SAVANA

SAVANA
BAB 12


__ADS_3

Akhirnya aku tiba di rumah pukul 16.15. Ibu yang mendapati ku pulang terlambat langsung mengomel dan menyuruhku untuk segera bersiap-siap.


"Ibu kan sudah bilang untuk pulang cepat, kenapa baru pulang sekarang?!". Ucap Ibu sambil mengeringkan rambutnya.


"Vana tidak jadi ikut bu, pengen di rumah aja". Balas ku sambil berjalan menuju meja makan, dan menuang segelas air bening.


"Loh? Tiba-tiba?! Kamu jangan bercanda vana!". Tegas ibu yang kini menghampiri ku dengan hairdryer di tangan kanannya.


"Vana gak bercanda bu". Balasku kemudian pergi meninggalkan ibu yang menatap ku dengan heran.


"Ibu kan sudah bilang, kakek mau bertemu kamu. Ibu juga sudah bilang ke kakek, kalau kamu bakal datang". Jelas ibu sambil mengikuti ku dari belakang.


"Yah.. Ibu bilang saja, kalau vana sakit". Balasku tak peduli.


"Vana, ada apa?". Tanya ibu yang tiba-tiba terdengar serius.


Seketika aku menghentikan langkah di depan pintu masuk kamar dan berbalik menatap ibu. Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya meluap dan mengalir deras di pipiku. Ibu yang melihat bentukan ku seperti ini langsung meletakkan hairdryer nya di atas meja dan segara memelukku. Aku pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan ibu.


.


.


.


Setelah puas menangis, kemudian aku menceritakan semuanya pada ibu, kecuali perihal yang di perpustakaan.


Aku yang sudah meluapkan semua emosi dan keluh kesah ku pada ibu, akhirnya terdiam. Di sela-sela diam ku, ibu memberikan beberapa nasihat yang membuat ku tersenyum pahit dan berusaha untuk melihat semua masalah ini dari sisi yang positif.


Cukup lama aku mencurahkan perasaan ku pada ibu, akhirnya untuk kesekian kalinya ibu mengajak ku ikut ke rumah kakek. Dengan perasaan hampa aku pun mengiyakan permintaannya.


"Dari pada vana sedih sendirian di rumah ini, lebih baik kita pergi ketemu kakek. Ibu jamin kamu akan lupa dengan kejadian yang barusan". Bujuk ibu lagi.


"Baiklah bu, vana mandi dulu". Pasrah ku dan masuk kedalam kamar dengan langkah yang tak bersemangat.


Saat berada di kamar, mata ku langsung tertuju pada gaun berwarna peach yang tergelatak di atas tempat tidur. Gaun selutut dengan desain yang manis itu membuatku mengernyit kan dahi.


"Buu!, gaun siapa di tempat tidur vana?". Tanyaku setengah berteriak dengan suara serak pada ibu yang berada di meja makan.


"Punya kamu!. Ibu beliin tadi". Balas ibu.


"Ibu punya uang?". Tanyaku mengintip dari balik pintu kamar dengan mata yang masih sembab.


Dilihat sekilas pun, orang akan mengetahui gaun ini gaun edisi terbatas. Pasti harganya sangat mahal.


"Om Jacob yang beli, tadi waktu ke pusat toko kue beli cake ulang tahun, om Jacob sekalian mengajak ibu buat beli baju". Jelas ibu.


Aku mengangguk paham dan tidak heran lagi. Kini suasana hatiku berubah digantikan dengan rasa penasaran dan penuh dengan tanda tanya.


Seberapa kaya 'kakek-ku' ini?.


****

__ADS_1


Orang yang menjemput kami pun tiba pada pukul 17.30. Sekali lagi aku memperhatikan tampilan diriku pada cermin yang mengenakan gaun berwarna peach setinggi lutut dengan model atasan yang sedikit terbuka di bagian leher hingga ke dada. Perpaduan bordir bunga-bunga kecil di setiap ujung gaun ini menimbulkan kesan yang 'manis'.


Rambut yang ku tata dengan menggulung bagian atasnya dan membiarkan sisa rambut bagian bawah tergerai. Tak lupa aku memberikan sedikit sentuhan aksesoris rambut berbentuk kembang yang ku selipkan di tengah ikatan rambutku. Tampilan ku jadi terlihat sederhana namun tidak kampungan.


Riasan yang ku gunakan tidak begitu mencolok karena warna kulit ku yang memang mendukung. Jadi sedikit sentuhan pewarna bibir sudah cukup bagiku.


Sedangkan dilain sisi, ibu mengenakan long dress berwarna Hijau dengan rambut yang ia sanggul. Riasan nya juga tak begitu mencolok. Well, dia terlihat anggun dengan penampilannya. Jadi terlihat seperti anak konglomerat yang sesungguhnya.


****


Akhirnya kami tiba setelah melalui arus lalulintas yang sangat macet, hingga membuat kami jadi terlambat. Ini juga akibat aku yang terlalu banyak mengulur waktu tadi sore.


Huh!. Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi.


Sopir yang membawa kami pun menyetir masuk kedalam gerbang yang terbuka secara otomatis. Aku tercengang ketika mendapati halaman yang seluas lapangan sepak bola, dilengkapi dengan air mancur besar ditengah-tengahnya. Luar biasa!.


Aku bergantian menatap pemandangan yang terhampar dari balik kaca mobil ini dan menatap ibu yang terlihat biasa saja.


Tidak mungkin kan, kalau kita salah masuk rumah orang?. Pikir ku.


Kami pun tiba di depan rumah yang sangat besar, seorang pelayan dengan sigap membuka kan kami pintu mobil. Dengan santainya ibu turun dari mobil. Aku pun menyusulnya dari belakang dengan tatapan melongo.


Apa semua ini mimpi?!. Sebelumnya aku bahkan tak memiliki mimpi semewah ini!.


"Selamat datang nyonya muda". Ucap pelayan sembari membungkuk hormat yang seolah-olah sudah menunggu kehadiran kami.


Ibu tersenyum lalu menyapa mereka dengan akrab.


Aku jadi terkesima dengan wibawa yang tiba-tiba terlihat dalam aura yang ibu tunjukkan. Aku jadi merasa seperti orang bodoh dan hanya bisa mengikuti ibu dari belakang.


Akhirnya kami memasuki ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang berpenampilan elegan yang saling bercerita satu sama lain, beberapa dari mereka menatap kami, namun ibu terlihat mengabaikan dan terus berjalan entah kemana. Hingga pada akhirnya kami pun tiba di sebuah ruangan yang tidak kalah luasnya.


Di tengah-tengah ruangan ini sudah terdapat kue ulang tahun berukuran besar yang diletakkan di atas meja dan bagian bawahnya dipenuhi dengan setumpuk kotak yang ku tebak adalah kado ulang tahun.


Gila!.


Baru umur 5 tahun perayaannya sudah semewah ini. Batin ku.


Aku mengingat-ingat masa kecilku yang ketika bertambah usia hanya dirayakan oleh ayah dan ibu. Cake yang digunakan pun adalah cake buatan ibu. Tamu undangan juga tak ada, hanya kami bertiga. Aku jadi merasa minder menyaksikan pesta ini.


"Waahh! Selamat datang anakku Saphira". Sahut seorang pria yang sudah terlihat berumur dengan stelan kemeja kotak berwarna coklat dengan topi baret berwarna abu-abu menghiasi kepalanya. Cukup sederhana namun ia terlihat sangat elegan dan berkharisma.


Pria itu terlihat berjalan menuruni tangga yang ada di ruangan ini lalu segera menghampiri kami. Begitu tiba, dia langsung membawa ibu kedalam pelukannya kemudian dibalas oleh ibu.


Aku memperhatikan wajah pria itu, wajahnya tak bisa berbohong, matanya yang berkaca-kaca terlihat banyak menyimpan kerinduan bagi sosok yang ada dalam pelukannya.


Kedatangan pria itu disusul dengan seorang wanita yang juga terlihat berumur namun pakaian dan aksesoris yang ia kenakan menandakan dialah nyonya disini. Aku yang tidak tahu harus melakukan apa-apa, hanya bisa melempar senyum pada orang-orang yang menatap ibu yang sedang berpelukan dengan keluarganya.


"Ah! Vana, jangan diam saja. Sini!". Sahut ibu kemudian.


Aku yang berdiri cukup jauh dari ibu langsung berjalan dengan kikuk kearahnya.

__ADS_1


"Dad, Mom, ini vana. Anak ku satu-satunya". Ucap ibu yang entah kapan, matanya jadi terlihat sembab.


"Halo kakek dan nenek". Ucapku kemudian sambil membungkuk dengan sangat canggung.


Gelak tawa yang keluar dari mulut kakek sontak membuat badan ku lurus kembali dan memperhatikan apa yang sedang beliau tertawa kan.


"Benar-benar mirip ibunya sewaktu kecil!". Ucap kakek kemudian dengan tawa yang belum hilang.


Aku melirik wanita disampingnya yang hanya tersenyum tipis ketika tatapan kami bertemu.


"Kemari lah cucuku sayang! Kau terlihat sangat cantik seperti ibumu". Sahut kakek sambil tersenyum hangat kemudian mengulurkan kedua tangannya padaku dan langsung merangkul tubuhku yang terasa mungil karena ukuran badannya yang cukup tinggi besar walaupun rambut beliau sudah memutih.


Dengan sedikit segan aku membalas pelukan kakek yang tiba-tiba muncul di kehidupan ku ini. Penciuman ku langsung menangkap wangi mewah dalam pelukannya. Bau konglomerat memang beda ya!. Batin ku.


"Kek! Eiden juga mau peluk". Ucap suara asing yang tiba-tiba muncul dibelakang kakek.


Aku yang penasaran langsung menurunkan pandanganku dan menemukan sosok anak kecil yang memasang wajah cemberut. Dia mengenakan stelan Blazer berwarna biru tua dilengkapi dengan dasi yang berwarna senada.


Dia terlihat sangat ganteng dan imut sekali!.


Kakek pun melepas pelukannya padaku dan kembali tertawa sambil membawa anak kecil yang bernama Eiden itu.


"Nah sini Eiden, ini kakak savana. Kenalan lah dengan kakak mu". Ucap kakek dengan suara serak nya yang ramah.


"Halo Eiden". Sapa ku sambil berjongkok untuk menyesuaikan tinggi kami.


"Selamat malam princess, boleh kah Eiden mendapat satu pelukan dari princess secantik kakak?". Ucap anak kecil yang berdiri penuh sopan santun di hadapan ku.


Suasana ruangan pun dipenuhi gelak tawa yang meriah mendengar ucapan anak kecil yang tak biasa ini. Aku jadi tersipu malu mendengar ucapan nya itu.


"Kemari lah pangeran kecil". Balas ku yang mengikuti skenario nya.


Dengan malu-malu ia melangkah kearah ku, dia terlihat seperti seorang pria sejati sejak dini. Aku pun menyambut tubuh kecilnya dan membawanya kedalam pelukan ku.


"Selamat ulang tahun pangeran". Goda ku yang setengah berbisik di telinganya.


Pelukan anak kecil ini pun makin erat, aku tahu dia pasti sedang menyembunyikan wajah nya yang sedang tersipu malu.


***


Setelah semua melepas rindu dengan kehadiran kami, kakek pun mengajak kami semua duduk di ruangan keluarga. Karena aku dan ibu terlambat datang, kami jadi melewatkan acara intinya.


Entah sejak kapan, anak kecil ini jadi terus mengajak ku berbicara dan terus berada di dekat ku. Sampai saat aku duduk di atas sofa berwarna cream ini, ia juga ikut duduk di samping ku.


Eiden menceritakan bagaimana pesta-pesta ulang tahun sebelumnya berlangsung. Karena tak tahu harus berbuat apa, akhirnya ku putuskan untuk mengikuti cerita Eiden dan juga membalasnya dengan membagikan kisah masa kecilku. Dia terlihat sangat antusias dan tertarik mendengarkan cerita ku.


Imutnya!.


Sedangkan dilain sisi, wajah ibu dipenuhi dengan senyuman malam ini. Sesekali aku memperhatikannya saat ia tertawa lepas diikuti dengan suara tawa kakek. Mereka terlihat berbincang-bincang akrab antara ibu, kakek dan nenek juga beberapa anggota keluarga lainnya.


"Ehem! Maaf semua, saya terlambat". Ucap suara bass yang tiba-tiba muncul di tengah cerita keluarga. Suaranya juga terdengar tak asing di telingaku.

__ADS_1


-Awne Cn


__ADS_2