
Sekilas bayangan-bayangan tentang kebaikan sang ibu mertua, membuat jiwa Marissa semakin tersiksa, kejadian di dunia Delima, sungguh membuat seorang Marissa yang terkenal angkuh dan susah diatur, kini wanita itu lemah dengan goncangan hati yang begitu dahsyat, cobaan yang bertubi-tubi datang bukan dari ibu mertuanya saja, tapi dari saudara-saudara suaminya yang juga ikut membencinya.
Delima mengurung diri, hidupnya semakin hampa, hingga ia tidak peduli lagi jika Bu Semanggi dan anak-anaknya menghardik dan menyakitinya, seolah dalam pikiran Delima bagaimana caranya ia meminta maaf kepada Bu Narsih, ibu mertuanya.
Melihat Delima yang sedang melamun, Bu Semanggi pun menghampiri Delima dengan membawa sapu di tangannya.
"Hei Ima! Aku lihat akhir-akhir ini kamu bengong aja, tuh sapu lantainya!" titah Bu Semanggi sambil melempar Delima dengan sapu itu, Delima pun tidak melawan, ia mengambil sapu itu dan berangkat untuk menyapu lantai.
Disaat Delima menyapu lantai, tanpa sengaja Anwar dan Mira datang dan tak sengaja mengotori kembali lantai yang baru saja Delima bersihkan. Mira sengaja memanas-manasi Delima dengan berdiri sambil bergelayut manja pada lengan Anwar, Delima yang merasa terganggu, ia pun meminta keduanya untuk pergi.
"Minggir! Aku mau menyapu lantainya, kalian berdua mengganggu saja!" seru Delima kasar.
Anwar pun melihat ada sesuatu yang berbeda dari istrinya, seolah Delima tidak seperti biasanya, kali ini Delima tidak terlalu memperdulikan suami dan madunya, Delima hanya berpikir bagaimana caranya agar dirinya bisa terbebas dari perlakuan orang-orang gila di rumah itu.
__ADS_1
"Ima, apa kamu sakit?" tanya Anwar yang sedikit khawatir.
"Peduli apa kamu?" sahut Delima.
"Aku ini suamimu, jadi aku berhak bertanya padamu," balas Anwar.
"Sayangnya aku sudah tidak perduli, lebih baik kalian bunuh saja aku, daripada aku harus mendapatkan siksaan batin setiap hari, kenapa kalian semua senang sekali menyiksaku? Apa salahku pada kalian semua!!" seketika apa yang dikatakan oleh Delima membuat Anwar menjadi serius.
"Apa maksudmu, Ima?" sahut Anwar sambil menatap wajah Delima yang kini sudah tidak bisa mengeluarkan air mata itu.
Mira yang berada di samping Anwar pun menyahuti ucapan Delima.
"Eh perempuan tidak tahu diri, ngaca dong! Emangnya kamu tuh siapa di rumah ini? Tahu diri dong, Mas Anwar sudah tidak mencintaimu lagi, jadi jangan berharap kamu bisa mendapatkan cintanya lagi, huuhh mimpi!" umpat Mira.
__ADS_1
Delima pun menghampiri Madunya dan berkata sembari menatap wajah Mira dengan tajam.
"Perempuan ganjen. Pelakor! Sebelum kamu menyuruhku untuk berkaca, kamu sendiri berkaca dulu dengan benar, kamu pikir dengan mengambil Suami wanita lain, kamu sudah merasa hebat? Sayang sekali itu tidak bisa, yang bisa melakukan hal ini adalah perempuan murahan yang mengemis cinta dengan cara merebut suami wanita lain, sungguh kamu adalah perempuan laknat, tak berperasaan, perbuatanmu itu tak lebih dari sampah!!" umpat Delima yang membuat Mira kesal.
Bu Semanggi pun menghampiri Delima dan berkata kepada menantunya.
"Eh eh berani sekali kamu mengatakan hal itu kepada menantu kesayanganku? Kamu itu memang pantas diginiin, karena aku sangat membencimu, Ima!!" ucap Bu Semanggi dengan mata yang melotot.
"Kamu juga! Wanita tua yang tidak tahu diri, bukannya memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, tapi justru memperlakukan menantu seperti sampah, mertua macam apa kamu ini!!
Seketika semua terkejut dengan ucapan Delima yang tiba-tiba memiliki keberanian berkata seperti itu. Manggis dan Cempaka pun tak terima ibu mereka dihina seperti itu.
"Eh Mbak Delima nggak usah sok tahu kamu! Udah jelek, pincang, belagu lagi!!" umpat Manggis. Delima pun membalas ucapan adik suaminya itu.
__ADS_1
"Heh kamu tuh anak gadis, harusnya kamu itu belajar menjadi wanita yang baik sebelum ada laki-laki yang datang menjadikanmu sebagai seorang istri, anak gadis kerjaannya malas-malasan, pantas saja tidak ada laki-laki satupun yang berani melamar mu, mereka tidak mau mendapatkan istri yang manja seperti kamu," umpat Delima yang tiba-tiba membuat Manggis merasa sangat tersinggung.
...BERSAMBUNG ...