SAVANA

SAVANA
BAB 14


__ADS_3

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Beberapa tamu undangan telah meninggalkan pesta, termasuk sebagian keluarga besar yang sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.


Tinggallah aku, Daddy, Mommy, Kakak, Savana, dan Eiden. Tentu juga para asisten rumah tangga yang sedang sibuk membenahi rumah yang baru saja menyelesaikan sebuah pesta.


Eiden masih terlihat bersemangat bersama Savana, aku pun sama. Masih belum bosan menatap nya. Aku bahkan ingin terus menatapnya seperti ini.


"Oh ya, dad and mom, mungkin aku dan savana akan pulang dulu. Kapan-kapan kami akan berkunjung lagi". Ucap kakak ditengah kesibukan ku yang menatap anaknya.


"Loh! Ini sudah sangat larut malam. Bagaimana kalau kalian menginap saja". Ucap daddy berusaha menahan kakak.


Aku pun mengangguk mengiyakan perkataan daddy.


"Dad, kalau Saphira mau pulang kenapa harus ditahan". Ucap mommy kini yang membuatku jadi kesal.


"Kak, sebaiknya kakak menginap saja. Lagi pula sudah lama kakak tidak berkunjung ke sini". Ucapku kemudian mendukung pernyataan daddy sebelumnya.


Eiden juga merengek agar Savana tinggal dan menemaninya malam ini.


Heheh. Bagus nak!.


Setelah cukup lama bergumul, akhirnya kakak memutuskan untuk menginap malam ini.


"Kamar kamu masih ditempat yang sama nak, daddy tidak membiarkan siapapun menempatinya, kecuali pelayan yang masuk membersihkan". Ucap daddy lagi menunjuk ruangan di sisi tangga yang pintunya tertutup.


Kakak terlihat terharu dengan ucapan daddy barusan, mereka pun lagi-lagi berpelukan.


"Kakak princess, malam ini boleh temani Eiden tidur?". Tanya Eiden dengan suara nya yang lantang.


Orang-orang yang mendengar permintaan nya itu jadi tertawa, termasuk Savana. Aku yang melihat kelakuan anakku yang sangat berani ini merasa sedikit minder.


"Iya boleh, nanti kakak temani Eiden sampai tidur ya". Ucap Savana dengan lembut. Eiden sampai tersipu malu mendengar jawabannya. Anak ini!.


Malam akhirnya makin larut, mommy kembali ke kamar tidurnya disusul dengan daddy. Aku juga membawa Eiden ke kamar nya yang berada di lantai atas, diikuti dengan Savana yang berjalan dibelakang kami.


"Vana, kalau kamu kurang nyaman, datang ke kamar ibu saja ya nak". Ucap kakak dari bawah tangga yang masih duduk seorang diri di sofa ruang keluarga.


Terlihat Savana mengangguk kearah ibunya.


Kami pun menaiki anak tangga satu persatu dan akhirnya tiba di depan pintu kamar yang terdapat plang bertuliskan nama Eiden Matthew Armount. Aku membuka pintu itu lalu menurunkan Eiden di depan kamarnya.


"Ehem! Kalau Eiden sudah tidur, kamu boleh kembali ke kamar kamu". Ucapku pada Savana yang tak berani menatap wajah ku.


Ada apa dengan dirinya?.


"Baiklah om, kami masuk dulu". Balasnya masih dengan wajah yang menunduk.


Wow!. Apa aku terlihat setua itu sampai dia terus-terusan memanggil ku 'OM'?!.


"Goodnight Daddy, Eiden tidak akan nakal". Ucap suara kecil itu sambil menguap.


"Ya sudah, Savana, kamarnya ada di sebelah sana ya". Ucapku kemudian sambil menunjuk ruangan yang berada di ujung lantai ini.


Savana terlihat mengangguk menanggapi ucapan ku. Aku jadi tidak enak untuk terus mengajak nya berbicara. Sedangkan dia hanya menanggapi ku seadanya.

__ADS_1


Aku pun berjongkok bermaksud untuk mensejajarkan tinggi dengan Eiden lalu mengecup keningnya.


Cup.


"Goodnight jagoan daddy. Mimpi indah nak". Ucapku sambil memeluk Eiden.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Aku yang masih penasaran dan ingin mengobrol dengan Savana hanya terdiam didepan pintu kamar yang sudah tertutup ini.


"Ehem!".


Batuk yang terdengar familiar itu membuatku berbalik dan menemukan daddy yang sedang menungguku di depan ruang pribadi beliau yang berada tepat disebelah kamar Eiden.


"Kemari lah nak". Ucap daddy kemudian membuatku tersenyum canggung karena merasa sudah dipergoki olehnya.


"Bukan hal serius dad". Ucapku pelan sambil terkekeh dan kemudian mengikutinya masuk kedalam ruangan tersebut.


Daddy menyuruhku duduk di atas sofa empuk berwarna hitam kemudian ia menuangkan segelas alkohol jenis koktail milik Salvatore Calabrese.


"Thank's dad". Ucapku meraih gelas yang beliau sodorkan.


Aku meneguk setengah dari koktail ini. Efeknya pun langsung terasa sampai di kepala ku.


"Jadi bagaimana keadaan proyek dengan lembaga pemerintah itu". Ucap daddy kini membuka topik pembicaraan kami.


"Bukan hal yang besar dad. Mereka hanya ingin menambah beberapa unsur dalam pembangunannya, dan mereka juga meminta agar waktu pembangunannya dipercepat". Balasku.


"Mereka sedikit mengancam untuk menarik investasi mereka jika tidak berjalan seusai dengan apa yang mereka inginkan". Sambung ku kemudian.


Sejak Eiden lahir, daddy telah memutuskan untuk berhenti dari alkohol. Tentu itu bagus untuknya, walaupun sulit di tahun pertama nya.


"Well, aku sudah menangani masalahnya dad. Aku sudah mengutus Gabriel untuk menemui pimpinan mereka". Balas ku sembari meneguk sisa koktail di gelas.


"Daddy percaya dengan CEO terbaik daddy". Ucap beliau lagi.


Beliau pun beranjak dari tempat duduknya dan memilih duduk di samping ku.


"Lalu, anak perusahaan di daerah sudah mengembangkan produksi barang baru yang sesuai dengan standar di negara ini?". Tanya daddy kemudian sambil merangkul pundak ku.


"Dad, bagaimana bisa perkembangan nya secepat itu, sedangkan daddy baru saja memecat manajer di sana, perlu seleksi lagi, dan itu harus bersamaan dengan penerimaan karyawan magang 2 bulan mendatang. Aturan ini berlaku di semua perusahaan cabang kita dad". Ucapku menjelaskan sambil menatapnya heran. Dia seperti sedang lupa ingatan dengan kelakuannya kemarin.


"Hahaha. Daddy hanya mengetes ingatan kamu saja". Ucap daddy kemudian yang terdengar mencurigakan.


"Katakan saja dad, apa yang harus Jake urus di perusahaan cabang itu". Tutur ku tanpa basa-basi sambil mengisi kembali gelas digenggaman ku.


"Kamu memang cepat membaca situasi. Tidak diragukan lagi kalau kamu ini anak dari Pimpinan Armount Group". Ucap daddy lagi sambil menepuk-nepuk pundak ku.


Aku pun menghela napas berat, mendengar jawaban daddy yang tak kunjung masuk ke inti pembahasan.


"Jadi?". Balasku.


"Daddy mau kamu membuat perekrutan itu tanpa harus menunggu karyawan magang. Daddy rencana ingin mempekerjakan Saphira lagi". Ucap beliau kini dengan wajah yang terlihat sedih.


"Kenapa tidak bilang dari tadi jika tujuannya adalah kakak. Lagi pula kenapa harus di perusahaan cabang? Kenapa tidak di perusahaan inti saja?". Tanya ku kini.

__ADS_1


"Daddy rasa kau lebih kenal kakak mu itu". Ucap daddy yang kini bersandar ke belakang.


"Baiklah, Jake bakal urus itu besok". Balasku lagi sambil meneguk koktail yang efeknya makin terasa di kepala ku.


"Jangan beri tahu mommy mu". Ucap daddy lagi.


"Aku mengerti dad". Balasku yang ingin menuang kembali koktail ini kedalam gelas ku yang lagi-lagi sudah kosong.


Sebuah tangan keriput pun menghentikan aksi ku.


"Daddy dengar, Savana sudah punya kekasih". Ucap daddy yang berhasil menghentikan kegiatan ku, dan membuat kesadaran ku kembali.


"Bagaimana daddy bisa tahu?". Tanyaku yang menatap beliau dengan dahi yang mengkerut karena penasaran bercampur shock dan sedikit merasakan kecewa.


"Lihat kan. Ternyata anak ini benar-benar tertarik dengan keponakan nya sendiri". Ucap daddy kemudian yang membuatku merasa ter olok-olok.


"Lupakan lah, aku tidak begitu dad". Ucapku dingin padanya.


"Jake. Jake. Kamu ini seperti orang yang baru ketemu dengan daddy saja". Ucapnya yang masih menggoda ku.


Aku menatapnya sekilas lalu tersenyum sinis padanya.


"Cucu daddy memang sangat cantik bagaikan malaikat". Lanjutnya lagi masih dengan tatapan yang mengejek ku.


"Yeah, tepatnya cucu angkat daddy". Balasku masih tersenyum sinis kearahnya.


Dia pun terdiam mendengar perkataan ku yang benar faktanya. Dia terlihat berpikir untuk mencari kalimat agar bisa menggoda ku kembali. Namun itu bukanlah hal yang mudah.


"Ya. Ya. Ya. Baiklah. Kamu memang pandai memutar balikkan situasi". Ucap daddy kemudian setelah cukup lama terdiam.


Aku pun tertawa disusul dengan gelak tawa daddy yang mengakui kekalahannya. Kami pun bersulang melanjutkan minuman yang masih tersisa.


"Tapi dad, darimana dapat informasi kalau savana sudah punya kekasih?". Tanyaku yang kembali memikirkan kata-kata daddy.


Pertanyaan ku itu pun mengundang gelak tawa yang makin menjadi-jadi buat daddy yang mendengarnya. Sampai-sampai air matanya menetes karena tertawa. Aku jadi merasa bodoh dibuatnya.


"K-kakak mu yang memberitahukan. T-tadi waktu kami bercerita tentang kehidupan mereka di daerah sana". Ucap daddy dengan terbata-bata karena berusaha meredam tawanya.


"Begitu ya, siapa kekasihnya?". Tanyaku yang sudah terlanjur ketahuan oleh orang tua ini.


Tawa yang sempat redah itu kembali menggelegar dari suaranya yang mulai terdengar serak. Aku langsung mengambilkan air bening untuknya.


"Kamu tanya saja dengan Savana". Ucap daddy yang membuatku makin merasa bodoh.


Aku pun menghabiskan sisa minuman yang tinggal sedikit dan mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan memalukan ini.


Jam dinding pun menunjukkan pukul 1 dini hari. Daddy akhirnya turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift yang menghubungkan ruangan pribadi ini dengan kamar tidurnya yang berada di lantai dasar. Tinggal lah aku dengan hati yang gundah dan berbagai macam pemikiran.


Setelah cukup lama merenung, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruang pribadi daddy dan naik ke lantai atas, wilayah pribadi ku.


Ceklek.


-Awne Cn

__ADS_1


__ADS_2