
Set.
Belum sempat aku menarik maha karya itu, sebuah tangan yang lebih besar menahan ku. Aku yang terkejut sekaligus takut langsung berbalik dan mendapati om Jacob yang tak menggunakan pakaian dan hanya di balut dalam selembar handuk yang melingkar di pinggangnya.
Oh MY GOD!. He's so Hot!. Jeritku dalam hati.
Gila!.
Aku bisa melihat wajah rupawan nya yang ditetesi bulir-bulir air dari rambutnya yang masih basah. Damn! Dia sangat tampan!.
Secara tak sadar mataku turun menyusuri tubuhnya yang terpajang sangat jelas. Oh my... Rasanya aku ingin mengelus otot-otot itu!. Pemandangan ini benar-benar membuat ku lupa pada tujuan awal ku datang ke lantai ini.
Dia terlihat layaknya seorang dewa yang tampan dan perkasa!.
Masalah-masalah yang menghampiri ku seketika terasa lenyap terbawa angin.
"Kau suka?". Ucap om Jacob kemudian mengembalikan kesadaran ku yang sudah menghayal terlalu jauh.
Aku yang menyadari situasi kami pun langsung menunduk malu dan tak berani memperhatikan nya. Sial!. Bahkan aku tidak merasakan tangan ku yang masih tertahan oleh om Jacob.
"M-maaf om!". Ucapku canggung sambil menarik tanganku dari nya.
"A-a-aku..."
"Sshh". Desis om Jacob memotong perkataan ku.
Jari-jarinya kini mengangkat dagu ku, membawa ku kedalam tatapannya yang dalam. Aku pun tenggelam. Seolah-olah tersihir dengan matanya yang berwarna biru gelap. Tubuh ku hanya bisa terdiam tak mengelak ketika ku rasakan bibir lembutnya kini menempel padaku.
Oh Damn!.
Aroma mint yang segar memenuhi indra penciuman ku setiap dia menghembuskan nafasnya. Otakku langsung terasa kosong ketika om Jacob mulai bergerak untuk mengecup bibirku dengan sangat lembut.
Sial!.
Tubuhku tak bisa menolaknya!.
Kecupan lembut nan manis itu berubah jadi lum atan. Aku bisa merasakan tangannya mulai bergerak turun mengelus punggung ku. Ah... Aku tidak bisa berpikir.
Kini lidahnya mulai masuk kedalam mulutku dan membawa ku bermain bersamanya. Aku jadi bereaksi aneh ketika ia mulai menyusuri setiap rongga mulutku.
Oh Gosh!. Aku kehabisan nafas.
"Ngghh Om..." De sah ku yang kini mendorong tubuhnya.
Aku mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sambil melihat om Jacob dengan sudut rahangnya yang mengeras sambil menatapku dengan tatapan yang terlihat menakutkan.
__ADS_1
"O-om?". Panggil ku yang kini merasa khawatir dengan diriku sendiri. Ia terlihat seperti binatang buas yang bisa menerkam ku kapan saja.
Om Jacob terlihat memejamkan matanya kemudian menghembuskan nafas berat yang terdengar frustasi. Sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan itu menerpa wajahku.
"Maaf". Ucapnya dengan suara yang berat dan sedikit serak.
"A-a-aku juga minta maaf om". Ucapku salah tingkah karena tersadar pada posisi kami yang begitu dekat dan om Jacob yang hanya mengenakan handuk.
Aku yang menyayangkan kalau dia adalah paman ku, akhirnya berlaku sebagai mana mestinya. Aku menundukkan kepala agar tidak terus-terusan mencuri pandang pada setiap jengkal tubuhnya yang seksi.
"Oh! Aku akan mengenakan pakaian, tunggulah di ruang depan". Pinta om Jacob kemudian dan ku balas dengan anggukan.
Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan dirinya sedang berjalan ke sebuah pintu lagi yang ada di ruangan ini. Aku jadi terkejut sekaligus bingung mendapati ada dua pintu dalam satu ruangan perpustakaan pribadi ini. Yang pertama adalah pintu yang tadi ku lewati, dan yang kedua adalah pintu yang sekarang dibuka oleh om Jacob, entah menghubungkan ke ruangan mana. Selain itu, aku pun dibuat terkesima dengan tubuh bagian belakang om Jacob yang terlihat kekar dan berotot. Bokongnya sangat seksi!.
Oh Sial!
Pikiran nakal ini tak henti-hentinya menghampiri ku saat memperhatikan tubuh pria yang kini sudah tak terlihat lagi.
Aku benar-benar sudah gila.
Aku berusaha mengontrol pikiran ku dan memutuskan untuk keluar dari perpustakaan pribadi ini. Sebelum keluar aku menengok buku J.K Rowling itu lalu melambaikan tangan kearahnya. Mungkin sudah takdirku yang hanya bisa mengangumi nya dari jauh. Seperti paman ku... Eh?!.
Aku pun duduk di sebuah sofa yang tadi ku lewati. Aku melirik buku tebal yang tertutup di samping gelas kaca berisikan minuman yang berwarna bening.
'Cara Menaklukkan Wanita yang Pendiam'. Baca ku dalam hati.
Ternyata selera om Jacob wanita yang pendiam ya?. Lucu juga. Sudah berapa banyak wanita pendiam yang sudah ia taklukkan?. Aku jadi memikirkan nya. Hm...
Yang tadi itu tidak termasuk ya.
Aku bukan wanita yang pendiam, jadi berpikir positif saja, kalau dia sedikit mabuk lalu mengira aku adalah wanita idamannya. Lagi pula itu hal yang mustahil. Dia adik ibu ku, dia paman ku.
"Ehem!".
Suara batuk yang berasal dari samping kanan membuatku langsung menengok dan mendapati om Jacob yang sudah berpakaian lengkap mengenakan Kemeja hitam dengan dua kancing atasnya sengaja di buka dan celana pendek berwarna grey. Sebegitu sukanya ya dia dengan dua warna ini.
Rambutnya sudah tersisir dengan rapih, wajah tampannya jadi terlihat sangat jelas. Kapan sih orang ini terlihat jelek? Bukan, bahkan aku tidak pernah mendapati dirinya yang terlihat biasa-biasa saja, dia selalu terlihat luar biasa dan menyilaukan. Ku rasa ia tak perlu mempelajari jenis buku yang terletak di meja kaca ini, dengan penampilannya yang seperti ini. (Orang kaya memang beda ygy).
"Jadi apa yang membawamu kemari?". Tanya om James yang kini ikut duduk di atas sofa yang terpisah dengan ku.
Lihat kan, dia bahkan sudah bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa di perpustakaan tadi.
Aku pun membenarkan duduk ku lalu menyampaikan tujuan yang sempat terlupakan sejenak.
"Kenapa tidak menunggu kakak pulang saja?". Tanya om Jacob setelah mendengar penjelasan ku.
__ADS_1
"Um... Ini cukup mendesak om, jadi aku harus menghubungi nya sekarang". Jelas ku sambil meremas kedua tangan.
Om Jacob menaikkan alisnya sambil menatapku dengan curiga.
"Sebentar saja om". Pintaku membalas tatapan nya.
Setelah cukup lama ia terdiam, akhirnya ia memberikan ponselnya padaku.
Truut! Truut!
"Halo?". Ucap seorang wanita dari seberang telepon.
"Um... Bu, ini Vana. Ponsel Vana rusak, jadi pakai ponselnya om Jacob". Jelas ku pada ibu sambil melirik om Jacob.
Kenapa dirinya tak mengerti kalau aku ingin bicara berdua dengan ibu sih?!.
"Kenapa bisa rusak? Ada apa memangnya?". Tanya ibu kembali.
Aku yang bingung untuk memberitahu kan situasi karena merasa terintimidasi dengan tatapan om Jacob pun memilih untuk berdiri dan melangkah agak jauh dari tempat duduk kami. Om Jacob tidak menahan ku, namun dia terus saja melihat ku dengan tatapan aneh. Aku jadi takut dibuatnya.
"B-ibu, cepat pulang". Pintaku yang kini sudah berada di sudut ruangan dekat dengan piano yang tadi ku lewati.
"Ada apa memangnya?". Tanya ibu yang membuatku kesal karena ia tak paham situasi ku.
"Ibu pulang lah, tadi nenek menghampiri Vana". Ucapku yang kini ditanggapi diam oleh ibu.
"H-halo bu?". Panggil ku.
....
"B-bu? Halo?". Panggil ku lagi.
"Ya. Ibu segera pulang nak". Balas ibu akhirnya.
Tut.
Sambungan kami pun terputus, dan aku berjalan mendekati om Jacob bermaksud untuk mengembalikan ponselnya.
"I-ini om, terimakasih atas bantuannya". Ucapku yang kini merasa tidak enak karena sedari tadi, dia terus menatapku dengan tatapan aneh itu.
Apa aku sudah berbuat salah dan membuatnya repot?.
"K-ka-kalau begitu, Vana permisi dulu om". Pamit ku pada om Jacob dan langsung berbalik tanpa menunggu balasan darinya.
Belum sempat aku melangkahkan kaki, tangan ku langsung ditarik dan malah membuat keseimbangan ku goyah. Aku pun terjatuh tepat di atas tubuh kekar om Jacob yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Aku yang menyadari posisi kurang sopan ini, langsung bergegas untuk bangkit dari pangkuannya. Namun niat ku itu terhalang oleh tangan kokoh nya yang kini melingkar di pinggang ku, membuatku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh.
-Awne Cn