Sayang, Aku Kembali

Sayang, Aku Kembali
Bab 19| Bersama kekasih


__ADS_3

Sampai di lantai bawah Stella memilih tempat paling ujung, dia akan lebih nyaman, lagi dia harus menelpon. Setelah mendapatkan tempat yang menurutnya tepat, Stella langsung saja mengambil ponsel dan mendeal nomer kekasihnya.


Untungnya hanya dengan sekali panggilan langsung terhuhung terlihat bahwa dia sangat bahagia.


"Pulang nanti aku akan mampir, hm?". Stella melihat ke arah Lucas yang sejak tadi duduk didepannya merasa kikuk, namun Stella mengabaikannya.


"Love you too". Panggilan di putus, Stella menghadap Lucas, dan menaikkan alisnya "Tuan, ada apa?".


Lucas hanya tersenyum kikuk, diawal dia mengira bahwa Stella wanita yang masih sendiri namun kenyataannya dia salah. "Bos meminta saya untuk membawa anda ikut bergabung bersama kami". Katanya membuat stella mengalihkan pandangannya ke arah Boy.


"Tidak!, katakan saja bahwa saya ingin makan sendiri". ucapnya kembali ke arah Lucas. Dan tidak lama makanan yang Stella pesan sudah datang.


"Maaf, Tuan boleh saya memakan makanan saya?".Stella tersenyum, menandakan bahwa dia sudah jengah.


Lucas yang faham akhirnya memilih untuk mengambil tempat yang kosong, dia tahu tidak akan mungkin kembali ke meja Bosnya, dan jelas-jelas bahwa Ivana akan menolak kehadirannya.


Dilain tempat tepatnya di rumah sakit pusat, setelah makan siang Jack kembali ke ruangan Anggi, wanita itu sempat bangun pagi tadi, mendapatkan perawatan, dan kembali tertidur. Jack akan memastikan lagi kondisinya.


Jika bukan dokter, dia tidak akan mau mengingat bagaimana Anggi selalu saja mebuat masalah untuknya. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Jack pada perawat wanita seumurannya.


"Kondisinya membaik, Dokter". Jack mengangguk melihat catatan hasil kondisi pasiennya. Jack rasa memang sudah ada peningkatan. Sebelum dia akan meninggalkan ruangan Anggi membuka mata dan melihat ke arah Jack.


"Ja-jack.." lirihnya dengan suara lemah.


Jack berbalik dan mendekat kembali ke ranjang rumah sakit. "Kau butuh sesuatu?" tanyanya.


Anggi hanya menggeleng namun air matanya terjatuh, "Jangan menangis, kau harus sabar dan jadikan ini pelajaran". Dari hasil pemeriksaan memang terdapat bahwa Anggi mendapatkan perlakuan tidak baik, serta luka-luka ditubuhnya pun sudah terlihat membiru.


"A-aku..hiks, aku tidak ingin hidup". Anggi terisak mengingat apa yang baru saja dia alami, dia merasa sangat kotor sekarang. Dia mencoba mencabut selang infus ditangannya namun dengan cepat Jack menahan.


"Hentikan, apa yang kau lakukan?". Memanggil perawat untuk kembali membetulkan selangnya, Anggi masih menangis.


"Jangan bertindak bodoh, kau ingin apa?"

__ADS_1


Lama hening, hanya suara sesegukan saja yang terdengar. Membuat Jack juga tidak tega, bagaimanapun dia dokter, tugasnya membuat pasiennya semangat hidup.


Menghela nafas panjang, Jack duduk disamping ranjang rumah sakit yang Anggi tempati, Dia memberi semangat sebagaimana memberi semangat pada pasiennya yang lain.


Anggi hanya diam mendengarkan, apa yang harus korban pelecehan katakan memang. Selain merenungi nasib sialnya. fikir Anggi.


"Baiklah, kau harus istrahat dan segera sembuh". Jack berdiri dan membiarkan Anggi merenungi ucapannya. "Terima kasih". Katanya sebelum Jack benar-benar menghilang dari balik pintu.


Di koridor rumah sakit, Jack bertemu dengan Joshua. Pria berkaca mata itu selalu terlihat tampan saat dalam mode serius.


"Bagaimana keadaannya? Tanya Joshua, mereka berjalan menuju ruangan Jack.


"Sudah lebih baik". Jack membuka pintu dan membiarkan Joshua masuk lebih dulu.


"Aku rasa itu hukuman untuknya, karena pernah menipu kita".


"Mm,, biar yang lalu menjadi cerita lama Josh".


Joshua mengangguk, memang haru melupakan masa lalu agar tidak mengganggu perjalanan masa depan.


"Santai, bro hanya bercanda".


Jack hanya bedecak, dan membawa dua air mineral diatas meja, satu untuknya yang langsung diteguk setengah.


"Stella, akan di Indonesia lama". Jawab Jack setelah menutup kembali minumannya.


"Artinya setiap hari bisa lihat wajah can-".


"Jangan coba-coba, Stella masuk di perusahaan kak Boy".


"Uhuk..uhuk..". Joshua terbatuk dan hampir saja menyembur ke arah Jack "Dia dikantor kak boy?". Tanya nya memperjelas, yang dijawab helaan nafas oleh Jack.


"Astaga, kau lupa Stella pernah mati-matian mengejar cinta kak, Boy, dan sekarang?. Joshua tidak bisa berfikir jernih, dia merasa akan ada yang sakit hati setelah ini. Dia menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin.

__ADS_1


"Jika memang mereka sudah dijodohkan Tuhan, aku siap menjadi tempatmu pulang". Mendengar itu Jack bergidik ngeri, apa katanya tempat pulang?


"Kau ingin disuntik agar koma, Josh". Joshua hanya tertawa, dia tahu sahabatnya ini sebenarnya sangat hawatir, bagaimanapun Stella pernah menyukai Boy, dan setahunya belakangan ini Boy juga suka, sehingga menunda pertunagannya dengan Ivana.


"Aku akan selalu ada untukmu". Jack menatapnya tajam "Maksudku aebagai sahabat, aku tidak akan membuatmu melakukan hal bodoh saat patah hati".


Waktu berlalu dengan cepat, sudah waktunya pulang Stella dan rekan kerjanya yang lain sudah bersiap, Karena Stella tipe wanita yang gampang bergaul, hanya sehari dia sudah bisa akrab dengan sebagian besar teman kerjanya. Dan hanya beberapa saja yang tidak, karena merasa Stella adalah saingan.


"Stella, kau akan pulang?". Tanya Lucas sudah berdiri didepan pintu. Stella hanya tersenyum, dia malas berbicara pada Lucas karena bisa melihat tatapan aneh pria itu. Lagi, bukankah seharusnya dia diruangan atasannya?


"Ya, bukankah memang sudah jam pulang, Tuan?". Katanya lembut membawa tasnya.


Ekhem.. Seseorang berdehen dibelakang, membuat Lucas berbakik dan melihat bagaimana tatapan bosnya, oh dia akan mendengarkan ceramah lagi.


"Maafkan saya Bos karena terlambat keruangan". Lucas menggaruk tengguknya yang tidak gatal.


"Stella, kau pulang dengan siapa?". Tanya Boy mengabaikan Lucas, yang sudah tidak penting.


"Saya bawa mobil sendiri Tuan".


"Ikutlah, kita akan makan dulu nanti, mobilku bisa dibawa supir". Boy memaksa.


"Maaf, tapi saya akan makan bersama kekasih saya dirumah sakit". Tidak hanya Boy yang terkejut tetapi juga Lucas. Boy tidak menyangka bahwa dia akan ditolak karena Jack, sedangkan Lucas dia tidak menyangka bahwa ada yang mengalahkan karisma Bosnya.


Stella berjalan melewati Lucas dan membungkuk hormat saat sudah dekat di tempat Boy berdiri.


"Maaf kakak Ipar". Setelah mengatakan itu Stella berlalu, dengan wajah cerah, dia akan lebih sering mengerjai kakak iparnya. Itu balasan karena pagi tadi pria itu membuat jantungnya hampir meledak.


Stella membawa mobilnya menuju rumah sakit, dia akan mencari makanan sore mereka dulu, untuk Jack dan Joshua. Makanan sudah didapat, Stella kembali membawa mobilnya ke arah rumah sakit.


Sepanjang koridor dia tersenyum, Stella seperti orang yang baru saja jatuh cinta, dia merindukan Jack, dia lelah tetapi tidak ada salahnya makan bersama sebentar lalu pulang.


Namun langkahnya tiba-tiba berhenti didepan pintu ruang rawat. Dia bisa melihat dengan jelas wanita itu menagis dalam pelukan seseorang berbaju putih.

__ADS_1


Stella menajamkan pendengarannya dan sedikit mendekat ke arah pintu.


__ADS_2