SAVANA

SAVANA
BAB 15


__ADS_3

Ceklek.


Saat baru menginjakkan kaki di luar ruangan tiba-tiba kehadiran orang lain membuatku sedikit kaget. Aku menoleh ke arah samping kanan dan mendapati malaikat cantik yang sedang menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.


"H-halo om!". Sapa malaikat tersebut lalu berbalik arah membelakangi diriku.


Aku langsung menarik tangannya bermaksud agar ia memutar balik badannya dan menatapku lagi.


"Mau kemana?". Spontan kata-kata itu keluar dari mulut ku.


"A-anu om, ini vana. Aku mau ke kamar tidur yang om tunjukkan tadi". Ucapnya yang kini terdengar ketakutan.


"Oh. Begitu ya. Boleh aku melihat mu sebentar saja?". Ucapku lagi tanpa terkontrol sama sekali.


Savana pun terlihat berbalik dan tatapan kami kembali bertemu.


"K-kenapa om?". Tanya nya kemudian masih terdengar ketakutan.


"Jangan takut. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu ini malaikat atau bukan". Ucapku yang membuatnya terkejut.


Kalimat yang sejak dari tadi berputar di kepala ku ini akhirnya terlontar dari bibirku. Tepat didepan orangnya langsung. Aku tidak tahu, dalam situasi ini apa harus merasa malu atau senang karena bisa mengobrol dengannya.


"M-maksud om?". Tanya Savana lagi.


"Savana kan?. Kamu sudah punya kekasih ya?". Balas ku yang balik bertanya kepadanya.


Entah mengapa malam ini mulut ku rasanya aku tak bisa memfilter kata-kata yang keluar dari mulutku.


"O-om m-mabuk ya?". Tanya nya balik yang membuatku jadi bengong.


"O-om bisa jalan? Mau vana antar?" Ucapnya lagi.


Kenapa dia jadi panik begini. Aku kan baik-baik saja. Batin ku.


"Hey. Hey. Jake. Panggil Jake". Ucapku yang kini terganggu dengan kata 'om' yang terus saja keluar dari bibir indahnya itu.


"Jake siapa om? Mau vana panggilkan Jake maksud om?". Pertanyaan nya itu malah membuat kepala ku jadi sakit.


Aku memijat pelipis ku, berusaha mencerna kalimatnya barusan. Apa memang dia agak 'lambat' dari manusia pada umumnya ya?.


Ku tatap dirinya yang kini terlihat buram. Sial!. Rasanya aku ingin tidur sekarang juga.


SYUT.


OFF.


****


Aku menatap pria besar yang setengah sadar berdiri di depan ku. Dia memijat pelipisnya sambil menatapku dengan mata yang sayu.


Sepertinya dugaan ku benar. Dia sedang mabuk.


"Om? Om Jacob?!". Panggil ku namun ia tak juga menyahut.

__ADS_1


Bagaimana ini?.


Lagi pula aku tidak tahu harus menemukan Jake dimana. Apa mungkin Jake ini asisten yang biasa menangani dirinya saat mabuk seperti ini ya?.


Belum sempat aku mencari pertolongan, tubuh besar om Jacob pun terlihat seperti akan jatuh. Aku berusaha menahan pundaknya dengan tanganku, namun karena tenaga ku yang kurang mampu, akhirnya kami berdua tersungkur di lantai dengan tubuh om Jacob yang menindih ku.


Sial!


Berat banget!. Aku jadi susah untuk bernafas.


Setelah ku kerahkan seluruh tenaga untuk menyingkirkan tubuh om Jacob dari atas ku, akhirnya aku bisa lepas dan berusaha untuk mengatur nafas yang nyaris hilang.


Beberapa menit kemudian aku kembali tersadar bahwa orang yang kini terbaring di samping ku tak kunjung sadarkan diri.


Gawat!.


Bagaimana bila nanti ibu di pecat jadi anak angkat kakek dan nenek karena kecerobohan ku ini.


Berpikirlah savana!. Batinku.


Aku pun memberanikan diri menuruni tangga menuju lantai dasar. Suasana nya sangat hening. Tak ada satupun manusia yang berlalu lalang, bahkan pelayan pun kini tak terlihat lagi di rumah sebesar ini.


Aku berjalan menuju ruang tamu yang tak kunjung ku temukan. Di tengah perjalanan ku, terdengar seseorang yang sedang bercakap-cakap. Aku langsung merasa lega karena akhirnya menemukan suara manusia di rumah ini. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampiri sumber suara tersebut.


"Bagaimana bisa dia kembali ke rumah ini?!". Ucap suara yang terdengar makin jelas itu.


Aku menghentikan langkah dan bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka.


"Saya pun tak mengerti nyonya. Padahal sudah 20 tahun mereka tak menginjakkan kaki nya di rumah ini". Balas suara yang lainnya.


Lagi pula, kenapa mereka sampai membicarakan, bahkan menuduh ibu dan aku seperti itu. Perasaan yang deg-degan pun menyelimuti ku. Dalam situasi genting seperti ini, aku malah ingin buang air kecil. Sial!.


"Perhatikan gerak-gerik mereka. Kalau bisa, buat mereka meninggalkan rumah ini untuk selamanya!". Sambung wanita itu kemudian di tanggapi dengan seruan setuju oleh lawan bicaranya.


Aku yang mendengarnya sambil menahan kencing agar tidak keluar ini pun kaget mendengar kalimat barusan. Dengan tergesa-gesa aku memutuskan untuk berbalik arah dan berlari menuju lantai dua, dimana kamar yang dimaksud om Jacob berada.


Bruk!


Baru dua langkah aku bergerak, tak sengaja kaki ku menabrak sebuah kursi yang entah sejak kapan sudah berada di situ. Sial!. Maki ku dalam hati.


Aku langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Jantung ku berpacu dua kali lipat dari biasanya karena takut ketahuan.


"Siapa?". Sahut seorang wanita yang membuatku makin ketakutan.


Aku merangkak masuk ke bawah kolong meja yang berada tidak jauh dari tempat ku berdiri sebelumnya. Terdengar langkah beberapa orang mulai menyusur tempat ini.


Ketika suara langkah itu terdengar mendekat, keringat dingin mulai membanjiri tubuh ku. Rasa ingin buang air kecil yang sempat ku rasakan itu berganti dengan ketakutan yang tak bisa ku deskripsi kan. Selama aku hidup, inilah ketakutan yang sangat-sangat membuat ku takut, sampai ingin pingsan rasanya.


Langkah itu pun terhenti tepat di samping meja makan. Sedikit lagi aku akan pingsan jika ketahuan.


"Ada apa?". Suara seorang pria yang tiba-tiba muncul itu membuatku jadi kaget.


Siapa dia?!. Rasanya tak ada seorang pria yang berbicara sebelumnya.

__ADS_1


"Oh! Tuan Gabriel? Sedang apa anda berdiri di samping meja makan?". Tanya suara wanita yang tadi ku dengar.


Aku yang mendengar nama orang itu pun makin curiga.


"Aku baru pulang dinas. Kebetulan aku melihat apel di atas meja, jadi aku menghampiri nya". Balas pria misterius yang bernama Gabriel itu.


"Oh. Tuan butuh sesuatu untuk dimakan?". Tanya wanita itu lagi.


"Tidak perlu, aku hanya ingin memakan apel ini. Kalian kenapa belum istirahat?". Tanya balik pria itu.


"Oh. A-anu, k-kami sedang mengecek bahan makanan di dapur. Kebetulan ada nyonya muda yang menginap di rumah malam ini". Jawab wanita yang ku simpulkan adalah seorang pelayan di rumah ini.


"Begitu ya? Jadi kakak Tuan Jake akhirnya datang ya?". Tanya pria itu lagi.


"I-iya T-tuan". Balas pelayan tersebut.


"Baiklah, saya akan menemui Jake setelah menghabiskan apel ini, kalian istirahat lah". Ucap Gabriel kemudian.


Para pelayan itu pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini yang ternyata adalah ruang makan.


Aku masih terdiam membeku dibawah meja, menunggu kepergian pria yang sedang memakan apel ini.


Setelah beberapa saat, terdengar salah satu kursi di samping ku bergeser. Saking takutnya, aku menutup mata dengan kedua tangan ku.


"Mereka sudah pergi". Ucap suara pria yang tadi namun sedikit dikecilkan.


Aku pun menyingkirkan tangan ku dan menengok kearah kanan. Samar-samar ku lihat sosok bayangan yang cukup besar.


"Keluar lah". Ucap pria itu lagi.


Aku memberanikan diri mengikuti arahan pria itu. Didalam hati aku terus berdoa agar dia orang yang baik.


"K-kamu siapa?". Tanyaku pelan.


"Saya Gabriel, asisten pribadinya Jake". Jawab pria yang kini membantu ku keluar dari kolong meja ini.


"Oh, apa anda tahu dimana Jake? Om Jacob membutuhkan bantuannya". Ucapku kemudian ketika mendengar ia menyebutkan nama 'Jake'.


"Om Jacob?" Tanya balik pria ini.


"Ya, beliau pingsan karena mabuk dilantai atas". Terang ku.


"Pffttt. Jadi kamu ini keponakan nya? Anak dari kakak nya Jacob?". Tanya pria itu yang terdengar sedang menahan tawa.


"Ya. Apa anda bisa memanggil Jake untuk menolong om saya?". Tanyaku kemudian dengan polosnya.


Akhirnya tawa pria itu pecah namun langsung ku sumbat dengan tangan ku. Situasi nya belum seaman itu untuk bisa tertawa lantang.


"Tolong pelan kan suara anda". Ucapku berbisik kearahnya.


"Baiklah. Baiklah. Pertama-tama, Jake dan Jacob adalah orang yang sama. Orang-orang terdekat Jacob memanggilnya Jake". Jelas Gabriel yang membuat ku jadi melongo mendengar penjelasan nya.


Setelah cukup lama terdiam, aku pun kembali pada keadaan dimana Om Jacob yang ternyata adalah Jake juga sedang terbaring dilantai atas tanpa sadarkan diri. Tanpa basa-basi aku pun meminta pertolongan Gabriel, dan langsung menuntunnya ke lantai atas, dimana om Jacob sedang terkapar. Aku meminta dia untuk membantu ku mengantar om Jacob ke kamarnya, namun Gabriel menyuruh ku kembali ke kamar ku sendiri dan menyerahkan Om Jacob padanya. Aku yang tidak mengerti dan tidak bisa apa-apa ini pun mengiyakan perintahnya dan kembali ke kamar yang berada di ujung lantai dua ini.

__ADS_1


- Awne Cn


__ADS_2