
Ruangan yang biasanya dingin, berubah menjadi panas, udara menipis, kedua pasang mata itu saling mehatap lama, Stella yang terjebak dibakik meja dengan Boy yang berada di depannya, meyangga tubuh dengan tangan di atas meja membuat jantung keduanya berpacu kencang.
"Pa-pak, tolong menying-kir". Ucap Stella terbata, dia tidak bisa bernafas, pasokan udara disekelilingnya menipis. Bahkan nafas hangat Boy terasa hangat menyapu wajahnya.
"Kenapa harus?". Boy semakin mendekatkan wajah, memperhatikan mata indah itu terpejam membuatnya tersenyum. Apalah Stella setakut itu.
"Saya mo-hon".
Mendengar itu akhirnya Boy menyingkir munndur kebelakang dengan langkah pelan. Dia masih memperhatikan wajah Stella yang pucat karena ulahnya.
Stella belum menyadari bahwa Boy sudah kembali ke kursinya, namun dia masih saja menutup mata dengan perasaan kacau.
"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?" Stella membuka mata dan melihat sekeliling, sial dia dikerjai.
Menghela nafas panjang, kemudian berbalik ke arah sang atasan yang tidak lain adalah calon kakak iparnya.
Stella berdehem menetralkan degup jantungnya. Dia bingung sekarang, jika tetap berada disini dia hawatir pak Boy akan melakukan hal aneh, tetapi jika mundur Daddy akan kecewa.
"Tuan, apakah saya diterima?".
Boy melihatnya degan tatapan datar. Kemudian megangguk. Stella bukannya lega, tapi malah hawatir.
"Ruangan saya dimana?". Boy masih belum mengeluarkan suara. Dia menatap wajah Stella lalu teringat wajah Jack.
"Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Jack?" Pertanyaan Boy yang tidak masuk dalam point interview membuat Stella mengerutkan dahi namun dia menjawab dengan jujur.
"Baik Tuan, saya mencintainya seperti dia menci-"
"Cukup". Jawaban Stella membuat hatinya nyeri, dia salah bertanya. "Baiklah, karena kau sudah berada disini sekarang buatkan saya kopi".
"Ko-kopi?". Boy mengangguk mantap.
Stella tersenyum walau didalam hatinya merasa dongkol, Stella melangkah menuju pantry didalam ruangan tersebut. Memang ruangan Boy memiliki pasilitas lengkap didalamnya.
Kopi buatan Stella sudah jadi dan sudah bertengker di atas meja kerja bosnya, namun pria itu tidak juga menyentuh kopi tersebut.
Lama ditatap seperti itu membuat Stella risih, dia sudah lelah berdiri sejak tadi, tetapi pria didepannya tidak juga menawarkan duduk ataupun memberi tahu dimana ruangannya.
__ADS_1
"Tuan, saya sudah berdiri sejak tadi saya in-".
"Kalau begitu duduklah".
What, jawaban apa itu? kenapa pria didepannya tidak juga berubah? Saat sekolah juga dia selalu dibuat dongkol, tapi dulu apapun yang Boy lakukan akan indah bagi Stella karena dia mencintainya, dan sekarang?
Dia tidak suka dipermainkan seperti ini.
Tidak suka.
Haruskah dia mengatakannya?
Oh, sial sekali.
Karena susah lelah berdiri Stella memutuskan untuk duduk di sofa, dia menghadap lurus ke kaca besar di depannya, dari sini dia bisa melihat pemandangan kebawah.
Indah.
Ruangan Boy bisa dikatakan sangat besar, ada kamar pribady dibalik tembok, juga ada pantry, semalaman disinipun tidak akan merasa bosan. Fikirnya.
Sudut bibir Stella membentuk lurus, Boy bisa menangkap itu walau sejak tadi dia sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.
Mengehembuskan nfas berat. "Dad, Stella akan minta pertanggung jawaban". Bantinnya dengan senyum tipis.
Sejak tadi didalam ruangan itu tidak ada satupun yang bersuara, hening, hanya beberapa kali terdengar suara kertas yang dibalik-balik.
Kemudian suara ketukan pintu membuat Stella menoleh, saat melihat seorang wanita cantik berambut hitam sepundak masuk setelah mendapat persetujuan dari Boy.
Stella memperhatikan dari atas sampai bawah, dress yang dipakai wanita itu, berwarna hitam, sebatas paha, dengan leher rendah sehingga sangat mudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.
"Hai, sayang". Ivana melangkah maju, ke arah Boy yang masih duduk di kursinya. Wanita itu mendekat dan mengecup pipi Boy dengan gemas.
Stella hanya memperhatikan dengan rasa tidak enak karena tertangkap basah melihat sepasang kekasih bermesraan. Dia menoleh agar tidak melihat adegan selanjutnya.
Ivana sudah duduk dipangkuan Boy dan mengalungkan tangan mulusnya di leher Boy.
Ivana melihat kemana arah mata mantan tunangannya, dia mengerutkan kening karena tidak menyadari kehadiran wanita di dalam ruangan ini tadi.
__ADS_1
"Dia siapa?". Ivana berdiri dan melangkah ke arah Stella yang sudah berdiri juga. Setelah sama-sama dekat Ivana bisa melihat wanita didepannya sangat cantik, siapa dia? dia melirik ke arah Boy yang berjalan mendekat padanya.
"Dia-".
"Perkenalkan, Saya Stella". Stella memotong ucapan Boy, Ivana mengerutkan kening melihat Stella seperti ancaman baru, dan Stella bisa melihat itu "Saya kekasih Jack Nona, anda jangan salah faham". Stella meluruskan dia tidak akan membiarkan dirinya dalam masalah karena kesalah fahaman.
"Jack..?". Terlihat senyum Ivana mengembang saat menyebut nama adik mantannya. Stella mengangguk dan mengabaikan tatapan datar Boy. Biarkan saja pria itu kesal.
"Saya harap Nona tida salah faham nantinya karena lebih sering melihat saya diruangan kakak ipar".
Stella terkekeh, Ivana yang merasa bahagia juga terkekeh, dia awalnya mengira bahwa Stella ancaman karena tataon Boy sangat berbeda, namun saat melihat sorot mata Stella dan kejujurannya, dia tidak akan hawatir lagi.
"Tuan, dimana ruangan saya?". Stella kembali menatap Boy yang wajahnya sudah memerah, tapi Stella tidak perduli. Tidak ada alasannya dia menolaknya sebagai ipar.
Karena lelah, akhinya Boy memberi tahu dimana ruangan Stella, dia memanggil Lucas untuk membawa Stella diruangannya.
Stella menghembuskan nafas lega, akhirnya dia bisa keluar dari ruangan panas tadi. Lucas memperhatikan Stella yang menurutnya sangat cantik. "Maaf Tuan, anda akan melihat saya sampai kapan?"
Stella mulai jengah, dia sudah duduk di kursinya tetapi pria tampan didepannya masih saja berdiri menatapnya dengan tatapan aneh.
"Maafkan saya". Lucas menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Saya Lucas, asisten Tuan Boy"..
Stella menyambut uluran tangan itu, walau sebenarnya dia bisa melihat niat Lucas padanya.
"Mau makan siang bersama?" ajaknya yang di angguki langsung Stella, dia memang lapar dan merindukan suara kekasihnya. Mungkin ini kesempatan untuknya menelpon.
Mereka berdua berjalan bersama dan memasuki lift, namun sebelum pintu tertutup, Sosok yang tidak ingin dia lihat berada diluar dan juga masuk bersama kekasihnya.
"Siang Bos". Lucas menunduk hormat. Dia sebenarnya ingin memanggil atasannya tadi tetapi karena mengetahui Ivana didalam dia mengurungkan niat, dia tahu bagaimana Ivana yang tidak suka diganggu saat bersama Boy.
"Kau ingin dipecat?". Menatap tajam ke arah Lucas. Dia tidak suka Lucas terlalu dekat dengan adik iparnya.
"Maafkan saya, Bos".
Ivana melerai kemarahan Boy dengan menepuk lembut lengan kekasihnya. Stella bisa melihat mereka sangat cocok.
Wanita itu terus bergelayut manja, tidak memperdulikan didalam ada dirinya dan Lucas. Mereka benar-benar pasangan yang cocok.
__ADS_1
Satu aktif dan satu fasif.
Stella hanya tertawa kecil melihat pemandangan didepannya. Membuat Boy menatapnya tidak suka.