
Disepanjang jalan pulang Stella terus saja menangis. Dia mengingat bagaimana kejamnya. Ucapan Pak Boy padanya.
"Aku tidak pabtas untuknya, katanya?" Gumamnya sambil terisak
"Aarrgh....kau bodoh Stell...bodoh..". Dia mengumpat dirinya sendiri. Masih dengan air mata yang terus meleh di pipinya.
Ia memandang keluar jendela mobil, matanya aembab. apa yang harus dia katakan kalau mommy nya melihatnya sekacau ini. Lantas ia meminta supir untuk mengantarnya ke rumah Anggi. Ya dia akan disana sampai dia merasa lebih baik.
Sampai didepan halaman rumah bertingkat dua itu, Rumah bercorak klasik itu sangat mewah, sama dengan mewahnya rumah Stella, hanya saja Stella tidak suka memperlihatkan ke orang lain bahwa dia memiliki apapun. Bahkan dia lebih memilih berjalan kaki ke sekolah dari pada menggunkan jasa supir.
Anggi yang melihat Stella langsung menyambutnya dan membawanya kekamar, menelisik penampilan sahabatnya yang terlihat sangat kacau dengan mata sembab, hidung dan pipi memerah karena terlalu lama menangis.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya sambil menyodorkan air minum ke arah Stella yang sudah duduk di pinggir kasur berwarna biru muda itu.
Menghela nafas panjang, dan membaringkan tubuhnya diatas kasur dengan kaki masih bergantung. "Aku ditolak". Jawabnya singkat membuat Anggi membulatkan mata dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"What....? Kau...maksudku kau mengatakan perasaanmu padanya? Kau waras? Wah bagaimana ini kau melakukannya? Anggi sangat panik, dia terus mencerca Stella dengan banyak pertanyaan. "Oh ya ampun Stella.....kau melakukannya?". Anggi mondar mandir dia tidak percaya ini.
"Yah..aku mengatakannya dan dia mengatakan aku tidak pantas untuknya". Stella kembali terisak. Membuat Anggi semakin kebingungan.
Sedang ditempat lain, pria dewasa dengan karisma yang memukau itu tengah duduk diam didalam ruang kerjanya didalam mansion mewahnya. Tatapannya datar. Sesekali dia memijit pangkal hidungnya. setelah merasa lebih baik dia menghadap ke arah sofa dimana seorang pemuda yang sama gagahnya tengah duduk dengan santai dengan ponsel ditangannya.
"Sudah sore,.kau tidak kembali kerumah Joshua?". Tanya nya pada adikhya. Jackob.
__ADS_1
"Bukankah kakakku yang tampan ini yang menginginkan ku pulang, tapi kenapa sekarang kau seolah mengusirku". Dia mendengkus kesal. Tapi dia tidak akan pernah bisa marah pada kakaknya.
"Jack, aku memanggilmu seminggu yang lalu saat daddy masih di sini". Boy sangat kesal. Bisa-bisanya adiknya sangat santai membiarkan Ayah mereka menunggu, bahkan saat di cari ditempat Joshua pun dia tidak disana. Diamana lagi dia kalau bukan bertamu di rumah Stella, dan Boy tidak mungkin menyusulnya kesana. Oh itu tidak akan mungkin. Mengingat bagaimana anehnya gadis manis itu. Yah Boy mengakui Stella sangat manis.
"Kak..ayolah, jangan membuatku terus merasa bersalah karena tidak menemani Daddy disini. Kau kan ada". Jawabnya acuh.
Boy hanya diam, menghela nafas. Adiknya memang keras kepala, namun dia juga tidak bisa terlalu menekan. Asalkan baginya Jack ditempat yang aman itu tidak masalah. Dia masih bisa memantau pergerakan adiknnya dari jauh.
"Sudahlah...kembalilah ke kamarmu, aku harus istrahat" Usirnya dengan gerakan tangan.
"Oke, oh ya karena sudah libur, aku memutuskan tinggal bersamamu".
Perkataan Jack membuat Boy berbalik dan menatap lekat adiknya. akhirnya anak ini mau pulang, setelah beberapa bulan lama nya tinggal dirumah Joshua. Bahkan saat ditanya alasannya dia tisak mengatakannya, dan sepertinya Boy tahu, Stella penyebabnya.
"Tidak ada". Jack keluar dari kamar kakaknya menampilkan senyuman misterius dibibirnya, membuat Boy merinding melihat tingkah adiknya.
Malam hari. Sehabis makan malam Stella dan Anggi kembali ke kamar. Maksudnya ke kamar Anggi, Ya Stella masih dirumah Anggi. Tadi dia sudah meminta izin orang tuanya akan menginap. Karena ingin menghabiskan waktu sebelum mereka pergi. Ya Stella dan Keluarganya akan ke luar negeri. Stella akan meneruskan sekolah disana. sebenarnya dia tidak ingin. karena dikotanya disini di Indonesia dia memiliki alasan untuk tetap tinggal. Tetapi ternyata orang yang membuatnya ingin tinggal tidak menginginkannya.
"Kau benar-benar akan pergi?" Tanya Anggi melihat sahabatnya yang masih memainkan ponselnya.
"Hm, harus, Daddy ku akan meneruskan perusahaan yang ditinggalkan oleh kakekku disana. Yah di London. Sebenarnya aku tidak ingin tetapi...."
"Karena Pak Boy di kota ini?" Stella mengangguk.
__ADS_1
Anggi memeluk sahabatnya. Menguatkan dan memberi dukungan agar sahabatnya semakin kuat.
"Aku pasti akan merindukanmu" ujar Anggi melepas pelukan mereka.
"Apakah Jack tahu? Aku yakin saat dia mengetahui kau akan pergi dia akan histris" Anggi tertawa, membayangkan bagaimana kehilangannya Jack nanti. Dia sangat tampan bahkan ketampanan Jack diatas rata-rata tetapi tingkahnya, tidak mencerminkan bagaimana seharusnya pemuda tampan pada umumnya yang cool dan datar.
"Tidak, besok aku akan menemuinya, semoga saja dia belum kembali bersama Daddy nya.
Dua sahabat itu bercerita banyak hal malam itu. Karena setelah kepindahan Stella. Mereka mungkin akan lama lagi bertemu.
Dari malam menjadi pagi. Matahari bersinar cukup cerah hari ini, Stella kembali setelah sarapan dirumah Anggi. Tante Lisa mama Anggi sudah seperti orang tua baginya. Jadi Stella merasa nyaman disana.
Stella langsung pulang, dia memesan taksi online dan menuju kerumah Joshua. Dan dia tidak mendapatkan Jack disana hanya ada Joshua yang terlihat baru bangun dari rambut dan pakaiannya.
"Dia sudah kembali kerumahnya dua hari yang lalu, Dia tidak mengatakannya padamu?".
Stella menggeleng dan sekalian berpamitan ke Joshua karena besok dia juga akan pindah ke London. Dan jelas membuat Joshua ternganga, karena dia sangat terkejut, dia tidak pernah mengira bahwa Stella akan pergi, Lagi mereka berempat sudah sepakat akan kuliah di tempat yang sama di surabaya kan.
"Jadi kau akan pergi besok? Wah ini berita besar, bagaimana aku akan mengatakan ke anak yang lain kalau primadona disekolah kita akan pindah". Joshua memegang kepalanya berfikir keras, membuat Stella hanya menggeleng-gelengkan kelapa, dan setelah lama berbincang, dan memberi satu pelukan untuk Joshua dia berbalik dan pulang
"Stella...kau memelukku untuk pertama dan terakhir kalinya, aku tidak akan mencuci bajuku". Haru Joshua kemudian berlari ke kamarnya. Sangat menggelikan.
Sampai dirumah Stella, langsung mencium pipi mommy dan daddy nya yang berada di halaman belakang. setelah itu langsung naik kekamar dan membereskan barang-barang yang harus mereka bawa. Tidak semua karena mereka sesekali akan kembali ke indonesia. Dia melihat sekeliling kamarnya, yang penuh dengan warna merah muda, rasanya sangat berat meninggalkan kamar yang sudah 17 tahun dia tempati. Tetapi dia juga tidak ingin jaih dari Daddy dan Mommy nya bisa saja sebenarnya dia tidak ikut, tetapi harus jauh dalam jangka waktu lama dengan orang tuanya. Stella tidak akan sanggup.
__ADS_1
Mengehela nafas pelan dan membaringkan diri di kasur, memejamkan mata tetapi fikirannya melayang jauh, membayangkan senyuman manis pria yang menolaknya. "Dasar guru menyebalkan". Gerutunya lalu menutup wajahnya dengan bantal.