Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Menggugat cerai


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu, Mamanya Marissa segera membawa sang cucu yang berhasil ia ambil dari tangan Anwar, dengan mengancam Anwar telah melakukan tindakan penganiayaan, Mamanya Marissa berhasil mengambil sang cucu yang terlihat ketakutan.


Magdalena yang melihat itu, ia pun membela Anwar dengan semangat agar Mamanya Marissa dan Syakilla pergi dari rumah itu.


"Tutup mulut Anda, Nyonya! Anda tidak berhak mengatakan hal itu kepada putraku. Anakmu Marissa itu sudah membuat Anwar seperti ini, dia itu wanita yang bodoh. Sudah tahu dirinya hamil, sok-sokan mengerjakan pekerjaan rumah, alih-alih aku yang dituduh sudah memaksanya, sehingga membuat Anwar benci padaku, cihhh! Nyatanya Marissa sendiri yang bego!" umpat Magdalena yang seketika membuat Mamanya Marissa mulai hilang kesabaran.


"Ternyata selama ini, Marissa hidup diantara dua orang manusia yang berhati jahat, kalian berdua tidak usah khawatir, aku dan cucuku pasti pergi dari rumah ini, supaya tangan-tangan hitam kalian tidak akan bisa menyentuh Syakilla. Ayo kita pergi, Nak!" seru Mamanya Marissa sambil membawa cucunya untuk keluar rumah.


Anwar hanya terdiam, ia terlihat malas dengan kepergian sang ibu mertua, pikirannya benar-benar kalut. Sementara itu Magdalena tertawa jahat ketika Mamanya Marissa pergi meninggalkan rumah.


Setelah, Mamanya Marissa pergi bersama Syakilla, Magdalena pun mendekati putranya lalu berkata, "Kamu tidak perlu bersedih, Anwar! Semua ini bukan salahmu, istrimu itu yang salah. Dia itu wanita ceroboh, kamu harus bersikap tegas kepadanya, wanita seperti itu jika dibiarkan pasti besok-besok dia akan melakukan kesalahan lagi, Mama memang kurang suka dengan Marissa. Tapi masih punya perasaan, Mama juga tidak mungkin melakukan hal sejahat itu, menyuruh-nyuruh Marissa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Mama ini memang bukan ibu kandungmu. Tapi, jika Mama melihatmu seperti ini, Mama juga ikut sedih ," Magdalena terus berusaha untuk memanas-manasi emosi Anwar.


Tanpa berkata apa-apa, Anwar segera pergi ke kamarnya. Akhirnya senyum puas ditunjukkan wanita itu.

__ADS_1


*


*


*


Si sisi lain, Mamanya Marissa segera datang ke rumah sakit tempat di mana Marissa dirawat. Wanita itu dan cucunya, menemui Marissa dan akan mengatakan semuanya kepada sang anak tentang apa yang baru saja mereka alami.


"Mama, Syakilla!" seru Marissa teramat senang. Syakilla pun langsung memeluk ibunya sambil menangis.


"Mama!! Killa kangen sama Mama! Kenapa Mama tidak pulang ke rumah, Killa nyariin Mama terus," seru sang putri saat Marissa memeluknya.


"Maafkan Mama, Sayang! Killa kangen sama Mama? Mama juga kangen sekali dengan Killa. Mama juga sebenarnya ingin pulang, tapi kata dokter, Mama harus istirahat beberapa hari lagi di sini. Killa nggak apa-apa, Kan? Kan ada Nenek dan Papa yang jagain Killa, pasti Killa tidak akan kesepian lagi!" seru Marissa sambil mengusap lembut rambut sang anak.

__ADS_1


Spontan Syakilla menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak mau, Ma! Killa nggak mau sama Papa. Papa jahat, pokoknya Killa nggak mau ketemu Papa lagi!" mendengar ucapan dari sang anak, spontan Marissa sangat terkejut dan menatap wajah sang ibu.


"Loh, Killa kok begitu! Killa kan sayang banget sama Papa?" tanya Marissa heran.


"Papa jahat pokoknya, Killa nggak mau sama Papa, Killa nggak suka!" sahut gadis kecil itu sambil memeluk sang Nenek diiringi tangis kecilnya. Tentu saja itu membuat Marissa sangat terkejut.


"Killa kenapa, Ma? Kenapa dia berkata seperti itu?" tanya Marissa penasaran.


Sang Mama pun mau tidak mau menceritakan semuanya tentang apa yang diketahuinya, bagaimana perlakuan Anwar kepada Syakilla. Spontan raut wajah Marissa berubah saat mendengarkan cerita sang Mama. Air matanya mengalir begitu saja tanpa aba-aba, Marissa menghela nafasnya dan Ia pun harus segera mengambil keputusan yang tepat untuk menyelamatkan sang anak.


"Aku akan menggugat cerai Mas Anwar!" seru Marissa begitu yakin.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2