
Seketika amarah Stella memuncak, dia jelas mendengar bahwa wanita itu jelas-jelas mengatai dirinya, berani-beraninya dia. Stella yang hendak akan masuk melihat Joshua menghampirinya.
Joshua memintanya untuk ikut dengannya, Stella sebenarnya menolak tetapi berlama-lama disana akan membuatnya semakin emosi.
"Kau bawa makanan?" Joshua bertanya sekarang, mereka berada di ruangan Joshua karena Jack akan mengunci Ruangannya saat akan keluar memeriksa pasiennnya.
"Makanlah, aku memang membawanya untukmu". Stella menyerahkan dua paper bag berisi makanan dan satunya berisi minuman.
Joshua menerima, ada tiga kotak didalam, dia tahu keduanya untuk siapa tapi dia sengaja tidak membahasanya.
"Kudengar, kau bekerja bersama kak Boy?"
"Benar, aku tidak tahu Dad, akan mengirimku diperusahaannya". Stella menghembuskan nafas berat.
"Kau tidak suka? Bukankah dulu kau mengejarnya disekolah?" pancing Joshua, dia ingin tahu apakah Stella memilih kakak atau adik.
"Kalau aku Stella yang dulu sudah pasti sudah senang, tapi tidak untuk sekarang".
"Kenapa?" Joshua masih belum percaya, Stella melupakan Boy.
"Kenapa kau ingin tahu?". Selidiknya, Stella yakin Joshua punya maksud lain.
Joshua berdecak, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia tidak percaya pada Stella, bagaimanapun dia akan selalu di pihak Jack. Joshua memakan makanannya, dia mengabaikan tatapan tajam Stella, gadis ini benar-benar membuatnya jantungan. Kalau Jack lihat dia akan mendapatkan hadiah di wajah.
Stella melihat jam di pergelangan tangannya, dia harua kembali orang tuanya akan berangkat besok dan dia tidak membuang waktu bersama mereka.
Stella berdiri, membuat Joshua menghentikan makanannya "Mau ke ruangan Jack? duduklah, aku bisa menelponnya untukmu".
Baru saja Joshua meraih Ponselnya, Stella menghalangi "Aku akan pulang, makanlah". Setelah mengatakan itu Stella berlalu dan menghilang dibalik pintu, namun Joshua tetap menghubungi sahabatnya.
Diperjalanan pulang Stella masih memikirkan perkataan Anggi, yang mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura mencintai Jack, lagi Joshua? Apakah Joshua juga berfikir hal yang sama?
Anggi, Joshua, dan Boy kenapa mereka semua tidak percaya? Apakah karena dulu dia pernah menyukai Boy dengan sepenuh hati? Dan sikap Jack selama ini dia juga merasa bahwa kekasihnya juga tidak sepenuhnya percaya.
Sampai dirumah, Stella langsung naik ke kamar, membersihkan diri, sudah sangat sore, dia menghabiskan banyak waktu dirumah sakit habya untuk mendengarkan Jack dan Anggi.
Niat awal ingin mengunjungi Ayahnya di runag kerja tetapi melihat sikap Jack yang hanya diam saat Anggi memeluknya membuatnya sedikit tidak suka. bukankah seharusya Jack menolak?.
Menghembuskan nafas panjang, Stella meraih ponselnya, dia yakin yang menghubunginya adalah Jack karena mengingat dia kerumah sakit tadi.
Stella meletakkan ditelinga, dan otomatis panggilan akan terhubung, matanya masih terpejam dia tahu walau tidak membuka mata, ini Jack.
"Ya sayang".
__ADS_1
"Sudah dirumah?". Mendengar suara lain dibalik layar membuat Stella membulatkan mata dan melihat siapa penelponnya. Nomer diketahui.
"Stella...kau mendengarku?"
"Tu-tuan Bo- Boy?".
"Ya ini aku, dan berhenti memanggilku Tuan". Stella menghela nafas, dia hanya terkejut tadi. Dia kembali meletakkan ponsel ditelinganya.
"Ya kakak ipar, saya sudah dirumah". Jawabnya malas.
"Aku bukan kakak iparmu, Stella". Tekannya
Stella berdecak pria tua ini sangat menyebalkan. "Baiklah, saya harus memanggil apa? Bapak?".
Terdengar geraman Boy dari balik sana membuat Stella bergidik ngeri. "Katakan kenapa bapak, Tuan, kakak ipar, menelponku". Katanya menyebut semua panggilan yang cocok untuk Boy.
Dibalik sana Boy sudah jengah, bagaimana harus mengatakan bahwa gadis itu hanya harus memanggilnya nama saja.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, dan kau tidak boleh menolak".
Tidak boleh menolak katanya, bukankah ini pemaksaan?
"Mm.. baiklah, aku akan mengatakan pada Jack". Stella memutuskan panggilan, lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Dimana dia?".
Dirumah sakit, Jack belum juga kembali ke ruangannya, dia bahkan lupa Stella akan datang berkunjung, setelah dari ruangan Anggi dia keruangan lainnya, bahkan sampai melakukan perjalanan kenrunah sakit lain yang maaih dalam kota tersebut.
Joshua yang satu rumah sakit dengannya pun, tidak melihat dimana keberadaan temannya, untung saja seorang perawat yang bersamanya memeriksa Anggi, mengatakan bahwa Jack kekuar untuk urusan pekerjaan.
Jack kembali ke rumah sakit saat sudah jam delapan malam, dia sangat lelah, namun seorang kembali memanggilnya karena Anggi mencoba untuk menyakiti dirinya.
"****!". Umpatnya dan berlari ke arah ruangan Anggi. Dia bisa melihat sebelah lergelangan Anggi terluka, gadis itu benar-benar menyakiti dirinya.
Jack mendekat, dan berjongkok di depan Anggi yang terlihat sangat putus asa "Kembalikan". Jack meminta benda tajam yahg Anggi gunakan.
"Jangan menghalangiku".
"Dengar, kau tahu apa yang kau lakukan?" Anggi hanya diam, dia hanya ingin menghilangkan rasa sakitnya.
"Kau tidak sayang dirimu? Kau tidak sendiri masih ada aku, Joshua dan Stella juga sudah kembali, kita berempat akan kembali bersama, hm". Jack masih membujuk.
"Tidak, biarkan saja aku pergi". Anggi terisak, dia sudah hancur, tidak ada yang tersisa, ayah ibunya bahkan Jack akan bahagia bersama Stella.
__ADS_1
"Percaya padaku, kami akan selalu ada untukmu".
Jack mencoba mengambil benda itu dan dia memanfaatkan kelemahan Anggi, mata mereka saling menatap dan dalam sekejap saja benda berbahaya itu sudah berpindah tangan.
"Kau dengar, jangan menganggap dirimu sendiri, kau masih memiliki kami semua". Jack membawa Anggi dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menagisi nasip sialnya.
"Jack...". Anggi mendongak, melihat mata indah itu.
"Katakan".
"Terima kasih, karena kau masih mau memelukku". Anggi kembali menangis. Jack hanya tersenyum, dan membawanya duduk diranjang rumah sakit. Jack memanggil perawat yang sedari tadi berdiri menyaksikan mereka untuk mengobati luka di tangan Anggi.
"Sekarang tidurlah, besok jika keadaanmu sudah membaik kau boleh di izinkan pulang". Anggi mengangguk.
"Jack...".
"Kqtakan saja, kau butuh sesuatu yang lain?". Anggi mengangguk.
"Boleh aku mencintaimu?". Mendengar Itu Jack hanya diam, tatapanya berubah.
"Jangan membalasnya, biarkan aku saja yang mencintaimu". Ucapnya.
"Tidurlah, jangan terlalu lelah". Jack merapikan selimut Anggi namun dengan cepat Anggi menahan tangan Jack dan menghentikannya.
"Aku bisa sendiri, kembalilah, kau lasti lelah". Anggi membalik tubuhnya membelakangi Jack, dan kembali menangis dalam diam.
Jack keluar bersama perawat. Dia memang lelah, dan dia butuh istrahat sekarang. Sampai diru agannya dia melihat ponselnya tergeletak begitu saja. Dia mengingat semuanya sekarang.
Dengan terburu dia mwngambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan dari Joshua dan beberapa dari Stella.
Satu pesan dari Stella membuatnya luruh. dan menaruh kembali ponselnya diatas meja. setelah beberapa lama diam, dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Lalu berlalu meninggalkan rumah sakit.
Joshua melihat Jack yang keluar dari ruangannya mendekat dan menayakan kenapa dia tidak menjawab panggilannya.
"Ponselku tertinggal didalam".
"Pantas saja, dan maaf karena tidak ingin makanan yang Stella bawa basi, aku membagi bagianmu pada Dokter Daisy".
"Stella kerumah sakit?". Jack kembali mengingat bahwa mereka memang ada janji.
"Iya, kukira kau tahu".
"Aku lupa".
__ADS_1