SAVANA

SAVANA
BAB 21


__ADS_3

Jake POV


Pagi ini aku telah melakukan hal yang sangat memalukan. Selepas sarapan tadi, aku malah membantu Savana yang ingin mencuci piring kotor kami. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan para pelayan disini, tapi demi untuk bisa mengobrol dengannya aku menurunkan wibawa ku untuk melakukan hal tersebut. Syukurlah Daddy mau membantu dengan memerintahkan semua pelayan agar tidak datang ke dapur. Aku bisa benar-benar merasa malu jika hal ini diketahui oleh bawahan ku sendiri.


Namun upaya itu bahkan tidak membuahkan hasil. Kami hanya berbincang sedikit. Bahkan sepanjang kegiatan kami di dapur, Savana hanya menjawab ku seadanya. Aku jadi merasa frustasi dibuatnya, rasanya aku ingin langsung membawanya ke kamar ku dan membuatnya mengerti kalau aku sangat bergairah hanya dengan melihatnya. Sial!. Jiwa liar nan posesif dalam diriku seperti terbangkitkan lagi setelah 5 tahun berlalu.


Aku yang tengah berdiri seorang diri di dapur akhirnya memutuskan untuk menyalurkan rasa frustasi ku ini dengan melakukan beberapa olahraga di area gym pribadi ku.


****


Aku berusaha mengalihkan pikiran ku tentang Savana dengan berolahraga. Mulai dari pemanasan ringan sampai angkat beban ku lakukan hanya untuk menghindari bayang-bayang dirinya. Setelah ku rasa cukup, aku melangkah ke ruangan santai dan meneguk segelas vodka Grey Goose yang berasal dari negara kelahiran ku. Rasanya yang smooth bercampur dengan rasa manis dan pedas rempah-rempah membuat otakku kembali berpikir jernih. Ku tarik buku yang sempat ku baca pagi tadi, lalu meletakkannya kembali di atas meja, kemudian memilih untuk mandi karena keringat yang sudah terasa sangat lengket di badan ku.


Selepas keluar dari kamar mandi telinga ku menangkap suara dentingan piano yang berasal dari ruang santai.


Siapa yang berani-beraninya naik ke sini dan menyentuh barang-barang ku?!. Batinku murka.


Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10.50. Dia tidak mungkin Eiden, dia belum pulang jam begini. Lalu siapa orang itu?!.


Dengan perasaan marah aku keluar dari kamar tanpa memedulikan handuk yang masih melingkar di pinggang ku dan berjalan menuju ruang santai.


Tak henti-hentinya aku menggerutu sambil mencaci orang yang punya nyali datang ke ruangan ini sementara mereka semua tau, aku orang yang tidak suka di usik apalagi sampai menyentuh barang pribadi ku. Aku sudah membuat aturan khusus untuk ruangan disini bagi para pelayan yang datang membersihkan lantai ini.


Apakah akhirnya mereka tidak ingin bekerja lagi sampai berani melanggar aturan itu?!. Batin ku.


Aku yang kini tiba dimana piano itu berada malah tidak menemukan siapa-siapa. Jika dia benar-benar seorang pelayan, aku tidak akan segan-segan untuk memecatnya detik ini juga karena sudah lancang memasuki wilayah ku dan menyentuh barang-barang pribadi ku.


Perhatian ku kemudian tertuju pada perpustakaan pribadi yang masih terbuka. Damn!. Jika aku menemukannya lancang memasuki perpustakaan itu, aku benar-benar tidak akan memberinya ampun. Dia dan keluarganya akan merasakan akibat yang sama karena kelakuan nya itu!.


Saat memasuki ruang tersebut, benar saja di sana sudah ada seorang wanita yang tengah mencoba untuk menarik sebuah buku dari tempatnya. Aku pun langsung menghampirinya dan menahan tangannya yang terasa mungil digenggaman ku.


Saat wanita yang mengenakan kaos hitam ini berbalik, pandangan kami pun bertemu. Aku yang sedikit menunduk karena lebih tinggi darinya, akhirnya sadar bahwa wanita ini adalah gadis yang terus menganggu pikiran ku sejak tadi malam.


Aku langsung menarik setiap sumpah serapah yang tadi ku niatkan. Aku menarik segala makian yang sempat ku lontarkan. Aku minta maaf pada semesta yang sempat mendengarnya. Aku tidak akan melakukan apapun pada orang yang berdiri di depanku saat ini.


Apakah... aku terlalu serakah jika menyebut dirinya adalah wanita-ku?.


Cukup lama kami bertatapan, ia pun menundukkan kepalanya. Aku yang kini dipenuhi rasa ingin memiliki, spontan mengangkat dagunya dengan tangan kanan ku. Tanpa sepatah kata, aku langsung menempelkan bibirku pada miliknya. Bibir merah delimanya yang terus menarik perhatian ku, sampai membuatku tak bisa tidur sama sekali.


Tak ada respon dari Savana ketika akhirnya bibir kami saling bersentuhan. Apakah dia kaget? Tapi mengapa ia tak bergeming sedikit pun?, hal itu justru membuatku makin ingin berbuat lebih pada dirinya.


Aku pun mulai menggerakkan bibir ku, makin lama makin dalam, sampai-sampai tangan mungilnya mendorong tubuhku menjauh darinya dan memasang ekspresi seperti orang yang sesak nafas. Aku yang tidak biasa diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita merasa tersinggung. Seketika rahang ku mengeras, pertanda sebentar lagi emosi ku akan meledak.


"Om?". Suara merdu yang sedikit serak itu akhirnya tertangkap oleh indra pendengar ku.


Otakku kembali berpikir jernih. Aku berusaha mengendalikan diriku mencoba dengan memejamkan mata. Seharusnya yang marah adalah dia, karena aku sudah melakukan hal ini atas kehendak ku sendiri.


Setelah mengatur emosi ku, akhirnya aku meminta maaf pada Savana dan menyadari kalau sedari tadi aku belum mengenakan pakaian ku kecuali handuk hitam ini. Sial!. Aku pasti sudah membuatnya ketakutan.


Dengan perasaan malu bercampur khawatir akan apa yang dipikirkan Savana tentang ku, aku pun berusaha terlihat gentle padanya dan meminta izin kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian.


Setelah tiba di kamar, aku menatap diriku di cermin. Telinga ku yang memerah karena malu terlihat sangat jelas. Ini benar-benar memalukan. Sial! Semoga saja dia tidak memperhatikan nya. Batin ku.

__ADS_1


Setelah mengenakan pakaian dan mengatur perasaan ku, aku pun keluar dari kamar dan menemui Savana yang sudah duduk manis menungguku di ruang santai. Aku baru menyadari satu hal setelah memperhatikannya, ternyata ia mengenakan baju yang ku titip di pelayan pagi tadi. Bajunya terlihat sedikit kebesaran, tapi aku menyukainya karena dia orang yang mengenakan pakaian ku.


Dengan senyum simpul aku menghampiri Savana dan berusaha bersikap normal kepadanya. Setelah membuka obrolan kami, ada satu hal yang mengganjal hati ku, permintaannya yang mencurigakan ini membuatku menatapnya dengan penuh selidik. Tingkahnya juga seperti orang yang akan melarikan diri. Jika benar, Aku tidak akan membiarkan nya!.


Setelah menelpon ibunya, ia pun mengembalikan ponselku dan langsung berpamitan tanpa memedulikan tanggapan ku padanya ia langsung berbalik meninggalkan ku. Aku yang tidak ingin dia pergi akhirnya meraih tangan mungil yang sempat ku pegang di ruang perpustakaan tadi. Di luar dugaan, Savana malah terjatuh kedalam pangkuan ku dan membuat posisi kami jadi sangat intim. Sepersekian detik kemudian aku merasakan tubuhnya yang ingin berdiri namun aku masih lebih cepat dari gerakannya. Aku sengaja melingkarkan tanganku ke pinggulnya. Ia menatapku dengan ekspresi kaget, Wajah kami jadi begitu dekat membuat ku tak bisa bernafas dengan normal. Rasa ingin memiliki itu kembali timbul menguasai diriku.


Dia pun terlihat kembali menunduk tak berani menatap wajahku. Aku yang tidak suka dengan tingkahnya ini langsung menarik dagunya agar wajah kami semakin dekat. Agar dia mau melihat pria seperti diriku yang telah jatuh kedalam pesonanya. Namun jika ia terus bersikap seperti ini, sama saja dia tak bertanggungjawab!. Pikir ku.


"Savana". Panggil ku kemudian dengan nafas yang memburu.


"I-iya om?". Balasnya dengan gugup.


Aku yang tidak menginginkan respon seperti ini darinya berusaha menghalau insting laki-laki ku, dan berusaha untuk merendahkan suara ku agar ia tak gugup apalagi takut kepada ku.


"Hey... Panggil aku Jake". Pinta ku kini sambil membelai lembut wajahnya.


Sekilas ia menikmati sentuhan ku, namun ekspresi canggung itu kembali menghias di wajahnya.


"T-tapi..."


"Savana, jujur saja aku sungguh jatuh hati padamu". Terang ku memotong kata-katanya.


Mendengar ucapan ku itu, ekspresinya berubah jadi kaget. Aku sudah tidak peduli. Aku benar-benar kehilangan akal di hadapan wanita ini.


"O-om ma-mabuk?". Tanya nya kini dengan terbata-bata.


"Sshh... Panggil Jake oke?". Pinta ku memohon padanya sambil membelai bibir nya yang membuatku jadi gila.


Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.


Apakah...?. Aku menimbang-nimbang prasangka ku.


"Savana... Realistis saja, kita bahkan tak ada hubungan darah untuk menjalin hubungan antara paman dan keponakan. Jujur saja aku sangat menghormati ibu mu sebagai kakak ku". Ucapku berusaha menjelaskan perasaan ku padanya.


Savana hanya terdiam mendengar penjelasan ku. Aku pun bermaksud melanjutkan penjelasan itu agar ia paham bagaimana aku sangat jatuh hati padanya.


"Savana... Perasaan ku padamu berbeda, aku tidak melihat mu sebagai keponakan ku. Kau berhasil membuatku merasakan apa yang telah hilang lima tahun lalu". Terang ku yang akhirnya mengakui hasrat ku padanya.


Ia menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Matanya terlihat berkaca-kaca, namun aku tidak bisa menebak apakah dia sedih atau terharu mendengar penjelasan ku.


Oh God. Apa aku sudah mengatakan sebuah kesalahan?. Batinku.


Aku langsung membelai pipinya yang kini terlihat memerah secara alami. Pelupuk matanya terlihat makin berair, seolah-olah akan menitihkan nya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, ku mohon jangan menangis. Maafkan aku". Pintaku kini berusaha menenangkannya dengan belaian yang ku usahakan selembut mungkin.


Di lubuk hatiku, aku takut tangan ku yang kasar ini bisa saja merusak wajahnya yang sangat halus nan lembut.


Savana masih terdiam dengan tatapannya padaku. Aku jadi bingung harus melakukan apa.


"Kenapa anda begitu perhatian pada ku". Akhirnya sebuah kalimat keluar di ujung bibir indahnya yang juga makin terlihat merona.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin melakukannya". Jawabku jujur.


Aku tidak menemukan jawaban lain di lubuk hatiku selain kalimat ku barusan. Bahkan aku tidak berniat untuk mengucapkan kata-kata indah hanya untuk memuaskan hatinya. Aku hanya ingin berkata jujur.


"Berhentilah. Anda hanya akan mendapatkan rasa sakit jika bersamaku". Ucapnya dengan wajah datar namun matanya tetap berair.


Aku yang mendengar kalimat dengan wajah seperti itu langsung merasakan rasa sakit yang luar biasa. Bukan karena ia meminta ku untuk meninggalkan nya, namun karena makna yang mengutuk dirinya sendiri yang membuat ku sakit. Kenapa gadis sempurna seperti ini merasa terkutuk. Hatiku sakit melihat ekspresinya.


"Aku akan melawan rasa sakit itu". Balas ku dengan penuh keyakinan.


Aku tidak akan kehilangan wanita ini. Batinku.


"Sudahlah. Masih banyak wanita yang baik diluar sana. Anda berhak mendapatkan mereka". Ujarnya lagi.


Aku bisa merasakan tangan mungil dan halus itu membelai rahang ku yang sedikit berbulu. Kenapa tiba-tiba?!... Spontan aku memejamkan mata menikmati sentuhannya yang sangat lembut.


"Aku tidak menginginkan yang lain, aku hanya ingin dirimu". Balasku dengan mata terpejam dan masih menikmati permainan tangannya di sepanjang rahang ku.


Aku mendengar dia terkekeh, dan membuat ku membuka mata. Senyum indah dengan gigi yang putih dan tersusun rapih itu membuat ku silau. Aku seperti melihat seorang malaikat dari jarak dekat. Sungguh, sungguh sangat cantik dan indah.


"Anda seperti anak anjing". Ucapnya kemudian masih dengan senyum mempesona nya.


Aku benar-benar telah terjebak dalam keindahan dirinya.


"Tidak masalah, aku bisa menjadi anak anjing hanya untuk mu". Ucapku tanpa pikir panjang.


Mendengar kalimat itu, ia pun tertawa dengan menutup mulutnya. Dia jadi terlihat sangat anggun bak dewi kecantikan, Aphrodite.


Setelah puas dengan tawanya, dia kembali membenarkan suara dan menatapku dengan serius. Matanya kini terlihat tenang. Aku jadi frustasi karena tidak bisa membaca dirinya.


"Sungguh, carilah wanita lain. Masih banyak yang lebih pantas untuk anda, saya yakin". Ucapnya kini dengan sangat tenang.


Sekarang aku baru menyadari gaya bicaranya yang terdengar formal. Dan itu seketika membuatku sangat tertekan.


Aku menghela nafas berat dan menghembuskan nya dengan kasar. Hah...


"Panggil Jake... Berhentilah bersikap formal seperti ini, itu menyakiti hatiku". Ucapku yang kini memohon padanya.


Savana kembali terdiam. Sejenak ia menatap ku dengan isyarat yang tak mampu ku artikan. Aku jadi ingin menciumnya sekali lagi.


"Jake...". Panggil nya di tengah pikiran liar ku.


Aku yang mendengar nama ku yang diucapkan sangat indah olehnya sontak membuat jiwa raga ku bergejolak. Aku tidak kuat lagi menahannya. Akhirnya insting didalam diriku lepas kendali. Ku bawah wajah Savana lebih dekat dan dengan penuh hati-hati aku mengecup kembali bibir indahnya.


Aku bisa merasakan reaksinya yang tegang menerima perlakuan ku yang tiba-tiba. Dengan ahli tanganku mulai mengelus leher jenjangnya yang begitu menggoda, dan tangan lainnya terus setia melingkar di pinggang Savana.


Setelah cukup lama aku menggoda bibirnya, tangan lembut itu akhirnya kembali terasa di rahang ku. Sangat lembut ditambah bibirnya yang mulai membalas ciuman ku. Aku terkejut, namun aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!.


Oh! Ini benar-benar membuat ku gila!. Hasrat ku makin bergejolak.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2