Sayang, Aku Kembali

Sayang, Aku Kembali
Bab 8 | Dihukum


__ADS_3

Setelah empat tahun berlalu..


Disebuah mansion berukuran besar dengan interior modern. Seorang pemuda tengah berada di balkon kamar. Menyandarkan kepala disandaran bangku kayu panjang dan mendongak menatap langit malam. Dia tidak sendiri disebelahnya ada pria yang tidak kalah tampan darinya melakukan hal yang sama.


"Bagaimana hari pertamamu dirumah sakit?" Tanya Boy pada Jack. Yah Jack memilih menjadi Dokter. Karena otak luar biasanya dia bisa menyelesaikan sekolahnya lebih cepat. Dan diantara mereka berdua terpaksa Boy harus mengalah. Dia mengambil alih perusahaan almarhum ayahnya. Dulu sebelum Almarhum Daddy nya meninggal tidak jarang dia juga mengambil alih pekerjaan Daddynya. Namun karena suatu hal mendesak. Ia terpaksa harus mengawasi Jack disekolah, dan itu membuat Jack sangat kesal kakaknya membuntutinya sampai harus menjadi guru, itulah sebabnya Jack tinggal bersama Joshua.


Bukan tampa alasan Boy melakukan itu, terakhir kali adiknya tidak kesekolah berminggu-minggu membuat kepalanya sakit karena banyaknya panggilan dari sekokah. Dan mau tidak mau Boy harus melamar menjadi pengajar sampai adiknya lulus. Benar saja. Selama Boy megajar tidak jarang Jack mendapatkan hukuman karena terlambat dan banyak hal lainnya.


Jadi saat kelulusan adiknya Boy lega akhirnya dia terbebas sedikit dengan sekolah, terbebas dari tugas-tugas disana dan terbebas dari banyaknya pesan cinta dari siswa-siswanya. Boy juga merasa miris anak seusia mereka sudah berani terang-terangan mengungkap kan cinta.


Dan mengingat tentang pengungkapan Boy mengingat lagi gadis manis yang pernah dengan berani mengakui perasaannya langsung. Stella


"Ah bagaimana kabar gadis manis itu?" gumam Boy dalam hati dengan senyuman yang tidak bisa Jack lihat.


Dia memang merasa kehilangan saat mendapatkan kembali email dari sang gadis. Namun dengan sekuat raga dia mengaikannya. Karena dia percaya seusia Stella belum faham betul dengan perasaannya.


"Semua berjalan dengan baik". Jawabnya tenang, masih memandang lagit pekat.


Jack memilih menjadi Dokter karena merasa sangat kehilangan sosok Daddy nya. Dia akan berusaha menyelamatkan nyawa lain. Walau memang jika sudah takdir tidak ada yang bisa mengubahnya. Namun setidaknya dia ada usaha.


"Kak, kau belum menjawab pertanyaanku?". Kini Jack menoleh melihat jelas bagaimana kakaknya masih memejamkan mata. entah apa yang difikirkan pria menyebalkan disampingnya sesekali terlihat dia tersenyum.


"Pertanyaan apa? Aku akan menjawabnya".


"Foto Stella dikamarmu".


Pertanyaan yang sama, selama 4 tahun ini. Jack masih penasaran mengapa ada foto gadisnya dikamar kakaknya.

__ADS_1


Bagaimana Boy akan mengatakan kalau dia memang sengaja mendapatkan foto itu dulu karena merasa aneh melihat tingkah adiknya, dan tidak tahunya Boy juga sempat terkesima dengan foto gadis yang membuat adiknya jatuh cinta. Dan sialnya Boy tidak menyingkirkan foto itu lebih cepat.


"Kau sudah mendengarnya berulang kali".


"Ck, kau berbohong kak, aku tahu tidak mungkin kau mendapatkannya langsung darinya". Jack mendengus kesal.


Boy hanya tertawa. Boy tahu adiknya sangat menyukai gadis manja itu. Dan lagi Boy tahu adiknya pernah ditolak.


"Kau sungguh menyukai gadis manja itu?" Tanyanya lagi.


Menghela nafas panjang "Hm, tapi sayangnya dulu dia menyukaimu". Jawaban Jack membuat Boy tertawa dan Jack hanya diam dengan wajah datar melihat bagaimana bisa dia mendapatkan saudara menyebalkan sepertinya. Pria yang kadang berubah dingin. Kaku dan tiba-tiba seperti ini. Menyebalkan.


"Apa kakak tidak pernah menyukainya?". Pertanyaan Jack membuat tawa Boy tiba-tiba berhenti, Jack masih mencari jawaban dari mimik wajah kakaknya.


"Tidak". Jawabnya enteng. Tapi Jack tidak percaya karena beberapa detik tadi dia melihat raut wajah berbeda sebelum kakaknya mengatakan kata 'tidak'


Boy yang mendengar itu hanya diam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bahkan dia membatalkan rencana pertunangannya dengan Ivana karena alasan yang tidak logis. Karena dia belum ingin menikah.


Sepanjang malam Boy hanya merenung dibawah langit pekat. Membayang bagaimana gadis manja yang berhasil membuat tidurnya terusik beberapa tahun belakangan. Gadis yang tidak pernah menyerah melakukan sesuatu untuk menarik perhatiannya. Tapi dengan sombongnya dia menolak. Karena alasan Jack menyukai gadis yang sama.


Yah bagi Boy kebahagian adiknya jauh lebih penting, dia sudah berjanji pada Almarhum Mommy nya bahwa dia akan mengutamakan kebahagian Jack terlebih dahulu sebelum kebahagiaannya.


Lalu apakah saat ini dia sanggup? Harus. Bahkan dia yakin setelah beberapa tahun lamanya. Rasa yang sempat terbesit dihatinya akan memudar.


Menghembuskan nafas pelan dan melangkah masuk kekamar. Dia akan membeku jika terlalu lama diluar. Sudah musim panas. Artinya hawa malam jauh lebih dingin dari malam biasanya.


Sedang di Negara berbeda di London, tepatnya di kota besarnya. Seorang gadis berparas cantik tengah kesal dengan berkas-berkas diatas mejanya. Sudah hampir jam sepuluh malam tetapi dia masih sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Woah.. kepala ku akan meledak karena pekerjaan ini". Gerutunya sambil mengacak acak rambutnya


"Dad...Stella lelah, besok kita lanjutkan bagaimana?" Tawar Stella dengan wajah di imutkan.


"Kau harus menyelesaikannya malam ini juga. Kau hanya membaca, bukan sesuatu yang sulit". Jawab pria berbadan tinggi dan sedikit buncit. Tapi wajahnya sangat tampan.


"Dad..." Rengeknya.


"Ini hukuman untukmu, kau tahu apa perjanjian kita? Lagi, jika malam ini semua berkas itu bisa kau baca dan besok bisa kau fahami, kita akan ke Indonesia". Nah.


Tuan Mattew memang menjanjikan akan berlibur ke Indonesia dekat-dekat ini setelah kelulusan putri tunggalnya. Namun sebelum itu Stella harus mempelajari hal mendasar di perusahaan yang sedang dia kelola. Stella setuju. Tetapi beberapa hari yang lalu Caroline temannya mengadakan pesta ulang tahun di Clup. Stella menghadirinya dan tentu saja mendapat hukuman dari Daddy nya .


"Aku ke Clup milik keluarga Caroline Dad, tidak akan ada yang macam-macam padaku".


"Sayang, tidak ada yang tahu pasti hal itu"


"Jangan bilang Daddy tidak percaya padaku?" Selidiknya


"Kau sangat pintar sayang. Daddy menyanyangimu".


Stella sangat kesal, bagaimana mungkin Daddy nya tidak pecaya padanya, dia bukan anak gadis lagi, dia sudah berusia hampir dua puluh tiga tahun. Dia jauh lebih bisa menjaga dirinya diluar. Ya diam-diam Stella mengambil kelas bela diri. Tampa sepengetahuan orang tuanya. Baginya ini sangat penting apalagi di Negara orang.


"Ayolah Dad, aku bukan anak kecil lagi, kau selalu saja menganggapku bayi". Dengusnya kesal. Stella berdiri dan duduk disofa bersama Daddy nya.


"Kau akan tetap menjadi bayi kami".Jawabnya datar. Membuat Stella semakin kesal.


"Mommy....

__ADS_1


__ADS_2