
Akhirnya kami tiba di rumah. Ibu yang telah selesai berbincang-bincang sebentar dengan supir yang mengantar kami akhirnya mengikuti ku masuk ke dalam rumah.
Aku pun membuka pintu, namun kunci nya malah tidak bisa terputar. Ku tekan gagang pintu tersebut, kemudian pintunya terbuka.
Loh?.
"Selamat datang". Sapa suara laki-laki yang berasal dari dalam rumah, membuat ku terkejut.
Ibu yang kini tiba dan berdiri di belakang ku sama kagetnya ketika kami mendapati sosok yang sangat tak bertanggungjawab sedang duduk di sofa ruang tamu menyambut kedatangan kami.
"Kenapa kamu masih kesini?". Tanya ibu dingin menyadari sosok tersebut.
Ia berjalan mendahului ku dan menghampiri bajingan itu.
"Jangan seperti ini Saphira, kasihan Savana kita". Ucap pria yang tak lain adalah ayah.
"Jangan mengalihkan. Kenapa kau masih muncul?! Hah?!. Bukannya kau sudah menyuruh pengacara mu itu untuk menyampaikan padaku agar tidak mengganggu rumah tangga baru mu?. Lalu kenapa kau masih datang kesini?!". Ucap ibu panjang lebar dengan wajah yang penuh emosi menatap ayah.
"Bu... Ibu tidak boleh emosi berlebihan, nanti sakit ibu kambuh lagi". Ucapku yang khawatir sambil mengusap lengan ibu agar perasaannya bisa lebih baik walaupun itu tidak mungkin.
"A-ayah. Sebaiknya ayah pergi, bukan kah ayah yang lebih dulu meninggalkan kami, lalu kenapa ayah masih mengganggu ibu dengan bersikap seperti ini". Sambung ku menatap ayah dan berusaha agar tidak meledak melihat kedua orang tua ku yang terus saja saling berselisih.
"Lihat kan. Anak seperti Savana saja lebih bijak daripada orang dewasa sepertimu". Sindir ayah dengan ekspresi sinis pada ibu.
Aku yang menyaksikan itu jadi muak dengan sikapnya.
Keduanya pun kembali beradu mulut. Setiap kata-kata yang mereka lontarkan seperti memberikan hantaman keras pada mental dan kondisi batinku.
Huhh?. Kenapa ini tidak berakhir juga. Belum selesai masalah yang lain, sekarang malah bertambah lagi. Rasanya capek banget. Batinku lelah.
Ibu pun mulai mengatur napas nya, ia memilih duduk di sofa yang bersebrangan dengan ayah. Aku yang memilih berdiri ditengah-tengah mereka cuman bisa mengingatkan ibu untuk mengontrol emosinya.
"Tak usah banyak bicara. Sekarang apa mau mu?". Ucap ibu dengan nada yang lebih pelan namun menatap ayah dengan tajam.
"Tak banyak. Kamu jelas tahu kalau rumah ini milik siapa". Ucap ayah dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Semenjak pertengkaran mereka yang terakhir, ayah jadi banyak berubah. Sekarang dia terlihat seperti bajingan yang sesungguhnya.
"Maksud kamu apa?!". Tanya ibu yang mulai terlihat emosi lagi.
"Bu... ". Tegur ku berusaha mengingat kan darah tingginya.
"Diam Savana, lebih baik kamu keluar dan bermain dengan teman mu". Ucap ibu penuh penekanan.
Aku tidak percaya ibu akhirnya memperlakukan aku seperti ini. Membuatku tak bisa apa-apa, dan selalu menyembunyikan masalah mereka. Aku sudah muak. Aku capek dalam situasi ini!.
"Bu! Vana bukan anak kecil lagi, lagi pula ini bukan salah Vana. Kenapa kalian terus saja bertengkar!". Akhirnya aku tidak bisa menahan emosi ku lagi.
Ibu dan ayah menatap ku secara bergantian. Aku yang merasa marah sekaligus menyesal akhirnya memilih untuk keluar dari rumah ini. Ibu dan ayah memanggilku tapi tetap saja, perasaan yang terus ku pendam itu akhirnya meledak juga. Ditambah lagi dengan masalah-masalah sebelumnya yang muncul satu-persatu. Rasanya saat ini aku ingin sendiri saja. Aku butuh ketenangan. Ku pikir, pulang ke rumah bisa menenangkan sedikit perasaanku yang terluka, namun ternyata sama saja. Malah lebih menambah luka di hatiku.
****
Aku berjalan menyusuri lorong yang ada di samping rumah ku. Disepanjang jalan aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati. Bukannya aku sudah berjanji pada ibu untuk tidak meninggalkan nya dalam keadaan apapun, tapi lihatlah diriku sekarang, berjalan tanpa arah dan menjauhi ibu yang sedang dalam kesulitan.
Walaupun begitu, sejujurnya, jauh di lubuk hati ku, aku juga merindukan ayah. Aku tidak ingin mereka bercerai. Ini terlalu menyakitkan tapi aku harus menerima faktanya. Walaupun aku sangat ingin memeluk ayah dan ibu secara bersamaan. Tapi, bukan kah aku egois jika meminta mereka untuk kembali demi diriku sendiri?. Sama artinya kalau aku hanya memikirkan kesenangan ku sendiri. Hah... Aku benar-benar labil dan bimbang.
Belum lagi masalah ku dengan James. Seharusnya sejak awal, sejak orangtuanya tak setuju dengan hubungan kami, aku tidak perlu balikan dengan dia lagi. Hanya karena embel-embel kasihan dan merasa 'tersakiti' melihat dia yang memohon-mohon pada ku saat itu, aku jadi orang yang bodoh. Nyatanya itu semua karena keserakahan ku. Itu karena ego ku yang terlalu ingin bersamanya. Lihat kan sekarang, bagaimana hubungan ini hancur sehancur hancur nya.
Memang lebih baik, aku dan James tidak perlu bersama lagi.
Sepanjang aku melalui jalan setapak ini, yang entah membawaku ke sisi jalan yang mana, sepanjang itu pula pemikiran dan kegundahan hatiku pada masalah yang sedang ku hadapi.
Perlahan aku mulai menyadari semua perbuatan dan bagaimana aku membuat keputusan itu sebelumnya. Benar. Tak ada lagi pembelaan, aku menilai semuanya dari sudut pandang yang realistis. Aku berusaha untuk menerima dan jujur dengan diriku sendiri. Sangat sulit memang. Namun mungkin, jika dari awal pemikiran ku seperti ini, masalahnya tidak akan sebesar sekarang. Mungkin.
****
Aku melihat bangku jalan yang kosong terletak tepat di depan sebuah toko sepatu. Toko yang bernama 'Deichmann' itu terlihat cukup ramai oleh pengunjung dan pembeli.
Aku pun memutuskan untuk duduk pada bangku jalan yang ada di depan toko tersebut sambil melepas rasa lelah pada kaki dan pikiran ku. Aku tidak tahu, sudah berapa meter atau mungkin sudah sampai hitungan kilometer aku berjalan kaki, sampai akhirnya aku berada di tempat pertokoan yang pejalan kaki nya cukup ramai melintas.
Hah...
__ADS_1
Lelahnya. Batinku.
Aku memperhatikan mereka yang lalu lalang dengan berbagai ekspresi diwajahnya. Ada yang berjalan sendirian, ada juga yang berdua, bahkan beramai-ramai. Tapi aku tetap saja merasa kesepian. Entah mengapa di situasi ini aku malah memikirkan om Jacob. Apakah ini efek dari ciuman tadi?. Hahh, jika benar maka aku sudah melakukan kesalahan besar. Seharusnya aku menjauhi hubungan apapun dengan keluarga itu. Hahh...
Aku memejamkan mata sejenak untuk menghirup udara yang ada pada senja hari ini. Cuacanya yang mendung membuat lampu jalan menyala lebih awal karena situasi yang cukup gelap. Aku tidak tahu pasti pukul berapa sekarang. Karena kecerobohan ku sendiri, handphone ku sudah tak berfungsi lagi. Aku mensyukuri nya, setidaknya tidak ada lagi deringan telpon yang memekakkan telinga. Rasanya aku trauma dengan deringan telepon ku sendiri semenjak Ashela menelpon. Aku tidak ingin memikirkan itu lagi. Toh, bukan salah dia juga. Untuk sekarang aku memutuskan untuk tidak menggunakan benda kecil itu dulu.
Hahhh...
Aku menghembuskan nafas berat setelah cukup lama sibuk dengan pikiran ku sendiri. Sekarang sudah terasa jauh lebih baik dari sejam yang lalu.
Cukup lama aku menengadah ke langit, hingga percikan air mengenai wajah ku. Apakah hujan akan turun?. Namun jiwa dan raga ku enggan untuk beranjak dari tempat ini. Kursi yang ku duduki saat ini seperti mengikat ku untuk tidak pergi kemana-mana.
Makin lama, percikan itu berubah jadi rintikan yang bertambah setiap detiknya.
Tik.
Tik.
Tik. Tik. Tik.
Derap langkah orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh terdengar jelas di telinga ku. Dalam keramaian ini, hanya aku yang tak bergerak untuk mencari tempat berteduh. Aku memutuskan untuk tetap tinggal dan menikmati hujan ini sambil memejamkan mata. Aku merasa nyaman dengan situasi ini.
Sampai menit berikutnya, rintikan itu berubah jadi hujan deras yang mengguyur kota kecil tempat kami tinggal. Bersamaan dengan itu, air mataku lagi-lagi menetes. Namun bukan untuk bersedih dan menyesali semua masalah ini. Aku juga tidak mengerti mengapa air mata ini menetes. Entah sejak kapan, namun sekarang aku merasa sangat tenang dibawah guyuran hujan ini. Rasanya setiap lelahku menetes bersamaan dengan tiap butir hujan yang menghinggapi ku. Tanpa sadar, dengan refleks bibir ku mengukir sebuah senyuman. Aku tak tahu pasti. Saat ini aku hanya merasa jika semua akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menerima semua yang terjadi.
Mungkin orang-orang yang melihatku saat ini menganggap jika aku orang stress dan sudah kehilangan akal sehat.
Aku tidak peduli, mereka bahkan tak tahu cerita yang sudah ku alami.
Sungguh aku tidak peduli dengan mereka yang menatapku dengan tatapan aneh.
Aku tidak peduli...
Aku hanya ingin menangis dan tersenyum dibawah hujan ini. Itu saja.
-Awne Cn
__ADS_1
NB:
Mohon maaf semua, ini akan menjadi masa yang sulit. Tapi saya akan berusaha semampunya untuk update tepat waktu walau mungkin episode nya tidak sesuai harapan kalian. Maafkan sayaa~~😢