
Rengekan Delima tak diindahkan oleh Anwar, sudah teramat sakit hati yang dirasakan wanita itu, hingga tiba waktunya pernikahan Anwar dan janda muda di kampung itu pun dilaksanakan dengan pesta yang meriah. Pernikahan kedua Anwar itu rupanya membuat Bu Semanggi sangat bahagia, berbeda saat Anwar menikah dengan Delima.
Delima hanya melihat suaminya menikah lagi dari balik kamarnya, lagi-lagi air mata itu jatuh menggenangi wajahnya, bukan hanya Delima yang menangis, tapi sosok Marissa yang berada di dalam tubuh Delima.
"Ya Allah! Cukuplah hukuman ini Engkau berikan padaku, aku sungguh tidak tahan melihat suamiku sendiri menikahi wanita lain, aku ingin pulang ke rumah, aku ingin kembali ke rumah suamiku, aku ingin berbakti kepada suami dan ibu mertuaku, aku tidak sanggup harus melihat mereka," ucap Delima bermonolog sendiri.
Pesta pernikahan itu diadakan sangat meriah hingga tengah malam, Delima tidak diizinkan keluar oleh ibu mertuanya.
"Kamu tetap di dalam rumah saja! Tidak usah ikut-ikutan keluar, aku tidak mau para tamu undangan melihat wajah buruk dan kaki pincang mu itu, aku bisa malu, mengerti!" titah Bu Semanggi dengan matanya yang melotot tajam ke arah Delima.
"Iya, Bu!" balas Delima dengan suaranya yang lemah.
"Bagus!"
Sang ibu mertua pun segera pergi meninggalkan Delima dengan tetap tidak meninggalkan kesan sinis. Delima pun hanya bisa berdiam dan berdoa supaya Tuhan segera memberikan keajaiban dan segera membawanya kembali ke dunia asalnya, terlalu capek hati Marissa menghadapi ibu mertuanya yang sangat kejam itu.
Saat pesta pernikahan Anwar dan janda itu sudah selesai, mereka pun melanjutkan untuk pergi ke kamar, tentu saja kamar yang mereka tuju adalah kamar yang digunakan oleh Anwar dan Delima.
__ADS_1
Delima yang saat itu sudah tertidur, ia pun terbangun karena ada suara seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan keras.
'Tok tok tok'
"Delima!! Buka pintunya!" suara Anwar terdengar begitu keras dan seketika membuat Delima langsung terbangun dan segera membukakan pintu untuk sang suami.
"Iya Mas sebentar!" jawab Delima sembari berjalan pelan menuju ke arah pintu dan segera membuka kuncinya.
'Ceklek'
"Minggir! Aku dan Mira akan tidur di dalam kamar ini," ucap Anwar yang tentu saja tidak mungkin Delima izinkan.
"Tidak! Aku tidak mau, kamar ini milik kita, Mas. Bukan dengan wanita itu!" protes Delima sembari menunjuk ke arah Mira.
"Hei! Sekarang wanita ini adalah istriku, mau tidak mau kamu harus berbagi apa yang kamu punya, termasuk kamar ini. Sebaiknya kamu tidur di luar dulu! Karena malam ini aku mau tidur dengan istri baruku, mengerti!" titah Anwar kepada Delima sembari mendorong tubuh istrinya itu hingga di luar kamar dan langsung menutup pintu kamar mereka.
'Braaaakk' terdengar suara pintu yang ditutup dengan paksa. Delima pun langsung berusaha untuk membuka pintu kamarnya yang sudah dikunci oleh Anwar dari dalam.
__ADS_1
"Enggak, Mas! Aku nggak mau, ini kamarku, suruh wanita itu pergi, Mas! Aku tidak mau kamarku dibuat untuk dia, Mas Anwar! Maasss!!" teriak Delima dari luar kamarnya.
Mendengar suara teriakan Delima, sang ibu mertua pun menghampiri sang menantu yang saat itu sedang menangis di depan pintu kamarnya.
"Heh Delima, untuk apa kamu menangisi Anwar! Dia sudah bahagia dengan istri barunya yang tentu saja sangat cantik dan juga kaya raya, sebaiknya kamu belajar menerima kenyataan jika suamimu bukan milikmu saja, sekarang suamimu harus membagi cintanya dengan istrinya yang lain, dan Ibu berharap semoga Anwar dan Mira segera mendapatkan momongan, hmm bahagia sekali!"
Mendengar ucapan dari sang ibu mertua, Delima pun hanya bisa menangisi nasibnya, ia pun duduk dengan memeluk kedua lututnya di depan pintu kamar di mana sang suami sekarang sedang bermain cinta dengan istri barunya.
Tentu saja Delima mendengar suara-suara dari dalam kamar miliknya bersama dengan sang suami, suara-suara yang sangat membuat telinganya panas. Delima terpaksa menutup kedua telinganya agar dirinya tidak bisa mendengarkan lagi suara desaahan dari kamar mereka.
"Masss!!! Kamu hebat banget ahhh!"
"Kemari, Sayang! Waaahhhh ini sangat besar!!"
Suara-suara laknat itu membuat Delima kian tersiksa, hingga akhirnya ia pun pergi dari tempat itu.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1