SAVANA

SAVANA
BAB 9


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak ibu sudah dibolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Ibu juga sudah kembali beraktifitas seperti biasanya, begitu pula dengan diriku yang kembali dengan sekolah dan James ku tersayang. Oh, tentu saja tidak lupa ada Ashela si pengganggu.


Akhir-akhir ini aku dan James hanya menghabiskan waktu berdua di sekolah, karena setelah itu aku harus kembali ke rumah membantu ibu dengan beberapa pekerjaan rumah selagi ia bekerja di supermarket. Aku tidak ingin ibu terlalu capek, jadi pekerjaan rumah biar aku yang urus. Sedangkan James, dia sibuk mengantar Ashela dan membantunya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Begitu kata James yang disuruh oleh ibunya Ashela.


Terkadang di malam hari James datang berkunjung ke rumah dan mengantarkan beberapa makanan, tinggal menyapa ibu sebentar lalu pulang. Dia benar-benar lelaki yang manis. Aku sangat mencintai dirinya.


Hari ini aku pulang agak sore, karena sekolah mengadakan kegiatan les rutin di sore hari yang wajib diikuti siswa tingkat akhir. Les ini sudah berlaku sejak minggu lalu, yang pada saat itu aku sedang menemani ibu di rumah sakit. Hari ini adalah giliran mata pelajaran matematika. Guru les memberiku kesempatan untuk mengulangi materi sebelumnya, jadi teman-teman yang lain sudah pulang lebih dulu, kecuali aku, guru les dan juga James. Sebelumnya ia sudah mengantar Ashela pulang dan memilih kembali lagi dengan beberapa cemilan sembari menunggu ku.


Setelah pukul 17.00 akhirnya aku pulang. Kepalaku rasanya seperti mengeluarkan asap ketika keluar dari ruangan les tersebut. James yang menghampiri ku langsung tertawa melihat penampilanku yang begitu suram dan penuh tekanan.


Anak ini! Malah menertawai ku yang sedang menderita. Untuk aku sayang.


Setibanya di parkiran sekolah, James menawarkan aku untuk refreshing sebentar, dan aku langsung mengiyakan.


Kami berkendara menuju pantai yang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Di sana sudah terdapat beberapa pasangan yang sedang menikmati pemandangan matahari berwarna jingga yang sebentar lagi akan tenggelam.


Aku terpukau dengan keindahan yang tersaji di depanku. Dengan suasana yang romantis, James mengarahkan ku untuk bersandar di bahunya. Aku pun mengikuti kemauan nya dan bersandar mesra di bahunya. Sedetik kemudian aku merasakan kelembutan bibirnya yang mencium kening ku.


"I love you, Babe". Tuturnya di atas kepala ku.


"I Love you Too James". Balas ku menarik lalu mencium tangannya.


"I Love you more". Ucapnya lagi.


Aku mengangguk sambil terkekeh. Kami pun kembali terdiam menikmati suasana hening nan romantis ini. Semakin larut matahari pun sisa di ujung, gelap mulai menyelimuti, lampu-lampu kecil pun dinyalakan. Berapa pasangan yang terlihat mulai saling bercumbu di dalam mobil mereka masing-masing, membuat suasana romantis nya makin dalam.

__ADS_1


James pun menutup kaca mobil dan mulai menyalakan AC nya. Aku yang terbawa suasana mulai menarik bahunya agar wajah tampannya bisa ku sentuh. Kami pun saling bercumbu mesra. Alunan musik yang keluar dari radio memainkan lagu Carpenters-Close to You.


Seiring alunan musik yang mengalun, ciuman kami makin dalam dan saling menuntut. Satu minggu tanpa James seolah-olah membuatku sangat haus akan dirinya. James melonggarkan setelan kursi kemudi nya lalu mendorongnya kebelakang. Dia kemudian memberi aku ruang untuk naik, dan duduk berhadapan di atas pangkuannya.


Makin lama ciuman kami makin liar satu sama lain. Kerinduan yang tak tertahankan pun mengalir dalam setiap sentuhan yang makin intens. Jari-jariku mulai meraba-raba bagian tubuhnya yang sensitif. Desa han kecil keluar dari bibir manis James ketika tanganku mulai turun ke tubuh bagian bawahnya.


"I miss you so much babe". Ucap James dengan suara serak dan nafas yang memburu.


"I know babe". Balasku.


Kami pun kembali berciuman. James menyibak keatas rok yang ku gunakan, memperlihatkan kulit pahaku yang halus nan putih. James tersenyum nakal sembari menatap area sensitif ku yang ditutupi oleh kain berwarna putih. Aku yang malu karena tatapannya itu merangkul lehernya dan memberikan kecupan nakal di leher hingga dadanya. Sesuatu yang sudah mengeras di bagian bawah James itu pun telah memasuki tubuhku. Membuatku mengerang, menikmati sentuhan dan gerakan nya. Dalam situasi yang panas ini, bahkan AC pun tak mampu menyejukkan tubuh kami yang mulai mengeluarkan peluh. Kami pun saling menikmati satu sama lain didalam mobil sedan hitam milik James. Tanpa adanya ketukan jendela oleh seorang pria lagi.


James mengantarku pulang hingga di depan pagar rumah. Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sinar lampu jalan yang tertutup pepohonan membuat tatapan kami sedikit buram. Aku pun mencium James sekilas dan mengucapkan salam perpisahan. Ia juga melakukan hal yang sama. Aku turun dari mobilnya dan James pun bergerak perlahan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pagar.


Setelah mobilnya tak terlihat lag aku akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


Ceklek.


Aku berpapasan dengan ibu yang duduk di ruang tamu. Dia mengenakan pakaian santai sambil mengenakan kacamata bacanya. Ibu terlihat sangat serius memandang handphone nya tanpa menyadari kehadiran ku.


"Bu?". Panggil ku yang kini ikut duduk bersamanya.


"Ah! Kamu sudah pulang. Siapa yang antar?". Tanya ibu yang setengah kaget mendapati kehadiran ku.


"James". Jawabku singkat dan memberikan gerakan isyarat 'ada apa dengan handphone yang ia tatap seperti tadi'.

__ADS_1


"Ohh. Kenapa tidak singgah?". Tanya ibu mengabaikan isyarat ku.


"Dia buru-buru bu, besok aku ajak singgah main deh". Jawabku senang.


"Lain kali saja. Besok kita akan berkunjung ke rumah kakek mu, sepupu kamu akan merayakan ulang tahun ke 5 nya besok". Terang ibu yang kembali menatap layar handphone nya.


"Hah? Sepupu??". Tanyaku keheranan.


Sejak kapan aku punya sepupu?!.


Ibu menatapku dengan kening yang mengkerut. Seolah-olah aku telah melupakan sesuatu.


"Siapa bu?". Tanyaku mengakhiri kebingungan ini.


"Kamu lupa? Adik angkat ibu? Om Jacob?". Tanya ibu balik.


"Hah??". Aku malah makin keheranan dengan tatapan tidak percaya mendengar perkataan ibu.


"Sudahlah, nanti ibu ceritakan. Kamu pergilah mandi lalu kita makan malam. Ibu sudah siapkan". Tanya ibu yang kini menuju kamarnya.


Aku yang belum mengerti percakapan kami barusan masih berusaha mencerna kata-kata ibu. Entah mengapa otakku jadi korslet sejak keluar dari ruangan les tadi. Ditambah pernyataan ibu yang tiba-tiba ini.


Aku berjalan menuju kamar sambil mengingat-ingat kembali cerita ibu. Sesekali ku pijat pelipis ku ketika pikiranku menemukan jalan buntu. Ibu yang memperhatikan ku dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ku yang seperti orang linglung.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2