
Setelah sampai di Mansionnya Stella langsung masuk kamar dan membersihkan diri, dia lelah karena harus ada adegan lari ditaman tadi, terlebih saat diruangan Jack, kepalanya sakit hanya karena mengingat bagaimana Anggi memeluk kekasihnya.
"Ck, dasar wanita tidak tahu diri". Katanya membatin.
Setelah selesai dengan rutinitas bersih-bersihnya dia keluar dengan aura yang berbeda sangat fress dan juga cerah.
Membuka lemari dan memilih salah satu baju rumahan yang nyaman, tidak lupa dia memoles sedikit wajahnya lalu turun kebawah. Dia lapar.
"Sayang, sudah kembali? Kata Momnya yang baru saja akan duduk.
"Hm, Stella lapar, dimana Daddy?".
"Ada dikamar, mengurus soal kamu yang akan bekerja di perusahaan yang Daddy mu maksud. Jelasnya sambil menyendokkan nasi di atas piring Stella.
"Kapan Mommy dan Daddy kembali?"
"Daddy sudah harus kembali ke kantor sayang jadi dua hari lagi kami akan kembali, kamu sudah yakin akan menetap disini? sebenarnya Mommy lebih suka kamu bekerja di perusahaan sendiri". Terlihat bahwa mommy nya memang berat meninggalkan anak semata wayangnya sendiri.
"Stella yakin, lagi jika Stella tetap bekerja di bawah payung sendiri Stella tidak akan ada perkembangan Mommy".
"Baiklah, percuma saja membujukmu, kamu dan Daddy mu memang sama saja". Mendengar itu Stella hanya tertawa tampa suara.
Sehabis makan siang bersama Mommy, Stella kembali naik kekamar, dia benar-benar lelah. Tiba dikamar dia melihat layar ponselnya menyala, dia raihnya dan dilihat siapa penelponnya kali ini dan benar saya dugaannya.
Stella tersenyum merekah lalu menggeser icon hijau dilayar
"Ha-"
"Sayang, maafkan aku" kata seseorang disebrang sana siapa lagi kalau bukan si wajah dingin, Jack kekasihnya.
"Kau harus mengajakku makan malam kalau mau dimaafkan".
"Baiklah, nanti malam tunggu aku". Setelah mengatakan itu panggilan terputus.
Stella berbaring, memejamkan mata namun bayangan Boy tiba-tiba melintas.
"Ah, sialan Pria tua itu sejak kapan mengikutiku? Tidak mungkin dia tiba-tiba lewat dan duduk disana". Stella terus saja merutuki dirinya saat mengingat bagaimana tidak tahu malunya dia empat tahun lalu.
__ADS_1
Tidak berselang lama, akhirnya dia tertidur namun baru saja beberapa menit pintunya kembali diketuk dari luar.
Dia bangun dan membuka pintu, melihat siapa yang sudah berdiri di depannya. "Mommy ada apa?"
"Ayahmu meminta mommy membangunkanmu, maaf". Kata wanita paruh baya itu sedikit tidak enak. Tampa menunggu lama Stella menutup pintu dari luar dan mengikuti mommy nya dari belakang.
"Memang ada apa Mom? Stella liat wajah mommy berbeda?". Katanya berbisik
"Kamu akan tahu nanti, tetapi Mommy harap nanti didalam kamu menolak saja". Katanya membuat Stella semakin bingung.
Sampai didalam ruang kerja Daddy nya pria sedikit tambun itu sudah duduk di sofa dengan berkas ditangannya.
"Duduk Swetty".
"Dad, jangan memanggilku dengan sebutan itu, Stella tidak suka". Katanya cemberut.
"Kau tidak suka karena Daddy yang mengatakannya atau karena sebutan nya memang yang tidak bagus?".
"Keduanya, Daddy, ada apa Daddy menyuruh mommy cantikku naik tangga hanya untuk membangunkanku?". Bagi Stella Daddy nya memang sangat suka membuat Mommy nya tidak berdaya padahal disana ada beberapa pelayan yang bisa diminta tolongi.
"Sengaja, mommy mu memang harus banyak bergerak". Yang dibalas dengan tatapan malas oleh istrinya.
"Stella yakin. Lagi Stella akan sering-sering mengunjungi Daddy dan Mommy nanti". Katanya yakin.
"Baiklah, Daddy sudah merekomendasikanmu di perusahaan rekan bisnis Daddy, kamu akan memulai karir disana besok pagi datanglah kekantornya".
Yang diangguki mantap oleh Stella, Mommy nya hanya mendesah dalam karena ternyata anak gadisnya tetap memilih berkarir.
Stella tidak membaca berkas yang Ayahnya beri, dia hanya menyimpannya di atas nakas kamarnya, baginya tidak penting dimana Daddy nya merekomendasikan dirinya, karena dia yakin Daddy nya pasti memberi yang terbaik.
Dimalam harinya sesuai kesepatakan Jack datang ke menjemput Stella walau memang sedikit terlambat karena tiba-tiba saja pasiennya mengalami muntah-muntah.
"Maaf karena terlambat" pria tampan yang biasanya menggunakan pakaian putih itu terlihat ebih memukau saat hanya menggunakan kemeja hitam dan celana kain yang warnanya senada.
"Tidak masalah, aku mengerti kau pasti sangat sibuk". Jawabnya tersenyum lembut.
Mereka sudah didalam mobil memang, Jack masih terus menggenggam satu tangan kekasihnya seolah takut Stella akan terlepas.
__ADS_1
"Ayo turun". Jack sudah membuka pintu mobil dan menuntun kekasihnya turun, mereka sudah sampai di tempat tujuan, Restauran dipinggir pantai menjadi pilihan Jack. Pantai yang dulu ingin mereka datangi berempat tetapi gagal karena Stella pergi.
"Woah, tempat inikan?" Melirik ke arah Jack yang terus saja memandangnya kagum.
"Hm, pantai yang ingin kita datangi tetapi kau memilih pergi". Katanya meraih tangan itu dan mengecupnya sekali. "Ayo".
Karena Stella memilih untuk diluar Restauran saja, Jack membawanya pada sebuah batu besar di pinggir pantai, suasana pantai saat malam hari memang jauh lebih indah, deburan ombak lebih nyata terdengar.
Jack melepas Jacnya dan memasangkan pada punggung terbuka itu "Kenapa harus memakai pakaian seperti ini?" katanya mengeratkan Jasnya di tubuh Stella. Stella memang menggunakan gaun pendek berwarna hitam berbentuk sabrina. Dia tidak tahu kalau ternyata Jack akan membawanya ke pantai.
"Mana aku tahu kau akan membawaku ke tempat ini". Katanya mengerucutkan bibir.
"Jadi kau akan kembali bersama orang tuamu?" Stella yang mendengar itu merebahkan kepalanya di dada bidang itu, dia sangat suka aroma Jack. Karena itu dia tidak akan suka jika ada wanita yang memeluk kekasihnya.
"Tidak, aku akan disini bersamamu, aku tidak ingin Anggi terusan mencarimu"? Katanya dengan penuh emosi.
Jack hanya tergelak, Stella yang ini lebih manja walau tingkahnya yang sekarang jauh lebih dewasa.
"Kau tahu, dulu kau selalu saja ketus, dan galak padaku, suka berlarian kesana kemari, tepi sekarang kau lebih manja".
"Jangan bahas masa lalu, aku tidak menyukainya, lagi usiaku sudah 23 tahun sudah seharusnya aku bersikap dewasa".
"Hm, benar juga tidak seharusnya membawa masa lalu, Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?"
"Daddy sudah merekomendasikanku di perusahaan rekannya, besok aku akan kesana".
"Dimana?"
"BJgroup". Mendengar itu Jack melerai pelukan kekasihnya dan menatanya lekat. "BJgroup katamu?"
"Mm, ya aku sempat melihat itu sepintas tadi, sebelum turun menemuimu, mungkin saja kau tahu".
Menghela nafas berat, "kau akan tahu besok siapa pemiliknya, tapi aku pastikan dia bakk". Jack kembali merengguh tubuh itu dalam dekapannya. perasaannya tidak menentu, tentu dia tahu itu. perusahaan milik keluarganya. Dan kakaknya lah pimpinan disana.
"Terima kasih karena sudah menerimaku". Jack mencium pucuk kepala Stella.
"Ada apa? Aku lihat selama aku datang kau selalu saja murung, ada yang mengganggu fikiranmu?
__ADS_1
Jack diam, bahaimana tidak terganggu saat dia tahu bahwa kakaknya juga mencintai kekasihnya.
"Bagaimana jika kakakku juga ternyata mencintaimu?" tanyanya masih memeluk erat Stella.