
Dirumah Boy masih merasa sesak harusnya dia bahagia karena masih bisa bertemu Stella, Namun nyatanya tidak. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat terluka, Stella seperti tidak menganggapnya.
Dia mengingat kembali empat tahun lalu, saat gadis itu mengungkapkan perasaannya, seharusnya dia waktu itu dia tidak mengatakan hal-hal yang membuat gadis manis itu meneteakan air mata. Sekarang Boy sangat menyesal.
Besok paginya di Mansion milik Stella, gadis manis itu sudah rapi dengan blues lengan pendek berwarna abu doadukan rok soan oendek sebatas lutut. Dia akan ke rumah sakit bertemu Jack dan Joshua. Tapi sebelumnya dia akan mencarikan makan siang untuk kedua sahabatnya.
Dia belum mengabari Anggi atas kedatangannya, kontaknya hilang bahkan sosial media nya juga sudah tidak pernah aktif lagi. Yang sialnya Anggi sudah pindah rumah.
Semalam dia sudah meminta Jack untuk sekedar mengabarinya, namun kekasihnya yang tampan itu tentu saja menolak keras. Baiklah dia hanya akan menunggu Anggi mengetahui nya sendiri.
Setelah mendapatkan dua box makan siang dan cemilan Stella meneruskan perjalannya ke Rumah sakit besar itu. Seperti biasa dia akan berdebar kalau harus bertemu dengan Jack. Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta?
Masuk kedalam dan langsung bertanya pada resepsionis letak ruangan Jack. Belum selesai penjaga menjawab suara seseorang disampingnya membuat nya menolah.
"Stella...hei ini Stella kan?" Joshua sedikit berlari melihat sahabatnya itu berdiri dengan membawa paperbag ditangannya.
Joshua melihat Stella dari atas sampai bawah, memutar tubuh mungil itu kekiri dan kenan membuat kepala Stella pusing.
"Kau akan membuatku menginap dirumah sakit hah". Desis Stella memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Wah, kau semakin cantik saja". Puji Joshua bertepuk tangan.
"Kau juga sangat tampan dengan kaca mata". Kekeh Stella.
"Tunggu dulu kapan kau kembali ke Indonesia? dan siapa yang sakit, tidak mungkin kau kemari karena mencariku?".Ujar Joshua panjang lebar
"Dua hari yang lalu, dan aku kemari tentu saja menemui kekasihku siapa lagi, dimana ruangannya, ayo antar aku".
"Tunggu Nona kau berbicara sangat panjang, membuatku semakin pusing, kau bilang apa tadi? Kekasihmu? siapa?"
"Stella, kau disini?" Jack datang dengan mengenakan sneli, sangat tampan.
"Hm, aku mencarimu dan membawakan makan siang untukmu". Stella berjalan ke arah Jack dan mengecup pipi kekasihnya lalu memperlihatkan paperbag yang dia bawa. Aksi yang dilakukannya tidak hanya membuat Joshua terganga. Tetapi Jack sebagai objek juga mematung.
Jack tersadar saat mendengar pekikan Joshua.
"Astaga, mataku". pekik Joshua.
__ADS_1
"Kalian..? Kapan..?
"Kau tidak meberitahunya?" Stella melihat kearah Jack, yang di tanya hanya cengegesan
"Ah lupakan kapan kejadiannya. Sekarang ayo kita keruanganmu, aku membawa makan siang, Joshua kau bisa ikut jika mau".
Joshua masih mematung dia sangat terkejut dengan fakta ini Stella dan Jack menjalin kasih. Melihat sepasang kekasih itu semakin jauh Joshua tersadar dan berlari kecil mengikuti mereka.
Diruangan Jack, mereka bertiga makan makanan yang Stella bawa, Stella duduk disaping kekasihnya jelas terlihat dia sangat bahagia.
Ditengah-tengah canda mereka tiba-tiba pintu ruangan Jack terbuka. mereka bertiga sontak melihat kearah pintu terbuka. Sedang yang ditatap saat ini terlihat sangat terkejut dengan siapa yang dia lihat.
"Ste-Stella kau disini?" Sapa Anggi dengan gugup. Jelas saja dia gugup dia datang dengan niat akan makan siang bersama Jack tapi apa yang dia lihat sekarang?
"Anggi..bagaimana kabarmu? Stella berdiri dan memeluk Anggi sahabatnya. Sedangkan Jack dan Joshua hanya saling memandang.
"A-ku baik". Jawabnya tergagap.
"Duduklah, kita makan siang bersama". Ajak Stella kemudian matanya tertuju pada paperbag yang Anggi bawa "Kau bawa sesuatu?" Tanya Stella lagi. Mereka belum juga duduk karena Anggi masih berat dengan langkahnya.
"Oh ini..Aku membelinya tadi, kau boleh memakannya". Tawar Stella. Dengan menyodorkan ke tangan Stella.
"Untukku?"
"Hm, sebearnya ini untuk-"
"Sayang, sudah sini duduk"..Sontak perkataan Jack membuat dua wanita yang masih berdiri itu menatapnya, lagi tidak tertinggal Joshua juga menatap ke arah sumber suara.
"Stella sayang duduk". Perintah Jack sangat lembut. Kedua wajah wanita itu terlihat sama-sama memerah. Stella memerah karena malu, sementara Anggi karena menahan amarah.
"Saya-sayang?". Anggi berkata terbata-bata mendengar Jack memanggil Stella yang sudah duduk kembali disamping Jack.
"Kau juga tidak tahu kalau mereka berdua sepasang kekasih?" Kini Joshua yang berbicara, sengaja ingin mencairkan suasana, lagi karena selama dia dan Jack dijebak dia sudah tidak menyukai sahabatnya ini.
"A-apa?". Pekiknya membuat Stella terkejut. Dia melirik ke arah Jack dan Stella. Jack hanya diam dan sesekali merapikan rambut Stella. Sedangkan Stella hanya tersenyum simpul
Sebenarnya dia tidak tahu kenapa dia kesal pada Anggi sekarang.
__ADS_1
"Duduklah, kita makan dulu nanti aku ceritakan. Lagi, aku sangat merindukanmu". Ajak Stella lagi mengisyaratkan agar duduk disamping Joshua.
"A-aku.."
"Duduklah Nggi, Kau tidak merindukan sahabtmu? Kata Joshua sudah lelah melihat gugupnya Amggi.
"Bagimana kabarmu? Kau tidak mengabari kami selama empat tahun ini, aku kira kau sudah punya kekasih". Sengaja Anggi mengatakan itu agar Jack sadar. Dan sudah duduk disamping Joshua.
Stella hanya tertawa. Dalam hati dia tahu kenapa Anggi mengatakan itu.
"Kau bercanda, bagaimana aku bisa memiliki kekasih disana sedangkan aku meninggalkan kekasihku yang tampan disini". Stella berdecak pelan.
"Jadi kapan sebenarnya kalian menjalin kasih? Tanya Joshua sejak tadi dia sangat penasaran.
"Empat tahun yang lalu". Jawab Jack dan Stella bsrsamaan. Dengan menampilkan wajah cerah.
"What...? Joshua yang kaget.
Setelah perbincangan empat sahabat itu, akhirnya Joshua undur lebih dulu karena pasiennya sudah menunggunya, sedangkan Jack memang sudah tidak terlalu sibuk karena dia memiliki asisten yang lain.
Anggi yang merasa aneh diantara dua kekasih yang baru saja mengungkapkan fakta itu akhirnya juga mengundurkan diri dengan perasaan kesal setengah mati. Dia merutuki Stella yang harus kembali menghancurkan impiannya.
"Kau terlihat tegang tadi". Tanya Stella pada Jack yang bersandar di sandaran sofa dengan Stella yang bersandar di dada bidangnya.
"Aku hanya takut dia akan melakukan hal aneh dan melukaimu". Jawabnya sambil mengekus lembut rambut Stella.
"Tidak akan, karena kau sudah mengatakan semuanya".
Setelah beberapa saat hening, akhirnya Stella kembali berceletuk.
"Kau tahu dimana rumah pak Boy?". Sontak saja membuat Jack kaget dan menghentikan gerakan tangannya di rambut Stella.
"Kenapa?"
"Kemarin malam Dia ke Mansion, dia sudah menikah? Anaknya bagaimana? Bagaimana kalau kita kerumahnya dan membawakan hadian untuk anak-anaknya?" Stella membenarkan duduknya dan menatap bola mata indah didepannya.
"Bagaimana kalau ku katakan bahwa dia belum menikah?
__ADS_1
Jawaban Jack membuat Stella membola.
"Kau serius..?