
Pagi-pagi di Mansion milik keluarga Boy. Pemuda tampan berusia dua puluh tahun itu sudah membuat kegaduhan pagi-pagi siapa lagi kalau bukan Jack.
Dari atas tangga Boy hanya heran memperhatikan adiknya yang terlihat sangat terburu-buru. Bahkan dimulutnya masih terdapat potongan roti yang terus terapit agar tidak jatuh.
"Ck, kau terlihat seperti orang yang akan ketinggalan pesawat saja". Boy berdecak pelan melihat tingkah adiknya.
"Mm .. Memang". Ujar nya sambil mengikat tali sepatunya buru-buru.
"Kau mau kemana? Menyusul Daddy?"
"No, Stella..Stella akan pergi ke London hari ini dan aku akan kesana mengantarnya".
"Stella-"
Belum sempat Boy bertanya lebih jauh, Jack sudah menghilang dibalik pintu.
"Stella....".Gumamnya sekali lagi, mencerna kembali apa yang Jack katakan tadi, gadis itu akan pergi. Artinya dia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Bukankah itu lebih baik?. Tetapi mengapa dia merasa ada yang salah dengan dirinya.
Dia mengabaikan rasa aneh dihatinya kemudian beranjak naik ke kamarnya kembali, beberapa menit kemudian dia terlihat kembali menuruni tangga dengan langkah yang tergesa-gesa.
Dibandara sudah ada Anggi dan Joshua yang mengantar sahabatnya. lima belas menit lagi pesawatnya akan berangkat. Tetapi mereka belum juga melihat kedatangan Jack. Semalam setelah makan malam Stella memberitahu Jack melalui ponselnya. Susah dipastikan bagaimana gelisahnya Jack semalaman menunggu pagi karena gadisnya akan pergi jauh.
Saat Stella sudah berjalan menghampiri orang tuanya, Tiba-tiba suara Jack menghentikan langkahnya. Terlihat pemuda tampan itu berlari dan sesekali menabrak orang-orang yang menghalanginya.
"Stella tunggu...". Jack membungkuk dengan nafas ngos-ngosan.
"Ka-kau, kenapa harus pergi? Nafasnya masih terengah.
Dengan sekali tarikan Jack membawa Stella dalam pelukannya, sangat erat dan terasa sangat tulus.
"Kau tahu, aku tidak masalah jika kau memang menolakku jadi kekasihmu, asal kau selalu ada dalam pandanganku". Jack berkata sangat lembut. Stella hanya tersenyum sambil mengelus pelan punggung sahabatnya
"Baik-baiklah, aku janji setelah liburan aku akan kembali". Stella hanya bisa mengatakan itu.
Jack melerai pelukan mereka. Anggi dan Joshua sudah berada disana juga melihat bagaimana kesedihan Jack. Sedang orang tua Stella sudah masuk lebih dulu.
"Baiklah aku harus pergi, Jack". Stella melihat tabgannya yang masih digenggam kuat Jack
__ADS_1
Jack kembali memeluk Stella lebih erat dari sebelumnya.
Stella hanya terkekeh pelan, tingkah Jack memang terkadang sangat ambigu baginya.
Setelah meminta lagi Jack melepas pelukannya, Stella beralih memeluk Anggi dan Joshua lagi. Tetapi belum juga tubuh Stella dan Joshua menempel Jack sudah menggeser Joshua. Membuat temannya itu mendengus kesal karena gagal mendapat pelukan.
"Jangan coba-coba memekuknya Yos.." Ancam Jack yang dibalas dengan cengiran oleh Joshua.
Dan tanpa mereka semua sadari di sudut sana seorang pria dengan kemeja putih dan celana kain serta masker yang senada dengan warna celananya hitam tengah berdiri dengan tatapan berbeda melihat ke satu arah. Ke Stella. Gadis manja yang selalu membuatnya sakit kepala, gadis yang tidak pernah berhenti mengambil perhatiannya dengan hal-hal kecil. Gadis yang selalu memberinya senyuman walau dia terkadang dengan sengaja memberi hukuman. Bahkan gadis menyebalkan itu berani mengatakan cinta.
Sangat berani.
Setelah melihat Stella berjalan menjauh, Boy bergegas pergi sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Namun sial, tiba-tiba suara yabg sangat dikenalnya memanggil namanya dengan lantang.
"Kak...tunggu". Jack berlari mendekat ke arah kakaknya di susul Anggi dan Joshua yang masih linglung dengan sebutan kakak yang Jack ucap.
"Kakak disini? Tahya Jack menyelidik.
"Aku menghawatirkannu, jangan sampai kau menyusul Daddy tampa aku". Kilah Boy.
"Aku sudah bilang, aku mengantar Stella, aku kira setelah melihatku dia akan membatalkan kepergiannya, ternyata dia memang tetap pergi". Lirih Jack dengan nada sendu.
Melihat kakaknya pergi Jack hanya menghela nafas panjang, kakaknya memang sangat menyebalkan dari apapun. Kemudian mereka bertiga kembali dan sesekali Jack berbalik mengharapkan Stella akan berlari ke arahnya. Dan itu mustahil.
"Kenapa kalian berdua diam". Tanya Jack menyadari dua sejoli itu hanya diam sejak tadi.
"Jack..kau dan pak Guru..." Anggi yang bertanya
"Kenapa?"
"Kau memanggilnya kakak tadi..itu artinya?" potong Anggi.
"Dia kakakku, jadi wajar aku memanggilnya kakak bukan?
"What...?" Anggi sampai menganga tidak percaya.
"Kau kenapa? Bukankah aku sudah jelaskan sejak awal pak Boy kakakku? Atau aku belum mengatakannya?". Nah walaupun Jack sangat tampan dan pintar disekolah setelah Stella, tapi dia memiliki satu kelemahan. Dia pelupa.
__ADS_1
"Ya ampun, artinya aku lupa?". Ujar Jack tampa dosa dan terbahak melihat bagaimana tatapan Anggi yang begitu kesal.
"Jack..." Tegur Anggi membuat tawa Jack berhenti.
"Apa kau tahu, Stella menyukai pak Boy, kakakmu?". Jack mengangguk tampa beban.
"Aku tahu, dia menolakku karena masih penasaran mendapatkan kakakku yang menyebalkan itu". Jack kembali tertawa mengingat wajah menyebalkan kakaknya.
"Dan kau tahu kalau Stella di tolak kemarin olehnya?".
"What..?"
Kini Jack dan Joshua bersamaan.
Anggi hanya berdecak kecil melihat bagaimana terkejutnya dua pemuda di depannya.
Setelah dari bandara ketiga sahabat itu tidak langsung kerumah, mereka lanjut kepantai berjalan-jalan, sebenarnya mereka akan pergi berempat tidak tahu kalau akhirnya Stella harus pindah.
"Jack, kenapa disekolah kalian tidak terkihat akrab? Maksudku kau dan pak Boy bahkan tidak pernah berbicara". Tanya Anggi. Karena Joshua sudah tahu kalau mereka saudara.
"Pernah, bahkan sering kalian tidak memperhatikannya mungkin".
"Kau tidak terlihat cemburu Stella menyukai pak Boy, jangan-jangan kau hanya iseng".
"Tentu saja aku cemburu, tetapi karena aku tahu kakakku akan menikahi gadis lain, aku tentu saja lega".
"What...?
Jack hanya mengangguk, melihat Anggi dan joshua secara bergantin.
Ya awalnya Jack cemburu karena mengetahui dia ditolak ternyata karena gadisnya menyukai kakaknya yang jauh lebih tua darinya. Tetapi saat mengetahui bahwa Daddy nya ternyata akan menjodohkan kakaknya dia bahagia dan memutuskan untuk tinggal di mansion bersama sang kakak.
Jack tahu kakaknya akan menuruti semua yang Daddy mereka minta. Termaksud menikah. Dan Jack tentu senang memiliki saudara seperti itu. Dia hanya akan menunggu sampai Stella menyadari ketulusannya.
Sampai dirumah Jack langsung mencari kakaknya, sebenarnya dia penasaran kenapa tiba-tiba saudaranya yang terkesan kaku itu repot-repot mencarinya kebandara. Dan jack sangat yakin bukan dia alasannya..
Sampai didepan kamar Boy, Jack langsung masuk tampa mengetuk karena baginya terlalu lama jika harus menunggu izin penghuni kamar membiarkannya masuk.
__ADS_1
Tidak ada siapapun, ruangan itu kosong. Namun saat dia akan keluar ekor matanya menangkap sesuatu di balik lipatan buku diatas meja. Dengan rasa penasaran tinggi Jack mengambil dan melihatnya. Jelas saja matanya membolak dan jantungnya berdebar kencang.
"Tidak mungkin.....". Jack memperhatikannya lagi, lalu menyimpan kembali ditempat semula sebelum dia benar-benar keluar.