
Malam hari ini, seperti yang Stella minta Boy datang menjemputnya sebelum jam delapan, dalam sebulan ini memang mereka sudah banyak perubahan dalam hubungan mereka.
Terdengar heels Stella yang runcing menggema menuruni tangga, Boy sempat melihatnya denan sangat takjub, gadis itu menggunakan gaun hitam sebatas mata kaki dengan belahan di atas lutut, serta bentuk leher rendah dan tanpa lengan, memamerkan punggung putih dan mulus.
Stella menyanggul ramputnya dengan rapi, tidak sebenarnya Bi Beaty yang melakukannya. Enampilannya malamini membuat Boy tidak ingin membawanya keluar karena gadis ini terlalu sempurna jika harus di tatap oleh orang lain.
“Bapak kenepa? Jadi atau tidak?” Stella menegur karena sejak tadi Boy hanya diam menatapnya tanpa kedip.
“Kenpa berpenampilan terlalu cantik,” jujur bagi Boy penampilan Stella terlalu cantik.
“Bukankah seharusnya lebih cantik dari tunangan bapak? Ayo. Atau kita batalkan,” sebenarnya Stella juga tidak ingin pergi tetapi di rumah akan membuatnya bosan.
Karena Stella sudah berjalan lebih dulu, akhirnya Boy juga berjalan di belakang mengikuti gadis yang pernah terang-terangan mengatakan cinta untuknya, dan bodohnya Boy karena saat itu tidak menerima.
Di dalam mobil Stella hanya diam memandang keluar jendela, lampu-lampu jaan sedikit mengobati luka hatinya, sudah sebulan lebih dia berusha menahan rasa rindunya untuk Jack tetapi sampai sekarang bukannya menghilang rindunya semakin menumpuk dan itu mengganggunya.
“Kau kenapa? Gugup?” tanya Boy karena sejak masuk ke dalam mobil Stella hanya diam. Di lihat dari samping wajah wanita ini semakin membuatnya berdebar. Dalam hati Bo mengumpat dirinya sendiri karena sudah melakukan kebodohan 4 tahun lalu.
“Kenapa harus gugup, aku kepesta bukan ke ruang pengadilan,”
Boy hanya tertawa karena jawaban random Stella. Sambil mengangguk Boy bertanya bagaimana kehidupannya di London selama ini, ini adalah kesempatan baginya karena bisa se akrab ini dengan Stella.
“Baik, di sana lebih menyenangkan menurutku,” jawabnya jujur.
“Lalu kenapa memilih tinggal di Indonesia lagi? Karena Jack?” Boy berharap jawabannya adalah demi dirinya, sampai kapanpun dia akan berharap Stella kambali meliriknya.
Terlihat Stella mengangguk kecil dengan senyuman kecil di bibir tipisnya, hati Boy tentu saja mencelos kecewa, bukan jawaban ini yang dia inginkan.
“Aku kembali untuknya, tetapi sayangnya dia memilih bersama wanita lain,” terdengar tawa sumbang Stella semakin membuat hati Boy tidak suka. Jelas dia bisa melihat bahwa Stella sangat tulus dengan perasaannya.
“Sejauh ini aku menyadari bahwa dia tidak pernah percaya dengan perasaanku, bapak, Joshua bahkan Anggi wanita yang ternyata diam-diam menyukai Jack, meragukan perasaanku.”
__ADS_1
Menghela napas panjang, Stella melihat ke arah Boy yang hanya diam mendengarkan penuturannya. Terlihat luka di sana tetapi Stella mengabaikannya, jika Stella yang dulu sudah pasti saat ini akan kegirangan karena bisa duduk bersama dengan pria yang di taksirnya tetapi, Tuhan maha membolakkan hati, dia bahkan tidak meyangka bahwa dia mencintai sahabatnya.
Sampai di parkiran Stella turun saat Boy sudah membukakan pintu untuknya, mereka berjalan bersama, seperti sepasang kekasih. Jelas mata-mata di sana penasaran dengan sosok cantik yang datang bersama mantan tunagan Ivana.
“Apakah dia gadis yang membuat Boy membatalkan pertunangannya dengan Ivana?” bisik wanita berambut keriting tidak jauh dari tempat Ivana berdiri. Jelas Ivana mendengarnya, dia mengapalkan tangan kuat, karena Boy berani membawa kekasih adiknya.
“Selamat ulang tahun nona Ivana,” ucap Stella ramah dan memberikan hadiah kecil di atas meja yang memang sudah di siapkan untuk siapa saja yang menyiapkan kado untuknya.
Melihat kado yang sangat kecil membuat Ivana tersenyum remeh karena sudah menebak hadiah apa yang Stella berikan, Stella sadar dan dia mengabaikannya. Menurutnya itu pantas untuk Ivana terima.
Ivana berjalan ke arah Boy memeluknya dan tersenyum hangat, untuk pria yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap harinya.
“Selamat ulang tahun, kau terlihat sangat cantik,” puji Boy membuat wajah putih Ivana bersemu merah.
“Terima kasih, kau juga selal tempan,” Stella memutar mata malas karena dia tidak di anggap sama sekali. Sangat menyebalkan.
“Pak saya akan kesana sebentar, tinggallah bersama nona Ivana,” Stella masih bersikap sopan karena tidak ingin reputasi Boy rusak jika dia harus berbicara santai seperti biasa.
“Aku tidak tahu kau akan membawa kekasih adikmu Boy,” sinisnya tidak suka setelah Stella terlihat menjauh.
“Apa masalahnya?” jawab Boy acuh.
“Kau memang keterlaluan, kau lihat para wanita disana menggosipiku karena kau datang dengannya,” Ivana sangat kesal karena Boy tidak juga mengerti.
“Jangan dengarkan mereka,”
Selama Boy dan Ivana bercerita banyak, dua pasang pria dan wanita terlihat memasuki ruangan, prianya yang terlihat tidak kalah tampan dari tunangan Ivana, dia Jack datang bersama Anggi. Entah bagaimana ceritanya ada mereka di sana tetapi sempat membuat Boy juga terkejut karena adiknya juga di sini sementara dia membawa Stella bersamanya.
Kedua saudara itu saling berpelukan, mereka sudah seminggu tidak bertemu karena lagi-lagi Jack menempati Apartemennya.
“Pulanglah sekali-kali, kamarmu bisa berjamur,”
__ADS_1
“Setelah mengantar Anggi aku pulang.” Anggi terlihat canggung karena Boy seperti biasa mengabaikannya.
Melihat kedekatan Jack dengan wanita di sampingnya membuat Ivana menduka bahwa inilah penyebab Boy membawa Stella bersamanya, apakah mereka putus? Jika benar maka dia semakin terancam mendapatkan Boy. Tetapi tidak ada salahnya dia membuat Stella hancur.
Senyuman iblis tercetak di bibir penuhnya yang berwarna merah menyala saat melihat Stella mendekat kearah mereka.
“Kalian terlihat sangat serasi,” ucap Ivana, dia yakin Stella mendengarnya tetapi tidak mengetahui siapa pria yang berada di depannya, karena Jack dan Anggi membelakanginya.
“Terima kasih,” suara Jack membuat langkah Stella yang sudah di belakang Jack berhenti, Ivana tersenyum senang karena bisa membuat wajah gadis itu pucat.
“Ah, Stella kemarilah ada Jack juga disini,” ucap Ivana polos membuat ketiga orang yang membelakangi Stella mematung. Jack tidak bisa menahan degup jantungnya, dia merindukan wanitanya.
Jack memutar badan dan melihat Stella yang menunjukkan wajah datarnya, pakaian yang Stella pakai sangat seksi di mata Jack dan dia tidak suka tubuh kekasihnya di lihat oleh banyak mata.
Ya Jack masih menganggap bahwa Stella masih kekasihnya. Jack mendekat membuat Stella mundur dan berbalik. Tetapi Jack tidak akan melepaskannya sekarang, dia mengabaikan panggilan Anggi di belakangnya.
“Sayang. Tunggu!” Jack tetap mengejar Stella yang berjalan sangat cepat di depannya.
Dengan sekali tarikan Jack dapat meraih tangan Stella dan membawanya dalam pelukannya, Stella terlihat memberontak tetapi kekuatan Jack tidak sebanding dengannya.
“Tenanglah hem, ini aku sayang.” Jack tetap tidak melepaskan pelukannya, semakin Stella memberontak semakin kuat pelukannya.
“Lepaskan aku!”
“Tidak! Selama kau masih bergerak,” Stella tidak lagi bergerak seperti tadi membuat Jack melonggarkan pelukannya.
Plakk!
Satu tamparan mendarat di wajah tampan Jack, tetapi hati Stella yang sakit. Jack hanya diam melihat air mata Stella yang mengalir di depannya, dia tidak salah melihat masih ada cinta di mata kekasihnya.
“Jauhi aku, Jack.”
__ADS_1