SAVANA

SAVANA
BAB 18


__ADS_3

"Ehem...Saya minta maaf soal kejadian tadi malam". Ucap om Jacob yang membuatku bingung dengan caranya yang mengucapkan kata maaf terlihat sangat kaku.


Apa dia tidak biasa melakukannya?.


Disisi lain aku juga merasa setengah malu. Pasalnya aku masih ingat betul kejadian memalukan saat kami pertama kali bertemu di rumah ku, dan disaksikan pula oleh ibu.


Apakah dia sudah melupakan nya?. Tidak mungkin.


Aku tak bisa melupakan tatapan mencekam yang dipancarkan olehnya saat pesta tadi malam. Aku ingat betul bagaimana cara ia duduk di atas sofa dengan tatapan dingin itu. Aku jadi merasa campur aduk, antara malu dan takut.


Awalnya aku ingin lebih dulu minta maaf padanya, namun perasaan takut sekaligus malu ku ternyata lebih besar dari perkiraan untuk bisa mengungkitnya langsung dihadapan om Jacob. Aku jadi bersusah payah memikirkan kata yang tepat untuk ku lontarkan padanya.


"Bukan masalah besar om". Balas ku akhirnya.


"S-saya juga minta maaf, tempo hari lalu saya berteriak tanpa sopan santun dihadapan om". Sambung ku setelah menguatkan diriku sendiri.


Om Jacob pun terdiam. Dia membuat ku jadi makin merasa bersalah.


"Ya. Lain kali jangan berpakaian seperti itu didepan orang lain". Balas om Jacob yang membuat seluruh wajahku terasa panas.


Rasa malu yang berusaha ku kendalikan akhirnya meletus juga mendengar ucapan dia. Aku hanya bisa mengangguk menanggapi pernyataan nya.


"Hm... Saya tidak akan membiarkan orang lain melihat dirimu yang seperti itu". Ucap om Jacob lagi, sontak aku langsung menoleh kearahnya.


Apa sih yang sebenarnya ia pikirkan?!.


"Jangan salah paham. Kamu keponakan ku, jadi aku berhak untuk memberimu sedikit perhatian dan nasehat". Sambung nya lagi.


Aku yang mengerti maksud perkataannya pun mengangguk malu.


Dia benar.


Memangnya apa yang sudah kupikirkan?!. Kamu sudah mulai kehilangan kewarasan mu Savana!.


Suara hatiku bahkan lebih jujur dari pada perkataan ku saat ini.


.


.


.


.


.


"Yup! Ini sudah selesai, kalau begitu terimakasih nasehat nya om. Terimakasih pula sudah membantu Vana membersihkan piring kotor ini, saya kembali ke kamar dulu ya om". Ucapku pada om Jacob, setelah menyelesaikan pekerjaan kami sembari melemparkan senyum canggung kepada nya.


Tidak ingin berlama-lama dalam situasi canggung dan aneh ini, aku langsung melangkah keluar dari ruang dapur, tanpa menunggu sepatah kata lagi dari om Jacob. Aku pun meninggalkan nya yang masih menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.

__ADS_1


Aku berusaha untuk berpikir positif tentangnya. Mungkin memang begitulah cara dia menatap orang lain. Pikir ku saat itu.


Aku pun tiba di lantai dua, tepatnya di kamar yang ku tempati selama berada di rumah ini. Kamar yang ku tempati ini terlihat dua kali lipat lebih luas dari kamar tidur ku di rumah.


Dinding yang dihiasi dengan cat berwarna grey terlihat sangat menawan dilengkapi dengan lampu tembok yang terpasang di samping kiri kanan tempat tidur berukuran king size. Bed cover berbahan katun yang serba putih itu membuat tempat tidurnya jadi terasa nyaman dan bersih.


Di salah satu sisi ruangan, dindingnya digantikan dengan bahan kaca yang sangat tebal dan dihiasi dengan gorden besar berwarna coklat putih. Ditengah dinding kaca itu terdapat sebuah pintu yang menghubungkan kamar ini dengan sebuah balkon yang menghadap ke barat. Aku berpikir, desain kamar ini bahkan mengalahkan hotel bintang 3 pada umumnya.


Aku pun menarik handphone ku yang berada di atas meja kayu samping tempat tidur dan mengecek pesan yang masuk. Ada beberapa pesan bertuliskan kata-kata manis dari James yang membuatku tersenyum ketika membacanya.


Aku akhirnya membalas pesan dari James, dan semenit kemudian muncul balasan darinya.


Setelah cukup lama kami bertukar pesan, akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Sebelum itu aku melirik jam yang tertera di layar handphone ku menunjukkan pukul 10 pagi. Aku pun membuka lemari dan menarik sebuah baju mandi yang tergantung rapih di dalamnya.


Setelah mandi aku mengeringkan rambut dengan handuk yang juga sudah tersedia. Aku membuka pintu kaca yang menghantarkan ku ke balkon kamar ini.


Wow!


Satu kata yang terlintas di kepalaku ketika menyaksikan pemandangan dari atas sini.


Sebuah taman bunga yang cukup besar dimana beberapa jenis bunganya sedang mekar, menyita perhatian ku. Di sana sudah terdapat beberapa orang yang ku tebak adalah tukang kebun yang sedang merapikan pagar tumbuhan yang mengelilingi taman tersebut. Di tengah-tengah taman ada sebuah bangunan sejenis rumah kaca dengan atap yang didesain berbentuk kubah kecil. Di setiap pilarnya terdapat tumbuhan merambat yang bunganya juga sementara mekar. Aku jadi penasaran untuk berkunjung ke taman itu.


Dalam hati aku bertanya-tanya, kira-kira apa yang terdapat di dalam bangunan itu?. Hm...


Setelah merasa cukup puas, juga rambut ku sudah tidak begitu basah, ku putuskan untuk kembali ke dalam kamar dan mengganti baju mandi ku dengan pakaian yang diberikan oleh seorang pelayanan tadi pagi.


Belum sempat aku menyampai gagang pintu, perhatian ku tertuju pada sebuah ruangan yang di batasi dinding kaca di atas lantai ini. Sepertinya hampir 70% rumah bak istana ini terbuat dari kaca. Dinding dari kaca, furniture kaca dan sebagainya. Luar biasa!.


Aku yang tak ingin menyia-nyiakan pemandangan ini langsung mengarahkan kamera handphone ku dan mengabadikan maha karya yang sedang ku saksikan ini.


Gila!. Dia om-om dingin itu!.


Aku tak tahu kalau porsi badannya om Jacob sekeren ini!. Ototnya yang seimbang serta tinggi badan yang ideal membuatnya terlihat sangat atletis. Ditambah lagi wajahnya yang sempurna itu...


Oh my...!.


Wanita bodoh mana yang sudah menyia-nyiakan pria setampan dan sesempurna dia!.


Aku yang menghayal kan sesuatu yang tidak-tidak langsung tersadar dengan handphone ku yang tiba-tiba berdering!.


Sial!. Umpat ku dalam hati.


Aku melihat layar handphone yang bertuliskan nomor tak dikenal. Karena rasa penasaran aku pun mengangkat teleponnya. Sebelum itu aku kembali melirik kearah ruangan gym, namun om Jacob sudah tidak terlihat lagi. Apa dia melihatku dari atas sana ya?!. Duh! Kalau iya bisa gawat nih!.


"Halo?". Sapa ku kemudian sambil berjalan memasuki kamar.


"Hello bit ch!. Ini Ashela". Balas seorang wanita dari ujung telepon ini yang membuat mood ku langsung berubah dan ingin menghajar mulut runcing nya itu.


"Oh! Stalker ya?! Sampai bisa dapat nomor ku". Ledek ku dengan nada mencemooh.

__ADS_1


"Cukup basa-basi nya. Kau akan menyesal sudah mengatakan itu!". Balas Ashela lagi.


"Oh! maafkan aku nona, aku tidak berniat untuk menyesal sama sekali!. Sepertinya pengganggu ini sudah mulai berani menguntit ya!". Ucapku dengan penuh amarah ketika mengingat kembali kata-kata James.


"Huh?!. Penguntit?!. Sepertinya ada orang yang tidak punya kaca ya di rumahnya!". Ucap Ashela menghina ku.


"Oh ya? masih mending dong!. Dari pada mengejar-ngejar pria yang sudah punya pasangan, kurasa itu lebih dari sekedar '*****' ya kan?!". Balas ku tersenyum sinis.


"Wow!. Sepertinya ada lagi manusia yang tak tahu diri. Well, Aku cuman mau kasih tau nih, kalau James itu sudah tunangan dengan ku. Tapi karena ada hama pengganggu kayak kamu, semua rencana kami jadi berantakan!. Taapiii, karena aku orang yang baik hati, aku beri kamu kesempatan satu bulan untuk tinggalkan James. Awalnya aku tidak mau bilang ini, tapi kalian sudah kelewatan. So, bye bit ch!". Jelas wanita sialan itu.


Tut.


Sambungan kami pun terputus.


Aku yang mendengar penjelasan dari wanita itu langsung terduduk di atas kursi putih samping lemari baju. Otakku berusaha mencerna dan menerima kenyataan yang serasa menghantam ku dengan keras. Aku kalah telak darinya. Apa yang sudah ku lakukan?!.


Pada akhirnya, air mata yang tiba-tiba menetes ini meluapkan perasaan ku yang campur aduk. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun hatiku berusaha menahannya.


Aku menyumbat mulutku sendiri dengan handuk yang masih ku pegang, agar suara tangis ku tidak terdengar sampai keluar.


.


.


.


Kenyataan pahit yang belum siap ku terima ini menguras air mata ku hingga tak tersisa. Namun tetap saja, rasa yang begitu perih di hatiku tak kunjung hilang, sedangkan air mata ku tak lagi menetes.


Aku ingin menghilang saja dari dunia ini. Pikiran itu tiba-tiba terlintas di benakku.


Ternyata selama ini aku sudah salah mempercayai seorang bajingan!.


Tining! Tining! Tining!


Handphone di genggaman ku kembali berdering. Ku lihat layarnya yang menampilkan nama James.


PLANG!


Tanpa berpikir panjang, aku melempar handphone ini kearah tembok. Suara deringan nya pun mati bersamaan dengan handphone ku yang hancur terbagi dua.


Brengsek!.


Kau berhasil James. Kau berhasil menjadi pria ter brengsek yang pernah aku kenal. Kau benar-benar pembohong yang hebat!.


Aku benci kau!.


-Awne Cn


Author: Bonus. Heheh.

__ADS_1


Mau tanya dong, kalian yang baca sejauh ini gimana pendapatnya?. Apakah kalimat yang ku gunakan bisa memenuhi imajinasi kalian? atau mungkin masih banyak typo? Saran dong...😉


__ADS_2