
“Aww..” Dengan sekali dorong, Anggi terjengkal kebelakang. Jack bersidekap dan menatap tajam kearah Anggi yang cemberut karena perbuatannya.
“Ck, dasar pelit” Anggi membenarkan duduknya kemudian menurunkan kedua kakinya, dia melewati Jack dan berlalu kearah kamar mandi.
Jack memijat kepalanya, memang terasa sangat berat ini pertama kalinya dia sakit kepala, dan sebelumnya memang tidak pernah, biasanya juga dia sering bergadang karena banyaknya pasien dirumah sakit. Menghela nafas panjang dia meraih ponsel dan jas kebesarannya. Anggi yang didalam kamar mandi hanya senyum-senyum sendiri dibawah shower karena dia bahagia karena sebentar dia punya kesempatan mendapatkan Jack.
“Stella, kau yang melepasnya maka jangan salahkan aku jika akhirnya akulah pemenangnya”. Senyumnya tercetak lebar dibawah shower sambil bersenandung riang.
Dilain tempat Stella masih meringkuk dibawah selimut tebalnya, dia merasa tidak enak badan karena flu yang menyerangnya sejak kemarin siang. Hidungnya sudah memerah dan kepalanya sangat sakit.
Suara ketukan dari pintu membuat Stella terpaksa harus keluar dari selimut tebalnya, dia meriang seluruh tubuhnya terasa dingin, bahkan dia sudah mematikan pendingin ruangan sejak semalam.
“Bik Beaty masuklah” katanya mendahului bik Beaty yang memang ditugaskan menemani Stella dirumah, awalnya pelayan yang mereka miliki akan datang saat pagi dan pulang sore hari, tetapi karena kepergian mereka waktu itu ke London bik Beaty dan beberapa orang lainnya serta beberapa keamanaan ditugaskan menjaga kediaman selama mereka pergi.
“Non, silahkan dihabiskan buburnya, saya akan memanggil dokter untuk datang memeriksa non Stella”.
“Tidak perlu bik, tolong carikan saja di apotek terdekat” Stella masih membungkus tubuhnya dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Karena tidak bisa memaksa akhirnya bik Beaty mengangguk. “Kenapa tidak memanggil tuan Jack saja?” katanya mengingat bahwa nonanya dan Jack adalah sepasang kekasih “Kami sudah putus semalam” .
“Putus?” bik Beaty terkejut lalu duduk didepan Stella, Stella tidak akan marah karena keluarganya memang tidak mempermasalahkan hal itu, pembantu bagi mereka tetaplah manusia yang harus dimanusiakan. Yang penting bisa menjaga sikap maka akan betahan lama.
Stella mengangguk lalu mendesah, sorot matanya sangat sendu.
“Dia sudah bersama Anggi, karena sejak awal dia memang tidak percaya kalau aku tulus memilihnya”.
__ADS_1
“Sahabat nona waktu sekolah itu?” Stella mengangguk.
Bik Beaty hanya mendesah dan meringis percintaan anak muda memang begitu, kadang orang terdekatlah yang menjadi musuh utama. Dua wanita beda generasi itu terus saja bercerita tentang masa muda bik Beaty jaman dulu, Stella sampai lupa kalau dia lagi demam dan tentu saja yang menjadi tokoh utama juga lupa tadi di tugaskan membeli obat di apotek.
“Yah, non saya lupa mencarikan obat untuk nona, dan lihatlah buburnya juga sudah dingin".
Stella terkekeh tidak masalah jika obatnya tidak jadi dibeli tetapi melihat ekspresi Bik Beaty membuatnya tertawa karena terlalu menggemaskan bagi orang yang cukup berumur mengerucutkan bibirnya.
Setelah bik Beaty keluar dari kamar, Stella kembali merebahkan diri dia sudah tidak merasa dingin lagi, hanya hidungnya saja yang terus meler, dia melihat jam diatas nakas, sudah menunjukkan jam 9 pagi. Menghela napas panjang setelah ini dia akan kemana, dia tidak mungkin akan kembali ke kantor Boy. Pria itu terlalu berbahaya.
Sudah beberapa hari berlalu dan Stella masih saja di dalam kamarnya dia akan keluar saat lapar saja, sama seperti hari ini sudah hari ke empat dia masih saja didalam rumah.
“Non Stella sedang apa?” Bik Beaty dating dengan beberapa kantong belanjaan ditangannya.
“Stella lapar bik dan dikulkas hanya ada telur saja” Stella menunjukkan telur goring buatannya, terbilang jumbo sepertinya dia menggoreng kelima telur didalam kulkas.
Menghela napas panjang lalu melangkah masuk dengan mengancing jasnya, tungai panjang itu terus melangkah sampai didepan pintu besar bercat hitam didepannya.
Baru saja dia ingin menekan bel Stella sudah membuka pintu dan membuat Boy terkejut lalu tersenyum, Stella memang yang awalnya ingin bersantai-santai diruang tamu tidak sengaja melihatnya datang, dan memberinya sedikit kejutan juga tidak masalah.
“Stell-” belum juga dia melanjutkan ucapannya Stella sudah melangkah kedalam dan menyuruh mantan bosnya untuk masuk.
“Duduklah, biar saya bawakan minuman dulu”. Namun tangannya dicekal, membuatnya tidak jadi melangkah, Stella berbalik dan melihat tangannya yang masih dipegang oleh Boy.
“Maaf, duduklah aku tidak ingin minum apapun”. Boy melepas pegangannya, dan membawa Stella duduk bersamanya, tidak terlalu dekta namun dikatakan berjauhan juga tidak.
__ADS_1
“Apa alasanmu tidak masuk kekantor, hm? Apakah Daddymu tahu?” pasalnya Boy sudah terlanjur janji pada Tuan Mattew untuk mengajari Stella, dan dia lalai karena tidak bisa menahan perasaannya.
Stella menghela napas dan memainkan jarinya semua itu tidak luput dari pandangan Boy, dia menggenggam tangan Stella agar berhenti bersikap seperti itu.
“Apakah karena aku mengatakan perasaanku?” katanya membuat Stella memandangnya, tatapan mereka bertemu, namun setelah itu Stella kembali mengalihkan pandangannya.
“Maafkan aku, setelah ini aku tidak akan mengatakan apapun mengenai perasaanku yang akan membuatmu merasa tidak nyaman”.Boy akan mencoba, jika bukan karena janjinya pada Tuan Mattew dia tidak akan menyerah mendapatkan Stella walau dia adalah kekasih adiknya.
“Saya memang tidak ingin kembali kekantor, karena-”
“Karena apa? Aku tidak ingin alasan apapun besok kembalilah kekantor, aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama” setelah mengatakan itu Boy berdiri dan keluar meninggalkan Stella dengan wajah kesal, tercetak senyum miring disudut bibirnya setelah keluar.
Stella hanya mendengus kesal, kenapa gurunya ini selalu saja membuat keputusan sendiri dari sejak dulu. Setelah kepergian Boy dia melangkah naik ke kamarnya, tadi awalnya dia akan duduk santai disamping rumah, tetapi suasana hatinya seketika berubah.
Dia melihat ponselnya, yang sudah beberapa hari tidak diaktifkan, ia meraihnya dan menghidupkannya dengan sekali menghembuskn nafas. Dia juga tidak menyangka Jack tidak mencarinya dan menjelaskan apapun padanya. Tetapi malah kakaknya yang datang.
“Andai saja perasaanku masih sama untuknya, aku kan meninggakanmu” menatap wajah yang dia jadikan wallpaper diponselnya.
Dipeluknya dan dibawanya berbaring dengan memejamkan mata. Sakit rasanya mengingat bahwa dia bersama Anggi malam itu, bahkan sampai sekarang jika memang mereka tidak ada hubungan bukankah seharusnya dia datang dan menjelaskannya?
“Jack, aku akan membuatmu menyesal” ucapnya berapi-api lalu mencari kontak mommy dan mendeal nomer orang tuanya di London, lebih baik mengobrol dengan Mommy nya.
Disinilah Stella sekarang di ruang kerja Daddy nya setelah mengobrol dengan Mommnya dia kembali merasa bosan, jika di London jika tidak memiliki kegiatan dia akan disibukkan oleh tugas-tugas dari Daddy nya, dia memang merasa bosan tetapi tidak melakukan apapun juga lebih mmbosankan.
Suara ketukan pintu membuatnya berbalik, Bih Beaty dtang dengan tersenyum kikuk membuat Stella curiga dan mendektinya.
__ADS_1
“Ada apa bik?”
“Anu..eh..itu..ada yang nungguin non Stella dibawah” katanya dengan senyum canggung.