
Sampai didalam kamar Stella membuang asal tas dan hellnya. Dia merebahkan diri diatas kasur empuknya dan sesekali memukul-mukul kasur dengan kepalan tangannya.
Dia kesal sekarang.
Sangat kesal.
Stella bangun mengusap wajahnya kasar, dadanya naik turun, nafasnya tidak beraturan, dia merutuki dirinya karena tidak bisa membela dirinya. Air disudut matanya keluar. Dia sangat kesal. Stella berjalan ke arah kamar mandi, menghapus kasar air matanya dan mencuci wajahnya dengan kuat. bahkan sekarang sabun cuci mukanya sudah kosong karena dia terus menumpahkan ditangannya dan berulang-ulang kali mencuci wajahnya.
"Hah, aku membencimu Boy". Teriaknya frustasi. Dia menatap wajahnya didalam cermin. Matanya memicing dan amarahnya kembali memuncak.
Stella kesal sangat kesal bahkan sampai gemas sendiri. 'Hah'. dia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna putih sebatas lutut dengan bawahan yang lebar, dengan model leher berbentuk V dan ada aksen renda diatasnya. Serta dengan lengan menjuntai begitu saja sampai sikut.
Ia membiarkan rambut hitam lurusnya tergerai begitu saja, kemudian mulai melakukan runitinas malamnya dimeja rias. Dengan sesekali membuang nafas kesal.
Setelah merasa cukup, dia naik kasur dan akan mulai tidur, besok pagi Mom dan Dadnya akan kembali ke London andai saja tadi dia tidak keluar dengan Boy sudah pasti dia akan menghabiskan waktu berlama-lama dengan orang tuanya, tetapi sepertinya Dadnya tidak masalah tadi.
Baiklah, mereka masih punya waktu besok pagi sampai keduanya benar-benar naik pesawat kan. Karena sudah mengantuk Stella yang kepalanya sudah mendarat di bantal langsung tertidur. Bahkan dering ponsel nya saja tidak bisa membangunkannya.
Ditempat lain dua orang adik kakak itu tengah duduk di balkon kamar masing-masing, Boy di mansion sementara Jack di apartemennya. Dan salah satu diantara mereka tengah gelisah karena pangilannya tidak dijawab sejak tadi.
Melirik jam tangan mewahnya, sudah jam 10 lewat, dia meletakkan ponselnya di meja samping, dia tahu jam ini Stella sudah tertidur. Dia mendongak ke atas langit pekat. Kemudian memejamkan mata dan menyilangkan tangan di dada.
"Apa kau marah?"
"Maafkan aku, karena terlalu sibuk dan lupa". Jack mendesah. Dia merindukan kekasihnya tetapi sepertinya gadis itu sudah tertidur. Dia masih memejamkan mata. Membiarkan angin malam menyapu lembut wajahnya yang menghangat karena mengingat kakaknya dan Stella pergi makan malam.
Sementara ditempat berbeda Boy dengan wajah datarnya memandang lurus kedepan. Dia bingung dengan perasaannya yang kembali tumbuh setelah sekian lama, namun dia juga tidak bisa melanjutkan perasaannya atau Jack akan terluka karena perbuatannya .
__ADS_1
Boy hanya diam dalam keheningan malam, tidak ada yang dia lakukan sampai akhirnya dia memutuskan untuk membuang kembali perasaannya.
Malam tetap berlanjut, disaat dua kakak beradik itu tidak bisa memejamkan mata, Stella gadis yang mereka cintai sudah pulas dan tenggelam dengan mimpi-mimpi indahnya.
Pagi menyapa lebih cepat dari biasanya, ataukah memang sudah semestinya, namun Stella merasa seluruh tubuhnya sakit, seolah dia tertidur cukup lama malam tadi. Mengingat hari ini adalah keberangkatan orang tuanya, ia bangun lebih awal dari biasanya.
"Mom,, Stella turun ke lantai bawah dimana kamar orang tuanya, berada. Kaki jenjangnya melangkah dengan lincah kesana kemari karena tidak juga mendapatkan dimana ibunya berada.
"Dimana Mommy". Gumamnya karena tidak mendapatkan kedua orang tuanya dikamar mereka. Stella melihat jam dinding masih sangat pagi, tidak mungkin mereka sudah pergi.
Dia melangkah ke dapur mungkin saja mereka berdua sudah menunggunya disana. Dan seperti yang Stella kita Mommy dan Daddy nya sudah duduk manis dengan secangkir teh hangat didepan mereka.
"Mommy". Rengek Stella karena Mommy nya senyum kecil saat melihatnya datang. Ia sudah tahu pasti ini ulah Daddy nya, mereka sengaja tidak menjawab teriakannya sejak tadi.
"Salahkan Daddy dia yang meminta Mommy untuk tidak menjawab". Stella mendengar itu hanya berdecak dan menatap Daddy nya dengan tatapan permusuhan.
"Daddy, kenapa Daddy suka sekali mengerjai Stella?".
"Mommy, katakan pada kekasihmu usiaku sudah 25 tahun, bukan bayi lagi". Rengeknya. Nyonya Mattew hanya geleng-geleng melihat ayah dan anak yang setiap hari membuat drama didepannya.
"Bagimana kencanmu semalam?" tanya tuan Mattew saat melihat anaknya sudah duduk dan mengoleskan roti ditangannya.
"Kami tidak berkencan Dad, itu hanya penyambutan kakak ipar dan adik ipar saja". Jawab stella memakan roti buatannya.
"Maksudnya, bagaimana?" Mommy nya yang sekarang bertanya.
Menghela nafas panjang, Stella menjelaskan "Tuan Boy adalah kakak kandung Jack".
__ADS_1
"A-apa?". Keduanya terkejut. Sebenarnya hanya Mommnya saja, tetapi agar menambah keseruan Daddy nya juga pura-pura terkejut.
Mendengar keduanya terkejut, Stella hanya mendesah, lalu melirik ke arah Daddy nya yang diam-diam tersenyum.
"Dad, aku tahu sebenarnya Daddy sengaja menempatkan ku dikantornya, kan?"
Tuan Mattew hanya tersenyum lebar lalu mengangguk.
"Kenapa? Dad, bukannya Daddy punya banyak teman bisnis yang lain? Kenapa tidak mengirimku ketempat lain saja jangan pada Boy itu".
"Karena Daddy yakin dia bisa membantu mu lebih baik. Dan bukankah itu bagus kamu bisa lebih sering bertemu dengan Dokter kesayanganmu itu".
Stella menggaruk pelipisnya, bagaimana bisa dikatakan bagus, baru sehari dekat dengannya saja dia sudah sangat berbahaya. Nyonya Mattew melihat kehawatiran putrinya. Wanita paruh baya itu melihat ketidak nyamanan Stella bekerja disana.
"Kalau tidak nyaman, kamu bisa ikut kami pulang bagaimana?"
Bukan mendapatkan solusi, Mommy nya membawanya dalam masalah baru, tidak, tidak. Jika dia ikut maka tugasnya akan semakin banyak di kantor Daddy nya, dia akan dipaksa untuk mempelajari semua masalah kepemimpinan dan Stella tidak mau.
"Mommy mu benar, kita akan berangkat dua jam lagi, dan kamu bisa berfikir". tuan Mattew menaik turunkan alisnya, dia tahu jawaban apa yang Stella akan berikan padanya kurang dari satu jam. Dan dia sudah tahu itu.
"Tidak, tidak. Biarkan Stella disini sampai Stella mampu maka Stella sudah siap mengantikan Daddy". Akhirnya tidak lebih dari beberapa belas menit jawaban sudah keluar.
"Kamu yakin sayang?".
"Yakin Mom, hanya masalah waktu saja, dan tuan Boy walaupun dia sedikit menyebalkan tapi Stella bisa menghadapinya". Yakin Stella.
Karena semua sudah sepakat maka dengan berat hati Stella menerima keputusan Daddy nya dan sekarang dia sudah dibandara mengantar kedua orang tuanya, Daddy nya sudah menelpon Boy agar mengizinkan Stella mengantar nya hari ini dan besok baru bekerja.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik dan sering-sering menelpon Mommy"
Stella mengangguk dia ingin menangis namun karena merasa malu dia menahannya. "Menangislah, jangan malu kamu tetap bayi Daddy".