
Malam itu Jack benar-benar menginap di aparemen Anggi, sudah tengah malam tetapi matanya tidak juga bisa terpejam, dia memikirkan bagaimana keadaan Stella, sudah hampir seminggu dia tidak mengabari kekasihnya karena sibuk dari rumah sakit ke rumah sakit lain, belum lagi dia harus ke aparteman Anggi memastikan wanita itu tidak melakukan hak-hal bodoh lagi.
Sudah jam 11 malam, tetapi kantuknya belum juga datang, dia meraih ponselnya melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Stella dan lagi-lagi dia kecewa karena tidak ada satupun pesan yang masuk.
“Apakah dia marah karena aku tidak menepati janji dirumah sakit waktu itu?” Jack mengira bahwa Stella marah karena dia melupakan janjinya waktu itu dirumah sakit.
Baru saja dia akan menaruh ponselnya, ponsel itu bergetar, Jack kembali meraih ponselnya dan melihat nama yang dirindukannya disana, dengan senyum manis nya Jack berjalan sedikit menjauh dari Anggi.
Setelah merasa jaraknya jauh dia menggeser icon hijau dan menempelkan ponselnya ditelinga.
“Belum tidur sayang?”. Jack yang lebih dahulu bertanya. Dia sangat bahagia karena Stella akhirya menelponnya.
“Belum, kamu juga kenapa belum tidur?” terdengar suara Stella yang sedikit serak dibalik sana.
“Ada apa dengan suaramu, kamu menangis?”
Stella tidak menjawab, sebenarnya bukan habis menangis hanya saja dia seperti terserang flu, mugkin karena itu suaranya terdengar berbeda.
“Tidak, aku baik-baik saja”.
“Jack, kau disini? Dengan siapa kau menelpon tengah malam?” jack terkejut karena Anggi tiba-tiba saja berada disebalahnya, dia takut jangan sampai Stella salah paham padanya.
“Jack, kenapa diam, ayo tidur” Anggi masih tidak melihat wajah hawatir Jack karena pencahayaan memang sedikit remang.
“Baiklah, jika sudah menelpon masuklah tidur aku menunggumu didalam” Anggi melangkah pergi dengan menguap. Tadinya dia ingin mengambil air putih tetapi karena melihat Jack berdiri disana membuatnya penasaran dengan siapa dia menelpon malam-malam begini.
Sementara itu dibalik ponsel Stella jelas-jelas mendengar semuanya, dia bahkan tahu suara siapa disana yang dengan jelas meminta kekasihnya masuk tidur didalam. Hatinya sakit, sungguh jika dia memang menjadikan Jack pelarian kenapa sakitnya seperti ini.
“Hallo, say-..”
“Jadi kalian sudah tinggal bersama? Ini alasanmu tidak mengabariku selama ini Jack?” Stella menumpahkan kekesalanya, dia mengingat semua, bagaimana Jack membalas pelukan Anggi, membawa Anggi kedalam mobilnya dengan menggendongan dan sekarang mereka tidur sekamar.
“Sayang, tolong dengar kan aku dulu kamu hanya -”
“Hanya apa..? hanya salah paham, kamu akan mengatakan itu?”
__ADS_1
“Iya kamu hanya salah paham sayang, aku memang benar di apartemen Anggi dan mengin-”
“Sudah cukup brengsek, kau mau mengatakan bahwa kau tidur dikamarnya begitu?”. Stella menghembuskan napas pelan. Sakit hatinya sudah menggerogoti namun dia harus menyelesaikan ini.
“Aku tidak percaya bahwa kamu akan menghianatiku, apakah selama ini kamu tidak percaya dengan keputusanku memilihmu?”
Jack hanya diam, dia akan mendengarkan semuanya, dia akan membiarkan Stella menumpahkan semua rasa kesalnya setelah itu dia akan memberikan penjelasan dan mereka akan berbaikan kembali. Fikirnya
“Aku memang pantas di curigai, kamu, Joshua bahkan kakakmu yang menyebalkan itu juga mengatakan bahwa aku hanya menjadikanmu pelarian saja”.
Stella terdengar tertawa miris dari balik benda pipihnya, Jack bisa merasakan bahwa kekasihnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Empat tahun Jack, empat tahun aku belajar mencintaimu dari jauh, apakah kau kira selama disana aku memikirkan orang lain selain dirimu?”
“Kau mungkin tidak akan percaya, setelah kakakmu menolakku hari itu aku memang sangat sedih tetapi aku lega karena akhirnya aku tahu bahwa yang aku rasakan padanya hanyalah suka biasa”.
“Aku memupuk cintaku untukmu sampai aku benar-benar yakin bahwa hatiku memang menginginkamu".
Setelah mengatakan itu Stella terdiam, jelas dia sangat kecewa sekarang, dia menjaga hatinya selama empat tahun tetapi Jack tidak mempercayainya. Tidak masalah jika orang lain menganggapnya hanya membual karena dia hanya ingin Jack dipihaknya. Tapi nyatanya perasaan pria itu tidak seperti yang dia harapkan.
“Sayang maafkan aku”
“A-apa, tidak- tidak jangan main-main, aku ti-”
Sambungan terputus, Jack menatap nanar layar ponselnya yang berubah menjadi gelap.
“Stella.. hallo..Aggghhh..” Jack menarik kuat rambutnya, dengan langkah lebar dia kembali kekamar Anggi tampa mengetuk dia langsung masuk dan mengambil jas kebesarannya yang tersampir diatas sofa.
“Jack ada apa? Apa yang terjadi?” Anggi mendekat karena melihat wajah Jack yang semakin dingin adan datar, “Apa yang terjadi?” batinnya.
“Maafkan aku, tapi aku harus kembali sekarang” Jack baru saja akan keluar dari pintu tetapi Anggi sudah memeluknya dari belakang.
“Anggi apa yang kau lakukan?” desisnya.
“Apakah Stella yang menelpon? Apalah dia marah karena kau bersamaku?” Tanya nya namun masih memeluk erat dipinggang Jack menempelkan kepalanya di bahu kokoh itu.
__ADS_1
“Jack hanya malam ini, setelah itu aku akan pergi dari kehidupan kalian, aku akan kembali besok kerumah ayah dan ibuku”. Mendengar itu Jack melepaskan pelukan Anggi dan berbalik menghadapnya.
Saat mata mereka sudah saling berhadapan Anggi membenarkan perkataannya, dan dia meminta sekali lagi agar Jack tetap bersamanya malam ini. Hanya malam ini. Melihat keseriusan Anggi membuat Jack ankhirnya mengangguk dan membawa Anggi kembali kekasurnya.
Membaringkannya dengan pelan lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dia masih duduk dipinggir kasur, menepuk nepuk pelan kening Anggi agar segera terlelap.
Dia masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Stella bahwa wanita itu hanga salah faham.
Namun sayang, semakin dia memikikannya semakin tidak tenang hatinya, dia baru saja diputuskan.
Melihat Anggi yang sudah terlelap, Jack berdri dan melangkah kearah sofa mendudukkan diri dan bersandar dengan mendongakkan kepala.
Malam itu Jack tidak bisa memejamkan mata, dia terjaga sampai pagi, wajahnya pucat dan kepalanya sangat sakit. Dia melihat Anggi yang baru saja menggeliat dikasurnya, Jack mendekat dan memeriksa suhu tubuh Anggi, sudah normal tidak seperti beberapa hari yang lalu.
Hal itu wajar terjadi, karena terlalu banyaknya tekanan dalam tubuh bisa membuat demam mendadak. Dan Anggi mengalaminya, entah apa saja yag wanita itu fikirkan.
“Sudah bangun?” kata Jack yang sudah melihat mata Anggi terbuka sepenuhnya. Saat memeriksa tadi mata Anggi masih tertutup. Anggi yang belum tersadar sepenuhnya walau matanya sudah terbuka terkejut dan matanya terlihat melotot.
“Jangan bilang kau terkejut, kau lupa siapa yang memintaku tinggal semalam?”. Mendengar itu Anggi cengir dia memang lupa.
Dia melihat wajah Jack yang sedikit berubah, lingkar hitam dibawah matanya sangat jelas terlihat. Lagi wajah putihnya semakin kentara.
“Apakah dokter juga bisa sakit?”. Anggi bangun lalu berdiri dengan lututnya diatas kasur sekarang dia sudah berada di depan Jack dan memegang kening pria itu yang memang terasa hangat.
Jack demam.
“Singkirkan tanganmu, aku baik-baik saja” Jack menepis tangan Anggi tetapi wanita itu malah memeluk lehernya membuat Jack melotot.
“Kalau begitu begini saja” Anggi meletakkan wajahnya di dada Jack dan tangannya turun memeluk tubuh kekar yang sangat hangat itu.
“Anggi..”
“Hm, diamlah, kau berisik sekali hanya memeluk saja aku tidak akan memintamu menciumku’.
Jawabnya membuat Jack segera melepas pelukan mereka, tentu saja Anggi yang tidak siap hampir saja terjatuh karena posisinya sangat dipinggir.
__ADS_1
“Woah…”
Hampir saja, untung Jack dengan sigap menangkapnya dan setelah itu mata mereka saling mengunci, jantung Anggi berdekat sangat kuat, tatapannya tertuju pada bibir tipis Jack yang merah alami, dengan gerakan pelan dia mendekatkan wajahnya semakin dekat dan..