
Disaat Jack dan Stella tengah berbahagia dibalik layar, Boy juga merasakan hal yang sama saat ini dia hanya duduk di balik meja kerjanya, memegang sebuah foto yang berukuran lebih kecil dari foto sebelumnya.
Terlihat jelas dia tengah tersenyum namun tiba-tiba saja senyum itu menghilang saat dia mengingat bahwa Stella telah bersama Jack. Apakah gadis manja itu mempermainkan adiknya?
Dia hanya bertanya pada dirinya sendiri entah sampai jam berapa dia hanya menghabiskan waktu dengan memikirkan gadis manis itu.
Seperti hari biasanya kedua saudara itu akan sibuk dipagi hari hanya saja Jack adalah orang yang selalu lebih dulu berangkat.
"Kak, kau tidak kekantor?" Tanya Jack yang melihat kakaknya hanya menggunakan kaos dan celana training.
"Tidak, aku akan libur sehari". Katanya masih mengutak atik ponselnya
"Kau sakit, biar kuperiksa". Jack mendekat sudah akan mengecek suhu tubuh kakaknya namun Boy mundur terakhir kali adiknya memeriksanya dia mendapatkan suntikan, dan Boy tidak suka itu.
"Jangan berani mendekat". Katanya sudah bergeser.
"Aku hanya memeriksamu, kau seperti anak gadis saja".
"Aku baik-baik saja, pergilah kau akan terlambat".
"Kakak yakin?" Tanyanya memastikan.
Yang dijawab hanya deheman oleh Boy.
"Kalau begitu menikahlah, kakak ipar akan merawatmu lebih baik". Jawabnya segera mengambil kunci mobil diatas meja.
"Boy tidak menjawab dia masih sibuk mengotak atik ponselnya namun saat Jack berlalu dia tersenyum "Jika saja gadis itu bukan pilihanmu sudah kujadikan dia kakak iparmu". Katanya lalu beridiri keluar mansion.
Dikediaman Stella gadis itu sudah berada dimeja makan, dia sudah rapi sejak pagi dia akan kembali ke rumah sakit menemani Jack. Liburannya sisa beberaoa hari lagi dan mereka harus kembali. Dan sebelum itu Stella akan menghabiskan waktu bersama Jack.
"Kau akan kerumah sakit lagi". Kata Mommy nya. Yang dijawab hanya anggukan oleh Stella
"Pasiennya akan merasa cemburu kalau tahu kau selalu disana".
"Mom liburan kita akan segera berakhir". Dia melanjutkan "Aku bahkan tidak tahu kapan kita akan kembali lagi". Keluhnya.
"Kau bisa bekerja disini kalau mau". Tuan Mattew yang mengatakan.
"A-aku, Daddy tidak seriuskan?"
"Daddy serius, kau bisa memulai karirmu disini, nanti Daddy akan merekomendasikanmu di perusahaan rekan bisnis Daddy, bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah Stella akan buktikan kalau Stella bisa berdiri sendiri dan Daddy akan bangga".
"Good sayang".
Setelah sepakat Stella menuju ke rumah sakit dia juga membawakan makan siang untuk Jack juga Joshua jangan sampai sahabatnya itu merajuk nantinya.
Dirumah sakit tepat didalam ruangan Jack, Stella sudah duduk manis menunggu kekasihnya. Jack masih ada tugas memeriksa jadi dia akan menunggu sampai pria tampan itu datang
Beberapa menit berlalu masih juga tidak ada tanda-tanda. Stella merasa bosan dia berdiri dan berjalan melihat isi ruangan serba putih itu. Sampai akhirnya dia sampai di kursi yang biasa Jack tempati.
Dia duduk dan memutar kursi dia akan memejamkan mata sebentar.
Belum lama dia memejamkan mata terdengar suara pintu terbuka, Stella hendak berdiri namun di urungkan karena mendengar suara yang berbeda mencari kekasihnya.
Kursi putar yang Jack pakai adalah kursi yang sandarannya lebih tinggi ke atas jadi orang lain tidak akan bisa melihat siapa dibalik kursi itu jika dibalik.
"Jack, aku membawa makan siang untukmu". Ucapnya masih mengira bahwa yang diruangan itu adakah Jack atau mungkin saja dia tidak mengira bahwa ada siapapun disana.
Karena biasanya saat ingin tidur Jack membelakangi kursinya.
"Makanan? kau bawa makanan sendiri?" tanyanya lagi
"Ayo makanlah dulu, aku tahu kau lapar, dan aku tahu kau hanya berpura-pura tidur seperti biasa. Masih tidak ada jawaban.
Stella hanya diam mengepalkan tangannya.
Dia marah.
Dan disaat itu juga Jack datang, saat membuka pintu dia sangat terkejut dengan kehadiran Anggi didalam ruangannya. Dan tentu saja Anggi juga terkejut namun hanya sebentar.
"Pantas saja aku dari tadi aku berbicara sendiri ternyata kau baru datang"
"Apa yang kau lakukan diruanganku?" kata Jack dingin.
"Membawa kan makan siang untukmu, apalagi? Kau saja tidak ingin berbalikan padaku lalu aku barus bagaimana?"
Menghela nafa pelan, Jack melewati Anggi dan menuju mejanya dia melihat siluet wanita tengah duduk dikursinya, dia mengenal wangi ini. Wangi Stella.
Dia akan menyapa Stella namun gadis itu buru-buru meletakkan telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan bahwa Jack harus diam.
Karena faham dia lantas mengangguk pelan. Setelah itu berjalan menuju sofa didepan makanan yang begitu banyak.
__ADS_1
Mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Kau memanggil siapa?"
"Joshua, dia akan senang melihat semua makanan ini". Katanya tenang lalu membuka paperbag yang belum disentuh sama sekali, dia yakin ini dari Stella terlihat dari nama restauran di bagian luarnya.
"Kenapa kau bawa makanan, aku bisa membawakanmu setiap hari"
Diamlah, kau membuat rasa laparku hilang"
Anggi tidak lagi berbicara, dia tidak akan melakukan kesalahan sebelum dia kembali di usir. Setelah memakan beberapa suap makanannya pintunya kembali terbuka, menampakkan Joshua dengan wajah tertekuk. Terlihat sekali dia sangat lelah.
"Anggi kau disini?" tanyanya lalu melanjutkan "Aku kira yang datang Stella eh ternyata kau".
"Memang kalau aku kenapa? lagi, aku yakin dia tidak akan datang, aku sudah mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura saja suka dengan Jack".
Karena sudah jengah dan sangat kesal akhirnya Stella membalik kursi itu dan menatap tajam ke arah Anggi yang masih mematung karena terkejut.
"Ste-Stella kau disini?" katanya tergagap, Jack hanya diam seolah tidak memperdulikan
"Kau tahu dia disini Jack?" tanya nya melihat ke arah Jack yang sangat menikmati makanan yang dibawa Stella.
Merasa karena sudah tertangkap basah akhirnya Stella berhenti berpura-pura. Dia menatap Zara yang berjalan melewatinya dan menghampiri dimana Jack duduk, dia membungkuk sedikit dan mengecup wajah Jack didepannya, membuatnya ternganga karena tidak percaya.
Sementara Joshua yang sudah dua kali melihat adegan ini masih sangat terkejut.
Setelah mengecup kekasihnya Stella berjalan kearah Anggi, suara hellnya menggema. Anggi mundur selangkah karena melihat tatapan Stella yang seperti akan membunuhnya.
"A-apa yang kau lakukan? Berhenti!". Perintah Anggi yang masih saja menapak mundur karena Stella terus saja maju dengan tatapan menusuknya.
Sampai akhirnya Anggi terpojok di dinding.
"Apa yang kau katakan tadi, hah?" suaranya tenang tapi sangat dingin. Jack dan Joshua pun merasa sedikit ngeri mendengar suara Stella yang berubah dingin.
"A-aku-". Ucapnya tergagap
"KATAKAN APA YANG KAU KATAKAN TADI". Stella berteriak membuat Anggi sangat terkejut begitupun Jack dan Joshua yang langsung berdiri.
"Kau mengatakan aku hanya menjadikan Jack pelarian, begitu?"
Stella sangat kesal dia harus memberi gadis ini pelajaran "Aku ingatkan aku paling tidak menyukai seseorang yang hanya bisanya omong kosong sepertimu, dan oh aku baru sadar sekarang ternyata sejak dulu inilah kau yang sebenarnya kan?"
__ADS_1
"Sekarang bicaralah apa maumu, kenapa kau sangat tidak menyukaiku?"