
Sudah lima hari berlalu, sejak kejadian dimana Stella melihat Jack membawa Anggi entah kemana. Tidak ada di antara mereka yang saling menghubungi satu sama lain. Entah karena kesibukan atau karena memang sengaja. Yang pasti selama itu mereka tidak pernah lagi memegang ponsel.
Pagi hari seperti biasa setelah sarapan, Stella akan langsung ke kantor, kali ini dia menggunakan rok span berwarna hitam serta atasan kemeja berwarna putih berbahan halus.
Stella yang memang terkenal pemimpin sejak dulu selalu mengikat setengah rambutnya dibelakang. Sepanjang jalan dia tidak memikirkan apapun, walau terkadang memang dia merindukan Jack, namun dia sudah bertekad tidak akan menelpon sebelum Jack gang lebih dulu menghubunginya.
Saat cintanya ditolak Boy juga dia bisa melupakannya dengan cepat, asalkan dia fokus dengan kesibukannya maka dia bisa.
Mengingat tentang atasannya itu Stella malas ke kantor alasannya, dia akan dia akan mendapatkan pekerjaan lebih setiap hari. Padahal jelas-jelas itu adalah tugas Lucas. Yang tentunya membuat Lucas bahagia. Stella juga terkadang heran bukankah seharusnya Lucas orites karena dia diturunkan jabatannya?
Sampai di kantor, Stella keluar dari mobil dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya masuk. Dia mengabaikan semua mata yang menatapnya takjub karena Stella memiliki wajah blasteran.
"Selamat pagi Nona Stella". Sapa Asep selaku keamanan yang selalu siap berdiri di depan pintu lobi.
"Selamat pagi juga, Pak semangat!".Jawab Stella memberi semangat.
Dia melangkah dengan anggun meninggalkan Asep yang masih menatapnya takjub.
"Jaga pandangan, Asep!". Seketika Asep cengengesan saat tertangkap basah telah memuja Stella oleh pimpinannya. Siapa lagi kalau Boy.
"Eh, bapak itu, tadi, saya hanya melihat". Ucapnya gagap.
Boy hanya mengangguk dan melihat ke arah Stella yang sudah akan berbelok memasuki lift. "Jangan terlalu diperhatikan, kalau dia tahu kamu bisa bahaya, dia bisa bela diri". Boy sengaja menakuti Asep yang memang lebih muda darinya mungkin beda setahunan dari Jack.
"Bela diri?" Boy mengangguk pelan, dia memperhatikan wajah Asep yang mulai terlihat percaya.
"Baik pak, terima kasih sudah diingatkan, lain kali saya akan diam-diam". Jawaban Asep yang tidak terduga membuat Boy geram, melihat bosnya dalam mode galak mau tidak mau Asep minta maaf dan tidak akan mengulang lagi. Daripada dipecat. Dia akan semakin sulit melamar kekasihnya dikampung.
"Ya sudah, setelah makan siang kamu keruangan saya diatas". Boy meninggalkan Asep dengan perasaan khawatir karena berpikir akan dipecat setelah ini. Wajah yang tadinya cerah sekarang terlihat sendu. Dia tidak menyangka hanya karena melihat kecantikan Stella dia akan dipecat.
Di Ruangan lagi-lagi Stella mendapatkan panggilan ke ruangan Boy, entah apalagi yang pria aneh itu akan perintahkan padanya. Dengan perasaan kesal dia melangkah keruangan bosnya. Teman-teman kerjanya bahkan memberikan semangat mereka tahu bahwa Stella tidak dalam posisi aman karena hampir setiap hari mendapatkan tugas bermacam-macam dari atasannya.
Contohnya seperti hari ini Boy memerintahkannya membersihkan seluruh ruangan. Stella mendengus kesal karena dia merasa tugas yang dia terima tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dia akan membersihkan ruangan itu sedangkan pagi tadi dia melihat petugas kebersihan keluar dari dalam.
Namun bukan Boy namanya jika tidak memiliki alasan. Entah apa masalah pria ini sehingga menumpahkan kopi di atas mejanya.
"Apakah bapak memang sengaja?" Tanya Stella dengan tatapan tajam pada Boy yang duduk di sofa.
"Mama mungkin aku sengaja, tadi memang tanganku tiba-tiba saja bergeser".
Stella berdecak, mana mungkin ada tangan yang tiba-tiba bergeser. "Tidak bisakah dia mencari alasan yang lebih masuk akal?"
__ADS_1
"Tidak!".
Stella mendongak melihat ke arahnya, dengan tatapan bingung.
"Maksudku aku tidak memiliki alasan lain untuk membuatmu berada di ruangan". Ucapnya santai.
Cukup.
Sudah cukup omong kosong yang selama ini dia dengar. Ada apa dengan atasannya ini sebenarnya? Jika dia mengungkit masalah empat tahun lalu bukankah itu sudah terlambat?.
"Apa maksudmu?". Stella berdiri dan tidak lagi menggunakan bahasa formal.
Melihat itu Boy hanya tersenyum.
"Aku suka kalau kau bersikap biasa padaku, lupakan bahwa aku pernah menjadi gurumu, atau lupakan bahwa aku adalah atasanmu, anggap saja aku Boy". Jelasnya masih menatap mata indah di depannya.
Boy juga berdiri, menghampiri Stella yang masih menatapnya tidak suka. Jangan salah dia, masalah nya sangat banyak dan dia harus dihadapkan dengan bosnya yang semena-mena.
"Jangan mendekat!". Stella menapak mundur selangkah karena Boy semakin bergerak maju.
"Kenapa? Bukankah kau menyukaiku?".
Stella menghentikan gerakan. Sudah dia terka bahwa pria ini masih belum bisa merelakan 4 tahun yang lalu.
"Kau melupakanku secepat itu? Bahkan aku sampai membatalkan pertunanganku hanya untuk menunggumu kembali". Terang Boy membuat Stella diam.
"Benarkah? Atau dia hanya membohongiku?" Gumamnya.masih menatap Boy.
"Aku tidak pernah memintamu untuk menunggu". Ketusnya membuang muka.
"Yah, kau memang tidak mengatakannya karena waktu itu kau hanya mempermainkan perasaanku". Boy semakin geram dengan menjepit dagu Stella.
"Tidak akan ada pengaruhnya apakah waktu itu aku serius dengan ucapanku atau tidak".
Stella melepaskan tangan Boy di dagunya, terlihat sekarang dagu putih itu memerah. Jangan lupakan bahwa Stella bisa bela diri, japitan di dagu masih bisa dia tahan.
Melihat Stella yang akan keluar dari pintu, Boy melangkah cepat dan memeluk gadisnya dari belakang. Stella yang mendapatkan tindakan mendadak tiba-tiba saja membeku di tempat. Kepala Boy sudah berada di ceruk lehernya. Pria itu memejam mata menikmati ketenangan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Stella dengan suara rendah. Matanya melirik tangan Boy yang memeluknya erat.
"Aku mohon biarkan seperti ini sebentar".
__ADS_1
"Tuan…".
"Diamlah, dan jangan memanggilku tuan lagi". Stella terkekeh karena mendengar nada kesal Boy. Dia lepaskan tangan kekar yang memeluknya lalu berbalik ke arah pria yang kini matanya saja sudah menyiratkan ketidak sukaan karena tangannya dilepas paksa.
"Orang lain akan salah paham, jika melihat kita begini".
"Aku tidak peduli".
"Tapi aku peduli, aku kekasih adikmu".
"STELLA AKU MENCINTAIMU". Boy dengan sangat jelas mengatakannya. Dia tidak peduli lagi apakah Jack akan marah atau membencinya. Karena menurutnya Stella sejak awal memang miliknya.
"Jangan mengatakan itu aku mohon". Stella berbalik dia tidak akan mau mendengarkan apapun lagi. Jika perlu saat ini juga dia akan keluar dari tempat ini.
"Kenapa? Kenapa kau tidak ingin mendengarnya? Bukankah ini jawaban yang kau inginkan 4 tahun lalu?"
"Anda benar, ini jawaban yang saya inginkan 4 tahun lalu, tetapi dengan mudahnya anda mengatakan bahwa anda tidak akan pernah menerima saya, saya ingat dan saya sadar". Setelah mengatakan itu Stella keluar dengan raut wajah yang tidak enak dilihat, bahkan dia mengabaikan Lucas yang menyapanya dengan manis.
Di Ruangan Stella meraih tasnya dan melenggang meninggalkan kantor tanpa mengucapkan apapun pada teman kerjanya yang bingung melihatnya tiba-tiba datang dan pergi.
"Aku yakin dia dipecat!". Seru salah seorang diantara mereka, dia memang tidak pernah menyukai Stella sejak awal.
"Aku Tidak yakin dia dipecat, mungkin saja dia sangat bosan dikerjai pak Boy". Yang lain ikut menyahut.
"Husstt diamlah, jangan sampai Lucas mendengar kita bergosip dan menambah pekerjaan kita". Mereka semakin ricuh ada yang berpendapat bahwa pak Boy menyukai Stella namun yang lain menyanggah karena melihat bagaimana mesranya bos mereka degan Ivana.
Dilain tempat Jack masih saja sibuk dengan tugasnya, selama 5 hari ini dia bolak balik rumah sakit, menjenguk Anggi dan kerumah sakit luar.
Dia sangat lelah, bahlan untuk memikirkan dirinya saja dia lupa. Dan disilah dia sekarang di apartemen Anggi.
"Sampai kapan kau akan begini?" Katanya menyuapkan bubur pada Anggi.
"Aku juga, tapi melihatmu lerhatian seperti ini, aku tidak masalah selama nya begini".
'Tak'.
Telunjuk Jack melesat di kening Anggi bunyinya nyaring, membuat Anggi memekik dan menggosok jidatnya.
"Ini sakit Jack". Gerutunya menggosok keningnya.
"Habiskan, karena setelah ini aku tidak bisa lagi menemuimu". Katanya membuat Anggi menatapnya sendu.
__ADS_1
"Kalau begitu menginaplah disini, semalam saja". Katanya mengiba.