kalau ia sudah dalam perjalanan pulang. Setelah itu aku langsung tidur karena sangat kelelahan.


Aku menarik diri dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Suasana terasa sangat sepi. Bahkan pintu kamar Ibu masih tertutup.


Tumben Ibu telat bangun.


Aku membuka jendela menyambut sinar mentari, kicauan burung membuatku tersenyum tanpa sadar. Pikiran ku ikut segar ketika angin pagi menerpa wajah ku.


Aku kembali ke dapur dan melihat meja makan yang bersih. Aku membuka kulkas dan mulai menyiapkan sarapan.


Krieet.


Suara yang berasal dari pintu utama terdengar. Spontan aku menengok dan mendapati ayah dengan penampilan lusuh seperti orang kurang tidur berjalan lunglai kearah ku.


"Halo anak cantik ku". Sapa ayah dengan senyum yang terpaksa.


"Oh, ayah sudah pulang?". Tanyaku dengan muka yang heran karena akhirnya dia menunjukkan batang hidungnya di rumah.


"Yeah. Dimana Ibu mu?". Tanya nya kini mengalihkan pembicaraan kami.


Aku melirik pintu kamar yang tertutup di ikuti dengan ayah menoleh kebelakang. Tanpa sepatah kata lagi, ayah berbalik lalu meninggalkan ku menuju kamar dimana Ibu masih berada di dalam nya.


Aku mengangkat kedua bahu dan melanjutkan kerjaan ku membuat sarapan. Suasana pun kembali hening.


Plak!


Ditengah keheningan pagi hari, suara tamparan keras dari dalam kamar ibu terdengar jelas. Teriakan Ibu mulai memenuhi ruangan kecil itu.


"Kenapa kamu masih muncul?! Hah?!". Seru Ibu.


"...".


Keheningan kembali terasa.


Setelah beberapa menit, kini Ibu kembali menangis. Aku yang merasa frustasi mendengar suara itu akhirnya memilih untuk meninggalkan sarapan di atas meja dan berlari menuju kamar ku. Aku langsung meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Hanya di tempat ini, aku tidak bisa mendengar suara pertengkaran mereka. Aku mengencangkan keran air dan tumpahannya yang terasa dingin mengguyur seluruh tubuhku. Tak terasa, rasa panas di pelupuk mata ku tumpah, mengalir bersamaan dengan butiran-butiran air yang berjatuhan makin deras.


Selepas mandi aku mengetik beberapa pesan untuk James. Namun, sampai aku selesai bersiap-siap dengan seragamku masih belum ada balasan. Aku menghela napas panjang dan meraih celengan berbentuk kucing di atas meja belajar. Aku membuka celengan itu dan mengambil beberapa lembar uang, kemudian memesan taksi online.


"Aku pergi!". Teriakku menyela keributan mereka.

__ADS_1


Suasana kembali hening.


Aku hanya tersenyum sinis menyaksikan kebisuan mereka terhadapku. Mereka bahkan tidak lagi melihat anaknya yang sudah berangkat ke sekolah.


.


.


.


.


.


Setiba nya di sekolah, aku langsung berjalan cepat menuju kelas. Masih terlalu pagi, sehingga suasana kelas masih sunyi. Hanya beberapa anak yang berada di dalamnya. Aku mencari keberadaan James, tapi dia juga tidak terlihat. Mungkin belum tiba.


Aku mendudukkan tubuhku di atas bangku dengan malas. Beberapa anak menyapaku namun ku balas dengan senyum terpaksa. Pagi ini mood ku benar-benar tidak stabil. Aku memasang headset dan Menenggelamkan kepala ku di atas meja, berusaha untuk menghindari interaksi yang dilakukan beberapa teman sekelas ku.


"Hey! Lihat. Bukan kah itu James?". Tanya seseorang yang membuatku tiba-tiba tersadar dan melihat temen sekelas ku yang saling memandang kearah luar jendela.


Aku mengikuti mereka dan mendapati James yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik di sisinya. Melihat pemandangan itu, pikiran ku jadi makin kacau. Aku berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja itu adalah sepupunya, atau mungkin keluarga nya yang lain. Who knows?.


Waktu berlalu dengan lambat, sembari mendengarkan lagu yang melantun indah dari headset ku, suara deritan pintu kelas berbunyi. Aku menoleh kearah pintu dan mendapati James yang berjalan mendekat. Langsung saja aku menyambutnya dengan tersenyum sambil melepas headset ku.


"Morning babe". Sapa ku dengan senang.


"Morning". Sapa James singkat dan duduk di samping ku.


Cup.


Aku mencium pipinya sekilas dan ia terlihat terkejut.


"Ada apa?". Tanyaku heran.


"Bukan masalah, aku sedikit terkejut dengan tingkah kamu pagi ini". Jawabnya membuat ku mengerutkan kening.


"Lupakan lah, sebentar lagi jam pelajaran bukan". Tutur James kini sambil merogoh tas nya, dan mengeluarkan beberapa buku.


Tingkahnya terlihat aneh, tidak biasanya dia seserius ini.


"Kamu tidak ingin menjelaskan wanita tadi, padaku?".

__ADS_1


Tanpa basa basi aku langsung mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatiku. Teman-teman sekelas kami tiba-tiba hening dan mulai memasang telinganya. Walaupun tingkah mereka seolah sedang sibuk dengan dunia masing-masing. Dasar pecundang!.


"Oh! Kamu lihat?". Ucap James makin salah tingkah dan malah kembali bertanya padaku.


Aku mengangkat kedua bahu dan berusaha menutupi rasa penasaran ku yang kini bercampur aduk dengan kekhawatiran.


"Babe... Dia Ashela. Anak baru di sekolah ini. Dia anak teman Ibu ku. Kebetulan baru pindah dari London. Jadi Ibu menyuruhku untuk membantunya bersosialisasi di tempat ini, kebetulan dia seumuran dengan kita, jadi dia pindah ke sekolah ini. Makanya kami berangkat bersama tadi pagi".


James menjelaskan dengan lancar dan panjang lebar padaku. Aku melirik teman sekelas ku, beberapa dari mereka mengangguk seolah sudah menantikan jawaban ini.


"Baiklah. Apa dia sekelas dengan kita?". Tanyaku kini.


Namun sebelum James kembali menjelaskan, deritan pintu kelas kembali berbunyi menampilkan bapak wali kelas kami bersama dengan seorang anak perempuan yang terlihat sedikit berbeda dengan kami.


Seisi kelas kini fokus dengan dirinya. Termasuk diriku.


"Silahkan, perkenalkan dirimu". Ucap bapak wali kelas kami.


"Morning, nama ku Ashey Ashela. Kalian bisa memanggilku Ashela, aku pindahan dari London, thankyou!" Ucap siswi yang sama yang diceritakan oleh James.


Aku mengangguk, dan sesekali melirik James yang tersenyum kearah Ashela.


"Baiklah, Ashela silahkan duduk di bangku barisan kedua sebelah kanan". Ucap bapak wali kelas kami dengan ramah.


Aku memperhatikan gadis itu berjalan sembari menebar pesona senyum nya, dan berakhir tepat di depan tempat duduk James dan aku. Aku memperhatikan dirinya yang baru saja menyapa James dengan 'tidak biasa' dan James menanggapinya dengan senyum singkat. Hal itu membuat ku jadi terganggu.


Aku mendengus gusar, membuat James berbalik dan memperhatikan ku yang sedang kesal. Dia hanya terkekeh dan meraih tanganku dari bawah meja dan mengusapnya. Seketika perasaan gusar itu berubah jadi senang karena perlakuan manisnya ini.


Mata pelajaran sains pun dimulai dan berlangsung dengan sangat membosankan. Sesekali aku melirik James yang fokus dengan materi yang di terangkan oleh bapak wali kelas kami. Kebetulan beliau sendiri adalah guru sains. Sejak awal, James sangat tertarik dengan mata pelajaran ini.


Aku senang melihat dirinya yang sangat serius. Membuatku ingin menggoda nya, namun aku sadar ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat.


Kring! Kring! Kring!


Bunyi suara bel istirahat pun berdentum. Membuat ku menghela napas bahagia, begitu juga beberapa anak di kelas ini. Kami membereskan alat belajar dan satu persatu siswa di kelas ini mulai meninggalkan ruangan menuju kantin dan tempat yang lainnya.


"James, ayo kita ke kantin". Suara itu menghentikan kegiatan ku yang sedang menyusun buku-buku kedalam tas sekolah ku.


Aku melirik Ashela yang menatap James dengan tatapan berbinar dan itu malah membuat James jadi salah tingkah.


-Awne cn

__ADS_1


__ADS_2