Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Berpisah


__ADS_3

Hari itu juga, Marissa meminta pulang paksa. Ia akan pergi dari kehidupan Anwar, Marissa bertekad untuk hidup sendiri tanpa suaminya, ia akan segera menggugat cerai Anwar dan secepatnya berpisah dengan laki-laki itu.


Meskipun sebenarnya dokter masih melarang Marissa untuk pulang, tapi wanita itu tetap bersikeras untuk pulang. Ia tidak perduli lagi dengan Anwar, lebih baik tidak punya suami jika suaminya tidak pernah percaya padanya, apalagi Anwar hampir saja melakukan tindakan penganiayaan terhadap putrinya.


"Marissa, kamu yakin ingin bercerai dengan Anwar?" tanya sang Mama sekali lagi.


"Rissa sangat yakin, Ma. Tidak ada lagi kata maaf untuk Mas Anwar, semuanya sudah berakhir. Cepat atau lambat dia akan mendapatkan gugatan cerai itu dan dia harus bersiap untuk semua ini. Marissa sudah bersumpah tidak akan pernah menikah lagi, Marissa ingin hidup tenang bersama putriku, bersama Mama. Rissa tidak membutuhkan suami lagi, jika harus seperti ini terus. Marissa capek!" ucap wanita malang itu sembari menangis.


Kini, Marissa dan Mamanya sudah pergi jauh ke luar kota, mereka memutuskan untuk tidak tinggal lagi di kota yang sama dengan Anwar. Karena pria itu dengan mudah mencari keberadaan dirinya dan juga putrinya.


Sementara itu di rumah, Anwar tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia masih memikirkan tentang Istrinya. Hingga akhirnya tiba-tiba Anwar mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang pastinya sangat membuatnya terkejut setengah mati.


"Halo selamat malam!" sapa Anwar.


"Selamat malam, Pak. Kami dari pihak rumah sakit ingin memberi tahukan kepada Pak Anwar jika istri Anda, Nyonya Marissa meminta untuk pulang paksa, kami sudah melarangnya tapi beliau tetap ingin pulang, Pak. Jadi terpaksa kami mengabulkan permintaan istri Anda karena beliau meminta rawat jalan, sebenarnya kondisi istri Anda sudah mulai membaik. Jadi, setelah kami mempertimbangkan maka kami mengizinkan beliau untuk dirawat di rumah." Ungkap pihak rumah sakit.


Seketika Anwar naik darah, ternyata Marissa benar-benar keras kepala. Kini, Anwar tidak bisa mentolerir lagi perbuatan Marissa, hari itu juga ia segera pergi ke rumah Marissa, karena ia yakin sekali jika istrinya pasti pulang ke rumah orang tuanya.


Kepergian Anwar mendapat perhatian dari Magdalena, wanita itu penasaran dan bertanya kepada putra tirinya itu.

__ADS_1


"Anwar, kamu mau kemana?" tanya Magdalena.


"Marissa pulang dari rumah sakit tanpa seizinku, Ma! Aku harus membawanya pulang lagi ke rumah ini, dia harus mendapatkan hukuman dari Anwar, supaya dia tidak seenaknya berbuat semaunya sendiri, membuat orang panik saja, nanti kalau ada apa-apa, aku yang disalahkan," umpat Anwar yang terlihat emosi.


"Bagus, Anwar! Mungkin Marissa sudah mendapat pengaruh dari ibunya, mama yakin sekali Marissa pasti menyalahkanmu, ya itu karena pengaruh ibunya yang sok pahlawan itu," sambung Magdalena yang terus mempengaruhi Anwar.


Tanpa basa-basi, Anwar segera pergi untuk menjemput istrinya. Dalam kondisi marah Anwar akan memberikan hukuman kepada Marissa.


Selang beberapa menit, akhirnya mobil Anwar tiba di depan rumah Marissa yang lama. Pria itu melihat kondisi rumah yang tampak sepi dan gelap, sepertinya tidak ada orang di dalam. Hingga akhirnya, seorang tetangga Marissa menghampiri Anwar dan bertanya. "Eh ada Pak Anwar! Tumben Pak Anwar datang ke sini? Ada apa, Pak?" tanya sang tetangga.


"Em ... maaf, Bu. Apa ibu tahu di mana Marissa sekarang?" pertanyaan Anwar tentu saja membuat sang tetangga tertawa.


"Em ... iya sih, tapi ...!" belum selesai Anwar melanjutkan kata-katanya, seorang tetangga lagi datang menghampiri Anwar.


"Eh ada pak Anwar! Mau cari Bu Marissa, ya?" tanya tetangga itu tiba-tiba.


"Iya, apa bapak tahu di mana Marissa?" Anwar pun semakin penasaran.


"Tadi saya sempat lihat Bu Marissa dan mamanya datang ke rumah ini, tapi mereka cuma sebentar, mereka mengambil koper besar kayaknya, dan saya lihat kondisi Bu Marissa kelihatan sakit gitu, kasihan sebenarnya." Ungkap sang tetangga.

__ADS_1


"Apa? Marissa pergi membawa koper? Apa Bapak tahu di mana Marissa pergi?"


"Waduh, kalau itu saya tidak tahu, Pak! Tapi yang jelas sepertinya mereka pergi jauh, mereka mengambil barang-barang berharga saja. Bukannya Pak Anwar ini suaminya, kok bisa nggak tahu kalau istrinya pergi?" pertanyaan sang tetangga seketika membuat Anwar langsung pergi, ia merasa tidak nyaman saat tetangga Marissa menanyakan hal itu.


Para tetangga itu pun terlihat bingung dan bertanya-tanya.


Anwar pun mulai kelimpungan, ia berusaha mencari keberadaan Marissa di setiap sudut kota. Tapi nyatanya Anwar tidak bisa mendapatkan informasi di mana keberadaan Marissa.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, kini Marissa tinggal di sebuah desa kecil di sebuah kota di daerah pegunungan, di sana dirinya ingin menenangkan diri, ia akan hidup mandiri di desa itu tanpa harus ada Anwar di sampingnya.


Marissa sendiri dengan bekal pengetahuannya, ia pun sudah mendaftarkan gugatan cerai kepada sang suami. Agar dirinya bisa hidup tenang tanpa ada Anwar dan Magdalena tentunya.


Anwar yang masih kelimpungan mencari keberadaan sang istri, akhirnya suatu ketika dirinya mendapat surat dari pengadilan agama. Anwar terkejut saat ia membuka surat itu dan membacanya.


Tangannya gemetar dan wajahnya sudah terlihat sangat kesal. Namun, bagaimana lagi, rupanya Marissa sudah bertekad bulat untuk bercerai.


Magdalena melihat anak tirinya yang sedang memegang secarik kertas yang cukup membuatnya emosional.


"Anwar! Kamu kenapa, Nak?" tanya Magdalena.

__ADS_1


"Marissa ingin minta cerai, Ma. Ini suratnya dari pengadilan agama," balas Anwar yang mulai merasa kehilangan. Ia memang marah kepada Marissa. Namun, cintanya begitu besar kepada wanita itu sehingga Anwar terlihat bersedih dengan keputusan Marissa untuk berpisah.


__ADS_2