
Setelah jam dinding menunjukkan angka 9 malam, Luke akhirnya mengantarku pulang kembali ke rumah, dengan mobil Sedan keluaran tahun 90an milik kakeknya.
Perjalanan kami cukup singkat, karena rumah ku memang tidak begitu jauh dari sini.
Kurang lebih 10 menit kami berada didalam mobil dengan suasana canggung. Beberapa kali Luke terlihat membuat lelucon untuk menghilangkan suasana itu, dan begitu pula aku menanggapi dengan tawa yang berusaha ku buat senatural mungkin, namun tetap saja perasaan canggung itu tak kunjung hilang.
Setelah beberapa saat, aku pun tiba di depan pagar. Luke turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk ku. Aku mengucapkan rasa terimakasih ku di selingi dengan perasaan aneh yang muncul setelah melakukan hal itu dengannya. Luke juga terlihat sama dengan ku. Dengan perasaan itu, ia pun pamit dan aku hanya mengangguk malu melepas kepergiannya. Luke pun berlalu, dan memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
****
Pijakan kaki pertama ku yang menginjak lantai ruang tamu membuat suasana hening yang familiar menyambut ku. Aku yang belajar untuk menerima semua ini, berusaha tak peduli dan langsung berjalan menuju kamar.
Ku lepaskan baju yang ku gunakan saat ini dan menggantinya dengan kaos polos berwarna putih yang biasa ku kenakan di rumah.
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dan memandang langit-langit kamar yang terdapat sticker bulan dan bintang yang berwarna merah neon.
Kenangan tentang stiker itu pun terputar di otak ku.
Saat itu aku berumur 5 tahun ketika hari pertama bagi ku untuk mulai bersekolah. Ayah yang terlihat lebih antusias dibanding dengan diriku, memberi kan stiker ini sebagai hadiah hari pertama aku masuk sekolah. Bersama-sama kami memasang benda tersebut dengan penuh canda tawa. Ibu yang bertugas untuk memegang tangga untuk ayah dengan senyum hangatnya tak bisa lepas dari ingatan ku.
Hah...
Tok! Tok!.
Suara ketukan pintu kamar ku membuat kenangan itu terhenti. Aku pun bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Di baliknya sudah berdiri ibu dengan segelas teh yang masih mengepulkan asap di genggamannya.
"Boleh ibu masuk?". Tanya ibu dengan wajah kusut nya.
Aku mengangguk dan mempersilahkan beliau masuk. Ibu pun duduk di kursi meja belajar ku dan aku duduk di pinggir tempat tidur. Ia menyesap teh nya, kemudian menatapku sambil tersenyum hampa.
"Kau mau?". Tawarnya pada ku sambil menyodorkan gelasnya.
"Tidak perlu bu, Vana tadi sudah minum kopi dengan teman". Balas ku pada ibu.
"Begitu ya. Ibu senang kalau Vana punya teman untuk minum kopi. Apa James orang nya?". Tanya ibu kemudian.
Sakit.
Tetap saja hatiku sakit mendengar nama itu. Apalagi nama itu keluar dari mulut ibu.
Aku tersenyum hambar sambil menggeleng kearah ibu.
"James sudah punya tunangan bu, aku sudah tidak melanjutkan hubungan ku dengan dia lagi". Sambung ku berusaha menerima kenyataan.
Hah... Ini benar-benar sakit.
"Begitu ya. Itu berarti bukan dia orangnya nak". Ucap ibu yang menatapku penuh makna.
Ibu benar.
Bukan James orang yang tepat untuk ku.
__ADS_1
Aku mengangguk mendengar ucapan ibu dan memberinya senyum pasrah.
"Begitu pun hubungan ibu dan ayah mu". Lanjut ibu kini dengan menatap kosong kearah gelasnya.
Hah...
Sekarang aku benar-benar mengerti. Aku paham situasi dan bagaimana perasaan ibu saat ini. Jauh di lubuk hatinya, beliau sangat mencintai ayah. Namun bukan ayah orangnya, walaupun ia sempat singgah di kehidupan ibu dan membuatnya nyaman. Jadi begitulah kehidupan. Dunia setiap orang akan selalu berputar untuk menemukan pasangan yang tepat untuk nya.
Aku mengusap lengan ibu, berusaha untuk menguatkan beliau. Ia kembali menatapku dengan senyum hampa nya.
"Nak, perceraian kami akan dilaksanakan 3 hari lagi". Ucap ibu kemudian.
Aku terkejut mendengar berita yang tak terduga ini. Ku telan saliva ku yang terasa pahit mendengar kabar ini. Aku tidak menyangka peristiwa itu akan terjadi secepat yang dikatakan ibu. Aku pikir mereka akan melakukan persidangan nya diakhir pekan.
Aku yang tidak tahu harus mengungkapkan apa hanya bisa terdiam menerima kenyataan pahit ini.
"Setelah itu, kita akan pindah ke desa". Sambung ibu yang lagi-lagi membuat ku terkejut.
"Kenapa bu?". Tanyaku akhirnya.
"Tadi, ayahmu kemari untuk mengambil kembali hak rumah yang memang tertulis atas nama dirinya. Itu sudah tertulis dalam perjanjian perceraian kami. Pilihan yang diberikan adalah rumah ini atau kamu, Savana. Bagi ibu, rumah ini tak ada apa-apanya kalau harus menukar itu dengan dirimu. Jadi ibu memilih untuk memberikan rumah ini pada ayahmu". Jelas ibu yang tersenyum kecut pada ku.
Aku yang mendengar penjelasannya hanya bisa tertegun dan berfikir. Sekeras itukah ibu telah berjuang demi diriku?. Sedangkan aku hanya bisa menangis dan merengek untuk keegoisan ku sendiri. Aku benar-benar anak yang tak tahu diri.
Aku menunduk merenungi perkataan ibu. Situasi ini membuatku tidak bisa sedih sekaligus senang diwaktu yang bersamaan. Rasanya sakit. Ibu sudah membuat pilihannya, sisanya ada padaku.
Hah...
"Lalu bagaimana dengan sekolah Vana bu?". Tanyaku kemudian.
"Sisa dua minggu lagi, Vana akan ujian kelulusan". Sambung ku menatap ibu yang terlihat sangat lelah.
"Untuk sementara, ibu akan menyewa sebuah apartemen sederhana sampai Vana lulus. Setelah itu, kita akan pindah ke sudut kota kecil yang ada di wilayah ini. Ibu sementara mengurus nya, mereka menawarkan tempat tinggal gratis selama 3 tahun untuk orang seperti ibu yang sudah memiliki satu anak. Tapi ibu menolak itu, ibu lebih memilih untuk membeli sebuah rumah dan berencana untuk menetap di sana. Harganya tidak mahal, ibu bisa mendapatkan rumah dengan dua kamar dilengkapi dengan perabotan yang baru dan halaman rumah yang cukup luas... Apakah Vana tidak keberatan?". Tanya ibu di penghujung ceritanya.
"Tidak masalah bu, lalu bagaimana dengan magang yang ibu tawarkan dulu?". Tanya ku lagi mempertimbangkan keputusan ibu.
"Perusahaan itu tidak cuman satu nak, mereka juga punya cabang di sekitar kota Teora. Ibu sudah melihatnya, kamu bisa menggunakan kendaraan ibu". Jelasnya lagi.
"Lalu ibu menggunakan apa?" Tanyaku penasaran.
"Ibu memutuskan untuk pensiun dari dunia perkantoran nak. Di tempat ibu ada beberapa tunjangan, ibu rasa jumlah nya sudah cukup untuk membiayai kehidupan kita nanti, sekaligus membantu Vana untuk kuliah". Jawab ibu penuh kesabaran.
"Yeah. Vana akan belajar sungguh-sungguh bu, biar lulus di perusahaan itu. Biar ibu bisa menyimpan tunjangan itu untuk keperluan yang lebih penting". Balas ku pada ibu sambil meyakinkannya.
"Ibu yakin sama kamu nak. Pendidikan kamu juga sangat penting buat ibu, jadi jangan merasa terlalu terbebani". Ucap ibu menasehati ku dengan tulus.
Aku tersenyum tak kalah tulusnya pada ibu, sambil mengangguk menanggapi nasehatnya.
"Tadi, saat hujan. Om Jacob datang berkunjung. Ternyata secepat itu ia menyadari kalau ada yang tak beres dengan kepergian kita. Tapi ibu sudah menjelaskan padanya..."
Ibu menghentikan ucapannya itu. Aku memandang ibu dengan mata yang menyipit karena nada menggantung di ujung kalimatnya. Apa om Jake memberitahukan ibu kejadian tadi siang?. Tidak mungkin kan. Sama saja dia menggali kuburannya sendiri.
__ADS_1
Sret.
Ibu menarik laci meja ku, dan mengeluarkan dus kecil berwarna hitam lalu menyodorkan nya padaku. Aku yang terkejut ada benda ini di laci ku langsung menerimanya untuk ku teliti.
Handphone?!.
"Ibu beli buat Vana?". Tanyaku yang sontak menyadari benda kotak ini berisikan handphone baru.
"Jacob". Kata ibu pelan.
Aku langsung tertegun mengetahui om Jake yang membelikan barang ini.
Kenapa?.
Pertanyaan itu langsung muncul di kepalaku.
"Sepertinya dia menaruh perasaan pribadi pada mu nak...". Lanjut ibu sambil menghembuskan nafas berat.
Aku jadi bingung harus berkata apa. Aku mengagumi om Jake, bukan berarti aku punya perasaan pribadi padanya. Kalau kagum... Memang benar aku mengagumi nya, dia tampan dan kaya raya. Tapi tetap saja dia paman ku, sama seperti dia menghargai ibu sebagai kakaknya, aku pun begitu kepada nya. Aku menghargai om Jake sebagai paman ku, tidak lebih.
"Itulah kenapa ibu kaget ketika Jacob sendiri yang meminta mu untuk memanggilnya 'Jake'. Hanya orang-orang tertentu yang memanggilnya seperti itu nak. Bahkan ibu yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun tetap saja memanggil dia Jacob. Karena ibu tahu betul, apa makna dari nama 'Jake' itu. Tapi..."
Lagi-lagi ibu menggantung kalimatnya.
"Tapi kenapa bu?". Tanyaku penasaran sekaligus merasa tercekam.
"Ibu tidak melarang mu, jika memang kamu memiliki perasaan yang sama padanya. Hanya saja, ibu rasa itu akan menjadi sangat berat untuk mu, nak. Kamu tahu betul bagaimana nenek angkat mu bersikap pada kita. Jika kalian menjalin hubungan... Apakah kamu akan sanggup?, ibu tak ingin hatimu terluka hanya karena tak bisa bersanding dengannya, nak". Jelas ibu panjang lebar sambil menatapku dengan sangat khawatir.
Aku yang mendengar penjelasan itu langsung menggeleng kuat di hadapan ibu. Bagaimana dia bisa berpikir kalau aku juga menyukai om Jake?!. Tidak. Tidak. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini.
"Bu, Vana tidak begitu. Vana menghormati om Jacob, Vana tidak menaruh perasaan lebih dari itu bu. Vana kagum, sekaligus bersyukur karena mereka ingin merawat ibu. Vana berterima kasih pada mereka selepas apa yang sudah di buat nenek, bu". Jelas ku meluruskan kesalahpahaman ibu.
"Begitu kah?". Tanya ibu ragu pada ku.
"Ya!. Vana yakin dengan perasaan Vana bu, lagi pula om Jacob terlalu tua untuk Vana!". Ucapku diakhiri dengan lelucon dan membuat ibu tertawa pelan.
Sekarang beliau terlihat percaya dengan ucapan ku. Kekhawatiran yang sempat terbesit di ujung matanya perlahan sirna mendengar pengakuan ku. Syukurlah...
Setelah berbincang-bincang dengan ku, ibu pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Aku mengecup pipinya dan mengucapkan selamat malam padanya, lalu beliau pun berlalu.
Aku kembali terbaring di atas ranjang dan memandang ke langit-langit kamar. Sesekali ku lirik kotak handphone yang masih terletak di meja ku. Hah...
Apakah om Jake seserius itu padaku?.
Tidak mungkin.
Secara teknis, umur kami terlampau jauh. Tidak mungkin ia menyukai bocah seperti aku.
Ya!. Aku yakin. Pasti dia hanya kasihan padaku.
-Awne Cn
__ADS_1