
Stella yang awalnya sangat mellow karena mendengar ucapan Dad nya, tidak lagi sedih, dia memutar kata malas, dan memicing tajam ke arah pria yang sangat dia sayangi itu.
"Dad, jangan memulai". Mata memicing dan bibir cemberut. Tuan Mattew hanya terbahak, gadis kecilnya selalu terlihat menggemaskan baginya.
"Sudah, sudah ayo kita berangkat". Ucap Momnya, jika dibiarkan dua orang ini akan saling serang entah sampai kapan. Tuan Mattew mengangguk dan meraih pinggang istrinya didepan Stella, membuat gadis itu melotot melihat kiri kanan.
"Dad, ingat usia". Geram Stella. Mereka sudah tua dan sebaiknya jika ingin bermesraan jangan didepan umum. Nanun sebelum kedua orang itu menyela suara yang tidak asing membuat Stella berbalik dan tentu saja tidak suka dengan siapa yang datang.
"Hallo, Tuan Boy, anda disini?" tanya Tuan Mattew yang sudah melepas kan diri di pinggang sang istri dan berjalan ke arah pria dewasa didepannya.
"Yah, aku ada sedikit urusan didekat sini, jadi kebetulan saja berada disini". Katanya mengabaikan tatapan tidak suka Stella untuknya.
"Ah, baiklah, karena saya harus berangkat, saya titipkan Stella sekali lagi". Stella yang mendengar ucapan Daddy seketika melotot tidak suka.
"No!, Stella bisa jaga diri". Setelah mengatakan itu Stella beranjak dari sana meninggalkan Daddy dan Mommy nya bersama atasannya yang mulai aneh.
Tuan Mattew hahya tertawa karena melihat tingkah Stella yang selalu saja membuatnya terhibur.
"Maafkan dia, dia masih anak-akak bagi kami, karena itu Dad nya suka sekali menghodanya"
Boy hahya menggangguk, tidak masalah baginya, dia memang suka melihat bagaimana Stella kesal dan itu sangat menghibur baginya. Setelah kepergian orang tua Stella, Boy kembali ke arah dimana mobilnya terparkir, tadi dia memang sengaja membuat alasan karena ingin melihat Stella saja.
Diperjalanan Stella tidak berhenti menggerutu, bisa-bisa dia bertemu dengan Boy disana, kemudian dia menyentuh wajahnya, seketika ingatannya tentang malam kemarin terlintas, dengan kuat dia menekan seperti menghapus dibagian wajahnya.
"Aaaaghhht, Boy sialan". Teriaknya.
Melirik jam di pergelagan tangannya jika sudah hampir siang, jika dia ke kantor sudah pasti teman-teman yang lain akan menatap tidak suka padanya, untuk itu dia membelok mobilnya ke arah restaurant yang biasa, dimana dia bisa memesan kakan untuk Jack dan Joshua.
__ADS_1
Stella turun dari mobil dan melangkah masuk, dia menggunakan atasan dengan tali spageti dengan bentuk leher V berwarna lavender serta bawahannya menggunakan rok lebar sepanjang atas lutut berwarna putih dengan rambut hitam yang dia gerai.
Kaki putih mulusnya dia bawa masuk, dengan santai dia duduk memanggil pelayan. Dia akan makan berlama-lama disini untuk sementara waktu.
Setelah memesan dia kembali duduk dengan merogoh ponselnya. Siapa tau saja ada pesan atau panggilan dari Jack untuknya.
Namun setelah memeriksa dia kembaki meletakkan benda pipih itu karena tidak ada satupun yang menandakan bahwa Jack mengingatnya.
"Apakah dia sangat sibuk?" gumamnya lalu menghembuskan nafas dalam.
Makanan datang, dan dia menikmatinya dengan perasaan yang tidak menentu, dia memikirkan bagaimana hubungannya bersama Jack, butuh empat tahun untuk mengenali perasaannya sendiri. Apakah keputusannya sudah tepat? Lalu kenapa setiap berhadapan dengan Boy detakannya terasa? Apakah dia salah?.
"Jika aku salah lagi, sudah pasti aku adalah orang terbodoh karena tidak bisa mengenali perasaannya sendiri".
Tampa Stella sadari di sudut sana seseorang memperhatikannya dalam, sejak pertama kali turun dari mobil. Sudut bibirnya terangkat sebelah, dan sorot matanya tajam, entah apa yang dia fikirkan setelah melihat Stella.
Dirumah sakit, Anggi sudah di izinkan untuk pulang, dia sudah merenungi semuanya dalam semalam, dia akan bertahan apapun yang akan terjadi kedepannya.
"Biarkan aku mengantarmu kembali". tawar Jack, karena dia tahu Anggi tidak akan bisa pulang sendiri. Anggi yang mendengar itu hanya diam dan menoleh ke arah Jack, dengan tatapan tidak percaya.
"Tidak perlu, panggilkan saja taksi, dan aku akan pulang sendiri". Jawabnya dengan langkah pelan, dia hanya merasa sedit lemas.
"Jangan membantah, kau temanku, bagaimana mungkin aku mebiarkanmu pulang sediri. Lagi jam ini aku kosong".
Tampa membantah Anggi mengiyakan saja, lagi bukankah ini kesempatan untuknya bisa berdekatan dengan Jack. Dia mengikuti Jack yang berjalan didepannya, pria itu masih sama masih dingin dan kaku, namun setidaknya dia mau mengantarnya walau dengan dalih teman.
Sampai di depan parkiran, Anggi masih menunggu Jack mengambil mobilnya, namun tampa sengaja dia melihat mobil Stella yang akan parkir di lain tempat, matanya melotot jangan sampai Kedatangsn Stella membuat Jack gagal mengantarnya.
__ADS_1
Saat Stella sudah menutup pintu mobilnya dan sudah mengarah ke arahnya, Jack datang dengan wajahnya yang kaku.
"Ayo, kita bernagkat". Kata Jack tidak sadar bahwa di sebelah sana Stella melihat ke arah meraka. Dengan lirikannya Anggi bisa melihat Stella terdiam memperhatikan mereka dan inilah saatnya.
Anggi melemaskan tubuhnya dan langsung di gapai oleh Jack, agar jangan sampai jatuh ke lantai.
"Aww, maafkan aku, tetapi kepalaku dan kaki ku lemas". Kilahnya memegang kepalanya. tampa aba-aba Jack membawa Anggi dalam gendongannya dan membawa Anggi masuk dalam mobolnya.
Stella yang melihat itu hanya diam, dengan rasa nyeri dihatinya, dia sangat marah sekarang, sejak kemarin Jack tidak ada kabar sampai malam dan hari ini, dia membawa Anggi dalam gendongannya.
Tangannya mengepal dia tidak akan membiarkan mereka berdua lolos. Dia akan membalasnya. Namun tetap saja rasanya sakit.
Stella masih berdiri melihat mobil Jack meninggalkan parkiran bahkan pria itu tidak melihat sedikitpun ke arahnya.
"Apa ini? Kenapa rasanya tidak enak?". Gumanya menghapus air matanya. Karena melihat Jack pergi dia mengurungkan niat masuk kerumah sakit. Dia kembali membawa mobilnya ke arah lain.
Setibanya di apartemen Anggi, Jack membawa teman nya itu dengan hati-hati. Anggi memang tinggal sendiri, karena kedua orang tuanya memilih untuk pindah keluar kota. Dan karena pekerjaannya juga Stella bertahan.
Membuka pintu Anggi mengingat kejadian yang menimpanya, dia menggenggam tangan Jack kuat, trauma nya masih ada. Ruangan itu memang sudah bersih karena Anggi memiliki satu orang pelayan yang datang pagi dan pulang saat sudah sore hari.
Jack menyadari ketakutan Anggi dia membimbing temannya dia sofa dan beralih kedapur mengambil kan air.
"Minumlah, dan lupakan semuanya" kata Jack menenangkan. Anggi menerima gelas berisi air itu dengan tangan gemetar. Bagaimana dia bisa melupakan nya, kejadian itu begitu cepat. Dia bahkan tidak menyangka akan menjadi korbannya".
"Terima kasih". Katanya dan memberikan kembali Gelas yang isinya sisa setengah pada Jack.
"Bolehkah kau menemaniku sebentar lagi?" Pintanya, Jack ingin menolak namun melihat bagaimana takutnya Anggi membuatnya menganggukan kepala.
__ADS_1
"Terima kasih". Anggi menyandarkan kepalanya di bahu Jack dan menutup matanya.