
Dia menyambut ku.
Oh, thank God!. Batinku bergairah.
Aku pun memainkan lidahnya dan di balas dengan milik Savana. Tangan yang sedari tadi mengelus rahang ku mulai menjalar ke atas kepala ku. Sesekali ia meremas rambut ku bersamaan dengan desa han nya yang keluar karena permainan lidahku yang makin liar.
"Nghh... O-mh Jake!". Panggil Savana.
Dia yang mende sah sembari memanggil seperti itu malah membuatku makin bergairah. Walaupun kata 'Om' belum hilang, tidak jadi masalah. Aku akan membuatnya terbiasa menyebut nama 'Jake'.
"T-tungguh!". Ucapnya lagi sambil mendorong kepalaku yang sedang asik memberikan ciuman kecil di sepanjang leher jenjang nya.
Aku menghentikan aksi ku dan menatap nya heran.
"Apa kau tidak suka?". Tanya ku yang kebingungan sekaligus merasa bersalah.
"B-bukan itu. Pikirkanlah kata-kata ku yang tadi, aku serius mengatakannya". Ucap Savana yang secara tak langsung, telah menolak ku.
"Cukup sampai disini saja, biarkan aku pergi". Lanjutnya sambil berusaha menyingkirkan tangan ku yang masih setia melingkar di pinggangnya.
Aku tidak bisa. Bukan, aku tidak mau dia pergi kemana-mana. Aku bisa benar-benar gila jika ia pergi meninggalkan ku.
"Apakah... kau menolak ku karena kekasihmu yang sekarang?". Tanyaku akhirnya.
Dia yang sedari tadi gelisah ingin melepaskan diri dariku akhirnya terdiam dan malah menatap ku dengan tatapan nanar.
"Ada apa? Apa kau sangat mencintai nya?". Tanyaku makin penasaran sekaligus takut kalau saja hal itu memang benar.
Setelah mengucapkan kalimat barusan, bukan nya menjawab ku, air mata Savana justru menetes. Namun ia tak bergeming, matanya yang menangis namun mulutnya tak mengatakan apa-apa itu seperti menghujani ku beribu-ribu batu. Sakit.
"K-kenapa? Apakah pria itu menyakitimu? Apakah aku yang menyakitimu?". Tanyaku bertubi-tubi sambil berusaha menenangkannya.
Aku menangkap wajahnya lalu menghapus air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
"Maafkan aku, aku telah membuatmu seperti ini, ini salahku, maaf". Ucapku takut dengan air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.
Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata maaf dan berharap agar ia merasa tenang dan menghentikan tangisannya.
"I-ini bukan salah anda". Ucapnya kemudian dengan nada yang terisak-isak.
"I-ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan anda. J-jadi berhentilah minta m-maaf". Lanjutnya.
Aku mengerutkan dahi tak paham dengan maksud perkataannya. Ku coba untuk menanyakan hal apa yang membuatnya menangis namun dia kembali diam tak ingin menjawab ku. Aku jadi merasa serba salah.
"Hey kemari lah. Bersandar di pundak ku". Ucapku sambil menariknya untuk menyandarkan kepalanya di pundak ku.
Savana tidak menolaknya. Namun sama saja, aku tidak bisa berhenti gelisah jika ia tak kunjung memberitahukan padaku kenapa ia menangis sampai seperti ini. Ku harap dia bisa merasa lebih baik jika bersandar di pundak ku.
Dengan penuh kehati-hatian aku memeluk tubuhnya dengan kedua tangan ku sambil mengelus lengan nya perlahan. Seharusnya dalam situasi ini aku merasa senang. Namun hatiku berkata lain. Apakah pacarnya itu telah melakukan sesuatu?. Apa dia menyakiti nya?. Aku tidak bisa mengetahuinya jika savana sendiri tidak menceritakan hal ini. Tapi aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan pria itu. Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang jika saja pikiran-pikiran ku ini benar adanya. Tunggulah. Aku akan memberinya pelajaran hidup.
Tapi siapa pria itu?. Apa dia lebih tampan dari aku? Lebih mapan? Atau lebih perhatian?. Sampai-sampai Savana meneteskan air mata untuknya. Sampai-sampai savana menolak ku hanya karena dirinya. Tidak mungkin ada pria lain yang lebih sempurna dari diriku kan?. Pikir ku yang tak mengerti lagi harus berbuat apa agar savana mau 'melihat' ku.
"Nymm". Suara savana mengalihkan fokus ku bersamaan dengan tangannya yang kini ia letakkan di pundak ku yang lain.
__ADS_1
Sempat aku merasa senang karena dia memeluk diriku, namun setelah menyadari bahwa kini ia sudah tertidur, perasaan senang itu langsung berubah kecewa. Ternyata dia melakukannya tanpa sadar. Tapi walaupun begitu, bukan kah dia ini sangat ceroboh?. Biasa-bisanya dia terlelap dalam pangkuan seorang pria yang jelas-jelas menginginkan dirinya.
"Hm..." Gumam ku.
Apa dia sering seperti ini?. Tidak. Tidak boleh. Mulai sekarang aku akan lebih mengawasinya. Dia hanya boleh seperti ini dengan ku. Kalaupun dia sudah memiliki kekasih, aku akan merebutnya. Ya. Benar. Aku memang serakah kalau soal wanita ini.
Aku pun memperhatikan dirinya yang tertidur sangat pulas. Nafas nya yang teratur naik turun membuatku menikmati nya. Bahkan saat tertidur seperti ini pun dia terlihat sangat cantik. Walaupun diujung bulu matanya, masih ada sisa-sisa air mata. Aku jadi ingin terus menjaganya.
Dengan perlahan, aku menggerakkan tubuhku dan melangkah sambil menggendong nya menuju kamar. Aku tidak bisa membiarkannya tidur lebih lama dengan posisi seperti ini, Bisa-bisa leher dan punggungnya sakit karena tertekuk dalam waktu yang cukup lama.
****
Setibanya dikamar, aku langsung menurunkan Savana yang berada di dalam gendonganku dengan sangat hati-hati agar tidak membangun dirinya. Setelah membenarkan posisi tidurnya, aku mengambil posisi di samping nya. Aku tidak akan menyia-nyiakan pemandangan ini. Walaupun ia tertidur, aku merasa sangat senang karena ia tertidur didalam kamar ku, di atas tempat tidur ku. Nafasnya yang beraturan itu menimbulkan kesan damai di wajahnya. Aku yang menyaksikan itu malah makin jatuh cinta padanya. Sungguh makhluk yang sangat indah. Ku beranikan diriku untuk menciumnya sekali lagi. Namun kali ini, aku menciumnya dengan penuh ketulusan.
Cup.
"Mimpi yang indah, My angle". Ucapku berbisik di atas bibir merahnya.
Makin lama aku memperhatikan Savana yang tertidur, perlahan rasa kantuk menghampiri ku. Aku berusaha terjaga untuk dirinya, namun tetap saja kantuk ini semakin kuat. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12.15. Tak apa, aku akan tidur 15 menit saja di samping wanita ku ini. Pikir ku sejenak. Dan beberapa detik kemudian kesadaran ku pun menghilang.
OFF.
****
Aku terbangun saat merasakan sesuatu yang cukup berat melingkar di atas perut ku. Perlahan aku membuka mata dan mendapati om Jake yang ikut terlelap di samping ku. Tangannya bahkan masih setia memeluk ku. Oh sial!.
Ingatan ku kembali pada apa yang sudah kami lakukan. Benar-benar memalukan!. Bukan cuman itu, aku bahkan menangis di depan nya. Oh tidak, ini sangatlah memalukan.
Setelah cukup lama aku mengagumi dirinya yang tertidur, dengan perlahan aku pun melepaskan diri dari tangannya yang berada di atas perut ku. Tangannya sangat berat, aku jadi kesusahan. Namun sekarang sudah terlepas. Perlahan aku menuruni tempat tidur yang berukuran king size ini di hiasi dengan bed cover yang serba hitam.
Aku memperhatikan sekeliling ku, namun ruangan ini terlihat asing. Dimana ini?!. Batin ku.
Aku melangkah menyusuri dinding yang terbuat dari marmer hitam untuk menemukan pintu keluar. Apakah ini kamar pribadi om Jake? Tanyaku dalam hati sambil berusaha menemukan pintu nya. Aku melihat tirai yang terbuka, namun itu bukan lah pintu, melainkan kaca besar yang menjadi pembatas antara ruangan ini dan udara di sebelahnya. Aku sedikit terkejut sekaligus kagum ketika mendapati pemandangan dari balik kaca besar itu, kita bisa melihat seluruh halaman di depan rumah ini. Luar biasa!.
****
Cukup lama aku mencari pintu keluar karena sesungguhnya ruangan ini sangat besar, akhirnya aku menemukan sebuah pintu berwarna hitam yang senada dengan dinding kamar ini. Jika lebih diperhatikan, gagang pintunya lebih terlihat hitam pekat, serta desain pintunya yang terbuat dari kayu licin yang cukup menonjol jika diperhatikan secara detail. Tanpa buang-buang waktu lagi, aku membuka pintu itu secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang membuat om Jake terbangun.
Setelah berhasil keluar dari kamarnya yang sangat luas, aku segera berlari pelan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di lantai ini, sampai akhirnya aku bertemu dengan tangga yang membawaku turun ke lantai dua. Jantung ku terpacu hebat, karena takut ketahuan. Bisa saja ada mata-mata nyonya besar di rumah ini yang sudah melihatku. Hah... Aku tidak akan sudi untuk tinggal di rumah ini lagi.
Setelah kembali ke kamar yang ku tempati sebelumnya, aku melihat ibu yang sudah duduk di atas tempat tidur sambil memegang amplop coklat yang tadi diberikan oleh nyonya besar itu padaku.
"I-ibu?". Sapa ku ku sedikit ngos-ngosan setelah berlarian turun dari lantai tiga.
Aku menutup pintu kamar ini dengan rapat, lalu mengunci nya.
"Sudah lama bu?". Tanya ku kemudian menghampiri dirinya.
"Apakah ini dari nenek?". Tanya ibu balik.
"I-iya". Jawabku yang khawatir melihat raut wajah beliau.
"Kamu juga dengar percakapan mereka di dapur tadi malam kan?". Tanya ibu kemudian membuatku kaget.
__ADS_1
"B-bagaimana ibu bisa tau?". Tanyaku balik.
"Ibu juga mendengarnya nak. Ibu pikir, setelah memiliki cucu, dia akan berubah. Tapi tetap saja, dia benar-benar tak suka kita berada di sini". Jelas ibu pasrah sambil menatap cek ditangannya.
"Kita pulang saja ya bu. Vana juga kurang nyaman disini". Ucapku akhirnya.
Ibu kemudian memeluk ku, dan aku langsung membalas nya.
"Kamu dari kamarnya om Jacob ya?". Tanya ibu kemudian membuatku jadi panik.
"A-anu bu, ini tidak seperti yang ibu pikirkan. Vana tadi menemui om Jake karena ingin menelpon ibu, yang tadi itu kan. Terus Vana ketiduran, tau-tau Vana udah di kamarnya om Jake". Jelas ku dengan sangat gugup.
Ibu menatapku dengan penuh selidik.
"Om Jake?". Tanya ibu mengintimidasi ku.
"A-Ya!. Dia minta Vana untuk memanggil nya Jake, tapi Vana tetap sopan bu. Vana tetap panggil dia om". Jelas ku lagi dengan perasaan malu sekaligus merasa bersalah.
"Bukan itu nak, apa Jacob mengatakan sesuatu selain itu?". Tanya ibu lagi.
Aku langsung menggeleng kuat. Tidak mungkin aku menceritakan tentang apa yang sudah kami lakukan tadi. Ibu pasti akan sangat marah dan kecewa pada ku.
"Kamu yakin?". Ibu masih menatap ku curiga.
"Yakin bu". Jawab ku spontan karena tak ingin kecolongan.
"Ya sudah, bersiap-siap lah. Ibu sudah meminta seorang supir untuk mengantar kita pulang". Ucap Ibu mengakhiri kecurigaan nya.
Aku menghela nafas lega karena akhirnya ibu tidak melanjutkan pertanyaan nya.
"Bu... Apa kakek tau?". Tanyaku yang kini mengemas baju yang ku gunakan saat datang kemari, juga handphone ku yang tak berbentuk lagi.
"Tidak. Kakek mu sedang berada di perusahaan, jadi tidak akan ada yang melihat kita pergi, kecuali Jacob". Ucap ibu sedikit ragu.
"O-om Jake tertidur di kamar nya bu". Balas ku yang masih gugup ketika membahas dirinya.
Ibu kembali menatap ku makin curiga.
Bisa gawat kalau ia tau tentang apa yang sudah kami lakukan!. Batinku panik.
"Percayalah bu, vana tidak melakukan hal yang aneh". Jelas ku mencari pembelaan.
"Kamu tidak mengerti nak. Yasudah, ayo kita kembali". Ucap ibu pasrah sambil melangkah keluar.
Justru aku yang tidak mengerti dengan perkataan ibu. Tapi biarlah, aku tidak peduli lagi. Yang aku pikirkan sekarang, bagaimana cara kami pulang tanpa sepengetahuan siapa pun dirumah ini.
"Cek nya bu?". Tanyaku yang melihat benda itu masih tertinggal di atas tempat tidur.
"Tinggalkan itu savana. Harga diri kita lebih tinggi dibandingkan uang mereka". Ucap ibu dingin.
Aku tak berani mengucapkan sepatah kata lagi dan hanya mengikuti ibu dari belakang. Sampai pada akhirnya kami sudah berada di dalam mobil yang sama saat kami kemari, namun supirnya terlihat beda.
-Awne Cn
__ADS_1