
BAB 3
Tok! Tok! Tok!.
Ketukan itu menghentikan aksi kami. Aku mendengar James menggerutu sambil membenarkan celananya. Aku juga memperbaiki seragam ku yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka.
"Bisakah anda keluar, dan membiarkan kami memarkirkan mobil di sini?!". Ucap seorang pria yang sedari tadi mengetuk pintu kaca mobil kami.
"Bro! Bukan kah tempat parkir disini luas?!". Balas James setengah berteriak dengan kaca mobil yang mulai turun secara perlahan.
"Oh! Maafkan saya anak muda, tapi ini adalah parkiran khusus". Balas pria itu lagi.
"Memangnya kenapa? Apakah anda pemilik gedung ini? Hah?!". Kini wajah James terlihat memerah dengan napas yang menggebu-gebu.
"Hmm sepertinya anda sendiri tidak tau siapa saya". Ucap pria itu masih dengan tenang.
"Sialan si tua ini!". Ucap James sambil bersiap membuka pintu mobilnya.
Aku yang melihat reaksi penuh emosi James langsung meraih tangannya.
"Babe...". Tegur ku pelan sambil mengusap tangannya.
"Sudahlah, ayo kita pulang". Lanjut ku lagi.
Dengan emosi, James menutup kaca mobil dan membanting stir meninggalkan parkiran. Aku melirik kaca spion yang menampilkan seorang pria berbadan tegap dengan stelan jas dan kaca mata hitam yang menempel di wajahnya. Sekilas terlihat anak kecil yang berlari menghampiri nya.
Dasar bapak-bapak sewot!
Ucapku kesal dalam hati.
Di sepanjang perjalanan kami terdiam dan tidak banyak bicara. Rasa frustasi masih terlihat pada raut wajah James. Di tengah perjalanan kami singgah di sebuah pom bensin, James membeli beberapa botol air di sebuah minimarket yang ada di tempat kami mengisi bahan bakar ini.
Setibanya di rumah, aku membuka pagar dan menunggu James yang sedang memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah ku. Halaman rumah tidak begitu luas, sehingga cukup sulit untuk membiarkan mobilnya masuk ke dalam. Belum lagi tanaman bunga ibu hampir memenuhi setengah halaman rumah kami.
"Babe, jam berapa Ibu biasanya pulang?". Tanya James kini menyusul ku dari belakang.
Aku menutup pintu ketika ia sudah memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu kami.
__ADS_1
"Entahlah, kadang kalau Ibu lembur dia pulang nya di atas jam 10 malam". Jawab ku.
Aku meraih belanjaan kami dan meletakkan makanan fast food yang sudah mulai dingin di atas meja makan. James membantuku dengan mengambil beberapa piring.
"Kalau kamu lapar, makanlah terlebih dulu".
Ucapku sambil tersenyum menatap James.
"Aku akan menunggumu". Balasnya membalas senyum ku.
"Aku akan mandi, tak perlu menunggu ku babe". Aku memaksa.
"Baiklah, aku ikut". Tutur James berdiri dan mengikuti langkah ku.
"Dasar mesum!". Aku menghentikan langkah ku dan mencubit pelan perutnya.
"Aw!". Pekiknya yang terlihat berpura-pura kesakitan.
Aku tak menghiraukan dan terus berjalan meninggalkan James yang masih berakting di belakang ku.
Aku melihat wajah James yang kini tersenyum penuh kemenangan dengan aku yang berada dalam gendongan nya. Nafsu yang sempat terhalangi oleh bapak-bapak di parkiran itu kembali menggebu dalam sanubari ku.
Aku menyambut James dengan tangan yang ku lingkarkan pada lehernya. Kami kembali tersenyum dan saling mengadu cumbu.
James menurunkan ku di atas tempat tidur. Aku bahkan tidak menyadari kalau kami sudah berada didalam kamarku.
"Babe..". Panggil James dengan lembut.
"Iya?". Sahutku malu-malu.
James menyisipkan rambut ku di balik telinga, membuatku sedikit geli karena sentuhannya yang sensual.
"Boleh?". Tanya James lagi masih dengan lembut.
Aku yang mengerti dari pertanyaan nya itu langsung mengangguk dengan senyum yang tersipu.
James kembali mencium ku, dan membuatku hanyut dalam perlakuannya. Ciumannya kini turun menyusuri bagian leherku. Tanganku pun tak tinggal diam, aku mencari kancing baju milik James dan menanggalkan nya.
__ADS_1
Tingkah kami makin panas hingga menyisahkan tubuh yang tak tertutup sehelai benang lagi. James mengambil sesuatu dari kantong celananya yang tergeletak di lantai. Sebuah benda yang berbentuk permen. Aku tersenyum menyaksikan James yang sedang memasang benda itu pada 'miliknya'. James pun mencium ku dan kami pun hanyut dalam percintaan ini.
.
.
.
.
.
.
Selepas mandi aku dan James bercengkrama di atas sofa ruang tamu. Aku duduk dalam pangkuannya dengan James yang sedang menyisir lembut rambutku. Aku benar-benar merasa sangat senang dengan dirinya.
"Babe". Panggil ku di selah-selah kegiatan nya.
"Ada apa?". Tanya James lembut.
"Tidak bisakah kamu berkuliah di sini saja?". Tanya ku kini.
James menghentikan kegiatannya dan meletakkan sisir di atas meja.
"Kenapa tiba-tiba?". Tanya James balik sambil menatap ku dengan wajah yang mengkerut.
"Rasanya, aku akan sulit menjalani hubungan jarak jauh dengan kamu". Tutur ku manja dan mulai menjatuhkan tubuhku kedalam pelukannya.
"Tenanglah... Setiap tahun aku pasti pulang". Balas James sambil memelukku dan mengusap pundak ku.
"Tapi...". Aku menghentikan ucapan ku sejenak.
"Setiap saat juga, aku pasti akan menelpon mu". Lanjut James dengan penuh keyakinan.
Aku menghela napas panjang, pasrah dengan keadaan yang akan terjadi dengan hubungan kami. Aku kembali mengangguk dalam pelukan James yang malam ini terasa sangat hangat.
-Awne Cn
__ADS_1