
"Marissa ... Marissa!" Bram terlihat bingung.
"Jemput lah istrimu, Bram! Ibu ingin bertemu dengannya," seru Bu Narsih sembari memelas.
"Tapi, Bu! Apa Rissa mau Bram jemput? Bram udah malas, dia pasti ingin ibu pergi, dan aku tidak suka cara dia seperti itu!" balas Bramantyo, anak kedua dari Bu Narsih. Menikah dengan Marissa, teman sekantornya. Selama tiga tahun pernikahan, mereka belum dikaruniai seorang anak, karena Marissa masih ingin menjadi wanita karir.
Semenjak Bram membawa sang ibu untuk tinggal bersamanya, Marissa menjadi kurang suka, karena ia merasa jika sang mertua terlalu mencampuri urusan pribadinya, dengan melarang Marissa untuk pulang malam, karena bagaimana pun juga ia adalah wanita yang sudah bersuami.
Rupanya apa yang dikatakan oleh Bu Narsih membuat Marissa tidak terima dan merasa jika kehadiran sang mertua adalah sebuah beban besar untuk dirinya.
"Ibu tahu, Bram! Ibu hanya ingin meminta maaf kepada istrimu, ibu rasa waktu ibu di dunia ini tidak akan lama lagi, dan Ibu ingin pergi dengan tenang tanpa ada dendam dalam hati istrimu!" ungkap Bu Narsih yang mulai merasa nafasnya kian sesak.
"Ibu tidak boleh bicara seperti itu, Ibu pasti sembuh," ucap Bram.
__ADS_1
Kemudian seorang perawat meminta Bram untuk bertemu dengan dokter. Bram pun berkata kepada ibunya untuk menemui dokter, sang ibu pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Bram berjalan menuju ruangan dokter yang merawat Bu Narsih.
"Selamat siang, Dok!" sapa Bram kepada sang dokter.
"Siang, Pak! Silahkan duduk!" balas sang dokter.
Kemudian Bram duduk dan mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi sang ibu.
"Apa, Dokter? Apa tidak ada cara lain lagi untuk menyelamatkan ibu saya, Dok?" Bram terlihat begitu khawatir dan sangat bersedih karena sang ibu tidak punya harapan untuk hidup lagi.
"Maaf, Pak! Hanya sebuah keajaiban yang bisa merubah segalanya," balas dokter itu.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Marissa menceritakan semuanya kepada sang Mama tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tentu saja sang Mama sangat terkejut saat mendengar pengakuan dari Marissa.
"Ya ampun Marissa! Jadi selama ini kamu ada di dimensi lain? Bagaimana bisa itu terjadi?" seru sang Mama yang tak bisa percaya begitu saja. Karena selama ini Marissa tertidur dengan pulas d
layaknya orang yang sedang tidur.
"Iya, Ma! Marissa berada di dalam tubuh seorang wanita yang hidupnya sangat menderita, dia bernama Delima, gadis sederhana yang memiliki memiliki kaki pincang." Ungkap Marissa yang masih teringat betul bagaimana dirinya menggambarkan sosok Delima. Tentu saja Marissa tidak bisa lupa begitu saja, bahkan perlakuan Bu Semanggi dan Anwar benar-benar masih melekat sempurna pada ingatannya.
Marissa menceritakan bagaimana hari-hari yang ia jalani sebagai Delima, sang Mama menangis saat mendengarkan Marissa bercerita, sang Mama tidak menyangka jika putrinya mengalami penderitaan selama ini, meskipun itu hanya sekedar hayalan dan berbeda dimensi.
"Marissa menyesal, Ma! Marissa ingin bertemu dengan Ibu, apakah masih ada maaf untuk Marissa? Apakah ibu mau memaafkan Marissa?" Marissa berkata dengan air mata yang sudah menggenangi pipinya.
"Tentu saja Bu Narsih akan memaafkan mu! Dia wanita yang baik, dan sekarang kamu sadar jika Bu Narsih adalah mertua yang baik. Pulanglah, Nak! Pulanglah ke rumah suamimu, dan minta maaflah kepada mereka!" seru sang Mama.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...