Sayang, Aku Kembali

Sayang, Aku Kembali
Bab 16| Harus memeriksa


__ADS_3

Stella melerai pelukan mereka dan memandang lekat kekasihnya "Apa yang kau katakan?"


"Aku tahu kak Boy juga menyukaimu". Merapikan rambut depan Stella yang ditiup angin. "Aku tahu saat kita masih sama-sama disekolah, tetapi aku tidak tahu kenapa dia tidak mengakuinya".


'Deg


Jantung Stella memburu, dia berusaha menenangkan diri semoga saja deburan ombak membuat Jack tidak mendengar degupan jantungnya.


"Jika dia memang benar menyukaiku, lantas mengapa dia mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau menerimaku". Lirihnya dalam hati.


"Sayang..?" Suara lembut Jack menyadarkan Stella dari lamunannya. "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Aku hanya tidak suka kau membahas kakakmu yang tua itu". Stella kembali memeluk Jack namun perkataan Jack tadi berhasil mengusik hatinya.


"Jangan terlalu tidak menyukainya, aku takut kau akan berpaling dariku dan kembali mencintainya". Imbuhnya membuat Stella terkekeh.


"Aku tidak tahu, Jack yang dulunya sangat periang dan menyebalkan bisa berubah romantis".


Jack hanya menghela nafas, bagaimana dia tidak hawatir Stella akan lebih sering bertemu Boy mulai besok, bukan tidak mempercayai Stella hanya saja siapa yang bisa memastikan kelanjutannya saat dua orang yang pernah saling suka dan akan diberi ruang untuk bersama setiap hari.


Mereka berdua hanyut dalam fikiran masing-masing, hanya deburan ombak dan langit penuh bintang yang menyaksikan bagaimana dua sepasang kekasih itu masih nyaman dalam dekaan satu sama lain.


Dua orang itu lantas melepas pekukannya, saling memandang dan tersenyum. Satu kecupan di wajah membuat Stella merona, andaikan saja ditempat mereka tidak temaram Jack akan melihat jelas bagaimana wajah putih mulus itu memerah seperti tomat.


"Aku bisa melihat wajahmu merona". Jack menggoda kekasihnya yang masih memegang wajahnya yang terasa panas.


Ini bukan pertama kalinya Jack menciumnya tetapi tetap saja dia akan merona.


"Mana ada, kau salah lihat". Stella memalingkan wajahnya, kemudian kembali berujar "Ayo temani aku berjalan-jalan dulu". Jack langsung menagngguk dan menarik lembut tangan kekasihnya, mereka akan menikmati indahnya pantai dimalam hari.


Angin bertiup cukup kasar, menerbangkan rambut panjang Stella kesamping, menghalangi setengah wajah cantiknya, mereka masih saling menggandeng, berjalan santai dan sesekali Stella akan berlari kecil menjauh saat air akan mengenai kakinya begitu seterusnya sampai dia bosan.


Jack masih setia menenteng hell kekasihnya, dia hanya tersenyum melihat bagaimana menggemaskannya wanitanya.

__ADS_1


"Hei, ayolah kau juga harus mencobanya". Stella berteriak mengajak Jack duduk di ayunan yang dibuat di dalam air yang tingginya hanya semata kaki.


Jack hanya diam, dia mencintai Stella sungguh tetapi tidak akan melakukan hal kekanan seperti itu.


Main ayunan.


Tidak masuk akal.


Stella masih menatap kekasihnya yang tidak juga bergeser dari tempatnya berdiri. Dia tahu Jack tidak akan melakukan itu, kekasihnya itu entah sejak kapan dia berubah menjadi sangat cool menurutnya.


Dia mengingat bagaimana Jack yang dulu, periang dan banyak berbicara. Bahkan tidak sungkan mengatakan pada seisi sekolah bahwa mereka adalah sepasang kekasih dan nyatanya saat itu mereka hanya sahabat biasa.


Melihat Jack yang sekarang Stella yakin dalam sehari itu pasti hanya mengeluarkan sedikit saja suaranya. Tapi bagaimana bisa seorang dokter irit bicara? Apakah pasiennya tidak semakin parah.


Stella hanya menggeleng-gelengkan kepala memikirkan itu.


"Sayang, kau akan tetap berdiri disitu atau aku akan menarikmu?"


Stella tersenyum melihat bagaimana pasrahnya pria tamoan disampingnya


"Kau tidak lapar?" Jack melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sembilan lewat.


"Lapar,, tetapi aku masih ingin disini?".


"Kita akan kemari lain waktu, kita naik dan makan dulu". Jack sudah berdiri dan berada dihadapan Stella


Mereka naik dan masuk ke Restauran yang ada di atas, Jack memilih tempat paling ujung agar bisa melihat pemandangan pantai dari atas. Sangat indah cahaya-cahaya kecil dari lampu diujung sana menambah keindahan malam itu.


Karena sudah sangat lapar, Stella memakan makan malamnya dengan lahap, dia memang tidak memilih soal makanan dan untungnya tubuhnya tidak akan berpengaruh soal itu.


"Pelan-pelan, kau akan tersen-"


"Uhuk...uhuk.." Stella terbatuk karena tersendak, Jack berdecak, dia baru akan mengatakannya dan semua sudah terjadi.

__ADS_1


"Terima kasih, tetapi aku rasa ada seseorang yang sengaja mengumpatku". Stella meneguk habis minuman yang Jack beri.


Diwaktu yang bersamaan dimeja makan yang panjang itu Boy tengah menikmati makan malamnya sendiri, karena dia tahu jack akan keluar berama Stella, didalam hati dia merasa sangat kesal.


"Stella.. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani membuat adikku sebagai pelampiasan". Boy yakin Stella hanya ingin membalas dendam padanya, entah apa penyebab pria yang sudah cukup usia itu berasumsi seperti riu.


Menghela nafas berat, dia mengingat kembali wajah cantik Stella, dia masih mengingat semua apa yang Stella katakan padanya empat tahun lalu.


"****! Bagaimana aku bisa menghilangkan gadis kecil itu dari fikiranku?".Katanya masih saja mengumpat.


"Oh ayolah Boy, sadarlah dia akan menjadi adik iparmu, apakah kau tega membuat adikmu menderita?". Katanya pada diri sendiri.


Mengingat wajah adiknya Boy berusaha menahan perasaannya lagi, dia sudah berjanji pada mendiang ibunya untuk membuat adiknya selalu bahagia. Dan disaat iru Boy sudah bertekad kebahagiaan Jack adalah yang utama baginya.


Meski dia harus merelakan membuang perasaannya untuk Stella selamanya.


Setelah mengantar kembali Stella kerumahnya, Jack tidak langsung pulang, lagi dia mendapatkan panggilan dari rumah sakit. dia lelah namun dia tidak bisa mengabaikan tugasnya. Dengan rasa lelah yang sudah melingkupi Jack melajukan mobil mewahnya, memasuki halaman rumah sakit dan berlari masuk keruangannya terlebih dahulu, dia akan bersiap-siap sebelum menemui pasiennya.


Stelah merasa sudah siap, dia berpapasan dengan Joshua yang terlihat sangat lelah juga.


"Hei kau kembali?" yang hanya dijawab deheman oleh jack dia harus segera ke ruang perawatan bersama dua suster yang sejak tadi bersamanya.


"Ada yang baru masuk, dan aku harus memeriksanya". Jack meninggalkan Joshua yang masih berdiri dibelakang dengan wajah lelah.


Sampai didalam ruangan, Jack yang sudah sangat siap terdiam melihat siapa yang berada di atas ranjang pesakit itu. Dia mendekat perlahan dan menelisik wanita yang saat ini masih terbaring lemah dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. luka memar dan beberapa luka lecet lainnya.


"Dia ditemukan dalam keadaa tidak sadar dengan luka-luka di apartemennya, kemungkinan dia mendapatkan pelecehan dan kekerasan, petugas tengah mengurus masalah ini".


Seorang asisten dokter memberitahu, seolah mengerti dengan tatapan yang Jack berikan.


"Dokter mengenalnya? Kami terpaksa memanggil dokter karena dia sempat tersadar dan berteriak menyebutkan nama dokter sebelum kami bsrhasil memberinya suntik penenang. Jack hahya diam mendengarnya dia masih sibuk melihat wajah pucat didepannya.


"Apakah kali iki dia akan menipuku lagi?" gumamnya dalam hati melihat bagaimana Anggi terlihat sangat pucat, namun dia yakin ini hanya permainan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2