
Tining! Tining! Tining!
Tining! Tining! Tining!
Hari ini adalah hari minggu. Semalam karena kejadian yang tak ku sangka-sangka, tidur ku jadi telat, bangun ku pun sama.
Aku terbangun mendengar handphone ku yang sejak tadi terus berdering. Dengan mata yang masih berat untuk terbuka, aku menarik handphone yang ku letakkan di atas meja samping tempat tidur. Dengan susah payah aku menyesuaikan penglihatan ku dengan cahaya yang ada di handphone ku ini.
James?.
Nama yang tertera di layarnya itu membuatku seketika tersadar. Ingatan yang sempat ku lupakan kembali terlintas di kepala ku. Aku pun mengangkat telepon nya.
"Halo". Ucapku dengan suara yang serak.
"Babe? Hari ini aku jemput ya". Ucap James dari sebrang sana.
"Aku tidak ingin kemana-mana hari ini. Kamu ajak Ashela saja". Balasku.
James pun terdiam. Begitu juga aku.
"Babe, maafkan aku. Mari kita bertemu, aku akan jelaskan semuanya sama kamu". Ucap James kemudian.
"Jelaskan disini saja, hari ini aku tidak di rumah". Balas ku.
"Kamu dimana?". Tanya James.
"Di rumah kakek". Jawab ku enggan.
"Kapan kamu kembali?". Tanyanya lagi.
Aku yang muak mendengar semua ucapannya itu pun langsung mematikan sambungan kami.
Sial!.
Aku menidurkan kembali tubuhku di atas kasur empuk ini. Tak lama kemudian handphone ku kembali berdering.
Tertulis nama James di layarnya.
Klik.
"Jelaskan lah sekarang, jika tidak lebih baik tak usah menghubungi ku". Ucapku terus terang.
"Baiklah. Maafkan aku babe". Balas James yang terdengar sedih di ujung sana.
...
__ADS_1
"Sebenarnya sejak lama Ashela sudah menyukai ku, lalu sejak ia pindah kemari, Ashela ingin aku menjauhi kamu, dia mengancam akan memberi tahukan pada orang tuaku kalau kita masih menjalin hubungan, jika aku tidak menuruti kemauan nya". Sambung nya lagi.
...
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan dari James.
Saat mendengar tentang orang tuanya, pikiran ku pun kembali pada saat pertama kali James mengajak ku untuk bertemu mereka.
Saat itu orang tua nya sedang mengadakan pesta barbeque dihalaman rumah mereka. Singkat cerita, perasaan senang karena akhirnya James mempertemukan aku dengan orang tuanya tak berlangsung lama.
Di tengah-tengah kegiatan mereka, James meninggalkan aku dengan kedua orang tuanya yang menatap ku seolah mereka risih dengan penampilan ku saat itu. Aku yang berusaha akrab dengan mereka hanya ditanggapi sinis oleh keduanya. Hanya adik James-sisi-yang menemani ku ngobrol pada saat itu.
Tak lama kemudian James muncul dengan senyuman tak bersalahnya kepada ku. Ia langsung menghampiri ku namun kemudian orang tuanya malah menyuruh James untuk mengantar ku pulang, dengan alasan bahwa saat itu sudah terlalu malam untuk seseorang datang bertamu ke rumah mereka.
Aku yang mengerti maksud mereka pun langsung meminta James agar mengantar ku, namun James hanya terdiam dan tak ingin melakukan permintaan ku. Aku yang sakit hati kemudian pergi begitu saja dan memesan taksi online.
Pada saat itu, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang baru berjalan dua bulan itu. Namun seminggu berikutnya James datang menghampiri ku dengan semua penyesalan dan rasa bersalah yang ia tunjukkan. Ia meminta ku untuk kembali. Karena aku yang merasa sakit melihat kesedihan nya itu akhirnya memutus kan untuk kembali padanya. Kami sepakat untuk pacaran diam-diam dibelakang orang tua James. Dan hubungan kami berjalan mulus sampai wanita yang bernama Ashela itu muncul di tengah-tengah nya.
Mendengar penjelasan James serta ingatan yang sangat ingin ku lupakan itu akhirnya kembali dan membuat air mataku kembali menetes.
"Lalu? Kamu mau aku bagaimana James?". Tanyaku yang kini terisak.
"Sshh. Babe, kamu tau aku sangat mencintaimu". Balas James berusaha menenangkan ku.
Aku yang mendengar ucapannya itu merasa ditusuk pisau berkali-kali dalam diwaktu yang bersamaan.
"Tapi aku menolaknya, aku mengatakan pada Ashela kalau aku tidak bisa menyakiti kamu dengan membiarkan dirinya mengejar ku". Ucap James kemudian yang membuat ku bingung harus berekspresi seperti apa.
"Kemarin, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke London. Jadi ia tak lagi berada disekolah kita babe". Ucap James yang kini membuatku kaget.
"K-kamu serius?!". Balasku.
"Aku serius. Makanya aku ingin mengajak kamu ketemu, tapi ya sudahlah. Kamu habiskan waktu dengan keluarga kamu dulu, setelah itu kita bertemu". Ucapnya lagi.
"Baiklah, bagaimana dengan sebentar malam?. Mungkin aku pulangnya sore nanti". Terang ku pada James.
Perasaan sedih itu secepat kilat berganti dengan senang karena mendengar berita mengejutkan dari James. Akhirnya wanita sialan itu pergi juga.
"Baiklah babe, aku akan mengajakmu kencan nanti malam. Tunggu ya!". Ucap James bersemangat.
Aku pun mengakhiri telepon nya dengan perasaan lega dan berbunga-bunga.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu menghentikan senyuman ku. Segera ku pasang bra yang semalam ku lepas lalu menghampiri pintu kamar ini.
"Selamat pagi nona, anda sudah di tunggu dimeja makan oleh keluarga yang lainnya untuk sarapan". Ucap seorang pelayan yang mengetuk pintu ku.
__ADS_1
Aku mengernyit kan dahi ketika mendengar suaranya yang tidak asing. Persis seperti suara yang kudengar tadi malam. Apa jangan-jangan...
"Nona?" Tegur pelayan itu lagi.
"Ah! Baiklah. Saya segera turun". Balasku dan ia pun mengangguk lalu meninggalkan ku.
Dugaan ku benar. Dialah orangnya. Orang yang sama yang membicarakan aku dan ibu. Pantas saja ibu tidak betah di rumah ini. Bahkan sekelas pelayan pun ingin menyingkirkan dirinya. Dasar!.
Setelah puas memaki orang yang berencana busuk dibelakang ibu, akhirnya aku turun ke lantai dasar. Aku berjalan melalui ruang keluarga lalu berbelok kearah kanan. Sepanjang perjalanan para pelayan yang kutemui menyapa ku dengan sangat ramah dan ku balas tak kalah ramahnya.
****
Aku pun tiba di sebuah ruangan yang disepanjang dinding sebelah kiri nya dihiasi dengan dinding berbahan dasar kaca sehingga kita dapat melihat hamparan taman luas yang berada di luar, membuat ruang makan ini terkesan seperti outdoor namun sebenarnya tidak seperti itu.
Ku lihat seluruh anggota keluarga menatap kehadiran ku. Aku yang merasa malu pun melemparkan senyum canggung kearah mereka yang tak kulihat satu persatu, kecuali ibu dan kakek yang langsung menyuruhku untuk duduk dan bergabung sarapan pada pagi ini.
Aku berjalan dengan canggung dan menarik kursi di samping ibu.
"Maaf kakek, dan semuanya. Vana terlambat bangun". Ucapku berusaha sopan.
"Kakak princess telat karena semalam menjaga Eiden sampai tidur kek". Sela anak kecil yang berada di samping seorang pria.
Aku melirik pria di samping Eiden dan...
"Uhuk!". Tiba-tiba saja aku tersedak dengan ludah ku sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?". Ucap seorang pria lainnya dan menyodorkan selembar tisu pada ku.
Aku meraih tisu itu dan langsung menutup mulut ku dengan tisunya.
"Ehem!". Pria yang ketampanannya membuatku tersedak itu pun sengaja ter batuk, embuat pria yang menyodorkan tisu pada ku itu kembali terduduk di kursinya.
Aku yang menyadari pria yang memberiku tisu dan duduk berhadapan dengan ku saat ini adalah orang yang sama, yang semalam ku temui di bawah kolong meja ini. Aku langsung melotot kearahnya. Bukan karena pertemuan kami pagi ini, namun aku menyadari hal lain yaitu ternyata wajahnya tak kalah tampannya dari orang yang duduk berdampingan dengan Kakek dan Eiden. Aku yang tak percaya dengan situasi ini, menatap kearah mereka secara bergantian. Keduanya langsung menyadari dan membalas tatapan ku dengan tatapan menggoda dan yang satunya terlihat dingin namun mampu membuat orang lain jadi meleleh!. Aku langsung menunduk begitu menyadari tatapan mereka.
Sial! Kenapa ada makhluk setampan mereka. Batinku.
"M-maaf kan saya!". Ucapku dengan canggung sekaligus malu karena ketahuan sudah memandang mereka dengan tatapan memuja.
Aku pun berusaha mengalihkan pandangan kearah lain dan menemukan kembali diriku yang sempat kehilangan arah karena dua makhluk bak dewa dihadapan ku.
"Tidak masalah cucu cantik ku, mari kita semua makan". Ucap kakek dengan sangat ramah, membuatku kembali waras dan semuanya pun sibuk dengan piring mereka masing-masing.
Perhatian ku kini tertuju pada ibu yang sedari tadi hanya diam dan fokus dengan makanannya. Bahkan saat aku tersedak pun ia diam saja. Aneh. Ada apa dengan ibu?!. Pertanyaan yang tidak-tidak pun muncul di benakku.
-Awne Cn
__ADS_1