
Aku menatap James dengan seksama. James membalas tatapan ku lalu bergantian menatap Ashela yang masih menunggu jawaban darinya.
"Um... Well, sebelumnya Ashela perkenalkan ini savana, savana ini Ashela". Ucap James memperkenalkan kami.
Kami saling bertatapan dengan pertanyaan masing-masing yang tersirat dibaliknya.
"Savana, pacar James". Aku mengakhiri kebingungan ini dan mengulurkan tangan terlebih dahulu kearah Ashela.
Ashela terlihat menaikkan satu alisnya mendengar ucapan ku.
"Well, Ashela. **...".
"Babe, ini Ashela teman yang aku ceritakan tadi". Potong James pada ucapan Ashela barusan.
Aku melirik James yang terlihat sangat tidak biasa, apakah dia menyembunyikan sesuatu.
"Ya! Aku Te-man James". Ucap Ashela kembali memperjelas.
Aku menurunkan uluran tangan ku yang tidak ter sambut oleh Ashela sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Babe, hari ini kita makan apa?".
Aku mengalihkan situasi canggung ini tanpa menghiraukan Ashela yang masih menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.
"Um... Bagaimana kalau kita ke kantin nya bertiga?". Tawar James padaku dan melirik Ashela bergantian.
Sejujurnya aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita ini. Namun tatapan memelas dari James tidak bisa membuatku menolak nya.
Akhirnya istirahat kali ini aku habiskan bertiga dengan Ashela. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Aku jadi merasa terasing ketika mereka mengangkat topik pembicaraan masa kecil mereka yang sudah bersama sejak berada di sekolah dasar.
Membosankan!.
"Ehem... Aku ke toilet sebentar ya". Ucapku di sela-sela obrolan mereka.
"Kamu perlu di temanin?". Tanya Ashela kini.
__ADS_1
"Ah! Tidak perlu. Aku bisa sendiri kok". Jawabku berusaha ramah dan bergegas meninggalkan meja makan kami bertiga.
Setibanya di toilet, aku mengunci diri di dalam wc dan duduk termenung di atas closed. Beberapa kejadian akhir-akhir ini terasa sangat mengganjal di hati, apalagi tentang James.
James adalah anak orang kaya, seisi sekolah tahu itu. Walaupun dia bukan satu-satunya di sekolah ini, tapi orang tua nya cukup berpengaruh dalam kemajuan sekolah kami. James anak pertama dari dua bersaudara, adiknya sisi seorang perempuan berusia 9 tahun sudah bersekolah di tempat yang cukup elit. Walaupun begitu, selama kami pacaran James selalu menceritakan kehidupannya pada ku. Namun soal Ashela aku bahkan baru mengetahui nya hari ini. Pikiran aneh-aneh tentang hubungan mereka mulai menghantui ku. Aku bahkan memikirkan hal-hal diluar dugaan.
Tidak. Tidak. James pasti punya alasan sendiri kenapa tidak menceritakan soal Ashela pada ku. Lagi pula selama ini dia pria yang cukup setia padaku. Tidak mungkin mengkhianati ku kan. Apalagi semuanya sudah ku berikan padanya.
Aku menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala ku dan mulai beranjak dari toilet.
Sepanjang perjalanan beberapa pasang mata menatapku, dan berusaha menggoda ku. Bisa disimpulkan kalau aku juga cukup populer di sekolah ini, walaupun bukan karena materi.
Banyak yang bilang kalau wajahku enak dipandang dan terlihat tidak membosankan, teman-teman wanita yang lainnya juga memuji kulitku yang putih halus bak susu murni. Harusnya James berpikir seribu kali untuk mau selingkuh dari ku.
"Babe". Panggil seseorang di depan lorong yang menghubungkan toilet dan perpustakaan ini sontak membuatku menghentikan langkah.
Suara-suara sumbang yang sedari tadi menggoda ku pun lenyap.
"Oh! James. Ada apa? Dimana Ashela?". Tanyaku kebingungan mendapatinya seorang diri.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke perpustakaan saja?". Tawar ku sambil mengedipkan mata kearahnya.
James tersenyum manis sambil menggigit bibir bawahnya. Dia jadi terlihat sangat seksi dengan wajahnya itu.
Aku menarik lengannya, dan dia mengikuti ku dari belakang.
Penjaga perpustakaan sedang sibuk di balik meja dengan tumpukan buku-buku diatasnya. Kami langsung masuk secara diam-diam tanpa menimbulkan suara. Sekarang bel masuk sudah berbunyi. Tidak ada jejak siswa satu pun di tempat ini. Kami berjalan ke dalam lorong paling ujung dan berhenti pada sudut ruangan antara rak buku dan dinding.
James mengambil posisi duduk melantai dan aku naik di atas pangkuannya. Kami pun mulai berciuman. Sesekali James menghentikan ciumannya dan membiarkan ku mengambil napas. Kami berdua pun tersenyum dan kembali menikmati bibir satu sama lain.
Lihat kan. Tidak mungkin dia selingkuh dengan Ashela.
Aku menghentikan ciuman kami ketika nama wanita itu tiba-tiba muncul di kepala ku.
"Kamu mencintai ku?". Tanyaku setengah berbisik pada James yang menatapku dengan alis mengkerut.
__ADS_1
"I do, babe". Jawabnya penuh keyakinan.
Mendengar jawaban itu, senyumku pun terukir dengan sangat tulus sembari menatap nya. James yang ikut tersenyum juga kini menarik pinggulku, membuat tubuh kami semakin rapat. Dia kembali mencumbu ku dengan pelan dan aku pun membalasnya.
.
.
.
.
.
Sepulang sekolah, kami-aku-James-Ashela-pulang bersamaan. Lebih tepatnya James mengantarku terlebih dahulu, karena rumahku lebih dulu di tempuh di bandingkan rumah Ashela. Kebetulan rumah Ashela satu komplek dengan rumah James, well yeah.. Itu membuatku sedikit terganggu, tapi aku percaya pada James.
Akhirnya kami pun tiba didepan pagar rumah ku. Aku bersiap-siap dengan tas yang mulai ku letakkan di pundak.
"Wah... Ini ya rumah vana, sangat sederhana ya, terlihat lucu karena ukurannya yang mungil hihi". Ketus Ashela dari tempat duduk penumpang, tepatnya di belakang aku dan James.
Aku terdiam mendengar celotehan nya dan menatap James yang terlihat merasa bersalah.
"Btw, emang mamah tau ya, kalau James pacaran sama vana?". Ketusnya lagi.
Aku melihat James yang menanggapi dengan gelengan kepala sambil tersenyum pahit kearah Ashela.
Dengan perasaan marah yang berusaha ku tutupi, aku melampiaskan nya sedikit pada James yang masih tersenyum kecut.
Ku condong kan badanku kearahnya dan memberikan ciuman yang cukup dalam pada James. Dia menikmati aksi ku, aku melirik Ashela yang membuang muka dengan wajahnya yang terlihat memerah. Aku tersenyum puas karenanya.
"Aku masuk dulu ya babe, telpon aku jika sudah tiba di rumah". Ucapku kini mengakhiri ciuman kami dan meninggalkan mobil James.
Aku memperhatikan mobil Sedan hitam yang perlahan bergerak meninggalkan ku. Ku lambai tangan kearah mobil itu dan terlihat tangan James keluar dari jendela mobil membalas lambaian ku, dan mereka pun berlalu.
-Awne Cn
__ADS_1