
Mata indah Stella semakin membulat saat Jack mengangguk pasti.
"Kenapa kau begitu yakin? Sudah empat tahun tidak mungkin dia akan terus melajang". Tawa Stella menyembunyikan keterkejutannya.
"Tentu saja aku yakin". Jawabnya lagi.
Membuat Stella menghentikan tawanya. Itu membuat Jack sangat was-waa sekarang. Apakah dia akan ditinggal saat Stella tahu kakaknya belum menikah karena memikirkannya?
"Sayang...".Panggilan Jack sangat lembut, menembus ke dalam hati Stella. "Boleh aku memanggilmu sayang? Tanya nya lagi.
Stella masih diam, dia tidak tahu bagaimana perasaannya, dia tentu sangat tersentuh dengan panggilan itu.
Stella mwngangguk. "Boleh, kita sepasang kekasih kenapa harus minta izin?".
"Aku hanya takut kau tidak menyukainya". Senyumnya lembut, merapikan rambut Stella.
"Jangan bercanda. Kau kekasihku yang tampan tentu saja aku senang".
"Hanya karena itu? Karena aku tampan? Bukan karena yang lain? Bukankah aku sudah tampan sejak dulu tapi kau menolakku". Jack panjang lebar membuat Stella terbahak.
"Dulu aku menolakmu karena belum menyadari perasaanku".
"Bukan karena kau menyukai kakakku?" Terka Jack.
"Kakak...? Siapa kakakmu? Jelas saja Stella heran pasalnya dia memang tidak mengenal satupun keluarga Jack.
"Boy". Jawabnya lugas.
"APA?..Bo-Boy? Kakakmu? Sejak kapan kalian saudara?".
Stella kembali duduk setelah tadi berdiri karena terkejut. Dia menatap Jack dalam "Kau jangan bercanda, ini tidak lucu".
"Maaf karena aku lupa memberi tahu kalian, aku mengira bahwa kalian memang sudah tahu kami saudara". Masih menatap Stella yang hanya diam.
"Apakah setelah kau tahu dia kakakku kau akan meninggalkanku dan kembali mengejar cintanya?"
Stella tersadar dia terlalu kaget dengan berita ini, sejak dulu mereka sudah mengira tetapi karena melihat keduanya tidak pernah bersama kecurigaannya memudar.
"Sayang, aku kembali untukmu, bukan untuknya". Sontak saja jawaban Stella membuat Jack langsung membawa Stella dalam pelukannya.
"Kau tahu aku sangat takut kau akan marah saat mengetahui ini terlambat".
"Aku memang terkejut, dan tentu saja sangat malu, apa dia mengatakan bahwa dia pernah menolakku?"
__ADS_1
"Dia menolakmu? Kapan?".
"Ah lupakan saja, aku juga sangat malu saat mengingat itu". Stella kembali tertawa.
Melihat itu Jack sangat lega, di awal dia sudah mengira bahwa Stella hanya menjadikannya pelampiasan. Tapi setelah mendengar ini dia merasa sangat lega. Tidak ada yang perlu dia hawatirkan sekarang.
Sepanjang siang Stella bersama diruangan Jack sebelum dia kembali karena Jack sudah harus memeriksa lasiennya lagi.
"Hati-hati dijalan". Kata Jack mengecup kening Stella. Setelah itu wanita cantik itu berlalu dengan perasaan berbunga-bunga.
Dia kembali kerumah, karena dia tidak tahu harus kemana, dulu saat masih sekolah saat dia dan Anggi belum secanggung sekarang, dia akan senang hati bermain bahkan sampai bermalam disana.
Dan sekarang dia tahu Anggi sahabatnya sudah berubah, dan dia tidak perlu mendengar alasan kenapa, sudah cukup dia tahu bahwa dulu Anggi bersamanya hanya karena kepentingan.
Sampai dirumah, tidak langsung ke kamar tetapi dia berbelok ke taman belakang rumah. Mereka memiliki gazebo disana. Seperti dugaannya disana sudah ada Mommy nya tengah merajut.
"Kau sudah kembali?" Yang langsung di angguki oleh Stella.
"Bagaimana kencanmu?" Goda Mom nya.
Stella hanya mengerucutkan bibir. Dia jelas malu.
"Lalu bagaimana dengan pria yang dulu sudah membuatmu patah hati". Tanya Momnya lagi. Dia banyak tahu kisah anak gadisnya. Karena Stella memang anak yang tidak suka menyimpan rahasia terlalu lama, dan Mommy nya selalu tahu bagaimana cara membuat anak gadisnya mengaku.
"Benarkah? Mommy tidak yakin".
Ck, Stella berdecak kesal Mommy nya selalu saja memancing.
"Mom, kalau Jack tahu dia tidak akan senang Mommy berbicara seperti itu"
"Maafkan mommy, Jangan adukan ke pacarmu yang tampan itu". Godanya
"Dia memang tampan". Stella tersenyum saat mengingat bagaimana lembutnya Jack yang sekarang. Dia tidak tahu kapan pastinya sahabatnya itu mengambil hatinya sepenuhnya.
"Baiklah Stella naik dulu Mom". Setelah mengecup sayang Mommy nya Stella naik kekamarnya dia akan berendam kemudian istrahat.
Malam harinya di Mansion Boy, Jack yang baru saja pulang bertugas langsung disambut dengan kehadiran wanita yang sudah menjebaknya. Siapa lagi kalau bukan Anggi.
Jack tidak menghiraukannya, dia melangkah naik meninggalkan Anggi di ruang tamu. Di tangga dia bertemu kakaknya Boy yang sudah sangat tampan.
"Anggi sudah pulang?". Tannya nya
"Kak, kau mengizinkan nya masuk?" Kesal Jack
__ADS_1
"Tidak mungkin aku mengusirnya Jack, kalian pernah berteman, dan aku bahkan pernah menjadi gurunya".
Jack berdesis dia sangat lelah dan sekarang dia akan menghadapi wanita itu. Sangat menyebalkan.
"Mandilah, lalu turun temui dia mungkin ada seauatu yahg ingin dia sampaikan. Jack tidak menjawab dia melangkah masuk kamarnya, mandi dan setelah merasa lebih baik dia turun.
Terlihat sekali ketampanan Jack berkali-kali lipat dengan rambut setengah basahnya. Badannya bagus tingginya sempurna, di dalam kaos berwarna putih itu terdapat otot liat dan perut sixpack nya.
"Jack..." tegur Anggi saat melihat Jack sudah duduk mereka saling berhadapan.
"Katakan ada apa?"
"Jack, kau dan Stella..."..Ucapnya ragu.
"Kami memang sudah bersama selama empat tahun sebelum dia pindah ke London". Jawabnya lugas.
"Apa kau percaya kalau dia menyukaimu? Bukankah kita sama-sama tahu bagaimana cinta nya dia sama Pak Boy?".
Boy yang tidak sengaja mendengar itu mematung, jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang. Sudut bibirnya terangkat. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia bahagia mendengar itu. Dan karena tidak ingin ada yang menyadari dia segera beranjak kekamarnya.
"Tentu saja, kenapa aku harus tidak percaya?
"Jangan bodoh! Dia hanya membuatmu sebagai pelarian saja". Anggi akan berusaha bagaimanapun caranya membuat hubungan mereka merenggang.
"Apa kau kesini hanya untuk menuduh yang tidak-tidak?
"Jack..sadarlah, aku yang tulus mencintaimu, bukan dia yang sengaja membuatmu sebagai pelarian saja".
"DIAM". Bentak Jack membuat Anggi terlonjat.
"Sekarang keluar dari rumahku sebelum aku lupa kau wanita"
Dengan perasaan kesal Anggi pulang, dia melajukan mobil dengan kencang, dia tidak akan kalah lagi oleh Stella dia akan mencari cara memisahkan mereka.
Sementara itu Jack yang kesal sudah lelah ditambah omong kosong Anggi membuat kepalanya akan pecah. Dia naik kekamar mengambil ponsel kemudian menghubungi gadis manisnya. Setidaknya dengan mendengar suara Stella kelelahannya akan berkurang
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya panggilan tersambung.
"Kau sudah tidur?" Tanya Jack langsung saat panggilannya terjawab.
"Baru akan, kenapa? Kau baru pulang? Kau lelah?" Stella yang baru keluar dari kamar mandi mencuci muka langsung mengangkat ponselnya yang terlihat menyala.
"Hum aku sangat lelah tadinya, tetapi setelah mendengar suaramu tidak lagi".
__ADS_1
Stella yang mendengar itu hanya tersenyum, Jack tidak akan melihat bagaimana merahnya pipi Stella saat ini.