
Ke esokan harinya, Stella terbangun pagi-pagi sekali, kepalanya masih pening karena semalam dia bergadang, setelah kepulangan Joshua dia kembali menyelesaikan pekerjaanya di dalam kamar.
Suara ketukan membuatnya turun dari ranjang dan membuka pintu dengan wajah sangat pucat.
“Masuk Bi….”
“Non sehat, bibi lihat wajah Non Stella pucat.”
“Sehat Bi, semalam lambat tidur jadi kepala Stella sedikit pusing.” Stella duduk dipinggir kasur, mengikat rambut dan menjatuhkan tubuhnya terlentang.
“Ah, Stella rindu Mom dan Dad.” Gumamnya.
Setelah beberapa menit, Bi Beauty keluar dari kamar mandi, air hangat untuk Stella sudah siap.
“Non, air hangat sudah bibi siapkan, tapi kalau Non Stella semalam begadang jangan keramas ya non!” Stella mengangguk tetapi belum juga bangun.
Beberapa menit kemudian Stella turun ke lantai bawah langsung ke ruang makan, masih ada waktu untuk sarapan, dia tidak akan buang-buang waktu.
“Lah, Non Stella mau berangkat kerja? Bukannya kepalanya pusing?”
“Sudah tidak lagi Bi, tenang saja.” Jawabnya dengan senyuman lalu menikmati sarapannya.
***
“Selamat pagi Nona Stella.” Sapa Lucas, Stella sudah berada di ruangannya, meletakkan tas dan kembali memeriksa berkas yang kemarin Boy berikan.
“Tuan, hmm Pak Boy sudah datang?” tanyanya hati-hati.
“Sudah, Nona bisa keruangannya sebentar lagi karena kebetulan beliau ada tamu.”
Stella mengangguk, dia kembali memeriksa pekerjaannya, dia sudah membaca semuanya semalam, tidak ada yang terlalu sulit karena sebelumnya Daddy nya sudah memberikan tugas yang sama.
“Nona, Pak Boy meminta anda keruangannya?” Lucas kembali masuk ke ruangan Stella, karyawan yang lain melirik kearah Stella yang sudah berdiri dengan membawa semua berkas ditangannya
“Sebenarnya kasihan jadi Stella, lihatlah dia mendapatkan berkas sebanyak itu, kalau aku sudah mengeluh.” Ucap salah satu diantara mereka dengan berbisik.
Setelah mendapatkan izin masuk Stella membawa tumpukan berkas ditangannya, dia msih menunduk karena takut berkas-berkas itu terjatuh.
“Letakkan di meja dan duduklah!” Suara Boy dari arah depan, Stella tidak melihatnya tetapi dia langsung menuruti perintah bossnya.
Tetapi betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang sudah berada disana, duduk dengan aura dingin melihatnya. Jantung Stella kembali berdegup kencang, dia meremas jari-jarinya dibalik tumpukan berkas yang dia bawa.
Terdengar suara sepatu Boy dari arah belakang menghampiri mereka berdua yang masih saja saling diam.
“Duduklah!” perintah Boy dia juga duduk di depan adiknya Jack yang tatapannya tidak juga lepas dari tadi.
Stella duduk tapi masih dengan menunduk tidak berani menatap Jack yang terus menatapnya.
__ADS_1
Boy memeriksa semuanya serta meminta Stella menjelaskan sedikit garis besarnya. Stella menjelaskan dengan baik walau dalam situasi yang tidak aman karena Jack terus saja memperhatikannya.
“Saya akan kembali keruangan saya.” Stella berdiri setelah mendengar semua masukan dari Boy serta apa yang harus dia sipakan kedepannya.
“Duduk dulu kita harus bicara!” Suara dingin jack keluar membuat Stella membeku. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain dari Jack selama ini.
“Kalian bicaralah dulu, aku akan keluar.” Boy berdiri dia harus mengalah
“Tidak, kami tidak memiliki pembicaraan yang penting, biar saya yang kelua--,”
“Stella duduk!” teriak Jack sudah jengah. Membuat Stella terkejut karena Jack berteriak padanya.
Boy sudah keluar sejak tadi, setelah Stella juga ikut berdiri, tetapi melihat tatapan Jack tidak biasa membuat nya keluar, dia tahu ada seseuatu yang harus Jack jelaskan. Menghembuskan napas berat Boy meninggalkan ruanganya dan berjalan bersama Lucas ke bawah. Mungkin minum kopi bisa menenangkan pikirannya.
“Kenapa kau terus menghindariku? Bukankah aku sudah katakan kau hanya salah paham, Stella?” Jack berdiri dan mendekat kearah Stella yang sudah terlihat ketakutan
“Berapaka kali aku harus mengatakan bahwa aku hanya mencinta--,”
“Hentikan Jack, jangan, jangan katakan apapun lagi, aku tidak perduli apakah aku salah paham padamu atau tidak, aku sudah tidak ingin mendengarnya.” Stella menyela, dia tidak ingin mendengar apapun, apalagi saat dia melihat sebuah foto yang tidak ingin dia bayangkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa? Secepat itu? Secepat itu kau berubah? Ah ataukah memang kau tidak pernah tulus Stella?”
Mendengar tuduhan itu membuat hatinya semakin sakit. Tetapi Jack tidak memperdulikannya dia terus melanjutkan “Apakah sekarang kau sangat senang karena sudah lebih dekat dengan kakakku? Oh harusnya dari awal aku memang harus sadar, aku hanya pelam--.”
Satu tamparan mendarat sempurna di wajah dingin Jack, bahkan Jack tidak memperkirakan hal ini akan terjadi.
“Aku harap kau tidak lagi muncul di hadapanku, aku menyesal karena pernah berusaha mengenali perasaanku sendiri, sekarang akulah yang terlihat sangat bodoh diantara kalian.”
***
“Dari mana saja tumben terlambat?” tanya Joshua yang berjalan disamping teman dekatnya selama ini.
“Bertemu Stella, tapi dia sepertinya memang tidak ingin memperbaiki hubungan kami.” Jawabnya setelah memasuki ruanganya dan duduk di sofa.
“Di kantor kak Boy?” Jack mengangguk. Dia terlihat sangat frustsi dari awal dia putus.
Namun kemudian ponselnya bordering, panggilan dari Anggi. Dengan cepat Jack mengangkatnya dihadapan Joshua, membuat Joshua mengerutkan kening tidak percaya.
“Ada hubungan apa kau sebenarnya dengan Anggi?” tanya Joshua.
“Hanya hubungan dokter dan pasiennya.” Jawabnya meletakkan ponselnya di atas meja
“Jack, aku tidak perduli dengan kisah asmaramu sebenarnya, tapi aku juga merasa tidak enak dengan Stella, aku sempat meragukan perasaannya padamu.”
Jack hanya diam, otaknya tidak bekerja. Ada alasan lain yang membuat Stella seperti itu tetapi dia juga tidak tahu apa. Tidak biasanya dia tidak mau mendengarkan penjelasan apa-apa.
“Hmm dan sekarang dia tidak ingin mendengar penjelasan apapun.” Lirihnya
__ADS_1
“Tidak mungkin dia marah hanya karena kau menjaga Anggikan?” tanya Joshua lagi.
“Biarkan dia sendiri dulu, setelah dia tenang aku akan kembali menjelaskannya.” Putus Jack dia yakin beberapa hari atau paling lambat seminggu lagi Stella akan kembali seperti biasanya.
“Aku hanya berdoa siapapun yang terbaik untukmu dia bukan Anggi.” Ucap Joshua membuat Jack mengerutkan kening.
“Kenapa kau sangat dia menyukainya? Dia tidak seburuk yang kau pikirkan Jos.”
“Kau tidak benar-benar jatuh cinta kan Jack.” Selidik Joshua tidak biasanya Jack akan berpikir positif tentang Anggi.
Jack hanya diam, dia tidak mencintai Anggi tetapi pikiran negatif Joshua juga tidak bisa di benarkan, menurutnya Anggi tidaklah terlalu buruk seperti yang awal dia kira.
***
“Bagiamana hubungan kalian?” tanya Boy hati-hati saat ini dia sudah berhasil mengajak Stella makan sebelum kembali kerumah, tadi Stella melewatkan makan siangnya.
“Jawaban apa yang bapak inginkan?”
“Aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dan Jack.” Katanya pura-pura sebenarnya dia tahu mereka sudah putus.
“Kami sudah putus.” Jawabnya santai.
“Kau masih mencintainya?” tanya Boy sekali lagi, dia belum puas mendapatkan informasi yang menguntungkan baginya.
“Aku mencintainya, tetapi bapak tenang saja, beberapa bulan lagi aku bisa menghilangkanya dengan mudah.” Setelah mengatakan itu Stella berdiri dan mengucapkan terima kasih karena sudah di traktir makan siang yang tertunda.
“Apakah aku--,” Stella memutar badan melihat ke arah Boy yang sudah ikut berdiri.
“Tidak pak!” tegasnya kemudian melanjutkan “Kita hanya sebatas atasan dan bawahan sesuai perjanjian orang tua saya dan tiga bulan kedepan saya akan berusaha mempelajari semuanya dan keluar.”
**
Hari berganti hari dan sudah sebulan berjalan sisa dua bulan lagi, kehidupan Stella berubah, dia yang biasanya sangat pendiam karena masalah percintaanya yang kandas berubah menjadi Stella yang biasa. Dia kembali menjadi gadis yang riang.
Bahkan dia sudah mengambil hati semua teman-teman kerjanya. Dia dan Boy juga tidak sekaku biasanya. Stella kembali seperti mode awal. Ceria.
“Jadi sebentar malam kau bisa menemaniku ke pesta ulang tahun Ivana?” tanya Boy ini sudah kedua kalinya dia bertanya.
“Dia akan marah kalau melihatku datang bersama bapak.”
“Tidak akan, ayolah atau aku akan meminta Tuan Mattew menambah waktu belajarmu.” Ancamnya.
“Ck, baiklah jemput aku jam 8 dirumah kita lihat seberapa terkejutnya tunangan bapak melihatku.”
“Mantan tunangan Stella, mantan!”
“Hm, mantan.” Stella lelah berdebat. Lebih baik mengikuti keinginan atasannya atau dia akan terjebak lebih lama dengan tugas yang Daddy nya berikan.
__ADS_1