Sayang, Aku Kembali

Sayang, Aku Kembali
Bab 17 | Awas kau ya


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan cahaya memasuki celah dari tirai tipis dikamar Stella. Gadis itu mengeliat merentangkan kedua tangannya ke atas dan menimbulkan beberapa bunyi.


Dia menggosok pelan matanya menyesuaikan cahaya yang sidah mulai memenuhi kamarnya. Dia bangun dan mendudukkan diri dengan selimut yang masih diatas pangkuannya.


Sesekaki dia mengerjapkan mata. Terlihat dari wajahnya dia masih mengantuk dia menoleh pelan ke arah nakas dan melihat jam.


"Oh my God". Stella melempar selimutnya dan berlari kearah kamar mandi, keributan terjadi dikamarnya, karena dia mengambil semua dengan cara terburu-buru.


Setengah jam di kamar mandi, dengan segala runitasnya yang tidak boleh terlewatkan, Stella keluar dengan penampilan yang sudah menggunakan pakaian.


"Oh, tidak, jangan sampai aku terlambat di hari pertamaku". Dia menatap dirinya didepan cermin besar dikamarnya. Setelah merasa semua sempurna dia bergegas turun ke lantai bawah. dia hanya memiliki waktu kurang dari satu jam, untung kalau dijalan tidak terjadi kemacetan.


Stella sampai dilantai bawah, menatap ke segala arah mencari dimana Mommy dan Daddy nya, biasanya dijam seperti ini mereka sudah terlihat.


"Mom.." Stella baru saja akan berteriak, wanita paruh baya berpenampilan modis itu sudah terlihat berjalan bersama belahan jiwanya. Daddy nya. Stella melihat mereka secara bergantian, kemudian kembali menatap Ibunya, wanita itu terlihat menyimpan kesedihan dari tatapannya. Namun bibirnya masih dia tahan dengan senyuman.


"Kenapa kau suka sekali berteriak". Pria paruh baya yang sedikit tambun itu sudah berada di depan anak gadisnya, menjukurkan tangan ke arah cuping dan menjewernya.


"Aww,, Daddy!". Pekik Stella kemudian menghentakkan kaki pelan dengan menggosok cupingnya yang sedikit panas karena jeweran.


"Hentikan, kau membuatnya sakit". Menyikut suaminya, dan menggandeng putrinya ke ruang makan.


"Ck, kalian berdua selalu saja menjadikanku yang selalu salah, dasar wanita, bukankah seharusnya anak gadismu yang salah pagi-pagi sudah berteriak". Tuan Mattew berdecak menatap dua punggung wanita tersayangnya, kemudian berjalan mengikutinya dari belakang.


Dimeja makan Stella sudah lebih dahulu memakan sarapannya, dia tidak akan memberikan kesan buruk di hari pertamanya bekerja. Tidak, dia akan memberi kesan terbaik. Ini adalah impiannya, menjadi wanita karir.


"Mom, tidak bisakah kalian lebih lama lagi, di sini?" katanya setelah meneguk habis minumannya. Dia melihat jam tangannya, waktu terus berputar.


Dia bangun menggeser kursi kebelakang dan melangkah ke arah Mommy dan Daddy nya. Satu kecupan mereka dalatkan masing-masing di pipi sebah kanan.

__ADS_1


"Mom, Dad Stella berangkat, kita bahas ini setelah Stella kembali, oke!" tampa menunggu jawaban Stella sudah berlalu dari ruang makan, melangkah keluar dengan langkah lebar. Dia akan membawa mobil sendiri, untung saja Daddy punya mobil yang siap pakai.


Setelah beberapa menit diperjalanan akhirnya dia sampai disebuah bangunan tinggi berlantai dua puluh. Stella keluar dari mobil setelah memarkirnya dengan baik, kaki jenjang itu melangkah dengan anggunnya.


Dia menggunakan celana kain berwana putih senada dengan warna blues yang dia kenakan. Stella melangkah masuk kemana arah yang ditunjukkannya.


Dia memasuki lift, menekan angka paling banyak. jantungnya berdetak kencang, telapak tangannya berkeringat dan dingin. "Oh ayolah Stella, kau hanya akan bekerja, bukan sidang pidana". Dia mengusap pelan buliran keringat dipelipisnya. Bahkan ini lebih mengerikan dari sebuah hukuman, menurutnya.


Selama di London dia tidak pernah merasa segugup ini karena dia diperusahaan Daddy nya dia menghela nafas panjang, menyemangati diri sendiri, Jack bilang pemimpinnya sangat baik, dia akan percaya tentu saja, lagi Daddy nya sendiri yang merekomendasikannya ketempat ini.


Mengingat Jack, Stella lupa mengabari kekasihnya, dia harus menelponnya sekarang. Baru saja dia akan mengambil ponsel didalam tas yang di tangannya, pintu lift sudah terbuka.


"Nanti saja". Batinnya dia terus melangkah kearah pintu diujung.


"Nona Stella?" Wanita berpakaian cukup seksi tersenyum ke arah Stella yang baru saja sampai, Stella mengangguk dan tersenyum.


Stella masih berdiri, memandangi punggung yang sejak tadi saat dia masuk membelakanginya. Dia merasa aneh saat tidak mendengar jawaban saat wanita seksi tadi masuk sampai saat dia menegurpun pria itu tidak bersuara.


Sial.


Apakah dia tidur?


"Tuan, apakah anda tidur?" Stella sudah tidak sabar karena kakinya sudah lelah terus berdiri.


"Tua-"


"Duduklah". Satu kata yang sangat berguna akhirnya keluar, tetapi Stella merasa tidak asing dengan suara itu, tampa menunggu teguran lagi dia melangkah dan mendekati kursi yang berada di depan meja yang calon atasannya itu tempati.


"Kau tidak minta maaf karena terlambat?" perlahan pria itu membalik kursi putarnya, dan menampakkan wajah datarnya ke arah Stella yang sudah terkejut dengan menutup mulut.

__ADS_1


Boy melihat jelas, bahwa Stella sangat terkejut, membuat dahinya mengkerut. Seharusnya wanita ini merasa bersalah bukan terkejut. Fikirnya


"Ba-pak,, maaf maksud saya Tuan?". Stella menunduk salah tingkah, bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa pimpinannya adalah gurunya empat tahun lalu. kenapa Jack tidak memberi tahunya semalam, tiba-tiba dia sangat kesal pada Jack, ingatkan Stella bahwa dia akan memukul kepala kekasihnya saat bertemu nanti.


Stella masih menunduk, dan dia dapat melihat ujung sepatu yang berjalan kearahnya. Dia berdiri dan mencoba mundur selangkah.


"Maafkan saya, karena tidak tepat waktu". Stella menjawab dengan terbata dan tidak enak. Dia berharap tidak mendapatkan kesempatan disini itu lebih baik, dia tidak ingin setiap hari dalam suasana mencekam.


"Mm,, baiklah aku memberimu kesempatan karena Tuan Mattew sangat berharap putrinya bisa diterima olehku". Senyuman miring tercetak jelas disudut bibirnya membuat Stella menelan salova kasar.


Mendengar nama Ayahnya Stella mengangkat kepala, kini mereka saling tatap. Stella tidak suka jika diterimanya dia karena nama Ayahnya, ya walaupun memang Ayahnya yang meminta agar dia dintempatkan dinkantor ini.


"Hm, ya Daddy memang meminta Tuan, tetapi Tuan juga berhak menolak". Stella tersenyum ke arahnya. Dia lebih baik dipecat walau belum resmi bekerja.


Boy berputar membelakangi Stella dan berjalan ke arah kursi kebesarannya, mendudukkan diri dan menatap Stella dari atas sampai bawah.


Stella yang tahu dirinya di tatap seperti itu merasa sangat tidak suka. Dia menghela nafas panjang, laku melangkah maju. Hanya selangkah saja.


"Maafkan saya Tuan, jadi bagaimana keputusan anda, jika karena keterlambatan saya membuat anda tidak bisa menerima maka saya memaklumi". Stella masih menampilkan senyum terbaiknya, rasa gugupnya sudah hilang. Dia hanya ingin kembali sekarang. Dia yakin akan memdapatkan tempat lain, tentu saja harus dengan bantuan Daddy nya lagi.


Ah menyebalkan, karena dia masih bergantung pada Daddy nya tetapi menolak saat ditempatkan disini.


Boy masih diam, dia tidak menjawab apapun dia hanya memperhatikan Stella, wanita yang sudah membuat hidupnya tidak tenang selama beberapa tahun, dia justru sangat senang saat mengetahui Tuan Mattew memintanya menerima Stella. Jelas Boy tidak akan menolaknya. Karena itu adalah keinginannya. Dekat dengan gadis yang saat ini berdiri didepannya.


Boy bisa melihat dari gestur tubuh Stella bahwa gadis itu tidak tahu bahwa dia dikirim ke tempat ini "Melihat dari keterkejutanmu, aku bisa memastikan bahwa Nona, tidak tahu bahwa akan di tempatkan disini".


Stella tidak menyanggah, dia hanya melihat nama, tidak melihat siapa pemimpinnya. Bahkan Jack tidak mengatakan bahwa Boy adalah pemimpinnya saat dia memberi tahunya semalam.


"Jack, awas kau ya!". Batinnya dia sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2