
Anggi masih mematung dengan bibir masih mengatup tatapannya lurus kedalam manik hitam Stella.
"Sayang, duduklah...". Jack berseru, dia dan Joshua sudah ketar ketir sejak tadi. Mendengar panggilan kekasihnya Stella akhirnya berbalik dan tersenyum pada dua pria berpakaian putih dibelakangnya, Namun kembali menatap Anggi yang masih mematung.
"Katakan? Kenapa kau tidak menyukaiku?". Kini suara Stella jauh lebih tenang.
Setelah mendapatkan kekuatan akhirnya Anggi bisa menjawab walau masih ada sedikit ketakutan ditubuhnya.
"Karena kau selalu saja mengambil tempatku". Katanya dengan lugas.
Stella yang mendengar itu hanya tersenyum lalu mengarahkan jemari lentiknya di pipi Anggi.
Jack dan Joshua sudah siap maju, mereka berdua seharusnya sudah sejak tadi melerai. Namun mereka kembali saling pandang saat melihat jemari itu hanya mengusap pelan dipipi Anggi.
"No sayang, bukan, kau salah itu belum menjadi tempatmu saat aku mendapatkannya. Tetapi memang sebagian tempat itulah yang menginginkan diriku".
Terlihat Anggi hanya mengepalkan tangan. Dia bahkan tidak mampu hanya sekedar mengangkat tangan menutup mulut Stella. Tidak dia tidak bisa sekarang.
Jack melihat bagaimana kemarahan Anggi, lalu berjalan cepat meraih pinggang kekasihnya dan memeluknya.
"Woah...". Pekiknya sangat terkejut.
"Sudah cukup, kau membuatnya takut". Katanya masih mengusap rambut panjang yang di kuncir setengah itu.
Anggi lagi-lagi menahan amarahnya, bukankah seharusnya dia yang mendapatkan pelukan? Dia adalah korban.
"Jack..lepaskan dulu". Katanya berusaha melepas pelukan itu yang dia rasa sangat erat.
Karena yang dipeluk terus saja bergerak, Jack melepas kekasihnya yang sudah mengerucutkan bibir, Stella melewati Jack dan duduk di sofa didepan Jashua yang masih bengong.
"Joshua duduklah, kau tidak lelah terus saja berdiri". Kata Stella setelah meneguk minumanya, Joshua lantas menolah kearah Stella dan duduk seperti seseorang yang terhipnotis.
"Pulanglah, aku yakin kau tidak akan senang makan siang bersama kami". Kata Jack datar didepan Anggi.
"Jack, aku harap kau hati-hati dengan wanita berbahaya itu". Anggi seperti mendapat kekuatan setelah Jack berada di dekatnya. Dia menunjuk Stella yang masih tenang menikmati makanannya.
"Seharusnya kau yang berhati-hati". Kata Joshua Anggi sangat kesal.
__ADS_1
"Jack, aku mohon percayalah hanya aku yang tulus menyintaimu". Katanya memeluk Jack dengan erat. Stella yang awalnya tidak terganggu melihat kekasihnya dipeluk seperti itu akhirnya berdiri.
Jack yang terkejut mencoba melepas pekukan Anggi dan barusaha tidak melukainya dengan sentakan. Namun ternyata Anggi memang sengaja memanasi Stella, dia tahu kelemahan Jack yang tidak akan menyakiti wanita untuk itu dia memanfaatkan situasi ini.
Senyum kemenangan terlihat jelas di sudut bibir Anggi namun sedetik kemudian sebuah bunyi nyaring menggema.
Semua mata melotot. Joshua yang masih bingung dengan keadaan langung berdiri kembali. Anggi memegang wajahnya. Perih.
Senyum mengejek itu terlihat jelas di wajah Stella yang sangat tenang.
"Sepertinya kau memang harus kuperingatkan mulai sekarang". Katanya sudah berada didepan Anggi yang masih memegang wajahnya yang terasa panas. "Jaga bicaramu dan jangan sekali- kali berani menyentuh milikku". Suaranya dingin dan datar membuat Anggi bergidik ngeri. Dia melewati Stella, mengambil tas miliknya kemudian menghilang dibakik pintu.
Dan seketika ruangan menjadi lega. Saat tadinya sangat mencekam karena Stella yang berubah sangat berbeda. Joshua masih mengingat Stellabyang dulu, dia sangat lembut tapi sekarang, Di depannya dia melihat Stella yang semakin manis, dewasa dan sangat berbahaya.
Stella berjalan melewati Jack yang masih saja diam menatap bagaimana Stella dengan keberaniannya melakukan itu pada sahabatnya.
Dimeja Stella hanya meraih ponselnya dan memasukkannya di kantong rok yang dia pakai. Dia memang tidak membawa tas. Karena didalam benda pipihnya dia sudah mempunyai semuanya disana.
Dia tidak akan repot membawa uang cash dia hanya perlu melakukan membayaran online. Menurutnya itu jauh lebih efesian.
Melihat kekasihnya keluar dari pintu membuat Jack tersadar dan mengejar Stella.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiark-".
Stella berhenti dan menatap kekasihnya lamat. Mengehla nafas pelan lalu dia kembali berjalan melewati koridor rumah sakit. Jack mengikutinya namun langkahnya terhenti saat suster mencegahnya dan membawanya kembali keruangan pasien.
Stella mendengar itu. Dia hanya tersenyum memaklumi. Seharusnya memang tadi dia tidak datang kekasihnya sangat sibuk bahkan pria itu belum sempat memakan makan siangnya hanya karena melihatnya melayani Anggi.
"Masih siang, dia melajukan mobilnya ke sebuah taman disana ada kedai ice cream, dia akan mendapatkan beberapa agar hatinya sedikit lebih tenang. Dia sangat kesal karena Anggi, berani sekali dia memeluk Jack didepannya, dan Jack pria itu dia sangat lembut bahkan melepaskan pelukan saja harus berhati-hati. Sial.
Setelah mendapatkan mangkok terbesar ice creamnya Stella duduk dibangku taman, dia tidak sadar bangku yang dia duduki saat ini adalah bangku yang dulu menemaninya menunggu. Dia terlalu asyik menikmati ice creamnya dan tidak menyadari seseorang sudah duduk di sampingnya masih memperhatikannya dengan lembut.
"Apakah itu enak?" Suara itu seketika membawa atensi ke sumber suara. Stella hampir tersendak namun dengan anggun dia bisa menguasai diri.
"Hm, ini enak". Katanya kembali menatap lurus pada segerombolan anak-anak yang masih bermain tidak jauh dari mereka.
"Bagimana kabarmu? Kau terlihat lebih dewasa sekarang?" Pertanyaan itu membuat Stella kembali menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
"Terima masih pak, saya baik". Jawabnya dengan senyuman simpul. Dia ingin berdiri dan berlalu namun dia merasa enggan.
"Bagaiman hubunganmu dengan Jack". Tiba-tiba saja dia bertanya. Membuat Stella kembali melihat lawan bicaranya. Dia melihat Pak gurunya ini memang tidak tua-tua.
"Kami baik, terima kasih karena bapak sudah menjaga kekasih saya selama empat tahun ini".
Tentu saja jawaban Stella membuat Boy sangat terkejut, empat tahun? Kekasih?
"Saya tahu bapak terkejut dia pasti juga merahasiakan hubungan kami dari semua orang. Saya yang memintanya. Setidaknya sampai saya yakin dengan keputusan yang saya ambil".
"Dulu saya dengan bodohnya mengatakan cinta pada orang lain, sedangkan saya sudah memiliki cinta yang jauh lebih besar, cinta Jack".
Boy hanya diam, dia sebenarnya terluka namun dia menahannya demi mendengar semua yang Stella katakan.
"Maafkan saya karena dengan tidak sopan membuat anda tidak nyaman dengan pengakuan saya waktu itu".
"Kau benar mencintai adikku?" yang dijawab dengan anggukan pasti.
Boy tertawa hambar. Dia sudah kalah.
Menghela nafas pelan lalu menatap Stella kembali.
"Kau yakin?" tanya membuat kening Stella mengkerut.
"Tentu saja saya yakin, kenapa bapak meragukan?"
"Mungkin saja sebenarnya kau hanya mencintaiku". Katanya dengan bangga membuat Stella hanya berdecak kesal.
"Jangan meragukanku kakak ipar, karena aku tulus mencintai adikmu yang tampan itu". Katanya dengan seringaian.
"Benarkah? Aku tidak yakin?". Sengaja mendekatkan wajahnya menatap bola mata indah didekatnya. Mambuat Stella beringsut mundur.
"Jangan mendekat, atau ..." Kata Stella sudah sangat hawatir akan jatuh ke bawah.
"Atau apa..?" Tantangya..
"Atau, aku akan membuat bapak menyesal". Setelah mengatakan itu Stella menempelkan sesendok ice cream Vanila di wajah Boy dan berlari.
__ADS_1
"Stelaaaaaaa.....". Teriak Boy dengan amarah, sekarang wajahnya terlihat aneh karena Ice cream yang mulai mencair diwajahnya.