
Jack sudah berada didalam mobilnya, dia sudah mengingat bahwa siang tadi Stella mengatakan akan datang kerumah sakit. Namun dengan bodohnya dia melupakan ponselnya dan tidak mengingat apapun. Lagi, yang membuatnya merasa tidak nyaman adalah Stella melihatnya didalam ruangan Anggi. Jack yakin Stella dalam suasana hati yahg tidak baik-baik saja sekarang.
Jack menghembuskan nafas, dia mengingat juga pesan dari Stella yang mengatakan bahwa dia dan kak Boy keluar makan malam. Rasa takutnya selama ini menjadi nyata, mereka akan semakin dekat dan dia akan sendiri, apakah dia sudah siap kehilangan cintanya?
Cinta yang Jack punya tulus, dia mencintai Stella, dia bahkan bisa menerima Stella menjadi milik kak Boy jika memang wanita nya bahagia. Tetapi apakah rasanya memang se sakit ini?.
Jack memukul stir dengan keras, bagaimana jika Stella berpaling? Bagaimana jika cinta yang Stella berikan selama ini hanya sebatas pelarian seperti yang Anggi katakan "****".
Mobil mewah berwarna hitam itu terparkir di sebuah apartemen mewah di dalam kota, Jack keluar dan melangkah masuk, wajahnya datar dan terkesan dingin, ia tidak kembali kerumahnya karena tidak bisa bertemu tatap dengan kakaknya, dia tidak akan sanggup melihat wajah bahagia itu besok pagi. Untuk itu dia memutuskan untuk pulang ke apartemen pribadinya. Hasil kerja kerasanya selama ini menjadi dokter.
Pria bermata indah itu memasuki lift dan menekan nomer 20, gedung berlantai 22 dan uang gajinya hanya bisa mendapatkan nomer itu. Tidak ada yang salah karena ini adalah kerja kerasanya. Dia bangga karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Kak Boy tidak tahu soal apartemen ini, karena jika dia tahu sudah pasti Jack akan mendapatkan lantai paling atas.
Itulah sebabnya Jack tidak mengatakan apapun tentang rencananya memiliki apartemen.
Sampai di dalam apartemen, Jack langsung membuka jas putihnya dan langsung menuju dapur. Ia menggulung lengan kemeja dan mulai membuka kulkas, mengambil air dingin dan meneguknya.
"Hah,,Stella kau membuatku selalu saja seperti ini sejak dulu". Jack duduk di kursi dan kembali meneguk air mineralnya.
Awalnya dia akan memasak, namun karena tidak bisa mengendalikan perasaannya, Jack memilih memesan makanan jadi, itu jauh lebih praktis untuk saat ini.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian santainya, Jack keluar membuka pintu karena makanan yang dipesannya sudah berada diluar.
Dia menikmati makanannya, dan sesekali menghela nafas. Bayangan Stella bersama kakaknya menari-nari dikepalanya.
Meninggalkan Jack dengan segala kerumitan di otaknya, disisi lain Boy tengah tersenyum didalam hati karena melihat bagaimana kesalnya Stella.
"Kau tidak suka makan malam denganku?" tanya Boy akhirnya, sudah setengah jam Stella hanya diam saja. Gadis itu bukannya tidak suka, hanya merasa tidak enak saja, lagi, sejak tadi Jack tidak mengangkat maupun membalas pesannya.
Apakah Jack marah?
Lalu kenapa dia tidak mengatakannya.
Stella berdecak dalam hati, dua kakak beradik ini membuatnya sakit kepala. "Tuan, bagaimana kalau Nona Ivana tahu anda mengajak saya makan malam?" Stella akhirnya berani membuka suara. Dia harus mencari alasan agar bisa segera kembali.
"Kenapa kalau dia tahu? Kau takut?".
"Saya hanya tidak ingin dia salah faham". Stella merendahkan suaranya. Dia juga tidak ingin Jack salah faham padanya.
"Bisakah kamu tidak memanggilku, Tuan?"
"Eh, tapi,-"
"Panggil Boy saja".
__ADS_1
Stella memutar mata malas, bagaimana mungkin dia memanggilnya dengan nama, dia pernah menjadi guru disekolahnya, dan dia juga kakak dari kekasihnya, lagi dia adalah Bos di kantornya.
"Bukankah itu tidak akan sopan, Anda pernah menjadi guru disekolah, Bos saya dikantor dan kakak dari Jack".
"Lalu apakah sopan saat itu kamu dengan percaya diri mengungkapkan perasaanmu". Stella meletakkan sendoknya, dan melihat ke arah Boy, tatapannya terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai pembahasan ini.
"Maafkan saya soal empat tahun lalu, saya hanya tidak mengerti dengan perasaan saya". Stella berdiri dan hendak pergi namun Boy mencegahnya, tangan mulusnya sudah dicekal. Stella melihat tangan Boy yang dengan kuat memegangnya.
"Tuan, bisa anda lepaskan? Maafkan saya soal empat tahun lalu".
Boy melepas tangannya dan ikut berdiri, dia akan mengantar Stella pulang dan Stella harus mau karena Boy menggunakan kekuasaannya untuk mengancam.
Mereka sudah didalam mobil, namun tidak kearah rumah Stella membuat wanita itu menoleh ke arah Boy, mau dibawa kemana dia sekarang?
"Tuan, kita akan kemana?"
"Kamu akan tahu setelah kita sampai".
"Tapi saya harus pulang Tuan".
"Stella bisakah kamu tidak memanggilku Tuan". Boy mulai jengah, gadis manja ini berubah menjadi sangat keras kepala sekarang.
Menghela nafas panjang, Stella akhirnya mengalah.
Hanya memanggil nama saja setelah itu semua beres.
"Bo-Boy, antar aku pulang". Boy yang mendengar itu mendadak menginjak rem, membuat stella hampir saja terbentur kedepan.
"Woaah, Kamu gila? Kau akan membunuhku, sialan". Stella mengumpat karena terlalu terkejut. Membuat Boy tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kau mengumpatiku, Stella?".
"Salahmu sendiri, harusnya kalau ingin mati jangan mengajakku". Stella kembali pada mode galak. Sudah cukup dia bermanis di depan Bos nya yang sudah terlihat aneh ini.
Boy tergelak, Stella heran karena baru saja melihat Boy terbahak karena sesuatu yang tidak lucu sama sekali.
"Sudah cukup, antarkan aku pulang" Stella sudah mulai lelah, dia merasa Boy memang sengaja mengundur waktu kepulangannya.
"Tidak mau".
Memutar mata malas, dia tidak mungkin turun karena diluar sangat seli dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat bagaimana jika Boy meninggalkannya.
Ia memang pandai bela diri, tetapi tetap saja menyerahkan diri pada musuh tidak akan bagus kisahnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku bisa memanggil Jack menjemputku". Boy melihat Stella mengambil ponsel dalam tasnya dan merebutnya dengan paksa.
"Boy, kembalikan".
"Tidak akan aku biarkan kamu mengganggu pekerjaan adikku, bagaimana jika dia sedang melakukan operasi?".
"Hah, baiklah Pak Tua"
"Pak Tua? Kau mengatakan aku apa Tua?"
"Bapak memang tua kan?".
Boy sangat kesal dan akan memberikan Stella kembali ponselnya namum tatapan matanya melihat foto di wall paper ponsel itu, Stella yang tertawa karena Jack memberinga kecupan.
Pasangan romantis.
Dan itu membuat Boy merasa terluka.
Dia membiarkan ponselnya ditangan Boy, Stella melihat bahwa raut wajah Boy berubah saat melihat wall paper ponselnya, dalam hati Stella bahagia karena sepertinya foto nya bersama Jack akan membuat Boy mengantarnya pulang.
"Ayo antarkan aku pulang?"
Boy diam, dia ingin menanyakan sesuatu tetapi tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak.
"Boleh aku bertanya sekali?"
"Silahkan, tapi setelah saya jawab, tolong tuan mengantar saya". Boy menghela nafas lagi-lagi dia adalah tuan.
"Apakah kamu sudah melupakan perasaanmu padaku".
'Deg
Stella melihat ke arah Boy yang juga melihatnya, pria itu menunggu jawaban apa yang akan gadisnya katakan.
"Apa maksud Tuan"
"Stella panggil aku Boy, dan jawab pertanyaanku, aku mohon, maafkan aku karena waktu itu aku menolakmu, aku punya alasannya, tetapi percayalah sebelum kamu mengutarakan perasaanmu, aku sudah jatuh padamu".
Pengakuan panjang lebar Boy mengetarkan perasan Stella.
Tidak, ini tidak benar. Bahkam semua wanita akan luluh mendengar pengakuan ini. Jangan sampai dia terpedaya dan menghianati hatinya.
"Aku ingin pulang".
__ADS_1